Dildaar80's Weblog

Archive for September 2009

إِنَّ اللّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْداً عَلَيْهِ حَقّاً فِي التَّوْرَاةِ وَالإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللّهِ فَاسْتَبْشِرُواْ بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Hari ini selain hari Rabu, orang-orang menyebutnya hari Ied juga. Namun kebanyakan manusia tidak tahu apa arti Ied itu. Anak-anak juga merasa senang pada hari Ied ini, sebab mereka memakai pakaian serba baru dan mendapat banyak makanan dan kueh-kueh yang sedap dan lezat. Anak-anak sekolah juga merasa senang, sebab pada hari ini mereka libur sekolah atau tidak pergi untuk kegiatan lainnya lagi. Anak-anak merasa senang karena hari yang ditunggu-tunggu sejak beberapa hari yang lalu sekarang sudah tiba waktunya. Namun mereka merasa gembira bukan karena paham apa arti Ied itu, melainkan hanya karena mereka mendapat makanan yang lebih banyak dan lebih spesial dari makanan yang mereka makan sehari-hari.

Banyak sekali orang-orang yang tidak paham mengapa pada hari Ied ini mereka merasa sangat gembira sekali. Hal apa yang menambah spesial yang tidak diperoleh sebelumnya sehingga mereka merasa benar-benar gembira sekali pada hari Ied ini. Jika kegembiraan ini disebabkan hanya mendapat makanan yang sedap dan lezat saja, toch pada hari lain juga makanan seperti itu dapat dibuat dan dihidangkan. Tidak berarti makanan yang dihidangkan pada hari ini tidak dapat dihidangkan pada hari-hari lain. Bahkan pada hari-hari lain juga makanan yang lebih baik dari itu pun dapat saja dihidangkan. Atau apakah karena pada hari ini orang-orang memakai pakaian serba baru sehingga hati mereka merasa sangat gembira ? Tidak. Bukan karena hal itu, sebab pada hari-hari lain juga manusia bisa memakai pakaian yang baru dan bagus mungkin lebih baik dan lebih bagus dari itu.

Jadi, apabila ditanya kepada orang-orang, mengapa pada hari Ied ini semuanya merasa gembira? Maka kebanyakan mereka menjawab bahwa, Ied adalah hari kegembiraan bagi kita semua. Nampaknya perkataan Ied inilah penyebab kegembiraan bagi mereka. Banyak kata-kata yang mempunyai pengertian yang sangat erat hubungannya dengan pembawaannya, sehingga dengan mendengar kata itu saja kesannya segera terasa di dalam hati. Demikianlah perkataan Ied juga dengan mendengarnya saja kesannya langsung masuk kedalam hati manusia. Banyak sekali orang Islam yang tidak mengetahui hikmah yang terkandung di dalam perkataan Ied itu. Namun demikian orang-orang pasti merasa gembira dengan mendengar perkataan Ied ini, sehingga akan menimbulkan kesan semangat di dalam hati mereka.

Dengan memakai pakaian baru dan pergi bertemu dengan kerabat atau handai taulan banyak sekali orang-orang menjadi gembira. Akan tetapi orang-orang yang berakal dan bijaksana tidak akan merasa gembira hanya dengan keadaan begitu saja. Perhatian orang berakal dan bijaksana selalu terpusat kepada hikmah dari pada pekerjaan yang ia lakukan. Orang yang bergembira tanpa mengenal pasti apa gerangan hikmah yang menjadikannya gembira itu, maka kegembiraannya itu sedikitpun tidak mengandung hakikat apa-apa. Kesenangannya, kegembiraannya dan keriangannya seakan-akan seperti hasil memakan sebutir kapsul obat yang memberi kesembuhan hanya sementara sifatnya. Pada hari ini jika semata-mata karena hal-hal tersebut di atas seseorang menjadi sangat gembira, maka orang yang bijaksana tidak perlu bergembira. Sebab dibanding dengan hari-hari sebelumnya perbelanjaan untuk kepentingan hari ini sangat banyak sekali. Sebab pada hari-hari lain juga sarana-sarana untuk menciptakan kegembiraan semacam itu dapat dipersiapkan juga.

Secara zahirnya kita bisa menyaksikan keadaan sehari-hari bahwa perkara yang menyebabkan manusia gembira di antaranya adalah, apabila seorang anak lelaki telah lahir, di saat itu seluruh keluarga menjadi gembira. Atau seseorang yang baru menikah, ia sangat bergembira karena waktu yang diidam-idamkannya sudah terlaksana. Atau seseorang telah memperoleh rizki atau harta setelah ia berusaha keras, atau ada juga yang bergembira karena telah naik pangkat di dalam pekerjaannya, atau seorang pengusaha merasa sangat gembira karena telah mendapat keuntungan yang sangat besar, atau seorang petani sangat senang dan gembira karena telah memperoleh hasil panenannya yang melimpah, sawah ladangnya sangat subur mampu mendatangkan hasil yang sangat baik dan unggul. Atau sebuah negara telah berhasil memerangi dan menaklukkan musuhnya sehingga seluruh negeri merayakan kemenangan itu dengan penuh gembira. Atau seorang pelajar telah berhasil meraih kelulusan di dalam ujiannya, Ia merasa sangat gembira, sebab sepanjang tahun ia telah belajar keras. Jadi semua kegembiraan itu ada penyebab-penyebabnya yang tertentu.

Akan tetapi mengapa orang-orang yang merayakan Ied atau mengapa pada hari Ied orang-orang merasa gembira ?? Apakah pada hari itu di rumah mereka juga telah lahir seorang anak lelaki ?? Apakah pada hari itu seorang kawan telah melakukan pernikahan? Ataukah seorang pedagang telah meraih keuntungan yang sangat besar di dalam bisnisnya? Atau seseorang petani telah menghasilkan panenannya sangat baik dan melimpah? Atau seorang pelajar telah lulus di dalam ujiannya? Atau seseorang telah berjaya mengalahkan musuhnya ? Tidak ada satupun alasan di atas yang membuat orang bergembira merayakan Iednya. Maka jika tidak ada satupun alasan di atas itu menjadi penyebab bergembiranya seseorang merayakan Iednya, atau tidak ada suatu penyebab lain lagi yang paling luhur sekalipun, yang menjadikan ia bergembira merayakan Iednya, maka kegembiraan merayakan Ied semacam itu merupakan pekerjaan orang yang tidak waras otaknya.

Pada hari Ied itu harus ditanyakan kepada orang-orang yang merayakan Ied ini. Apa yang menyebabkan kamu bergembira merayakan Ied ini? Jika ia bergembira karena telah memakai pakaian baru, atau karena memakan makanan dan kueh-kueh yang lezat, maka bergembira disebabkan hal itu saja, bukanlah pekerjaan orang berakal dan bijak. Sebab seorang bergembira karena karya sederhana yang juga dapat dilakukannya setiap hari dan untuk melakukannya diperlukan banyak sekali perbelanjaan, karya itu tidak bisa disebut karya orang bijak.

Membahas tentang kegembiraan seperti itu menggugah ingatan saya (Khalifah ke-2) kepada peristiwa di zaman Hazrat Khalifatul Masih I r.a. Yaitu, ketika kami sedang belajar kepada Hazrat Khalifatul Masih I r.a., seorang perempuan tua telah datang kepada beliau dan berkata sambil tertawa-tawa, Maulana Sahib ! Anak saya telah mati terserang penyakit ta’un !! Setelah berkata demikian ia pun pergi lagi sambil tertawa-tawa sepanjang jalan. Hari berikutnya datang lagi sambil tertawa-tawa berkata kepada beliau r.a., Huzur !! Anak saya yang kedua pun sudah meninggal lagi !! Pada hari ketiga datang lagi dengan susah ia mau tertawa, namun tertawa juga dan berkata, Maulana Sahib !! Suami saya pun sudah meninggal juga !! Sampai ada empat orang meninggal di rumah perempuan itu, namun perempuan itu tetap tertawa-tawa terus, sehingga mengalirlah air dari kedua matanya.

Mengapa perempuan itu tertawa terus, apakah ia gembira karena kematian anak-anaknya dan suaminya itu?? Bukan, ia bukan gembira karena kematian anggota keluarganya itu, melainkan karena ia mengidap penyakit saraf atau gila. Hati perempuan itu merasa sedih, kejadian yang telah menimpanya secara berturut-turut itu sangat menyedihkan hatinya. Seharusnya perempuan itu menangis tersedu-sedu, akan tetapi ia bukan menangis bahkan tertawa-tawa. Apakah perempuan itu betul-betul gembira? Tidak, ia gembira karena ia perempuan gila, disebabkan gangguan saraf.

Sekarang saya (Khalifah ke-2) ingin bertanya mengapa pada hari ini semua bergembira ?? Hari ini banyak orang-orang Islam diseluruh dunia bergembira-ria. Jawabnya tidak lain, karena hari ini hari Ied. Akan tetapi bagi orang yang telah mengetahui serta memahami intisari syari’at agama, ia akan menjawab begini; “Pada hari ini orang-orang Islam berkumpul untuk menyatakan rasa syukur kepada Tuhan, sebab sebagai orang Islam ia telah menunaikan ibadah kepada Allah swt secara kamil atau sempurna selama satu bulan di dalam bulan Ramadhan. Jadi kegembiraan yang tengah dirayakan pada hari ini bukan atas dasar nikmat-nikmat keduniawian, melainkan kegembiraan dirayakan atas dasar terpenuhinya perjanjian yang telah dibuat dengan Tuhan dan selama satu bulan penuh telah meninggalkan barang-barang yang telah dihalalkan sekalipun, semata-mata demi meraih keridahaan Allah swt.”
Akan tetapi orang-orang yang telah meninggalkan ibadah puasa tanpa uzur, tanpa alasan syari’at, makan-minum pada waktu siang hari, mengikuti godaan hawa nafsu mereka, dan melanggar perintah Allah swt tanpa alasan syari’at, mereka itu telah berbuat zalim terhadap diri mereka sendiri. Pada hari ini tidak ada kebahagian dan kegembiraan bagi mereka, bahkan hari ini harus menjadi hari berkabung atau hari berduka cita bagi mereka.

bersambung

KHUTBAH IEDUL FITHRI 1 SYAWAL 1335
HAZRAT KHALIFATUL MASIH II r.a.
DI MASJID AQSHA QADIAN
TANGGAL 22 JULY 1917

Iklan

Bagi kristen sebagai agama mungkin iya, tapi bagi yesus jelas tidak. Ia justru seorang perintis gerakan abolisionis. pada saat itu butuh keberanian luar biasa untuk menentang prinsip “oog om oog, tand om tand” (mata ganti mata, gigi ganti gigi) sebagai prinsip utama tujuan pemidanaan, yang salah satunya bentuknya ialah rajam. untuk mengetahui lebih jelas pandangan yesus terhadap hukuman rajam silahkan baca Yohanes 8 : 1 – 11 berikut ini :

8:1. tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan- Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

• hukuman rajam bukan hukuman milik yahudi saja. banyak bukti yang menunjukan bahwa hukuman mati termasuk rajam juga berlaku ditempat atau pada kelompok masyarakat lain.. Kodeks hammurabi, kodeks Hittite dan kodeks drakonia merupakan dokumen yang membuktikan bahwa proposisi di atas keliru.
• hukuman rajam adalah bentuk penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia yang harus ditolak tanpa harus repot mencari dasar argumentasi penolakan yang bersumber dari teks kitab suci agama-agama.

Tommy Albert Tobing
Public Defender
The Jakarta Legal Aid Institute (LBH Jakarta)
Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Indonesia
Phone:+6221- 3145518 Fax:+6221-3912377
Website: http://www.bantuanhukum. org

Assalamu’alaikum,

Hukum rajam (stoned to death) adalah hukum (Syari’at) milik kaum
Yahudi dan sejak zaman dulu sudah diterapkan oleh kaum Yahudi.

Bagi pelaku perzinahan diberlakukan hukuman mati (Imamat 20:10-20) dan rajam sampai mati (Ulangan 22:22-24) dan bahkan setelahnya ratusan tahun kemudian dalam era Hadhrat Yesus a.s., beliau juga menyetujui hukuman bagi penzinah adalah rajam sampai mati (Yohanes 8:3-5).

Lebih lanjut kita lihat dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit
Kanisius Yogyakarta, buah tangan Xavier Leon-Dufour, hal. 613 menyebutkan:

“Zinah, yaitu hubungan seksual antara laki-laki (yang sudah atau belum
beristri) dengan perempuan yang sudah bersuami dilarang oleh Hukum,
sebab hubungan yang demikian memperkosa hak milik suami terhadap
istrinya. Kedua pelaku zinah harus dihukum mati, biasanya dirajam oleh
seluruh masyarakat, sebab pelanggaran itu menodai seluruh masyarakat. Apa yang dahulu berlaku bagi perempuan saja, oleh Yesus dinyatakan sebagai hal yang berlaku bagi laki-laki pula …”

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum rajam sampai mati bagi
pelaku perzinahan sesungguhnya sesuai ajaran agama mereka masih tetap berlaku bagi kaum Yahudi dan Kristen.

Namun bagi sebagian kalangan Yahudi dan Kristen yang gemar dan suka mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad SAW sering mengatakan bahwa hukum rajam yang pada zaman ini dan masih diterapkan oleh sebagian umat Islam merupakan warisan Islam. Pendapat seperti itu tidak benar, karena sesungguhnya hukum rajam sampai mati adalah berasal dari Bible.

Al-Qur’an Karim, sebagai sumber hukum yang tertinggi, telah final
menetapkan bahwa hukuman bagi perzinahan adalah DERA (24:2-5) dan
tidak pernah ditemukan hukuman rajam bagi pelaku zinah dalam
Al-Qur’an. Dan, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menerima taubat dan perbaikan diri atas orang yang melakukan perzinahan (24:5).

Jadi, tidak relevan lagi jika hukum rajam (lempar batu sampai
mati/stoned to death) bagi kasus perzinahan masih dianggap sebagai
bagian dari ajaran Islam, dan kemudian diterapkan pada zaman ini oleh
beberapa golongan Islam yang bercita-cita ingin mengubah suatu negara dengan syari’at versi mereka dan menerapkan kembali seutuhkan hukum rajam (atau hukum lainnya), yang justru bertentangan dengan al-Qur’an Karim.

Salam,
MAS (Muhammad Arya suryawan)

KHUTBAH ‘IDUL FITHRI
HADHRAT KHALIFATUL MASIH IV RA
Islamabad, Inggris: 5 April 1992

Arti Kata ‘Id

Untuk khutbah hari ini saya akan menerangkan sedikit latar belakang perihal ‘Id. Umumnya orang Islam belum mengetahui kapan dan bagaimana merayakan ‘Id serta tatacara seperti apa ‘Id pada zaman Rasulullah SAW.

Jadi, pertama-tama akan saya jelaskan arti dari kata ‘id dan dari mana asalnya kata tersebut. ‘Aada – ya’uudu – ‘uudan artinya “kembali ke asal dan balik ke semula, datang berkali-kali”. Berkali-kali datang dan kembali dikatakan sebagai ‘id. Masdarnya adalah ‘uudan. Datangnya sesuatu sesudah yang lain juga digunakan kata ini.

Di dalam bahasa Urdu, kata ‘aadat yang sudah baku asalnya dari kata ‘aud, yang darinya lahir kata ‘iid. Dan bila kita pergi menjenguk (‘iyaadat) orang sakit, kata ‘iyaadat pun berasal dari akar kata itu yang berubah bentuknya. Adat (‘aadat) yang telah melekat pun bisa dikatakan ‘aadat mustamirah (adat kebiasaan yang baku).

Begitu juga dalam Islam, istilah ‘id digunakan untuk kegembiraan, dan sejauh hubungannya dengan menjenguk (‘iyaadat) orang sakit di dalamnya mengandung pengertian bahwa dengan seringnya menjenguk (‘iyaadat) orang sakit maka akan mendatangkan ketenteraman bagi si pasien (orang sakit). Dan karena seringnya menjenguk (‘iyaadat) orang sakit tersebut maka menyebabkan ia (si pasien) mendapat kesembuhan…..

Pendek kata, pada hari ini yang merupakan pengabulan bagi taubat setelah dilakukannya pengorbanan di bulan Ramadhan, ada satu khabar suka dari Tuhan bahwa, “Ibadah kalian terkabul, pengorbanan kalian telah diterima. Allah Yang Mahasuci telah menganugerahkan kepada kalian kehidupan baru nan suci.” Dalam hari kegembiraan yang dirayakan ini dinamakan ‘id. Dan di dalamnya terkandung doa, “Semoga hari ini menghampiri kita berulangkali dan berkali-kali pula kita dapat berkumpul dengan kegembiraan dalam hari yang seperti itu.” …..

‘Id Perdana

Kapan ‘Id dilaksanakan? Tentang hal ini sejauh yang saya selidiki terbukti bahwa Ramadhan pertama kali dilaksanakan pada tahun ke-2 Hijrah. Dan bukti ini tidak ada sanggahan tertulis dari kitab manapun. Dan pada bulan Ramadhan tersebut sedang terjadi Perang Badar, yang beberapa hari kemudian tiba hari ‘Id dan orang-orang Islam telah merayakan ‘Id pertama setelah perang selesai selagi luka-luka akibat perang belum pulih sepenuhnya.

Tentang Rasulullah SAW sendiri diriwayatkan bahwa keletihan masih membekas pada beliau SAW yang karenanya beliau SAW bersandar pada Hadhrat Bilal RA dan pada saat bersandar itulah beliau menyampaikan khutbah. Inilah ‘Id yang beberapa hari sebelumnya beliau SAW telah mengumumkan Sedekah (Zakat) Fitrah disamping mewajibkannya. Beliau SAW bersabda bahwa Fithrah ‘Id telah diwajibkan atas seluruh sahabat yakni pada waktu itu telah dikumpulkan Fitrah dari orang-orang Islam dan sudah terkumpul sebelum tiba hari ‘Id lalu dibagi-bagikan kepada fakir-miskin pada hari ‘Id atau sesudahnya.

Hafizh Ibnu Katsir pun mengakui riwayat ini dan menerangkan bahwa pada kesempatan ‘Id pertama, mula pertama Rasulullah SAW pergi meninggalkan masjid menuju suatu tanah lapang dan di sana merayakan ‘Id. Setelah itu semua perayaan ‘Id berjalan (dilakukan) seperti itu yakni semua berkumpul di lapangan terbuka untuk melaksanakan Shalat ‘Id, bukan dalam masjid.

Satu hikmah yang melatarbelakanginya yaitu ‘Id merupakan nama keadaan berkumpulnya orang-orang dari berbagai pelosok yang lebih luas. Bukan hanya berkumpulnya orang-orang sekota di satu masjid jami’ melainkan berkumpulnya orang-orang dari daerah-daerah yang jangkauannya lebih luas dalam satu tempat dan satu sama lain saling gembira. Oleh karena itu lazimnya masjid-masjid biasa akan menjadi kecil dan Rasulullah SAW dengan latar belakang ini telah mengerjakan Shalat ‘Id di lapangan terbuka.

Sebagai batas pemisah, di hadapan beliau SAW ditancapkan tombak dan tombak itulah yang telah dihadiahkan oleh Raja Najasi kepada Hadhrat Zubair RA. Sesudah itu cara inilah yang menjadi kebiasaan. Bila saja Rasulullah SAW hadir mengimami Shalat ‘Id selalu dipasang batas pemisah yang mengarah ke kiblat agar apabila ada yang lewat tidak merusak kekhusu’an shalat. Biasanya batas pemisah yang digunakan tombak atau tongkat dan di masa kemudian hal ini menjadi kebiasaan yang berlanjut…..

Tanpa Adzan dan Iqamat

Ada satu riwayat lain yang juga dituturkan oleh Hadhrat Jabir RA, “Saya bersama Rasulullah SAW hadir shalat pada hari ‘Id. Beliau SAW memimpin shalat sebelum berkhutbah – seperti kebiasaan sampai saat ini – tanpa adzan dan iqamat. Setelah selesai shalat beliau SAW berdiri dengan bersandar pada Bilal RA – ini kira-kira pada kesempatan ‘Id yang pertama – dan beliau menekankan tentang ketakwaan kepada hadirin, menggalakkan tentang ketaatan serta nasehat lainnya. Kemudian beliau SAW menghampiri kaum wanita dan memberikan nasehat-nasehat pula.”

Itulah sebabnya setelah shalat dan khutbah ‘Id, saya pun mendatangi kaum wanita dan memberikan nasehat-nasehat karena ini merupakan sunnah Rasulullah SAW dan ini adalah hak bagi kaum wanita agar mereka didatangi dan diberikan sedikit wejangan. Beliau SAW tidak bicara panjang lebar di depan kaum wanita namun sedikit banyak pasti beliau SAW menyampaikan beberapa patah kata sebagai nasehat.

Nasehat kepada Kaum Wanita

Pada kesempatan itu tatkala diberlakukan Sedekah (Zakat) ‘Idul Fitri, Rasulullah SAW memberikan nasehat kepada kaum wanita supaya membayar sedekah, kalau tidak maka yang terbanyak di antara kaum wanita akan menjadi bahan api neraka. Kemudian seorang wanita berdiri. Dan sesuai dengan penuturan Hadhrat Jabir RA, ia seorang wanita berkulit merah kehitaman yaitu warna hitam yang tidak terlalu pekat, lebih mendekati kemerah-merahan. Begitulah gambaran kulit wanita tersebut.

Ia seorang wanita terhormat di lingkungan masyarakatnya, ia bertanya keheranan, “Mengapa demikian, wahai Rasulullah? Apakah yang terjadi pada kaum wanita sehingga Yang Mulia memperingatkan perkara neraka?” Rasulullah SAW menjawab, “Karena kalian terlalu banyak berkeluh-kesah dan tidak berterima kasih terhadap suami kalian.”
Menurut Hadhrat Jabir RA bahwa ketika itu kaum wanita melepaskan gelang, kalung, anting-anting mereka dan mengumpulkannya pada kain selendang Hadhrat Bilal RA. Mereka melakukan demikian agar kesalahan dan kelalaiannya dapat terhapus dengan pemberian sedekah tersebut dan Allah Ta’ala ridha atasnya (HR Muslim dan Nasa’i).

Cara Rasulullah SAW Merayakan ‘Idul Fitri

Bagaimana cara Rasulullah SAW merayakan hari ‘Id? Terdapat riwayat di dalam Shahih Bukhari, Kitaabul ‘Iidain dan Shahih Muslim, Kitaabush-Shalaatul ‘Iidain, sebagai berikut: Hadhrat Aisyah RA menerangkan , “Rasulullah SAW pulang ke rumahku, saat itu hari ‘Id. Ketika itu didekatku ada dua orang anak perempuan sedang menyanyikan lagu peperangan Bu’ats. Beliau SAW berbaring di atas dipan dan memalingkan wajah beliau ke tempat lain. Mereka bukan saja memainkan seruling yang biasa digunakan di kalangan orang-orang Arab disertai nyanyian merdu bahkan juga diiringi rebana dan lain-lain. Rasulullah SAW berbaring di atas dipan dan kemudian mengalihkan perhatian ke arah mereka. Lalu dating Abu Bakar RA serta memarahiku dan berkata, ‘Bunyi seruling setan dan rebana di dekat Rasulullah SAW?’. Namun beliau SAW tidak merasa keberatan atas suara merdu tersebut.” (dalam hadits di atas Nabi s.a.w. tidak menganjurkan cara memperingati hari raya dengan tetabuhan dan nyanyian melainkan itulah cara orang habsyi Madinah merayakan kegembiraan. Nabi s.a.w. tdk melarangnya…memberi toleransi karena dari isi nyanyian tdk bertentangan dng ajaran Islam dan hikmah Id. Dildaar)

Seruling, Rebana dan Lagu

Dewasa ini banyak type kyai yang secara bengis menetapkan haram mendengarkan suara merdu wanita. Suara merdu yang bagaimana yang boleh didengar serta memperdengarkan (menyanyikan) tentang apa, ini patut diambil penyelesaiannya yaitu apakah patut mendengarkannya ataukah tidak? Dan ini pun tergantung siapa orang yang mendengarkannya; hal ini sedikit banyak berbeda. Namun walaupun demikian Hadhrat Abu Bakar RA berkata, “Bunyi seruling setan dan rebana di dekat Rasulullah SAW?” dan Rasulullah SAW melihat kepada Hadhrat Abu Bakar RA seraya bersabda, “Biarkan mereka bernyanyi.”

Kemesraan

[Selanjutnya Hadhrat ‘Aisyah RA menceritakan], “Ketika beliau SAW lengah kuisyaratkan kepada kedua anak perempuan itu untuk pergi. Jadi inilah hari ‘Id di mana orang-orang Habsyi bermain pedang dan perisai lalu kukatakan kepada Rasulullah SAW atau barangkali beliau SAW yang mengatakan kepadaku – yakni orang yang meriwayatkan tidak ingat apa yang dikatakan Hadhrat ‘Aisyah RA: Apakah aku yang berkata ataukah Rasulullah SAW sendiri yang mengatakan kepadaku – katanya, ‘Apakah engkau ingin melihat pertunjukan itu?’ Aku jawab, ‘Ya, lalu beliau menyuruhku berdiri di sampingnya dan pipiku dekat dengan pipi beliau. Beliau SAW berkata, ‘Hai Bani Afridah, perlihatkan lagi pertunjukan’, sampai akhirnya aku merasa bosan lalu beliau SAW menyuruhnya berhenti dan menyuruh pergi kedua anak perempuan tersebut.”

Lagu-lagu yang Sopan dalam Perayaan ‘Id dan Pernikahan

Inilah cara kegembiraan yang bersih dan selalu dilakukan oleh Rasulullah SAW pada hari raya ‘Id bersama-sama dengan istri beliau SAW. Dan ada riwayat mengenai hal itu dalam Shahih Bukhari yang menerangkan bahwa anak perempuan itu bukanlah penyanyi bayaran yang memiliki suara yang bagus. Diriwayatkan pula bahwa Hadhrat Abu Bakar RA mengatakan di hadapan Rasulullah SAW, “Bunyi seruling setan dan rebana?” Riwayat ini menerangkan perihal hari raya ‘Id. Dan di dalam riwayat yang berbeda ini dikatakan bahwa Rasulullah SAW bermaksud untuk memberi pengertian kepada Hadhrat Abu Bakar RA bahwa tiap-tiap kaum mempunyai suatu cara merayakan Hari Rayanya dan sekarang adalah hari raya ‘Id kita. Jadi, pada kesempatan bergembira [mendengarkan] nyanyian anak-anak perempuan tidak dilarang.

Sebagian orang juga menyanggah (melarang) adanya lagu-lagu dan bunyi-bunyian pada waktu perayaan perkawinan serta memperlihatkan tindakan keras yang melampaui batas. Sebaiknya lagu-lagu jangan yang mengandung unsur jorok. Kalau menyanyikan lagu-lagu yang ungkapannya baik dan suci maka tidaklah ada halangan untuk didengar oleh tuan rumah ataupun tamu undangan.
Akan tetapi bila suatu perkara dipandang berlebihan dan melampaui batas maka perkara itu tidak lebih baik bahkan menjadi buruk. Oleh karena itu dalam perkara ini harus diperhatikan proporsi (keseimbangan)nya (Bukhari, Kitaab Al-‘Idain, Baab Sunnatul ‘Idain Lil-Ahlil-Islam).

Hari Raya Pra-Islam

Ada riwayat tentang hari raya ‘Id bahwa Rasulullah SAW ketika tiba di Madinah mengadakan suatu perayaan selama dua hari yang di dalamnya seluruh kaum ikut bergembira. Di dalam pertemuan-pertemuan tersebut dikisahkan tentang orang-orang terdahulu yang mereka hormati. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Tuhan telah menetapkan dari dua hari ini sebagai Hari Raya yang terbaik bagimu. Pertama hari raya ‘Idul Fithri dan kedua, hari raya ‘Idul Adh-ha” (Sunan Abu Dawud, Kitaab Ash-Shalat Baab Shaalat ‘Idain).

Menyikapi Istri yang Kurang Bersyukur

….. para wanita ….. berlebih-lebihan seperti sabda Rasulullah SAW bahwa kaum wanita banyak yang tidak bersyukur. Bagaimana sikap Rasulullah SAW? Beliau SAW bersabda, “Khoirukum khoirukum li-ahlihi wa ana khoirukum” (Di antara kalian yang terbaik dalam pandangan Tuhan adalah yang paling baik terhadap keluarganya (istrinya) dan saya adalah contoh yang terbaik dalam hal perlakuan terhadap istri.”

Rasulullah SAW tidak pernah menampakkan sikap dan tindakan yang tidak terpuji akibat ketidakbersyukuran istri. Beliau SAW memberi pengertian dengan cara yang baik dan kasih-sayang, juga turut mendoakan, hasilnya mereka yang sebelumnya memang wanita-wanita terhormat dan suci di hadapan Tuhan, mereka telah meraih keberhasilan. Mereka setelah mendapat didikan Rasulullah SAW telah menjadi seorang yang bersih dan berkilauan serta meninggalkan suri teladan yang suci bagi generasi wanita selanjutnya.

Ketidakbersyukuran mereka dahulu berubah menjadi rasa syukur yang dalam. Rasa kesadaran mereka dari hari ke hari terus bertambah. Tak ada yang lebih dari keberuntungan seperti itu di masa wanita-wanita itu berada di dalam rumah kehidupan Rasulullah SAW. Jadi, perhatikan suri teladan Rasulullah SAW dan carilah berkat kerohanian dari beliau SAW. Jika tidak demikian, saya meyakinkan Saudara-saudara bahwa karenanya beliau SAW akan berduka. Wanita-wanita yang bukan saja menjadi sasaran aniaya suaminya bahkan ibu/bapak mertua pun turut pula menganiayanya; tentu beragam keadaan deritanya. Pada saat gembira pun tidak dibiarkannya; dan tanpa kesalahan mereka mencaci serta mencercanya…..

Demikian pula ibu mertua pun memperlihatkan kebencian dan mendidik anaknya agar menbenci istrinya. Apakah ia sendiri bukan seorang wanita?! Apakah ia sendiri tidak menjadi sasaran kebencian itu?! Adalah suatu tindakan tercela dan tidak simpati apabila terdapat di lingkungan keluarga Ahmadi; berarti kita tidak pantas untuk menjadi pendidik bagi seluruh dunia.

Eropa dan Emansipasi Wanita

Saat ini masyarakat Eropa tengah menggembar-gemborkan perihal harga diri dan kehormatan wanita dan mereka mencela Islam. Karena menurut anggapan mereka Islam tidak memberi tempat terhormat kepada kaum wanita. Oleh karena itu biarpun Saudara-saudara mengajarkan ribuan kali tetapi apabila Saudara-saudara tidak mendudukkan kaum wanita (istri) pada tempat terhormat di mata masyarakat niscaya Saudara-saudara (para suami) bukanlah orang yang berhak untuk menampilkan wajah Islam kepada bangsa-bangsa lain dengan sempurna sebab dengan perlakuan terbaik terhadap kaum wanita akan tercipta masyarakat yang terbaik yang tidak dapat dijumpai di sini.

Di tengah masyarakat bangsa Eropa gencar dibicarakan soal kebebasan kaum wanita, kehormatan kaum wanita, hak-hak mereka tetapi kenyataannya kaum wanita sendiri pada masyarakat Barat dipermainkan ibarat sebuah barang mainan yang apabila sudah tak berguna keadaannya seperti barang rongsokan yang dibuang yang karenanya pihak keluarganya akan teramat duka. Kebebasan yang mereka gembar-gemborkan hanyalah sebuah semboyan semata tetapi kenyataannya kaum wanita sangat teraniaya. Akibat mabuk berapa banyak kaum wanita yang menjadi korban aniaya dan ini merupakan suatu kenyataan yang sangat mencemaskan.

Oleh karena itu saya tidak mengatakan bahwa keadaan masyarakat Barat ini baik tetapi hal-hal yang baik mesti diakui bahwa itu betul sesuatu yang baik. Kalau harga diri kaum wanita gencar dibicarakan maka sungguh pembicaraan itu suatu hal yang baik meskipun pada prakteknya demikian atau tidak. Bila dibicarakan seputar harga diri dan kehormatan wanita, topik pembicaraan ini bagus akan tetapi yang lebih dari itu bisa diperoleh dalam agama Islam.

Para Suami Harus Berlaku Baik terhadap Istri-istrinya

Perlakuan terhadap wanita seperti yang dipraktekkan Hadhrat Rasulullah SAW apabila kita perhatikan sejarah para nabi yang ada di seluruh dunia yang sampai kepada kita, bisa saja dikatakan bahwa perlakuan yang seperti itu di dunia manapun tidak pernah ada dipraktekkan oleh seorang pria terhadap seseorang wanita. Ini contoh keteladanan bagi kita yang harus kita amalkan di rumah tangga masing-masing maka Saudara-saudara pasti akan memperoleh ‘Id yang hakiki. Jika tidak maka kedukaan akan menimpa Saudara-saudara…..

‘Id yang hakiki baru bias dirasakan manakala Saudara-saudara akan memperlakukan istri-istri seperti perlakuan Rasulullah SAW terhadap istri-istri beliau…..

Lingkungan masyarakat akan menjadikan citra kehidupan surga di rumahnya maka demi Tuhan, Saudara-saudara akan unggul, tidak lambat bahkan akan lebih cepat lagi karena inilah contoh amalan yang saat ini telah dinantikan oleh dunia dan tidak akan didapat contoh ini selain dari rumah tangga Ahmadi. Semoga Allah SWT memberi taufik kepada kita sekalian…..

Saya berpikir bahwa pada kesempatan hari raya ‘Id ini saya harus mengingatkan mereka dan menyampaikan ‘Id Mubarak terlebih dahulu kepada mereka dari kita semua, saya sendiri, atas nama seluruh dunia dan dari seluruh anggota Jemaat di seluruh dunia, saya ucapkan: Assalamu ‘alaikum dan ‘Id Mubarak kepada keluarga orang-orang Ahmadi yang telah syahid dan salam penuh kecintaan serta ‘Id Mubarak dari seluruh warga Jemaat untuk orang-orang yang teraniaya di jalan Allah, baik mereka yang telah menanggung kedukaan dan yang sedang menghadapinya.

Khutbah Kedua

Setelah khutbah kedua dan sebelum berdoa, Hudhur ATBA bersabda, “Sebelum berdoa, sebagai tambahan, saya ingin menyampaikan satu permohonan lagi: agar orang-orang Ahmadi yang berasal dari tempat jauh, dengan rasa kecintaan menanggung kesusahan mengeluarkan biaya serta meninggalkan kebahagiaan ‘Id di rumah dan sengaja datang untuk mengucapkan belasungkawa, kepada semuanya saya haturkan jazakumullah ahsanal jaza dan ‘Id Mubarak. Mari kita berdoa.

Sumber: Darsus No. 44/1992 (Penerjemah: Mln. H. Zafrullah Nasir, Mbsy).

Oleh : Abdul Rozzaq

Pada hakikatnya ilmu itu adalah milik Allah SWT, teristimewa ilmu agama atau keruhanian yang dibawa para Nabi untuk menerangi hati manusia agar dapat mengenal Allah SWT dan mengetahui cara-cara mengabdikan diri kepada-Nya. Nabi kita Sayyidina Muhammad, Rasulullah SAW adalah hamba Allah SWT yang telah dikaruniai ilmu ruhani atau agama paling sempurna, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Quran berikut:

فَوَجَدَا عَبْدًا مِنْ عِبَادِنَا ءَاتَيْنَاهُ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِنَا وَعَلَّمْنَاهُ مِنْ لَدُنَّا عِلْمًا
Maka mereka bertemu dengan seorang hamba dari hamba-hamba Kami yang telah Kami anugerahi rahmat dari kami dan telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari hadhirat Kami (Al-Kahfi, 18:66)

Meskipun ilmu ruhani Islam Nabi kita itu sempurna, beliau hanya diberi tugas sebagai juru ingat manusia dengan ilmu Allah SWT tersebut, sebagaimana firman Allah SWT berikut:
قُلْ إِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللَّهِ وَإِنَّمَا أَنَا نَذِيرٌ مُبِينٌ
Katakanlah, sesungguhnya ilmu itu hanyalah di sisi Allah dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi ingat yang menjelaskan (Al-Mulk, 67:27)

Kalau Nabi paling agung dan sempurna saja hanya diberi tugas sebagai pembawa kabar suka dan juru ingat, apalagi para pengikut beliau yang hanya sebagai pewarisnya, tentu bagian ilmu yang didapatkan sangat sedikit, sebagaimana pernyataan Allah SWT berikut:

وَمَا أُوتِيتُمْ مِنَ الْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا
Dan kamu tidak diberi ilmu melainkan sedikit (Bani Israil, 17:86)

Terlebih bagi generasi pengikut Islam yang hidup berabad-abad sesudah Nabi kita Muhammad SAW, tentulah ilmu mereka lebih sedikit lagi, karena ilmu-ilmu Allah tersebut akan hilang bersamaan dengan wafatnya Ulama pewaris Nabi, sebagaimana Hadits-hadits yang berisi kabar gaib tentang dicabutnya ilmu Islam tersebut. Guna lebih jelasnya masalah tersebut, marilah kita simak tiga Hadits berikut:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنْكُمْ بَعْدَ مَا أَعْطَاكُمُوهُ إِنْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ وَيَبْقَى الْجُهَّالُ فَيُسْأَلُونَ فَيَفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ
Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu dari kalian setelah aku berikan kepada kalian, akan tetapi Dia akan mencabut para Ulama sehingga yang tertinggal orang-orang bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa, maka mereka itu sesat dan menyesatkan (Ath-Thabrani dalam Al-Ausat dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28741)

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَ يَنْتَزِعُ الْعِلْمَ مِنْكُمْ بَعْدَ مَا أَعْطَاكُمُوهُ إِنْتِزَاعًا وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعُلَمَاءَ بِعِلْمِهِمْ وَتََبْقَى الْجُهَّالُ فَيُسْأَلُونَ فَيُفْتُونَ فَيَضِلُّونَ وَيُضِلُّونَ
Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu dari kalian setelah aku berikan kepada kalian, akan tetapi Dia akan mencabut para Ulama dengan ilmu mereka, sehingga yang tertinggal orang-orang bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa, maka mereka itu sesat dan menyesatkan (Ath-Thabrani dalam Al-Ausat dari Abu Hurairah ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28980)

إِنَّ اللهَ تَعَالَى لاَيَقْبِضُ الْعِلْمَ مِنْكُمْ إِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا فَأَفْتَوا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

Sesungguhnya Allah ta’ala benar-benar tidak akan mencabut ilmu, Dia akan mencabutnya dari para hamba, akan tetapi Dia akan mencabut ilmu itu dengan mencabut para Ulama sehingga Dia tidak meninggalkan seorang alim pun, maka manusia menjadikan para pemimpin yang bodoh-bodoh, lalu mereka ditanya, maka mereka memberikan fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka itu sesat dan menyesatkan (Ahmad bin Hanbal dalam Musnadnya, Al-Bukhari, Juz Awwal Kibul-Ilmi, bab Kaifa Yaqbidhul-Ilma, hal. 30, Cet. Sulaeman Mar’I, Singkapurah, Muslim, At-Turmudzi, Ibnu Majah dari Ibnu Umar ra dan Kanzul-Ummal, Juz X/ 28981)

Berdasarkan ketiga Hadits tersebut, akan datang satu zaman yang kaum muslimin kehilangan Ulama yang berilmu, akibatnya banyak pemimpin umat yang tidak malu-malu mengeluarkan fatwa yang berisi menyesatkan orang lain tanpa ilmu Allah SWT, baik dari kitab suci Al-Quran maupun Hadits Rasulullah SAW yang menyebabkan kekisruhan yang jauh dari indikasi Islam yang penuh kedamaian dan kasih sayang. Sebaliknya malah melahirkan kezhaliman yang diwarnai kebencian dan kedengkian. Hidup dalam zaman demikian ini, seorang muslim harus bersabar dalam mempertahankan keimanannya dengan banyak mengamalkan doa Rasulullah SAW yang diajarkan kepada sahabat tercinta Ali bin Abi Thalib RA berikut:

عَنِ الْحَارِثِ قَالَ قَالَ لِيْ عَلِيٌّ : أَلاَ أُعَلِّمُكَ دُعَاءً عَلَّمَنِي رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ قُلْتُ بَلَى ، قَالَ قُلْ: اَللَّهُمَّ افْتَحْ مَسَامِعَ قَلْبِيْ لِذِكْرِكَ وَارْزُقْنِي طَاعَتَكَ وَطَاعَةَ رَسُوْلِكَ وَعَمَلاً بِكِتَابِكَ
Dari Harits berkata: Ali telah berkata kepadaku: Maukah aku ajarkan kepada engkau doa yang telah diajarkan Rasulullah SAW kepadaku? Aku berkata ya, ia berkata: Wahai Tuhanku bukalah pendengaran-pendengaran hatiku untuk mengingat-Mu dan rejekikanlah kepadaku ketaatan kepada-Mu dan ketaatan kepada rasul-Mu dan perbuatan yang berdasarkan Kitab-Mu (Ath-Thabrani dalam Al-Ausath dan Kanzul-Ummal, Juz II/ 5051)

Saya membaca suatu tulisan dalam majalah ‘Time’ tanggal 18 April 1955 yang diterbitkan di Amerika Serikat. Di dalamnya dibicarakan perkara gambar Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam juga, hanya disini mengenai patung. Setelah membaca tulisan itu saya merasa sedih karena dari ini tulisan itu ternyata bahwa bukan hanya khalayak ramai saja, malahan orang-orang perwakilan diplomatik dari negara-negara Islam yang berada di Amerika juga tidak mengetahui apa sebabnya kita umat Islam tidak suka gambar Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dibuat dan disiarkan. Karena ketidak-tahuan mereka itu maka jawaban yang mereka berikan untuk menerangkan persoalan itu jangankan akan menyebabkan orang-orang lain mengerti malahan menyebabkan mereka ini bertambah tidak tahu. Dan hasilnya begitu rupa sehingga jangankan mereka akan bersimpati dengan kita, malahan orang-orang lain itu menertawakan kita.

Dalam tulisan majalah ‘Time’ itu diceritakan bahwa pada sebuah gedung pengadilan negeri di New York akan ditempatkan kembali lima buah patung dari ahli-ahli hukum dunia yang terbesar sesudah diturunkan dari sana untuk diperbaiki karena sudah mulai rusak. Diantara kelima patung itu terdapat sebuah patung dari junjungan kita Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam tetapi akhirnya atas desakan Pakistan, Indonesia dan negara-negara Islam lain pengurus yang mengatur pekerjaan menempatkan kembali patung itu memutuskan untuk tidak menempatkan kembali patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam. Penulis majalah itu telah memainkan penanya secara tak jujur dan melahirkan celaan-celaan dengan tidak terus terang. Akhirnya ia berkata bahwa sedikitpun tidak ada alasan bahwa penduduk kota New York akan bisa menyembah patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam. Berhubung dengan tidak jadinya patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam itu ditempatkan pada gedung pengadilan yang terletak di Manhattan (sebagian dari kota New York) itu maka penulis itu memberi karangannya dengan kepala/judul “Hegira from Manhanttan” ( Hijrah dari Manhattan ).

Suatu Pertanda

Kita tidak berkeberatan kalau peristiwa tidak jadi ditempatkannya patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam di gedung Manhattan itu disebutkan sebagai Hijrah. Malahan kita menggangap hal itu sebagai suatu pertanda atau alamat yang mengggembirakan. Karena dengan demikian Tuhan rupanya telah mentakdirkan Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam seorang manusia yang tidak ada duanya, dengan segala kebesaran sebagai seorang panglima yang baru menang akan kembali pada tempat dari mana beliau telah hijrah itu. Kita mengucapkan: ‘alhamdu lillah, orang Amerika telah menyerahkan negerinya kepada Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana Mughirah ibni Syu’bah pernah berkata: “Allahu Akbar, Kisra (Raja Persia) telah menyerahkan tanah airnya ke tangan kami.”
Tetapi kalau penulis itu berkata bahwa orang tak usah khawatir bahwa penduduk kota New York tidak akan mungkin sampai menyembah patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam maka hal itu adalah tidak benar. Hal ini disebabkan oleh kebiasaan penduduk kota menyembah seorang manusia bernama ‘Jesus’ yang bilamana mereka nanti mengerti hakikat dan kedudukan Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam yang sebenarnya, sedang pendidikan (agama) mereka tidak pula terjaga baik, maka sangatlah dikuatirkan bahwa penduduk itu akan meninggalkan pemujaan terhadap Jesus dan sebagai gantinya akan memuja dan menyembah lebih besar lagi terhadap Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam. Kenapa demikian? Hal demikian karena jika kedua orang (Nabi ‘Isa ‘alaihissalam dan Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam) itu dibandingkan maka Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam beribu-ribu lebih besar dan mulia dari Jesus. Maka itu untuk menegakkan tauhid atau keesaan Tuhan dan untuk kepentingan dan kebaikan orang-orang Amerika maka kemungkinan akan terjadinya yang dikuatirkan itu hendaklah dicegah dari sekarang.

Kita kembali lagi kepada persoalan yang kita bicarakan tadi. Dari tulisan majalah ‘Time’ itu nyatalah bahwa orang-orang perwakilan diplomatik dari negara-negara Islam tidak memberikan penerangan yang seharusnya sehingga karena itu musuh-musuh Islam mendapat kesempatan untuk melampiaskan keinginan-keinginannya yang tidak baik terhadap pribadi nabi kita, Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam. Maka itu saya sengaja membuat karangan ini dan saya berharap agar isi karangan ini dapat memberi penjelasan kepada orang-orang yang belum tahu apa maksud dari laragan membuat gambar Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam

Penerangan Atas Larangan

Islam adalah suatu syari’at yang paling sempurna dan yang terakhir. Setiap hukum dan perintahnya sangat memperhatikan fitrat dan rasa manusia. Itulah sebabnya maka bila ia melarang sesuatu perbuatan itu terlarang tetapi ia jua menerangkan apa yang menjadi faktor dan pendorong dari perbuatan terlarang itu dan melarang kedua hal itu dikerjakan dan larangan itu diberikan secara demikian sehingga kita dapat melawan yang terlarang itu dengan mudah dan dapat membentengi diri kita dari kejahatan.

Menghindarkan diri dari suatu perbuatan dosa yang sudah dilakukan manusia turun-temurun dan yang sudah merpakan adat kebiasaan bukanlah pekerjaan yang mudah. Untuk mencapai itu segenap rasa dan perhatian manusia harus dibelokkan ke jurusan lain. Mereka bukan hanya harus dicegah mengerjakan perbuatan-perbuatan bid’ah yang mereka adakan sendiri itu, tetapi mereka juga harus dilarang melakukan sesuatu perbuatan yang dapat menimbulkan ingatan dan perasaan kepada hal yang terlarang dan yang akan melemahkan kekuatan iradah/kehendak mereka. Dalam bahasa Punjab ada pepatah: ‘Jangan kamu tanyakan jalan ke suatu desa bila engkau tidak berkehendak pergi ke sana’. Islam menjalankan cara seperti itu. Ia mengatakan bahwa kalau engkau tidak ingin pergi ke suatu tempat karena ingin memperoleh keridhaan Tuhanmu, janganlah engkau tanyakan jalan ke tempat itu, bahkan mukamu jangan engkau hadapkan ke sana.
Hal ini dijelaskan oleh Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dengan sabda beliau: Bila penggembala menggembala ternaknya di dekat tempat terlarang sangat mungkin sekali bahwa ternaknya akan masuk kedalam tempat terlarang itu sehingga karena itu yang empunya tempat itu akan marah kepada penggembala itu. Selanjugnya beliau bersabda: Tempat terlarang kepunyaan Allah, Raja dari langit dan bumi, ialah apa-apa yang yang diharamkannya. Kalau engkau ingin menghindarkan dirimu dari larangan-larangan Tuhan itu, janganlah kaudekati tempat terlarang itu, karena hewan nafsumu buta dalam memenuhi kehendaknya. Kalau engkau lengah sekejap saja ia akan masuk ke tempat terlarang itu. Oleh karena itu gembalakanlah ternakmu pada tempat yang terhindar dan terjauh dari tempat yang terlarang. Kalau ia pergi juga ke jurusan tempat yang terlarang engkau akan sempat menghalaunya sebelum ia sampai ke sana.

Al-Lamam

Tentang hal ini Allah berfirman dalam Al-Quran Suci:
‘alladziina yajtanibuuna kabaairol itsmi wal fawaahisya illal lamam’
“Orang-orang yang beramal baik ialah yang suka menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji kecuali lamam” (An-Najm: 32)
Yang dimaksud dengan lamam ialah daerah yang berada di dekat tempat larangan. Maksud firman Allah itu ialah bahwa orang-orang yg beramal baik adalah mereka yg bisa mengendalikan menahan nafsunya, yang karena kelemahannya sebagai manusia kadang-kadang sampai kepada daerah di dekat tempat terlarang tetapi kemudian memutar nafsunya ke arah lain.

Adalah karena mengingat dasar Islam yang diuraikan diatas ini maka Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam melarang pemakaian sesuatu benda yang akan dapat menggerakkan hati manusia melanggar perintah larangan meminum minuman keras setelah firman Allah tentang larangan minum turun. Beliau melarang pengikut-pengikut memakai alat-alat pembuat dan tempat menyimpan minuman itu. Selanjutnya beliau menjauhkan pikiran orang dari ingatan minuman dengan jalan memerintahkan supaya waktu-waktu yang tadinya dipakai untuk meminum minuman keras itu digunakan untuk dzikir kepada Allah dan beribadah kepada-Nya. Dalam usaha membasmi kejahatan minum itu beliau telah berhasil secara gilang gemilang jang tidak ada taranya. Dan ini adalah suatu mukjizat beliau yang tidak pernah terdapat pada nabi-nabi lain.

Musyrik Pemalu

Untuk menegakkan keesaan Allah yang merupakan tujuan utama dari Islam dan pendirinya, maka dasar yang dikemukakan di atas dipentingkan pula. Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam diutus ke dunia pada waktu syirik sedang bersimaharajalela dan itu sudah merupakan suatu warisan bangsa dan kaum turun-temurun. Bukan hanya orang-orang yang tidak beragama saja yang terperosok kedalam bencana itu bahkan orang-orang ahli kitab juga tidak terlepas dari cengkeramannya. Justru di saat itulah Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam mulai mengibarkan bendera tauhid. Beliau terangkan kepada kita macam-macam dari syirik sampai kepada bentuknya yang sehalus-halusnya. Begitu jelas dan jitu beliau menerangkan keburukan syirik itu sehingga jutaan orang penyembah berhala sekarang ini merasa malu kalau mereka disebutkan kaum musyrik (pagan/penyembah berhala). Sedang orang-orang yang menyembah tiga Tuhan dan bahkan mereka yang memuja seorang perempuan Maryam (Maria) disamping Tuhan atau yang sujud kepada berbagai-bagai wali berkeras mempertahankan anggapan mereka bahwa mereka tetap berpegang kepada tauhid (penyembahan hanya terhadap Tuhan dan mengakui keesaan/ketunggalan-Nya).

Jadi ajaran Islam telah berhasil besar membasmi syirik. Hasil yang besar ini tak akan mungkin dicapai oleh agama lain selain Islam; bahkan seperseribunya saja tidak. Dan usaha yang amat besar itu tidak akan dapat dilaksanakan Islam sendiri kalau ia hanya mencegah syirik-syirik yang lahir saja dan tidak melarang juga syirik-syirik yang tersembunyi serta bibit atau hal yang akan menyebabkan syirik tumbuh. Diantara macam-macam cara yang dilakukan Islam untuk memberantas syirik itu ialah melarang pembikinan gambar-gambar dan patung dari orang-orang (yg dicintai) Tuhan yang saleh. Larangan itu lebih-lebih berlaku terhadap pembuatan gambar dan patung nabi-nabi yang muncul ke dunia ini sebagai mazhar dari Tuhan. (berarti termasuk penggambaran/pelukisan thd Nabi ‘Isa/Jesus, Nabi Buddha, Kong Hu cu, Brahma/Abraham/Ibrahim, Socrates, dan nabi-nabi lainnya ‘alaihimusssalam yg sampai sekarang dipuja-puja sebagai dewa atau semacamnya. Barangkali termasuk juga penggambaran/pelukisan thd para wali/orang-orang suci-Dildaar)

Maksud larangan ini ialah supaya orang-orang jangan terperosok lagi kedalam jurang syirik karena melihat gambar dan patung itu sebagaimana sudah terjadi dengan orang-orang dahulu. Jadi sebab pertama maka islam melarang pembuatan gambar dan patung dari ialah untuk mencegah kemungkinan terbukanya kembali pintu syirik yang sangat berbahaya itu. Tetapi disamping sebab yang terutama dan terpenting itu masih ada lagi sebab-sebab lain buat larangan itu. Sebab yang pertama itu berhubungan dengan pengikut-pengikut dan murid-murid nabi. Sedang sebab-sebab yang lain bertalian dengan hal-hal lain.

Gambar Nabi Tidak Ada

Pekerjaan membuat gambar dan patung Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam adalah bertentangan dengan kesucian beliau sendiri. Tarikh/sejarah menunjukkan bahwa diwaktu beliau Nabi kita tak pernah bargambar dan kawan atau lawan beliau tak pernah pula membuat gambar –gambar atau patung beliau. Pun kemudian setelah beliau wafat tidak pula ada kehendak diantara orang-orang yang telah melihat keindahan dan kemuliaan rupa beliau untuk melakukan pembuatan gambar atau patung itu. Karena itu nyatalah bahwa gambar dan patung beliau yang dibuat orang belakangan adalah hasil dari daya khayal pembuat gambar atau patung itu belaka.

Kita berpendapat bahwa seseorang yang menggambarkan atau mematungkan Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam yang lahir ke dunia sebagai mazhar yang terbesar dari Tuhan, adalah menghina beliau, sekalipun yang melakukan pekerjaan itu ialah orang besar yang sangaqt cinta kepada beliau dan pekerjaan itu dikerjakannya dengan keikhlasan dan kesungguhan yang sebesar-besarnya. Bahkan saya dapat mengatakan bahwa Al-Masih Israili sekalipun, kalau ia betul-betul datang kembali ke duni ini, tidak akan sanaggup menciptakan rupa Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam yang sebetulnya dalam gambar atau patung karena maqam dan martabat Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam demikian luhur dan mulianya sehingga manusia yang bagaimanapun tak akan berdaya membayangkannya, bahkan malaikat sekalipun tak berani tampil kemuka untuk mengatakan hal itu.
“Karena tingginya kedudukan beliau maka bulu dan sayap Jibrail akan hangus karena pancaran yang maha-hebat dari nur Tuhan yanag menjelma pada diri beliau”, demikian bunyi suatu syair.

Meskipun maqam itu adalah maqam/kedudukan rohani, tetapi melukiskan gambar keindahan dan kemuliaan dari suatu tubuh dimana bersemayam suatu roh yang begitu luhur maqamnya tidaklah suatu pekerjaan yang berada dalam kemampuan seseorang manusia, kecualli seorang orang yang Allah sendiri memperlihatkan kemuliaan dan kecantikan itu kepadanya. Jadi sebab yang kedua maka kita tidak suka dibuat gambar dan patung yang dikatakan punya Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam ialah karena hal itu merendahkan bahkan menghina maqam beliau yang amat tinggi itu.

Selain itu patut pula diingat bahwa pekerjaan melukis tidaklah sama dengan memotret. Dalam pemotretan yang terjadi ialah penyalinan atau pemindahan yang betul dan tidak berlebih atau berkurang dari yang dipotret dan hasil potret itu serupa dengan bayangan yang terdapat di dinding karena sorotan sinaar. Yang demikian itu tidak tersua dalam pekerjaan melukis.

Kuas Pembohong

Tidaklah benar angggapan orang bahwa berbohong hanya dapat dengan lisan dan tulisa saja, karena pelukis juga dapat berbohong dengan kuasnya sebagaimana pembicara berbohong dengan lisannya dan penulis berdusta dengan penanya. Seorang pelukis tidaklah serupa dengan sebuah pesawat potret. Potret hanya menjelmakan yang terlihat keatas kertas, sedang pelukis selain dari berbuat seperti itu pula dengan indra penglihatannya juga menggunakan daya khayalnya. Jadi pekerjaan pelukis adalah dua kali. Ia tidak hanya melukiskan apa yang dilihatnya saja tetapi ia juga berusaha memasukkan semacam jiwa kedalam lukisannya. Ia tidak hanya menggambarkan tubuh manusia saja tetapi berikhtiar juga mengesankan roh pada tubuh yang dilukisnya itu, sehingga dari lukisan itu kelihatan baik atau buruk orang yang dilukiskannya. Karena orang yang dilukiskan menurut anggapan pelukis adalah jahat, maka ia akan memperlihatkan orang itu jahat dan kalau baik ia akan melukiskan baik.

Karena yang membuat gambar dan patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam hamper semuanya adalah orang-orang Kristen yang tidak mampu melihat nur Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dan yang malahan menyimpan anggapan-anggapan salah dalam otak mereka terhadap beliau itu sebagai akibat propaganda salah yang didengar mereka dari pendusta-pendusta maka kedalam gambar atau patung Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam sudah tentu mereka masukkan juga anggapan atau sangkaan mereka yang salah itu. Bahkan mereka sengaja membuat gambar atau patung itu dengan maksud hendak memperlihatkan rasa benci orang yang melihat gambar atau patung itu terhadap diri Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam. Jadi sebagaimana banyak terdapat pembicara dan penulis Kristen yang berdusta dengan lidah dan pena mereka juga pellukis-pelukis Kristen berdusta dengan kuas mereka terhadap diri Nabi Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam.

Sampai di sini kita baru membicarkan kekeliruan atau kesalahan yang mungkin masuk kedalam barang-barang lukisan yang dibuat pelukis-pelukis itu. Karena lukisan-lukisan itu boleh dikatakan hanya abuah dari daya angan atau piker mereka sendiri. Sekarang mari kita tinjau lukisan-lukisan itu sendiri yang disebutkan sebagai gambar Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dan yang dibuat pelukis-pelukis itu. Ternyata bahwa gambar itu adalah dusta karena berlainan dari yang sebenarnya. Dalam buku-buku hadis dan tarikh diperlihatkan dengan jelasa wajah yang penuh diliputi berkat dari Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam penghulu segala makhluk. Kesaksian-kesaksian para sahabat beliau menyatakan bahwa mereka tak pernah menemukan kebagusan wajah Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam pada orang lain. Sekarna dapatkah gambar-gambar yang tersiar dan yanag dikatakan kepunyaan Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam itu betul-betul dianggap sebagai rupa dari wajah beliau yang indah dan cantik? Mungkinkah orang menjelmakan kedalam gambar sekujur badan Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam yang dilingkupi kepermaian dan keagungan dari ujung rambut kepala sampai keujung kuku kaki? Jawabnya: tidak!

Kekasih Sulaiman

Nabi Sulaiman ‘alaihissalam sendiri terpesona oleh kepermaian tubuh Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dan ia sangat rindu hendak bertemu dengan beliau yang mempunyai sifat-sifat sebagai yang didendangkannya: “Kekasihku ialah dari emas yang sangat halus, dari emas yang amat padu; rambutnya ikal, hitam laksana gagak. Matanya sebagai mata burung dara yang berapa dekat aliran air, bercuci dengan susut, dan berjemur diri dipanas. Pipinya bagaikan petak-petak dari rempah-rempah, bagaikan keharumah; bibirnya laksana bunya baakung, yang menitikkan minyak mur. Tangannya penaka cincin emas yang bertatahkan permata cempaka; pinggangnya bagai terbuat dari gading, bertaburan permata nilam. Kakinya seperti tian-tiang marmar, beralaskan emas tulen. Tubuhnya seperti Libanon, terpilih seperti pohon araz. Langit-langitnya semata-mata manisan, dan sesuatu yanag ada padanya diinginkan. Begitulah kekasihku, ya, demikianlah kawanku, wahai putri-putri Yerussalem (Kitab Perjanjian Lama, Syi’rul Asyar/Nyanyian Sulaiman 5: 10-16)

Jadi gambar-gambar yang tersiar atas nama Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam itu sekali-kali tidak dapat dikatakan punya beliau. Perbandingan rupa gambar itu dengan rupa beliau yang sebenarnya adalah sebagai gelap dan terang. Gambar yanag termuat edalam majalah ‘Life’ tanggal 27 Desember 1954 itu tidak dapat dikatakan gambar dari Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam sebagaimana ia tidak dapat dikatakan gambar dari Nabi ‘Isa ‘alaihissalam. Kalau orang-orang Kristen dari majalah itu dapat mengatakan bahwa itu adalah gambar Nabi Muhammad kita juga dapat mengatakan bahwa itu adalah gambar Almasih (Kristus) sendiri, bukan gambar Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam karena tak ada suatu alas an pun untuk menguatkan bahwa gambar itu ialah gambar dari salah seorang dari kedua nabi itu. Untuk menyatakan bahwa gambar itu adalah lukisan Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam mesti ada alas an yang kuat secara akal dan tarikh/sejarah, tetapi yang demikian tak seorang pun dapat mengemukakannya. Hal ini adalah suatu keterangan tegas bahwa gamber tersebut dan gambar-gambar lain yang dikatakan sebagai gambar Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dibuat semata-mata karena dorongan niat yang buruk, karena busuk hati atau karena rasa dendam saja. Gambar itu diciptakan dan disiarkan dengan maksud membangkitkan rasa permusuhan orang-orang Barat terhadap Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam dan untuk memperlihatkan Nur Tuhan itu sebagai kegelapan dimata mereka.

Kebebasan Tak Bertali

Dalam hubungan ini ingin pula saya mengemukakan jawaban pemerintah Amerika terhadap protes umat Islam mengenai gambar Muhammad shollollohu ‘alaihi wa sallam itu. Dalam jawaban itu dinyatkan bahwa pemerintah Amerika tak dapat berbuat apa-apa terhadap peristiwa itu karena didalam negerinya pers diberi kemerdekaan penuh dalam pekerjaannya. Jawaban demikian hanya dapat lahir dari orang-orang Amerika yang sudah mabuk dengan kemewahannya. Kemerdekaan bagi pers bukanlah berarti bahwa kepada sebagia penduduk diberikan kebebasan seluas-luasnya sebagaimana kambing tidak bertali mereka dapat berbuat sekehendak hati; mereka dapat membunuh; mereka boleh merampas hak orang; mereka boleh mencemarkan nama orang lain. Sekali-kali tidak demikian hanya. Kemerdekaan itu bukan berarti bahwa tak usah diindahkan kehormatan seseorang yang dalam pandangan para pengikutnya jauh lebih besar daripada yang dipandang besar di dunia ini.

Sekiranya pengertian-pengertian kebudayaan, kemajuan, hukum dan lain-lainnya seperti itu tidak ada artinya sama sekali dan jika demikianlah yang dimaksudkan kebebasan itu, maka kebudayaan, kemajuan dan hukum yang selama ini dibanggakan oleh orang-orang Amerika adalah semata-mata kebohongan belaka. Didalam perkataan dikatakan bahwa kepada orang-orang kulit hitam negeri itu diberi kebebasan seperti yang diberikan kepada orang-orang kulit putih. Tetapi kalau orang-orang kulit putih mau mereka dapat membunuh orang kulit hitam. Filsuf Inggris, Bertrand Russel, juga mengatakan bahwa di Amerika masih banyak terdapat perampasan terhadap perempuan-perempuan kulit hitam yang cantik dan terhadap golongan ini masih dilakukan perbuatan kejam yang bertentangan dengan demokrasi.

Yang sebenarnya ialah karena orang-orang Islam sekarang berada dalam keadaan lemah, maka Pemerintah Amerika tidak mengacuhkan protes mereka. Lebih-lebih karena hal itu tidak menyinggung kepentingan bangsa Amerika. Tetapi sekiranya ada sesuatu perbuatan pers yang merugikan bangsanya maka pemerintah Amerika pasti akan bertindak untuk itu. Dalam bukunya Sir Winston Churchill ada menyebutkan beberapa contoh dimana pemerintah Amerika melakukan tekanan pada pers untuk mencegah tersiarnya berita-berita yang tak disukainya.

Tetapi insya Allah Amerikalah suatu Negara yang akan membayar mahal sekali buat sikapnya tidak mengacuhkan jeritan umat islam mengenai orang yang dicintai mereka itu. Akan tiba suatu waktu, dan kedatangannya itu akan segera, dimana orang-orang Amerika akan menggigit jarinya karena menyesal sambil berkata: ‘yaa laitanit takhodztu ma’ar rosuuli sabiilaa’
“Wahai, alangkah baiknya jika aku tadinya mengikuti jejak Rasul itu” (surah al-Furqon 27)

Wa akhiru da’wanaa anil hamdu lillaahi robbil ‘aalamiin
Oleh Mirza Rafi Ahmad H.A. (Honor of Arabic) B.A. (Bachelor of Arts)

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Seperti mengenai banyak hal yang lain, kalau kita berbicara tentang kiai dan pesantren, kita terpaksa harus membuat katagori pembeda: kiai sekarang atau kiai dulu; pesantren sekarang atau pesantren dulu. Soalnya memang terdapat banyak perbedaan antara kiai sekarang dengan kiai di zaman dulu. Demikian pula dengan pesantren; apalagi sekarang ini banyak pesantren baru yang sama sekali berbeda bahkan sering ‘ideologi’nya bertolak belakang dengan pesantren di zaman dulu.

Kiai di zaman dulu –biasanya ‘pemilik’ pesantren—rata-rata adalah orang
yang di samping memiliki ilmu agama lebih dari kebanyakan masyarakatnya, memiliki kecintaan yang mendalam kepada tanah air dan umatnya. Para kiai di zaman dulu, membangun pondok pesantren mereka sendiri untuk menampung santri-santrin mereka yang menimba ilmu darinya. Santri-santri mereka, tidak hanya diberi ilmu agama, tetapi dididik untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapat. Menurut mereka, iIlmu tidak ada gunanya bila tidak diamalkan. Kitab-kitab kuning yang diajarkan kiai-kiai kepada santri-santrinya adalah kitab-kitab yang umumnya merupakan penjabaran dari Kitab suci AlQuran dan Sunnah Rasulullah SAW menurut pemahaman Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Paham yang mengajarkan Islam *rahmatan lil’aalamiin *dan sikap hidup *tawassuth wal I’tidaal*, sikap tengah-tengah dan tidak ekstrem.

Para santri juga dididik untuk mencintai tanah air mereka. *Hubbul wathan minal iimaan*, “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”, merupakan slogan di kalangan kiai dan pesantren tempo doeloe. Di zaman penjajahan, banyak kiai yang menjadikan pesantrennya sebagai markas perlawanan terhadap penjajah. Banyak kiai yang gugur dan menjadi penghuni penjara pemerintah kolonialis dalam rangka membela tanah air. Dengan berbagai dalil ‘kitab kuning’, para kiai mengobarkan semangat rakyat melawan penjajah . Fatwa jihad melawan penjajah oleh Kiai Hasyim Asyari Tebuireng Jombang, misalnya, telah mengorbarkan semangat arek-arek Jawa Timur untuk melawan Sekutu di Surabaya. Kiai Subki Parakan Temanggung dengan bambu runcingnya yang terkenal itu, menggembleng mental pejuang-pejuang kemerdekaan. Kiai Baidlowi Lasem mengutus beberapa santrinya untuk memata-matai Belanda yang konon mendarat di daerah Sayung.

Itu hanyalah sekedar contoh bagaimana para kiai pesantren dulu mengajarkan, mendidik, dan mencontohkan sikap patriotisme. Di zaman kebangkitan, para kiai pesantren medirikan organisasi yang mereka namakan Nahdlatul Wathan yang artinya Kebangkitan Tanah air.

Maka tidak heran bila beberapa kiai yang –ketahuan– kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional. Bahkan Mohammad Asad Syihab, seorang wartawan Arab yang di zaman revolusi tinggal di Indonesia, di antara buku-bukunya tentang tokoh-tokoh nasional Indonesia yang diterbitkan di Kuwait, menulis buku berjudul *Al-‘Allaamah Mohammad Hasyim Asy’ari Wadli’u Labinati Istiqlaali Indonesia*. Terjemah harfiahnya: Mahakiai Mohammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia.

Para kiai ‘model dulu’ selalu menanamkan kepada santri-santrinya bahwa
mereka adalah orang Indonesia yang beragama Islam; bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia. Orang Islam yang kebetulan di Indonesia boleh jadi tidak peduli apapun yang menimpa Indonesia, tapi orang Indonesia yang beragama Islam tidak bisa tidak memikirkan dan berjuang bagi kebaikan Indonesia. Kecuali mungkin orang yang terbalik akalnya.

Alhamdulillah, menurut pengamatan saya, minimal para kiai dan pesantren pelanjut generasi sebelumnya masih tetap mempertahankan pemahaman tentang Islam *rahmatan lil’aalamiin* dan sikap hidup *tawassuth wal I’tidaal*, sikap tengah-tengah dan tidak ekstrem, serta memiliki rasa keIndonesiaan yang tebal seperti kiai dan pesantren di zaman dulu.

Akhir-akhir ini orang dibingungkan dengan munculnya sikap-sikap kasar bahkan bengis dari kalangan yang juga menyebut diri kaum muslimin. Munculnya ustadz-ustadz yang dari raut muka hingga tindakan dan ucapannya membuat orang bergidik. Ada jama’ah yang tampak bangga dengan keangkerannya. Bahkan ada yang tidak masuk akal: perbuatan merusak yang tegas-tegas dilarang oleh kitab suci Al-Quran justru dianggap jihad atau minimal dianggap amar makruf nahi munkar. Bahkan ada yang tega meledakkan bom di tengah-tengah keramaian.

Kalau yang melakukan kekerasan dan pengrusakan itu bukan orang Indonesia, mungkin kita bisa mengatakan itu pihak yang iri dan dengki kepada kita. Tapi kalau itu orang Indonesia sendiri, kita jadi bingung. Kalau jama’ah yang merupakan sekedar anak-anak-buah, kita masih bisa mengerti. Tapi mereka yang merupakan imam-imam dan ustadz-ustadz itu masakan tidak mengenal pemimpin agung panutan umat Islam Nabi Muhammad SAW yang bassam, wajahnya tersenyum menyenangkan, yang bicaranya lembut, yang sikapnya santun, yang penuh kasih sayang, yang bergaul dengan penuh adab, yang beramar-makruf dengan baik dan bernahi-munkar tidak dengan munkar, yang berjihad dengan aturan dan etika?

Saya pikir, inilah yang merupakan tantangan utama kiai dan pesantren saat ini. Mereka –yang memiliki sanad, mata rantai keIslaman sampai ke
Rasulullah SAW– dituntut untuk tampil sebagaimana kiai dan pesantren dulu untuk mengenalkan kerahmatan Islam dan kesantunan serta kasih sayang Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai generasi kita dididik oleh mereka yang yang –sadar atau tidak, karena kepentingan atau kebodohan—justru ingin mencemarkan nama baik Islam dan merusak tanah air kita.

Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.

Soal/pertanyaan IV: Bagaimanakah bentuk puasa agama Islam?

Jawab: Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan bentuk puasa dalam agama Islam sebagai berikut:
“Bentuk puasa dalam agama Islam adalah demikian: bahwa setiap orang baligh dan berakal terkena perntah puasa selama sebulan….bentuk puasa itu ialah seorang tak boleh makan-minum walaupun sedikit sejak fajar tiba sampai matahari terbenam dan tak boleh menaruh perhatian pda masalah perhubungan khusus suami-istri. Hendaknya orang makan sebelum fajar agar [ada jasmaninya tak tertimpa beban yang berlebihan. Dan orang itu hendaknya berbuka setelah terbenamnya matahari” (Tafsir Kabir Surah al-Baqoroh hl. 373-374)

Soal/pertanyaan V:
Apakah niat itu ‘penting’ untuk berpuasa?

Jawab; Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menyatakan bahwa: “Niat adalah penting untuk berpuasa. Tanpa niat maka tak ada pahalanya. Niat adalah nama dari iradah (kehendak) hati.” (Al-Fadhl, 28 Juli 1914)
Sampai saat munculnya garis putih yang terbentang dari utara ke selatan di dinihari pda ufuk timur maka boleh makan-minum. Kalau seseorang telah berhati-hati dalam penetapan wakatu untuk makan sahur tapi kemudian ada yang mengatakan bahwa saat dia makan sahur itu garis putih telah muncul, maka puasa orang itu dapat diteruskan. ‘Waktu makan sahur’ Nabi Muhammad s.a.w. dan waktu sholat (subuh) ditengarai oleh waktu kira-kira selama pembacaan 50 ayat Al-Quran.
Kata-kata hadits itu sebagai berikut:
‘an zaid ibni tsaabit qoola tasaharnaa ma’a rosulillaahi shollolloohu ‘alaihi wa sallam tsumma qumnaa ilash sholaati qoola qultu kam kaana qodru dzaalika qoola khomsiina ayah (Tirmidzi abwaabush shoumi ma jaa-a fii ta-khiiris sahuur)
“Dari Zaid ibni Tsabit ia berkata: ‘Kami makan sahur bersama Rasulullah s.a.w. kemudian kami berdiri untuk sholat. Orang yang mendengar berkata: “saya menanyakan, berapa lama jaraknya?” ia menjawab: “sekitar lima puluh ayat”’ (Turmudzi bab-bab mengenai puasa pembahasan tentang takhir/mengakhirkan makan sahur)
Seorang yang tidur dari pagi sampai sore tanpa makan-minum, atau karena sibuknya bekerja lupa makan-minum, maka keadaan lapar orang seperti itu tak dapat dianggap puasa karena tak ada sama sekali niatnya untuk berpuasa, dan kelaparannya itu tak dimaksudkannya sebagai puasa.

Soal/pertanyaan VII:
Seorang telah berniat untk puasa nafal, tetapi tidak sempat makan sahur, maka bolehkah/mestikah dia berpuasa?
Seorang pada bulan Romadhon, sakit di waktu malam. Dan ketika waktu sahur, kesehatannya telah pulih, maka mustikah/bolehkah dia berpuasa?

Jawab:
Makan sahur adalah sunnah. Tidak harus atau wajib. Maka kalau ada orang yang tidak sempat makan sahur, maka dia dapat berpuasa. Jadi tidak benar puasanya itu tidak sah.
Kalau pada waktu sahur, kesehatannya dalam keadaan baik, maka mesti berpuasa. Maksud dari ‘niat puasa di malam hari’ ialah bahwa hendaknya sebelum fajar, seorang supaya bertekad puasa.

Soal/pertanyaan VIII:
Apakah makan sahur itu penting/harus?

Jawab:
Berpuasa tanpa makan sahur, tak ada berkahnya. Namun kalau keharusan atau karena udzur, boleh berpuasa tanpa makan sahur.
Anas rodhiyalloohu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘tasahharuu fa inna fis sahuuri barokah.’ Shahihul Bukhori Kitabush Shoum “Hendaklah kamu sekalian makan sahur karena didalam makan sahur ada keberkatannya.”
‘as-sahuuru barokatun innallooha wa malaa-ikatahu yusholluuna ‘alal musahhiriin’
“Didalam makan sahur ada keberkatannya; Allah dan para malaikat-Nya mengirimkan kebaikan, keselamatan dan rahmat kepada orang-orang yang makan sahur.”

Soal/Pertanyaan IX:
Soal dari seseorang disampaikan kehadapan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalam yakni: “Saya berada di dalam rumah dan saya berkeyakinan pada waktu itu masih waktu untuk melaksanakan puasa; jadi, saya makan minum kemudian berniat puasa. Tapi kemudian, dari orang lain diketahui bahwa saat itu garis/benang putih fajar telah nampak. Sekarang apa yang harus saya lakukan?”

Jawab; Hadhrat Aqdas ‘alaihissalam menjawab:
“Dalam keadaan demikian, puasanya sah. Tak perlu menggantinya karena dia telah berhati-harti dan tak ada perubahan dalam niatnya.” (Al-Badr, 14-02 1907)


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

September 2009
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik