Tan Malaka: Islam dalam Tinjauan Madilog

Mungkin sangat langka dan menherankan kita bila seorang yang dikenal sebagai orang ‘kiri’ dan pernah menjadi orang penting di Comintern/Komunis Internasional ternyata memiliki kesan positif sedemikian rupa terhadap agama, dalam hal ini Islam. Di Jawa kita mengenal tokoh seperti Haji Misbah, seorang ‘Haji Merah’. Dari Sumatra kita mengenal Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka namanya, lahir di Bukittinggi ranah Minangkabau tempatnya. Hingga saat ini, dialah satu-satunya anak Minang atau putra Indonesia yang pernah menjadi anggota Parlemen di Negara penjajahnya, Belanda.

Malang-melintang, mengembara ke sana-ke mari ke berbagai pelosok dunia mencari ilmu, mencari penghidupan dan organisator pergerakan. Ia menguasai lebih dari 5 bahasa dunia, Belanda, Rusia, Cina, Pilipina dan lain-lain. Tiap-tiap menjejakan kaki di sebuah negeri sebuah nama telah disiapkan, nama negeri itu. Tidaklah di Pilipina ia dikenal dengan Tan Malaka tetapi nama seorang Pilipina yang berbahasa Tagalog begitu juga di Hongkong, Cina daratan, Singapura dan sebagainya.

Hamka, yang pada akhir 1940-an jiwa revolusionernya sedang menggelora memberikan kata pengantar dalam buku ini menyebutkan bahwa ke-3 pemimpin besar Indonesia yakni Soekarno, Hatta dan Tan Malaka telah menunjukkan roh Islam yang utama walaupun pemerintah colonial berusaha keras mendidik anak bangsa agar terpengaruh jiwa individualism dan materialism. Hamka insyaf bahwa untuk membela agama dan Islam menguasai pikiran masyarakat kita perlu memperluas pengetahuan seperti sosiologi, dialektika, logika dan sebagainya. Ke-3 pemimpin besar diatas dalam pengkhidmatannya terhadap bangsa ibarat orang yang berijtihad kadang-kadang salah dan kadang-kadang benar. Salah dapat 1 pahala dan benar dapat 2 pahala.

Buku ‘Islam dalam Tinjauan Madilog’ adalah sebuah pengakuan tulus dan jujur dari seorang pejuang ‘kiri’ bahwa kesan dan pengaruh Islam sebagai sumber ideologinya tidaklah hilang dan mati. Ia senantiasa hidup dalam sanubarinya. Pengalaman dan didikan kuat dari orangtua dalam hal agama begitu terpatri dalam jiwa. Ia lahir dari sebuah keluarga taat beragama yang dengan cintanya menyebut nama Tuhan dan ayat-ayatnya ketika meninggal. Leluhur keluarga ini dulunya ketika Islam masih minoritas di ranah Minang dan Nusantara pada umumnya pernah lahir seorang alim-ulama.

Ibrahim kecil (Tan Malaka) adalah seorang yang demikian harunya ketika ibu-bapanya mengisahkan seorang yatim dan piatu bernama Muhammad, matanya lalu basah menangis. Begitu cintanya kpd Kitab suci Alquran sehingga dalam umur yg masih muda telah bisa menafsirkan ayat-ayatnya dan diberi amanat mengajarkan Alquran kpd orang-orang. Ibrahim juga mencintai bahasa Arab. Katanya, “Bahasa Arab terus sampai sekarang saya anggap sempurna kaya, merdu jitu dan mulia.” (hal. 5). Bahasa Arab selanjutnya memberi pengaruh dalam kata-kata bahasa Indonesia.

Pengakuan dan kesan Tan Malaka secara garis besar dibagi menjadi beberapa pokok bahasan; pertama: keesaan dan kemahakuasaanTuhan, kedua: persamaan manusia dan manusia terhadap Tuhan, ketiga: keistimewaan ajaran Islam, perkembangan dan pengaruhnya terhadap perkembangan sejarah bangsa Arab dan pemeluknya selain bangsa Arab serta pengaruhnya terhadap ajaran agama lain, keempat: masalah surga dan neraka adalah soal kepercayaan yang dikembalikan kepada masing-masing individu.

Permulaan pembahasan ialah mengenai pendidikan agama sejak masa kecil Ibrahim, kecintaan orangtuanya terhadap agama dan perantauannya ke luar negeri. Selama merantau, ia tetap mempelajari Islam baik dari karya para orientalis maupun ulama Islam sendiri. Snouck Hurgronje, Sales dan Maulana Ali adalah diantara penulis tentang Islam yang disebutnya. Tan Malaka menyampaikan pengaruh Islam terhadap susunan masyarakat, politik, ekonomi dan teknik bangsa Arab, perkembangan Islam dari sejak jaman khalifah hingga masa modern ini. Diantara pergerakan Islam yang baru pada saat ini disebutnya seperti Wahabi, Muhammadiyah dan Ahmadiyah.

Gambaran masa kecil, remaja dan dewasa dari Muhammad diceritakan begitu berkesannya oleh Tan Malaka (hal. 6-9). Sebuah masyarakat tempat lahir, hidup dan berkembang dari Muhammad dijabarkan oleh Tan Malaka. Masyarakat Arab terpecah-belah lagi saling bermusuhan. Paganisme kesukuan merajalela. Untuk kedamaian mereka membutuhkan persatuan. Persatuan yang dimaksud itu harus dilandasi keyakinan yang kuat akan keesaan Tuhan bukan penyembahan berbagai macam berhala/dewa kesukuan yang justru menimbulkan kebanggaan antar suku dan kelompok masyarakat sehingga terjadi permusuhan satu dengan yang lain.

Keyakinan akan keesaan Tuhan berdampak pada keyakinan akan persamaan umat manusia dihadapan-Nya. Inilah ajaran tauhid yang juga disampaikan oleh Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Isa. Namun demikian ada kekhususan yang signifikan dari Islam yaitu seperti yang ditanyakannya: “Adakah keesaan yang lebih pasti dan persamaan manusia dan manusia terhadap Tuhan lebih nyata daripada agama Islamnya Muhammad s.a.w.?

Sebagai bukti begitu jelasnya keyakinan akan keesaan Tuhan yang tidak mempunyai anak lagi tidak diperanakkan terlihat dari posisi Muhammad yang tidak pernah didewakan bahkan secara tegas menyebut dirinya ‘pesuruh Tuhan’ bukan anak Tuhan Berbagai macam ide yang mengarah pada idolatry/pemberhalaan ditutup/ditekan celahnya oleh Islam seperti pelukisan/penggambaran Tuhan, malaikat dan orang2 suci hal mana mempengaruhi ide reformasi Protestan yang diantara idenya ialah pelarangan penggambaran/pematungan para santo.

Perlunya klas perantara antara manusia dan Tuhan berupa kaum elit agamawan seperti rabbi dsb juga dikurangi dan ditutup. Setiap manusia sama-sama bisa berhubungan langsung dengan Tuhan tanpa diwakili oleh kaum elit agamawan. Kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhannya yang esa Muhammad sebagai rasul-Nya dan persamaannya manusia terhadap Tuhan ditambah keyakinan akan kebahagian bernama surge merupakan magnet kuat untuk beramal. “Arabia dan Badui yang sudah bersatu itu mendapatkan surga dunia…” (halaman 13)

Berdasarkan Logika, Tan Malaka dengan tegas mengakui bukan hanya keesaan Tuhan tetapi juga kekuasaan Tuhan atas seluruh alam, dunia manusia dan makhluk lainnya. Karena “Agama monoteisme nabi Muhammad yang paling konsekuen terus lurus, maka menurut logika maka Muhammad yang terbesar diantara nabinya monoteisme.” (hlm. 14)

Disamping pendapat-pendapat diatas ada beberapa pendapat unik dari Tan Malaka yaitu: 1. Bukannya ide-ide kristiani dan Yahudi yang mempengaruhi pemikiran Muhammad tetapi justru ajaran Islam itulah yang puluhan dan ratusan tahun kemudian mempengaruhi alam pemikiran Kristiani; 2. Keberadaan kaum elit agamawan seperti Rabbi, pendeta dll yang memonopoli tafsir keagamaan dan upacara keagamaan dihapus dengan ide persamaan tiap-tiap manusia yang dapat langsung bisa berhubungan dengan Tuhan; 3. Kemunduran umat Islam terjadi ketika spirit tauhid dan persamaan ditanggalkan diganti dengan ide kesukuan; 4. Nabi ‘Isa-lah bukan orang lain yang dipakukan di tiang salib atas desakan kaum Yahudi.

Syarh/Komentar atas Buku
Judul : Islam dalam Tinjauan Madilog
Penulis : Tan Malaka
Penerbit : Pusat Penjiar Penerbit “Widjaja” Djakarta
Cetakan : IV/1951. Cetakan Pertama pada penerbit wakaf “Republik” 1948 di Bukit Tinggi
Halaman : 15

Peresensi: Dildaar Ahmad

Dua Hari Raya berkumpul pada hari Jumat

Opini – Artikel
AZHARI AKMAL TARIGAN

Pada tahun ini, insya Allah hari raya Idul Adha jatuh pada hari Jumat tanggal 27 November 2009. Artinya, pada hari Jumat akan ada dua shalat Idul Adha dan shalat Jumat. Penyebutan hari Jumat sebagai hari raya mungkin bagi sebagian orang masih terasa aneh.

Namun jika dilihat konteks historis dan nash-nash yang ada, jelas terlihat bahwa hari Jum’at sebagai sayyid al-ayyam (penghulu hari) adalah hari berkumpulnya umat Islam. Berkumpul untuk bersilaturrahim, saling berbagi makanan, sadaqah, dan hadiah, sesungguhnya adaah inti dari hari raya.

Dengan demikian tidaklah salah jika disebutkan bahwa hari Jumat adalah hari raya dan untuk itu kita harus melaksanakan shalat ‘Id. Untuk lebih jelasnya bahwa Jum’at adalah hari raya dapat dilihat di dalam kitab Sunan Ibn Majah pada hadis nomor 1310. Diriwayatkan oleh Iyas bin Abi Ramlah al-Syamyberkata, “Aku mendengar Mu’awwiyah bin Abi Sufyan bertanya kepada Zaid bin Arqam.”

Apakah Anda mengalami dua hari raya (Id dan Jumat) dalam satu hari bersama Rasulullah?. Zaid menjawab, “Ya, saya pernah mengalami hal itu.” Mu’awwiyah kembali bertanya, “ Lalu apa yang dilakukan Rasulullah ?” Zaid Menjawab, “Beliau melaksanakan shalat ‘Id dan memberikan rukhsah (dispensasi) tentang shalat Jumat. Rasulullah SAW kemudian bersabda, “Siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat silakan melaksanakannya.”

Melalui hadis di atas tampak bahwa hari Jumat dipahami sebagai hari raya umat Islam. Di beberapa sekolah tradisional Islam sejak dahulu bahkan ada yang sampai sekarang meliburkan santrinya pada hari Jumat. Bagi mereka, hari Jumat adalah hari libur dan bukan hari minggu. Hari Minggu tetap digunakan untuk segala aktivitas belajar dan mengajar.

Beberapa riwayat disamping Al-Quran sendiri yang memuat surah Al-Jumu’ah, telah menjelaskan keutamaan hari Jumat. Syekh Mutawalli Sya’rawi di dalam bukunya, Anta Tas’al wa Al-Islamu Yujibu, menuliskan tentang lima kebaikan hari Jumat. Menurutnya ketika Rasul ditanya tentang kebaikan hari Jumat, Rasul menjawab, ada lima hal.

Pertama, pada hari Jumat Adam diciptakan oleh Allah. Kedua, Adam diturunkan ke bumi. Ketiga, Jum’at adalah hari wafatnya Nabi Adam. Keempat, pada Jumat doa hamba Allah dikabulkan selama doa tidak mengarah kepada dosa atau memutus tali kekeluargaan. Kelima, pada hari itu juga kiamat datang.” Para Malaikat, langit, bumi, gunung, batu, semuanya menyayangi hari Jumat. (HR. Ahmad).

Pada bagian lain, Syekh Mutawalli juga menuliskan hikmah diwajibkan shalat Jumat karena Allah menginginkan adanya pernyataan kesetiaan bersama yang dilangsungkan
secara bersama dalam bentuk yang massif (missal), sehingga muncul rasa persaudaraan, saling menguatkan, dan hilangnya sifat-sifat individualistis.

Pada gilirannya shalat Jumat adalah momentum konferensi umat Islam untuk menguatkan sendi-sendi kehidupan umat baik dalam bidang sosial, ekonomi, budaya, politik terlebih dalam hal agama. Tentu saja sepanjang hari Jumat sebagai hari berkumpul itu dimanfaatkan semaksimal mungkin.

Berangkat dari penjelasan diatas, dapat dipahami mengapa Al-Quran sangat menekankan kewajiban shalat Jumat, sampai sampai kita diperintahkan untuk meninggalkan praktik jual beli dan aktivitas lainnya. Shalat Jumat apabila waktunya sudah masuk harus mendapatkan prioritas (yang paling utama) dari segala aktivitas apapun di muka bumi.

Setelah selesai shalat Jumat kita diperkenankan Allah untuk kembali mencari karunia (rizki) Allah di muka bumi yang luas ini. Persoalannya adalah bagaimana jika hari raya Idul Fitri atau Idul Adha jatuh pada hari Jumat? Apakah kita masih melaksanakan shalat Jumat setelah melaksanakan shalat ‘Id atau tidak ?

Hadis yang telah penulis kutip di atas menjelaskan tentang adanya keringanan (rukhsah) bagi umat Islam untuk tidak melaksanakan shalat Jumat. Tegasnya, jika pada hari Jumat “biasa”, shalat Jumat wajib, namun jika bertemu dengan hari raya, shalat Jumat tidak lagi diwajibkan (namun tetap wajib shalat Zuhur) sebagai dispensasi.

Di dalam hadis lain, ada diriwayatkan bahwa Rasul SAW melaksanakan shalat Idul Fitri kemudian memberi keringanan bagi umat Islam untuk tidak melaksanakan shalat Jumat. Seraya berkata, “Siapa yang ingin melaksanakan shalat Jumat, silakan kerjakan.”(H.R.Bukhari,Muslim,At-Tirmizi, An-Nasai dan Abu Daud).

Pada riwayat yang lain dikatakan, Sesungguhnya Rasul bersabda, “Pada hari ini telah berkumpul bagi kalian dua hari raya (Id dan Jumat), maka siapa yang telah melaksanakan shalat ‘Id, maka shalat ‘Id itu mencukupinya untuk tidak melaksanakan shalat Jumat. Saya sendiri melaksanakan shalat Jumat. insya Allah.” (H.R. Abu Daud).

Berbeda dengan hadis-hadis diatas, pada hadis ini, Rasul menegaskan sikapnya. Kendati ada keringanan, tetapi Rasul tetap melaksanakan shalat Jumat.Dari sinilah, para ulama mengatakan bahwa rukhsah tidak berlaku bagi para imam dan khatib. Bahkan Sayyid Sabiq ahli Fikih dari Arab Saudi yang menulis Fikih Sunnah menjadikan hadis tersebut sebagai dalil (dasar) untuk mengatakan bahwa para Imam (Khatib) tetap harus melaksanakan shalat Jum’at.

Sebabnya, jika tidak ada imam atau khatib, maka umat Islam yang ingin melaksanakan shalat Jum’at tentu tidak dapat melaksanakannya. Penjelasan di atas setidaknya memberikan dua perspektif yang berbeda. Pertama, jika berkumpul dua hari raya, maka diberi keringanan kepada kita untuk tidak melaksanakanshalatJumat.Kendatidemikian, kita tetap diwajibkan melaksanakan shalat zuhur.

Shalat ‘Id yang hukumnya sunnah tidak bisa menggantikan shalat yang wajib. Kita hanya diberi keringanan, boleh melaksanakan shalat Jumat dan boleh pula meninggalkannya. Ada sebagian orang yang malah mengkhususkan keringanan ini hanya bagi orang yang tempat tinggalnya berjauhan dari masjid tempat terselenggaranya shalat Jumat.

Tentu saja pesannya di sini agar tidak menyusahkan sehingga ia tidak harus bolak-balik dari rumah ke masjid. Khalifah Usman bin Affan ketika di Madinah pernah berkata, Bagi Penduduk ‘Aliyah, (daerah pinggiranMadinah) yang ingin menunggu shalat Jumat silahkan menunggu. Dan Siapa ingin pulang, silahkan pulang.” (Ya’kub: 144).

Kedua, bagi orang yang ingin tetap melaksanakan shalat Jumat diperbolehkan untuk tidak mengatakan sangat dianjurkan. Memang ada juga ulama yang menafikan rukhsah bagi orang yang tinggalnya berdekatan denganmasjid.Artinya,sebagaimana yang telah disebut di muka, keringana hanya untuk orang yang jauh.

Namun bagi saya, rukhsah tetap diberikan. Namun bagi yang ingin shalat Jumat maka ia akan mendapatkan ganjaran yang lebih dari orang yang tidak melaksanakannya. Di dalam kaidah fikih ada penjelasan, ma kastura fi’luhu kastura ajruhu, Siapa yang banyak amalnya tentu lebih banyak ganjarannya.

Oleh sebab itu, bagi orang-orang yang ingin mendapatkan pahala lebih banyak plus dengan silaturrahim yang terus berlanjut, maka shalat Jumat menjadi lebih baik. Lagi pula, jika kita tidak melakukan aktifitas yang penting pada hari Jum’at, bukankah shalat Jumat jauh lebih baik.

Bagi orang yang kebetulan pada hari Jumat ini melakukan perjalanan ke berbagai tempat, misalnya mengunjungi sanak famili, maka kepadanya diberikan alternatif, memilih apakah akan tetap melaksanakan shalat Jumat atau memanfaatkan rukhsah(keringanan) yangdiberikanAllah.

Semuanya tetap membawa maslahat karena sesungguhnya syariat Allah apapun bentuknya pasti mengandung kebaikankebaikan di dalamnya? Wallau a’lam bi alshawab.

http://waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=69362:dua-hari-raya-berkumpul-pada-hari-jumat&catid=25:artikel&Itemid=44

Kritik terhadap Film ‘2012′

Namun pribadi saya sendiri (yang amat lemah) sering tergoda untuk menonton film2 fiksi ilmiah seperti Jurasic Park, dentis peak, deep core, volcano, dsb, yang terkadang bisa memberi gambaran lebih jelas (daripada sekedar membaca) tentang proses2 alam. Dan saya sering mendiskusikan/ bedah film tersebut dengan mahasiswa saya, sebagai bagian dari proses belajar mengajar di kampus.

Film 2012 sendiri menjadi menarik buat saya terutama setelah saya mendengar fatwa haram dari MUI (Amidhan) karena film ini menceritakan kiamat, and bla bla (metro TV senin 16 Nov malam). Sehingga besok sorenya langsung saya tonton. Kesan saya setelah menonton, film ini walau mengangkat issue ilmiah, namun justru banyak hal yang terasa kurang ilmiah.

Berikut ini beberapa kupasan ilmiah yang menjelaskan kekurang ilmiahan film tersebut:
- Pertama; kehancuran dunia itu dipicu oleh ketidakstabilan inti akibat gaya tarik matahari dan inti galaksi, yang seakan memiliki periode ulang tiap 70 jt tahun (jurasic). Setahu saya, 70 jt tahun yll, memang terjadi laut naik maksimum (maximum sea level rise) namun tidak disertai dengan pergeseran lempeng secara cepat sebagaimana ditampilkan dalam film 2012.

- Kedua: Terbentuknya patahan besar di amerika bagian barat ( 600 an km relatif utara selatan) dalam waktu 2 jam, berarti rekahan itu membuka dengan kecepatan rata2 300 km/ jam. Namun dalam adegan mobil (yang disupiri oleh aktor utama) berlari berkejaran dengan rekahan nampaknya si mobil berhasil melewati/ menyamai kecepatan rekahan. Agak mengherankan di tengah2 lalulintas yang padat, sebuah mobil dapat melaju lebih dari 300 km/ jam.

- Ketiga: Dalam adegan pesawat yang berkejaran dengan abu gunung api (pyroclastic ash) tampak pesawat sempat masuk ke dalam badai abu namun akhirnya keluar dengan selamat. Apabila kita ingat kejadian pesawat garuda yang mesinnya mati akibat kemasukan abu vulkanik gunung galunggung di tahun 1983 an (padahal tidak disaat meletus), dan berbagai pesawat jatuh akibat kemasukan abu vulkanik lainnya, nampaknya adegan ketika sang aktor utama dengan pesawat berbaling-baling (propeler) dapat keluar dari abu sangatlah mengherankan.

- Keempat: perlu pula diketahui, semburan pyroclastic ash dari gunung yang baru meletus itu suhunya sekitar 600 derajat celcius, harusnya orang2 yg didalam pesawat akan termasak hidup2 ketika pesawatnya masuk ke dalam abu tersebut.

- Kelima: Ketika pesawat Antonov yang dinaiki sang aktor melewati Hawai yang sudah porak poranda karena gunungnya meletus, pesawat tersebut dapat terbang dengan normal-normal saja.

- Keenam; ketiga kutub utara bumi berubah menjadi kutub barat dan timur, lalu bagaimana bumi bisa berotasi? Sedangkan kehidupan pada waktu itu masih lancar2 saja kecuali pada daerah yang sudah mengalami tsunami dan gempa.

- Ketujuh: inti bumi itu sebenarnya padat, namun dalam film tersebut ditampilkan bahwa dibawah permukaan seperti ruang kosong dimana bangunan, gedung2 bertingkat dapat masuk/ terjun ke bawah.

-Kedelapan: tidak semua bagian bawah bumi itu ada magma, karena magma hanya berada pada jalur subduksi (volcanic arc) saja. Namun tampaknya di dalam film di setiap rekahan yang terbentuk nampak ada magma yang mengalir (sangat tidak logis).

-Kesembilan : Ketika pesawat antonov yang dinaiki sang aktor kehabisan bahan bakar padahal tujuannya China, seharusnya mereka mendarat di laut namun ternyata mereka mendarat di daratan China. Dalam film itu dikisahkan bahwa dataran China bergeser menuju Hawai (lebih dari 8000 km) dalam waktu kurang dari 10 jam. Artinya dataran itu bergerak dengan kecepatan lebih dari 800 km/ jam (mirip pesawat terbang). Sedangkan pegunungan himalaya dan suku Tibet di atasnya digambarkan baik2 saja. Bahkan helicopter (yang kecepatannya hanya 300 km/ jam) pun dapat berlalu-lalang dengan enaknya di pegunungan himalaya. Apabila datarannya bergerak dengan kecepatan 800 km/jam, bagaimana helicopter di atasnya bisa bergerak dengan mudah take off dan landing dengan santainya??

> -Kesepuluh : dalam zaman akhir Kapur, seluruh es pernah mencair, kandungan uap air menurun, sehingga muka air laut naik (tertinggi). Ternyata jumlah volume air bila seluruh air dijatuhkan ke laut hanyalah akan mengangkat muka laut hingga 200 an meter dari sekarang. Nah dalam film itu, air laut naik hingga mencapai 29.000 feet…… atau hampir 10 km…10.000 m??? Bagimana bisa?? dari mana air itu berasal???

> -Kesebelas: dalam film itu digambarkan bahwa Pegunungan Himalaya adalah daerah yang hancur belakangan, karena merupakan daerah tinggian (terakhir tenggelam). Padahal sesungguhnya daerah Himalaya adalah daerah collision (tumbukan) dari 2 lempeng yang bersifat tektonik aktif. Lalu bagaimana Himalaya justru hancur belakangan??

> -Keduabelas : ah… didit_ndut udah ngantuk … dongengnya dicukupkan dulu aja.
>
> Salam
>
> Didit_ndut
> Staff pengajar Sejarah Bumi (Geologic History).
> Lab of Paleontology and Stratigraphy.
> Gadjah Mada University.
> Indonesia

Ditulis dalam Iptek. 8 Komentar »

CONTROVERSY: Crime in the name of conspiracy

by Mehmal Sarfraz

Conspiracy theory is the only industry in Pakistan that runs round the clock and the production quality as well as product variety are absolutely out of this world

Conspiracy theory is the only industry in Pakistan that runs round the clock and the production quality as well as product variety are absolutely out of this world. The whole school of conspiracy theory reflects a certain mindset, which comes up with half-baked stories based on little or no evidence.

Just like former US President George W Bush had his axis of evil, a lot of Pakistanis have their own axis of evil – India, Israel and the US. If anybody so much as sneezes in the land of the pure, any one of these three countries or all of them are behind it. This is exactly what Mr Ijazul Haq did in his two articles, ‘A criminal conspiracy’ and ‘Punish the Bahawalpur conspirators’ published in this newspaper on September 8 and 9, 2009.

He has not only blamed Pakistan’s own ‘axis of evil’ but he has blamed everyone and his uncle for General Ziaul Haq’s death: Russia, Afghanistan, Al-Zulfiqar, the Pakistani military and many others.

First, let us examine why the Russians may not be responsible for this misadventure. The Soviets had signed the Geneva Accords in Spring 1988 and were engaged in pulling out their troops from Afghanistan. That they were earnest in their commitment was borne out by their scrupulous adherence to the pullout schedule. It would have been nothing but an act of petulance on their part if they were involved in the plane crash. If it is ever proved that the Soviets were involved in this conspiracy, it would greatly affect their credibility. Further, what material evidence can Mr Haq or anyone for that matter adduce to substantiate his allegation? Blaming this on the Soviets takes us away from the real truth.

Al-Zulfiqar too had almost abandoned its operations after the murder of Shahnawaz Bhutto in 1985; so to lay the blame at its doorstep is too far-fetched. Al-Zulfiqar did not have any sympathisers in the Pakistani military and therefore it could not have pulled off such an enormous coup, the logistics as well as actual conduct of which would have required an outlay that was definitely beyond the resources of a hounded and battered outfit like Al-Zulfiqar. Again, the question remains what material evidence can Mr Ijazul Haq show to prove the complicity of Al-Zulfiqar in the crash at Bahawalpur? But then, empirical evidence probably is not what Mr Haq is after. It is fine to spout a few trite albeit patently flimsy statements as long as the same sit well with a heavily indoctrinated public.

Israel would not have gained much from Zia’s death either. After the release of the much-touted book ‘Charlie Wilson’s War’ by George Crile, it is no secret that Israel helped General Zia in the Afghan war. Had Zia remained alive, things might have improved between Israel and Pakistan, much to the chagrin of the Arabs and most Pakistanis, but since the General had no one to answer to, this could have been achieved. Even in General Musharraf’s time, there were backdoor channels working on improving relations between Israel and Pakistan. It was the Lebanon war in 2006 that placed a few spanners in the wheels of these back-channel negotiations.

As for India, killing Zia and Pakistan’s top military brass would have been an open invitation to war. Had India actually been involved, our military would have done everything to prove this to the world and launched a military offensive with international support. Further, Pak-India relations had been rather smooth under Zia as well as Musharraf. It is the political leadership that fails to deliver vis-à-vis relations with India because their decision-making space is severely limited. India would have relished Zia’s longevity rather than cut the chord that held things in balance.

Mr Ijazul Haq has wagged a finger of suspicion at the Americans too for good measure, again without an iota of proof. Some people are of the view that after the end of the Cold War, the world wanted Pakistan to move forward, which meant getting rid of the military dictatorship and bringing in its place a genuine democratic government. It is also said in some quarters that Zia’s pan-Islamic ambitions were not approved of by the US. Twenty years down the road, we Pakistanis know only too well how robust were the democratic governments in the decade that followed Zia’s death. Further, Charlie and his aunt in Pakistan never get tired of blaming the US for abandoning the region after 1989 and thus allowing Islamic jihad to flourish. Strange that the Americans were so naïve as to kill Zia for the imaginary proliferation of jihad and not stir a finger while jihad descended from the mountains of Afghanistan till a brace of planes struck a pair of towers in New York.

When scrutinising the death of General Zia and the top military brass, with the exception of General Beg, one cannot stop wondering whether there was an internal motivation behind this. Who would benefit the most from the elimination of Zia and his entire coterie of military officers? Without local collaboration at the highest echelons of power, this could not have been pulled off. It has been rumoured that General Beg met with resistance from the Corps Commanders in Rawalpindi after Zia’s death, but we have no evidence of this as General Beg completed his tenure without any problems.

The Shafiur Rahman Commission report on the plane crash has never been made public, like so many such sensitive reports in our history.

One would like to ask Ijazul Haq why he never tried to reopen his father’s case when he was in power during Nawaz Sharif’s time or during Musharraf’s regime. Mr Haq is a former federal minister. He failed as a politician when he tried to follow in his father’s footsteps by supporting jihadi elements. Chaudhry Shujaat is on record as saying that it was because of Ijazul Haq that Maulana Aziz of Lal Masjid was given a safe passage.

People of my generation are often called ‘Zia’s children’ because we were born during General Ziaul Haq’s era – the darkest period in the history of Pakistan. Military dictatorship is inherently bad for a country but General Zia proved to be a particularly rotten specimen of military dictator. In his article titled ‘Punish the Bahawalpur conspirators’ (Daily Times, September 9, 2009), Ijazul Haq writes, “…he [Zia] was a benign dictator. He ruled not only Pakistanis but also their hearts and minds. He worked very hard for the betterment of his people.”

On the contrary, General Ziaul Haq was undoubtedly one of the most hated men in Pakistan. He only ruled the ‘hearts and minds’ of those who wreaked havoc with the country’s polity. When Mr Ijazul Haq wrote that “ever since his [Zia's] departure, the country has been in a constant state of crisis”, he should have realised that Zia’s legacy is haunting Pakistan and that is why the country has not been able to get out of the quagmire he left behind even though more than two decades have passed since he died. Pakistan is in this whole mess because of General Zia who stoked sectarianism in Pakistan; who persecuted the Ahmadis to the extent that there was a mass exodus of Ahmadis from Pakistan; who introduced the Blasphemy Law, which to date is misused against the religious minorities; who promulgated the Hudood Ordinance, an outright anti-women legislation. His myopic shot at piety led to the death of the political discourse, cultural diversity and economic potential of this country.

Mehmal Sarfraz is a freelance journalist and Joint Secretary South Asian Women in Media (SAWM). She can be reached at mehmal.s@gmail. com
www.dailytimes.com.pk

FPI Terkalahkan?

…Semua itu, yang terjadi di dunia maya maupun di dunia nyata, persaingan antara kubu pendukung Cicak dan kubu pendukung Buaya telah membuka peluang terjadinya konflik horizontal antar dua kubu itu.

Berkait dengan itu, jika menilik pada beberapa peristiwa yang telah lampau, diantaranya seperti pada kasus Ahmadiyah, dimana juga terdapat dua kubu, yaitu kubu pendukung Ahmadiyah dan kubu penentang Ahmadiyah.

Dimana pada akhirnya, kubu penentang Ahmadiyah menjadi terkalahkan, dan salah satu kelompok dalam kubu itu, yaitu FPI, berhasil dijerat dengan tuduhan melakukan tindak kekerasan dan kriminal.

Hal mana, itu menjadikan para pemimpin FPI sebagai pesakitan tindak kriminal kekerasan dan penganiayaan sehingga meringkuk di penjara sampai dengan saat ini.

Itu semua harus dipikirkan secara matang, agar para pendukung KPK atau biasa disebut kelompok Cicak tidak bernasib seperti para pemimpin FPI, yaitu ditangkap Polisi selanjutnya dituntut oleh Jaksa yang berakhir dengan vonis Hakim sebagai pelaku tindak pidana kriminal.

Apakah kemudian kubu Cicak, yang menentang upaya kriminalisasi terhadap pimpinan KPK dan upaya perlemahan KPK, sebaiknya menyerah saja ?.

Mengingat melawan kehendak pemerintah yang berkuasa itu mempunyai konsekuensi dan resiko yang sungguh tak kecil, bahkan penjara bisa menjadi ganjaran akhirnya.

Segala resiko harus diperhitungkan. Oleh sebab itu bagi para facebooker dan netter serta blogger dan milliser yang ada di dunia maya juga para aktivis gerakan yang bergiat di dunia nyata, mulailah menimbang dengan matang dan berfikir ulang sejuta kali untuk tetap keukeuh berani menyatakan diri sebagai pendukungnya Kubu Cicak.

Mengingat yang dihadapi oleh para pendukungnya Kubu Cicak adalah pemerintah yang berkuasa serta mempunyai wewenang ditangannya untuk menegakkan hukum dan menjaga ketertiban masyarakat serta stabilitas negara. Hal mana, menentang pemerintah yang berkuasa tentu ada konsekuensi dan resiko yang mungkin harus ditanggung oleh para penentangnya.

Sudah siapkah para pendukungnya Kubu Cicak untuk menanggung resiko yang kemungkinan bisa di-Prita Mulayasari-kan dan di-FPI-kan ?.

Wallahualambishshawab.

http://politikana.com/baca/2009/11/13/cicak-akan-di-fpi-kan.html

Daftar Ramalan-Ramalan Kiamat yang Meleset

Berikut ini adalah daftar Ramalan Kiamat atau Ramalan Akhir Zaman, atau biasa disebut Hari Kedatangan Kristus Yang Kedua Kali (Second Coming) yang udah terbukti meleset alias tidak tepat.

1919-DEC-17: Meteorologist Albert Porta
1936: Herbert W Armstrong
1953-Agustus: David Davidson
1960: Piazzi Smyth
1981: Pendeta Sun Myung Moon
1982-Musim gugur: Pat Robertson
1993: Moses David
1988-OCT-11: Edgar Whisenaut
1990-an: Peter Ruckman
1992-OCT-28: Pdt. Lee Jang Rim
dst.

Untuk lengkapnya silakan kunjungi link ini.

http://www.religioustolerance.org/end_wrl2.htm

diambil dari http://keywordpopuler.blogspot.com/2009/09/ramalan-ramalan-kiamat-yang-terbukti.html

Pidato Bung Tomo November 1945

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!

Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »

Kepercayaan Tak Bisa Kiamat

Selasa, 06-05-2008 13:40:33 oleh: Binsar Antoni Hutabarat
Kanal: Opini

Janji pemerintah untuk melindungi warga Ahmadiyah lagi-lagi tak menjadi kenyataan, tanggal 28 April dini hari, aksi massa sekitar 400 orang berhasil membakar dan merusak masjid dan fasilitas Madrasah Al Furqon, milik anggota Ahmadiyah di kampung Parakan Salak RT/RW 02/02, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. Massa baru meninggalkan tempat kejadian setelah masjid benar-benar terbakar.

Meski tak ada korban jiwa, Jemaat Ahmadiyah kembali harus tunggang langgang menyelamatkan diri dari amuk massa yang kedatangannya sebenarnya telah diketahui, namun tak mendapat antisipasi dari pihak kepolisian. Peristiwa seperti ini bukan hal baru di negeri ini. Terlalu banyak kekerasan massa terjadi di negeri ini yang tampaknya Baca entri selengkapnya »

Toleransi Terhadap Ahmadiyah

Rabu, 23-04-2008 13:56:41 oleh: Binsar Antoni Hutabarat
Kanal: Opini

Melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) yang terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama, dalam rapat di kejaksaaan Agung, Rabu (16/4), yang merupakan kelanjutan dari rapat 15 Januari 2008, mengusulkan kepada pemerintah agar memberi peringatan keras untuk menghentikan semua kegiatan jemaah Ahmadiyah, dan jika tak mematuhi rekomendasi itu, tak ada lagi toleransi, pemerintah diminta Baca entri selengkapnya »

Kasusnya Diberitakan, Ahmadiyah Diuntungkan?

Mengikuti berita di media massa akhir-akhir ini, kasus Ahmadiyah bisa jadi masuk jajaran top news. Dari mulai kasus penolakan masyarakat terhadap komunitasnya di beberapa daerah, tuntutan pembubaran dari beberapa ormas Islam, pembelaan dari pihak yang lain sampai pada keputusan Bakorpakem Kejagung yang ‘memberi kesempatan’ pada mereka untuk ‘bertobat’.

Yang saya amati, kok berita-berita itu malah kesannya jadi promosi gratis buat mereka ya? Mereka jadi kelihatan besar. Semua orang sekarang jadi tahu Ahmadiyah. Padahal sebelum-sebelumnya Baca entri selengkapnya »