Dildaar80's Weblog

Archive for the ‘Artikel Keislaman’ Category

Sebagian orang menyatakan keheranannya atas sikap dukungan dan janji setia (baiat) dari sebagian warga Muslim Indonesia terhadap ISIS (Islamic State of Iraq and Suriah, Negara Islam Iraq dan Suriah) dan Khalifahnya. Lebih jauh lagi, dukungan itu mengarah kepada hijrah atau perpindahan wilayah ke Islamic State tersebut, yang tentu saja berimplikasi pada kewarganegaraan.
Menurut saya, keheranan itu wajar mengingat beberapa hal berikut ini; pertama; dari segi nama, ISIS sendiri berarti negara Islam Iraq dan Suriah. Tentu saja, keheranan sebagian orang pantas dimunculkan bila ada warga Muslim di NKRI ini menyatakan bergabung dan berjuang untuk ISIS, sebuah kekuatan politik yang menyatakan dirinya sebagai negara Islam di Iraq dan Suriah.
Kedua; latar belakang dan personal yang mendirikan ISIS pun masih kontroversial dan misterius. Ada fakta bahwa para pendiri ISIS adalah orang-orang dekatnya Saddam Husain. Saddam sendiri adalah kader partai Ba’ath yang kita tahu berhaluan sekuler. Ada fakta bahwa Sunni, Syiah dan Kurdi di Iraq saling bersaing dan menegasikan satu dengan yang lain dalam kepemimpinan di negeri itu. Sementara, ISIS yang muncul dari kalangan Sunni, berdiri setelah kekalahan persaingan mereka oleh pihak Syiah. Sehingga, atas hal ini, muncul pertanyaan, benarkah motif ISIS murni untuk mengamalkan ajaran Islam atau karena semata-mata kekuasaan.
Ketiga, bagi sementara kalangan Muslim, debat tentang pendirian negara Islam adalah debat yang senantiasa seru. Tema-tema seputar debat diantaranya ialah apakah tepat mendirikan negara dalam sebuah negara Muslim; apakah negara yang mengklaim negara Islam sahih untuk didirikan saat ini; dan sebagainya. Sementara bagi sebagian orang Muslim, sebuah negara yang sudah berjalan adalah bentuk sah yang harus dipertahankan. Apalagi aspirasi dan standar peribadatan orang Muslim sama sekali tidak diganggu dan dapat diperjuangkan.
Segi lain mengenai konsep negara Islam, ialah, sejarah bangsa dan negara kita termasuk ‘kelam’. Berdirinya Negara Islam Indonesia pada tahun 1948 di Tasikmalaya dan upayanya melawan RI merupakan sebuah fakta sejarah. Ia didirikan pada saat bangsa kita yang masih muda bernegara tengah diserbu kekuatan Barat. NICA, puluhan ribu tentara Belanda yang didukung Inggris dan Amerika Serikat menduduki kota-kota penting di tanah air. Ketika Belanda hengkang, NII masih saja melakukan perlawanan yang bukannya berdampak positif bagi citra Islam, bahkan semakin memperlambat usaha negara muda NKRI yang hendak melakukan konsolidasi nasional dan pembangunan.

Keempat; dalam rangka berkuasa dan diakui kekuasaannya oleh siapa saja; tidak segan-segan jalan kekerasan menjadi cara utama. Berita-berita faktual mengenai ISIS melakukan penyerbuan ke kota-kota di perbatasan Iraq, Suriah dan Turki menghiasi media cetak dan elektronik. Fakta ini semakin menegaskan bahwa prinsip utamanya ialah kekuasaan. Entah itu, mengatasnamakan entitas politik atau keagamaan.

Menyikapi fakta ini, mari kita kembali berpikir jernih untuk melihat dengan tenang bahwa kita adalah warga negara NKRI yang sebagian besarnya Muslim, sudah punya negara dan cukup membanggakan dari segi kemusliman dan demokrasi. Kita punya peluang dan kesempatan mengembangkan nilai-nilai keislaman kita di sini. Tidak ada alasan kuat, bahkan bukan tindakan yang tepat untuk hijrah atau berpindah ke ISIS. Atau, berbaiat menyatakan dukungan dan janji setia kepada ‘Khalifah’nya.
Pendapat Pribadi tidak mewakili institusi mana pun, Dildaar Ahmad Dartono

Mau tahu siapa Amidhan?

Haji Amidhan dan Haji Muhidin

“Saya bukan pejabat negara karena itu saya bisa menerima gratifikasi!” Itulah gaya Haji Amidhan, ketua Majlis Ulama Indonesia yang terang-terangan mengaku menerima gratifikasi tanpa sedikit pun merasa bersalah! (Lihat majalah Tempo edisi 24 Feb-2 Maret 2014).

“Saya ketua RW. Saya paling berhak meresmikan panti asuhan yatim piatu ini. Saya orang paling penting di sini. Karena saya ulil amri, masyarakat di sini seharusnya menghormati saya,” kata Haji Muhidin kesal karena tak diberi kesempatan untuk meresmikan yayasan yatim piatu di kampungnya. Haji Muhidin adalah tokoh paling nyebelin dalam sinetron Tukang Bubur Naik Haji (TBNH) di RCTI yang diputar tiap malam.

Tetanggaku orang Batak yang beragama Kristen sampai bertanya tentang kelakuan Haji Muhidin: Apa gelar haji itu pantas untuk dibanggakan? Bukankah haji itu sebuah ibadah dan kewajiban umat Islam? Aku jawab, betul. Bagi sebagian besar umat Islam, gelar haji itu sebuah kebanggaan dan kehormatan. Alasannya, haji itu biayanya mahal. Beda dengan kewajiban salat, puasa, dan zakat. Orang yang melakukannya tak punya gelar karena biayanya murah. Tak ada orang bergelar Puasa Nasution, Salat Panjaitan, atau Zakat Siregar! Sitanggang, tetanggaku itu pun tersenyum!

Haji Amidhan, secara faktual jelas lebih hebat dari Haji Muhidin. Dalam sinetron TBNH, Haji Muhidin hanya tokoh kampung, ketua RW. Dia tidak bergelar Kyai. Beda dengan Amidhan. Ia bergelar kyai di samping haji, sehingga ‘atributnya’ amat menyilaukan: KH Amidhan. Jabatannya, Ketua Majlis Ulama Indonesia. Sungguh terhormat! Orang-orang non-Islam dan orang luar negeri menganggap, MUI adalah representasi umat Islam Indonesia yang jumlahnya 250 juta orang lebih. Sebuah besaran yang menarik untuk dunia marketing. Karena itu, keputusan halal dan haramnya sebuah produk oleh MUI sangat berpengaruh terhadap pasar produk bersangkutan di Indonesia yang jumlah penduduknya menggiurkan perusahaan makanan dan obat-obatan. Itulah sebabnya, perusahaan pengekspor daging sapi dari Australia berani mengeluarkan uang sampai ratusan ribu dolar untuk “membeli” serifikasi halal dari MUI.

Kondisi seperti itu, jelas menjadikan MUI sebagai lembaga yang sangat powerful. Sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK). Jika keputusan MK mengikat dan final, maka keputusan halal dan haramnya sebuah produk oleh MUI, juga mengikat dan final (untuk sebagian umat Islam yang menganggap MUI sebagai representasi ulama Indonesia). Bagi orang-orang bermental korup seperti Akil Mochtar, kekuasaan mutlak itu, akhirnya dimanfaatkan. Dan berhasil. Calon-calon kepala daerah dengan mudah menggelontorkan uang untuk Akil agar MK memenangkannya di pengadilan. Hal yang nyaris sama, terjadi pula di MUI. Sejumlah perusahaan, dengan mudah menggelontorkan uang untuk mendapatkan sertfikat halal. Dan uang itu sebagian masuk ke kantong pribadi penguasa MUI. Sebagaimana penguasa yang lain, uang itu pun dianggap halal. “Mosok penguasa MUI yang mengeluarkan sertifikat halal tidak bisa membuat sertifikat halal untuk uang gratifikasi yang diterimanya sendiri?,” kata Si Kebayan. Jadi, jangan heran bila logika Haji Amidhan seperti itu. “Saya bukan pejabat negara karena itu halal menerima gratifikasi.”

Logika Amidhan adalah logika penguasa. Bukan logika pemimpin, apalagi logika ulama. Syaikh Ahmad bin Hambal, ulama ahli fikih yang lazim dikenal dengan nama Imam Hambali, disiksa khalifah karena tak mau jadi qodi (hakim). Padahal, saat itu, Imam Hambali dianggap orang yang paling mumpuni dalam ilmu fiqih. Beliau tak mau jadi hakim karena takut salah dalam memutuskan sebuah perkara di pengadilan. Beliau sangat takut hukum yang diputuskannya terpengaruh gratifikasi. Jangankan menerima uang ribuan dolar, Imam Hambali mengharamkan seorang hakim menerima pinjaman payung dari seseorang. Sebab bukan tak mungkin, suatu ketika orang yang meminjamkan payung itu, nanti berperkara di pengadilan dan hakimnya adalah orang yang dipinjami payung tadi. Itulah sebabnya Ahmad bin Hambal menolak pengangkatan dirinya sebagai hakim. Beliau takut kehilangan kezuhudannya. Bandingkan dengan penguasa MUI. Keputusan halal haram suatu produk, ternyata diperjual-belikan. Nama besar ulama dan majlisnya dibuang ke tong sampah hanya karena segepok dolar!

Bercermin kasus suap oknum MUI ini, umat Islam seharusnya mulai curiga terhadap keputusan-keputusan MUI yang lain. Jangan-jangan fatwa “penyesatan mazhab Syiah dan Ahmadiyah” juga berbau suap. Saat ini, misalnya, provokasi penyesatan Syiah oleh kelompok-kelompok tertentu yang didanai Saudi Arabia (yang ketakutan terhadap Iran) sangat luar biasa. Jangankan lembaga selebesar MUI, lembaga ecek-ecek di kampung saja diguyur uang oleh agen-agen Saudi yang berkongsi dengan Israel untuk memfitnah Syiah (mazhab yang dianut mayoritas rakyat Iran). Sama seperti keputusan panel MK yang diketuai Akil Mochtar yang kini diragukan kebenarannya setelah ketahuan “sang hakim” menerima suap dalam perkara pilkada, begitu juga keputusan MUI di zaman Haji Amidhan patut diragukan kebenarannya.

Gus Dur, Cak Nur, Mas Djohan, Kyai Masdar dan banyak tokoh Islam lain, sejak lama “mencurigai” sepak terjang MUI. Fatwa-fatwanya sering menjadikan umat Islam yang tidak sepaham dengan penguasa MUI – seperti pengikut Ahmadiyah dan Syiah – terjepit dan menjadi sasaran amuk umat yang merasa mayoritas. Anehnya fatwa-fatwa MUI yang bertentangan dengan UUD 45 dan Pancasila dibiarkan negara. Padahal, akibat fatwa MUI, ribuan orang-orang Ahmadi di NTB hidupnya amat menderita. Rumah mereka hancur dan sumber kehidupan ekonominya lenyap. Mereka seperti hidup di pengungsian di negara asing. Di Sampang, orang-orang Syiah juga harus mengungsi dari tanah kelahirannya. Sebagian umat Islam yang merasa mendapat “serifikat halal” dari MUI menganggap sah dan tak berdosa menghancurkan rumah-rumah orang Ahmadi dan Syiah. MUI telah memberikan sertifikat halal untuk mendestruksi kemanusiaan.

Kita patut bertanya: mewakili umat Islamkah MUI? Jelas tidak! Kini, Allah Yang Rahman dan Rakhim, telah membuka kedok monster-monster korup dan antikemanusiaan dari oknum-oknum MUI. Ternyata mereka tak lebih baik dari politisi busuk di Senayan yang suka membuat undang-undang korup untuk menggangsir uang! Itulah wajah MUI yang selama ini amat dihormati umat Islam! Memalukan! Penguasa MUI, rupanya punya mazhab tersendiri. Namanya Ahlussuap Waljamaah! (Semoga setelah Ketua MUI diganti Prof. Dr. Din Syamsudin, MUI berubah wajah dan menegakkan Islam dengan basis adil, salam, rahman, dan rahim. Tak ada fatwa yang diskriminatif, tak ada fatwa yang menteror, tak ada fatwa yang menghalalkan suap). Semoga!
– See more at: http://inspirasi.co/forum/post/3734/haji_amidhan_dan_haji_muhidin#sthash.dlNBKrqq.dpuf
http://inspirasi.co/forum/post/3734/haji_amidhan_dan_haji_muhidin

TEMPO.CO , Jakarta: Mohammed El-Mouelhy, Presiden Halal Ceritification Authority Australia, menyanggah pernyataan Ketua Majelis Ulama Indonesia Amidhan Shaberah soal biaya perjalanan ke Australia pada 2-8 April 2006. Dalam wawancaranya dengan majalah Tempo edisi 24-30 Februari 2013, Amidhan mengatakan biaya peninjauan lembaga-lembaga halal itu atas biaya Kementerian Agama. Baca entri selengkapnya »

Oleh Darisman Broto

FENOMENA pengkafiran di antara sesama umat Islam sudah lama terjadi yang digambarkan oleh penulis buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram bahwa sekte Salafi Wahabi bukan saja mengkafirkan golongan Islam lainnya yang tidak sejalan dan sepaham, bahkan membuat tindakan kekerasan sampai membunuhi bagi yang tidak mau mengikutinya. Dengan bukti-bukti sejarah dan kitab-kitab sirah dari sekte Salafi Wahabi sendiri, dengan sangat gamblang sang penulis membeberkannya. Baca entri selengkapnya »

“Maha Suci Dia, Yang telah menjalankan hamba-Nya pada waktu malam dari Masjid Haram ke Masjid Aqsha, yang telah Kami berkati, sekelilingnya supaya Kami perlihatkan kepadanya sebagaian dari Tanda-tanda Kami. Sesungguhnya Dia, Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.” (Surah al-Isra)

Ayat ini, yang nampaknya menyebut suatu kasyaf Rasulullah saw., telah dianggap oleh sebagian ahli tafsir Alquran menunjuk kepada Mi’raj (kenaikan rohani) beliau. Berlawanan dengan pendapat umum, kami cenderung kepada pendapat, bahwa ayat ini membahas masalah Isra (perjalanan rohani di waktu malam) Rasulullah saw. dari Mekkah ke Yerusalem dalam kasyaf, sedang Mi’raj beliau telah dibahas agak terperinci dalam Surah An-Najm. Baca entri selengkapnya »

Abduh menulis dalam kitabnya Al-Islam wa al-Nashraniyyah: “apabila seorang muslim menyatakan satu pendapat yang kalau dilihat dari seratus sisi tampak kufur, tapi ada satu sisi saja yang terlihat masih dalam iman, maka orang tersebut tidak bisa dicap sebagai kafir.”

Ada satu hadits bernada murung yang cukup populer di kalangan kaum muslim: “umatku kelak akan terpecah-pecah ke dalam 71 golongan yang berbeda-beda, dan hanya satu dari mereka yang selamat.” Ramalan Nabi dalam hadits tersebut terasa murung bukan hanya karena perpecahan umat ke dalam beragam aliran digambarkan sebagai sesuatu yang tak terelakkan, melainkan juga karena sebagian besar dari mereka oleh hadits tersebut divonis sesat dan bakal masuk neraka. Hanya satu kelompok saja yang Islamnya benar dan layak masuk surga.

Dalam hadits di atas, Nabi tidak menegaskan secara eksplisit siapa satu kelompok yang selamat (firqah najiyah) itu. Ini pada gilirannya membuka peluang bagi golongan Islam tertentu untuk mengklaim sebagai satu-satunya kelompok yang selamat. Kosekuensi logisnya, mereka menganggap sesat semua kelompok Islam lain. Ini terutama terjadi dalam ranah teologi Islam, di mana aliran-aliran yang saling bertikai kerap melempar tuduhan kafir satu sama lain.

Yang paling terkenal adalah sekte khawarij yang mengaku sebagai para pembela Islam yang hendak menegakkan kedaulatan hukum Allah (dengan slogannya la hukma illa lillah-tidak ada hukum kecuali hukum Allah), tapi ujungn-ujungnya mengkafirkan kubu Ali bin Abu Thalib maupun kubu Mu’awiyah bin Abu Sufyan yang terlibat dalam Perang Shiffin, yang bberarti mengkafirkan mayoritas sahabat Nabi. Di mata kaum khawarij, kedua kubu tesrebut telah keluar dari Islam karena menempuh arbitrase demi mengakhiri perang saudara di antara mereka. Dan arbitrase (tahkim) semacam ini dianggap identik dengan berhukum berdasar aturan manusia, bukan aturan Allah, suatu bentuk kekufuran di mata kaum khawarij. Di masa sekarang, kaum Wahhabi tak segan-segan menuduh muslim lain yang tidak mengikuti ajaran tauhid mereka sebagai telah jatuh dalam kemusyrikan. Di negeri kita, Abu Bakar Baashir mengkafirkan SBY dan pemerintahannya karena tidak menerapkan syari’ah.

Singkat kata, ramalan Nabi dalam hadits di atas secara selintas justru terkesan menjadi dalil pembenar bagi intoleransi antar sesama muslim dan eksklusivisme di kalangan umat. Tapi apa betul kesan selintas ini?

Kalau yang kita tanya Imam al-Ghazali, barangkali ia akan dengan tegas menjawab tidak betul. Dalam traktat tipisnya, Faysal al Tafriqah baina al-Muslim wa al-Zandaqoh, Al-Ghazali membantah kesimpulan bahwa hadits ramalan di atas menyuburkan intoleransi dan eksklusivisme dalam berislam dengan sejumlah alasan:

Pertama, hadits tersebut memang menyebutkan hanya satu kelompok Islam yang selamat, tapi yang dimaksud di sini adalah satu golongan yang langsung masuk surga secara ekspres, tanpa hambatan. Sedangkan kelompok-kelompok muslim lain mungkin perlu melewati fase “pencucian” dulu di neraka, tapi setelah itu bakal masuk surga juga. Dengan kata lain, mayoritas golongan dan sekte dalam Islam pada akhirnya akan terselamatkan semua di akhirat. Alasan kedua, hadits di atas bukanlah satu-satunya versi yang ada. Al-Ghazali mengutip versi lain yang justru bertolak belakang dengan hadits yang pertama. Bunyinya begini: “umatku akan terpecah-pecah ke dalam 71 golongan, semuanya selamat kecuali satu kelompok.”

Al-Ghazali selanjutnya berargumen bahwa pilar fundamental dalam keimanan sesungguhnya hanya tiga: iman kepada keesaan Allah, kepada Muhammad sebagai Rasulullah, dan kepada datangnya hari kiamat. Baginya, seseorang baru bisa disebut kafir kalau tidak percaya kepada ketiga hal pokok tersebut. Sedangkan di luar wilayah fundamental tersebut adalah soal-soal sekunder, sekadar cabang-cabang agama (furu’), yang apabila seorang muslim menyangkalnya sekalipun tidak menjadikannya kafir.

Al-Ghazali di sini sebenarnya hendak mengatakan bahwa hampir semua pertikaian pendapat dalam soal-soal teologi antara kaum mu’tazilah yang rasionalis versus ahlul hadits yang tesktualis, atau antara kaum Sunni dan Syi’ah, adalah pertikaian soal-soal sekunder yang masih dalam koridor keIslaman. Dengan kata lain, pertikaian pendapat tersebut tidak menjadikan mereka sesat. Kalau dalam soal teologi saja begitu jembar ranah toleransinya, apalagi dalam soal syari’ah dan fiqh.

Pandangan Al-Ghazali ini menarik karena ia membalikkan nada murung ramalan Nabi dalam hadits di atas menjadi lebih rileks dan cerah. Keragaman aliran Islam diterima sebagai rahmat, bukan kutukan. Selama mereka masih percaya pada tiga pilar iman di atas, maka silang pendapat di antara mereka tidak akan menjerumuskannya ke dalam kekafiran.

Spirit toleransi yang disuarakan Al-Ghazali ini tampaknya diamini dan bahkan diperluas oleh Muhammad Abduh. Abduh menulis dalam kitabnya Al-Islam wa al-Nashraniyyah: “apabila seorang muslim menyatakan satu pendapat yang kalau dilihat dari seratus sisi tampak kufur, tapi ada satu sisi saja yang terlihat masih dalam iman, maka orang tersebut tidak bisa dicap sebagai kafir.”

Jadi ternyata, dalam soal-soal keislaman, menjadi sesat itu tidak gampang.

Oleh Akhmad Sahal*
*Wakil Ketua Pengurus Cabang Istimewa NU Amerika-Kanada
Artikel ini sebelumnya dimuat di Koran Tempo, 3 Agustus 2011

DAHSYATNYA PAHALA MEMBERI MAKAN BERBUKA
PUASA

Bulan Ramadhan benar-benar kesempatan terbaik untuk beramal. Bulan Ramadhan adalah kesempatan menuai pahala melimpah. Banyak amalan yang bisa dilakukan ketika itu agar menuai ganjaran yang luar biasa. Dengan memberi sesuap nasi, secangkir teh, secuil kurma atau snack yang menggiurkan, itu pun bisa menjadi ladang pahala. Maka sudah sepantasnya kesempatan tersebut tidak terlewatkan.

Inilah janji pahala yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebutkan, “Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.”

Al Munawi rahimahullah menjelaskan bahwa memberi makan buka puasa di sini boleh jadi dengan makan malam, atau dengan kurma. Jika tidak bisa dengan itu, maka bisa pula dengan seteguk air. Sungguh luar biasa pahala yang diiming-imingi.

Di antara keutamaan lainnya bagi orang yang memberi makan berbuka adalah keutamaan yang diraih dari do’a orang yang menyantap makanan berbuka. Jika orang yang menyantap makanan mendoakan si pemberi makanan, maka sungguh itu adalah do’a yang terkabulkan. Karena memang do’a orang yang berbuka puasa adalah do’a yang mustajab.

Apalagi jika orang yang menyantap makanan tadi mendo’akan sebagaimana do’a yang Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam praktekkan, maka sungguh rizki yang kita keluarkan akan semakin barokah. Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan, “Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku

Tak lupa pula, ketika kita memberi makan berbuka, hendaklah memilih orang yang terbaik atau orang yang sholih. Carilah orang-orang yang sholih yang bisa mendo’akan kita ketika mereka berbuka. Karena ingatlah harta terbaik adalah di sisi orang yang sholih. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengatakan pada ‘Amru bin Al ‘Ash, “Wahai Amru, sebaik-baik harta adalah harta di tangan hamba yang Shalih.”

Dengan banyak berderma melalui memberi makan berbuka dibarengi dengan berpuasa itulah jalan menuju surga. Dari ‘Ali, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di surga terdapat kamar-kamar yang mana bagian luarnya terlihat dari bagian dalam dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Lantas seorang arab baduwi berdiri sambil berkata, “Bagi siapakah kamar-kamar itu diperuntukkan wahai Rasululullah?”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Untuk orang yang berkata benar, yang memberi makan, dan yang senantiasa berpuasa dan shalat pada malam hari di waktu manusia pada tidur.”

Seorang yang semangat dalam kebaikan pun berujar, “Seandainya saya memiliki kelebihan rizki, di samping puasa, saya pun akan memberi makan berbuka. Saya tidak ingin melewatkan kesempatan tersebut. Sungguh pahala melimpah seperti ini tidak akan saya sia-siakan. Mudah-mudahan Allah pun memudahkan hal ini.”

Sumber: http://lmimadiun.blogspot.com/2011/08/dahsyatnya-pahala-memberi-makan-berbuka.html


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Juni 2017
M S S R K J S
« Agu    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik