Dildaar80's Weblog

Archive for Maret 2010

Membaca sebuah artikel berjudul ‘Bebas Mengacau Agama’ karya Bustanuddin Agus, Guru Besar Sosiologi Agama Universitas Andalas dalam Opini Republika, Rabu (24/02) cukup menarik dan menggelitik. Disebut menarik karena isu ini tetap aktual sampai sekarang dan menimbulkan berbagai diskusi dan dialog. Disebut menggelitik karena artikel tersebut dibuat oleh seorang yang dinamakan Guru Besar Sosiologi Agama di sebuah Universitas terkemuka di tanah air namun dari segi isi miskin dan kering analisa dari segi sosial keagamaan apalagi sosial kesejarahan.

Ada beberapa poin yang dapat saya ambil dari artikel opini tersebut. Pertama; penulis opini mengakui bahwa umat Islam dan Ahmadiyah hidup berdampingan di Negara-negara Barat karena tidak adanya UU yang senada dengan Undang-Undang nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama. Kedua; Undang-Undang nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penodaan Agama dijadikan dasar agar Ahmadiyah dan aliran yang dipandang sesat supaya dibubarkan. Ketiga; Ahmadiyyah dan aliran semacamnya dipandang sesat.

Keempat; Pasal 1 UU tersebut melarang siapa pun dan lembaga manapun dengan sengaja menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran sesuatu agama yang dianut di Indonesia. Kelima; penulis opini mengakui bahwa setelah Lia Eden dipenjara karena tertuduh kasus penodaan ternyata ‘tetap tidak kapok-kapoknya, malah tambah agresif menyiarkan ajarannya’. Keenam; karena pimpinan Ahmadiyah di Indonesia bukanlah orang yang menyatakan dirinya sebagai nabi dan organisasi ini cukup kuat dan punya pengikut meluas hampir di setiap daerah maka pemerintah gamang untuk menghukum dan menindak pimpinan mereka.

Ketujuh; tampak logis bahwa semua yang diyakini dan didakwahkan oleh MUI, Ahmadiyah, Lia Eden, Ahmad Mushadeq dan lain-lain adalah sama-sama hanya penafsiran, pendapat atau keyakinan keagamaan. Semuanya harus dilindungi dan tidak boleh dihukum karena keyakinan. Kedelapan; semua pemeluk agama resmi dipersilakan berkembang asal tidak melakukan penodaan dan tidak mengubah ajaran pokok agama yang resmi. Kesembilan; bila dianggap atau dituduh melakukan penodaan dan mengubah ajaran pokok agama yang resmi agar tidak bersikeras mempertahankan diri sebagai penganut agama tertentu karena itu disamakan dengan mendirikan Negara dalam Negara atau rumah tangga dalam rumah tangga dan harus diperangi (apakah penulis menganjurkan/menghasut kekerasan??). Kesepuluh; penulis menyamakan mendirikan agama dengan mendirikan negara.
Kesebelas; penafsiran apa pun mempunyai batas-batas. Pertanyaan dari saya siapakah yang menentukan batas-batas penafsiran? Siapakah yang menentukan ini tafsir yang salah, ini yang benar dan ini yang sesat harus dilarang?

Keduabelas; penulis opini mengakui bahwa Barat mampu menciptakan kerukunan karena tidak memiliki UU sejenis yang dilatarbelakangi oleh kesepakatan umum bahwa masalah agama adalah urusan pribadi. Beragama atau tidak beragama, apa pun kepercayaan dan keyakinan keagamaannya tidak boleh diintervensi atau diketahui orang lain. Pandangan ini menyatukan mereka. Ketigabelas; agama juga diturunkan untuk mempersatukan manusia dari berbagai agama dan mempersatukan manusia dengan flora dan fauna dan segenap makhluk Allah. Keempatbelas; egoisme manusia yang tidak mengakui Tuhan sebagai penguasa dan pengatur alam semesta ini telah menebar penjajahan, peperangan, serta konflik berkepanjangan di kalangan manusia. Kelima belas; agama dan Tuhan itu beda dengan diagamakan dan dituhankan.

Sejumlah pertanyaan yang muncul dari pernyataan opini diatas adalah sebagai berikut: pertama; kenapa umat Islam di Indonesia tidak mencontohnya? Kedua; secara hukum, kuatkah UU tersebut dijadikan dasar pembubaran organisasi keagamaan? Bagaimana caranya membubarkan sebuah organisasi keagamaan? Apakah pembubaran sebuah organisasi keagamaan dapat menjamin keyakinan dan pemikirannya juga bubar?

Pertanyaan untuk opini keempat ialah sudahkan dirumuskan dengan jelas dan disertai kesepakatan tertulis oleh semua pemeluk agama resmi tentang pokok-pokok ajaran agama yang dianut mereka? Manakah yang pokok agama dan mana pula yang bukan? Serta siapakah yang berwenang mendeskripsikannya? Benarkah merupakan pokok ajaran mereka ataukah hanya penafsiran belaka bila seseorang atau lembaga manapun tidak boleh menceritakan, menganjurkan, atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran yang bertentangan dengan pokok-pokok ajaran sesuatu agama? Untuk opini kelima pertanyaannya ialah bila terbukti pemenjaraan atau pemidanaan itu tidak membuat orang yang meyakini ‘kesesatan’ itu jera lalu bagaimana efektifnya? Apakah mau menggalakkan hukuman mati seperti Raja dan Gereja di Eropa abad pertengahan menyelesaikan masalah perbedaan keyakinan atau penafsiran atas agama? Pertanyaan untuk opini keenam ialah apakah kuatnya organisasi dan jumlah pengikut yang meluas ke berbagai daerah menjadi patokan ketiadaan penindakan yang dimaksud? Kalau demikian berarti organisasi agama yang sudah mapan terbebas dari ancaman dituduh menodai agama apalagi dihukum.

Pertanyaan untuk opini kedelapan: apakah definisi praktis dan jelas dari kata penodaan agama? Bagaimana bila penganut satu agama resmi menodai agama resmi lainnya walaupun keduanya sama-sama mengidentikan diri sesuai nama agamanya sendiri-sendiri? Apakah yang mempersilakan agama-agama berkembang itu anda/Bpk. Bustanuddin Agus atau Tuhan sendiri? Ataukah bahkan anda sendiri seperti Tuhan yang menentukan mana agama yang boleh berkembang dan mana yang tidak boleh? Pertanyaan untuk opini kesembilan dan kesepuluh: Benarkah analogi ini bahwa mendirikan agama sama dengan mendirikan Negara? Siapakah yang berhak menuduh seseorang atau sebuah lembaga menodai dan mengubah ajaran pokok suatu agama? Bukankah para nabi dan rasul dianiaya, diusir, diperangi dan dibunuh pengikut-pengikutnya karena menegakkan sebuah ajaran? Lalu kenapa orang-orang yang mengaku pengikutnya berbuat serupa kepada orang lain? Siapakah yang memiliki hak paten sebuah agama dan nama agama baik ‘resmi’ maupun tidak resmi sehingga membuatnya merasa berhak menghukum atau mengajukan tuntutan hukuman pada orang yang mengkopi-paste nama agamanya? Apakah dia yang membuat atau mendirikan atau menciptakan agama tersebut? Merasa dialah yang mempunyai agama itu? Yang lain tidak boleh meniru, memakai namanya kalau tidak sesuai dengan ajaran yang dibuatnya. Bukankah Allah yang sebenarnya berhak menuntutnya karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu termasuk manusia beserta seperangkat jasmani dan rohaninya? Perbedaan pemikiran manusia, tradisi, kepercayaan dan agama adalah suatu fakta . Oleh karena itu, biarlah Dia yang menghakimi perbedaan keyakinan dalam hati ini sedangkan tugas manusia mendiskusikan dengan baik agar nanti muncul kebaikan dari masing-masing kepercayaan sehingga terlihat mana yang terbaik menurut tiap-tiap orang.

Pertanyaan untuk opini kesebelas ialah siapakah yang menentukan ini tafsir yang salah, ini yang benar dan ini yang sesat harus dilarang? Pertanyaan untuk opini keduabelas; penulis opini mengakui bahwa Barat mampu menciptakan kerukunan karena tidak memiliki UU sejenis yang dilatarbelakangi oleh kesepakatan umum bahwa masalah agama adalah urusan pribadi. Beragama atau tidak beragama, apa pun kepercayaan dan keyakinan keagamaannya tidak boleh diintervensi atau diketahui orang lain. Pandangan ini menyatukan mereka. (Bukankah ini bagus, Why not/kenapa tidak diambil dan dipraktekkan?).

Pertanyaan untuk opini ketigabelas dan keempatbelas ialah apakah ide anda ini sesuai dengan tujuan agama diturunkan yaitu untuk mempersatukan manusia dari berbagai agama dan mempersatukan manusia dengan flora dan fauna dan segenap makhluk Allah? Atau justru menimbulkan potensi seperti yang disebutkan dalam opini keempatbelas yaitu egoisme manusia yang tidak mengakui Tuhan sebagai penguasa dan pengatur alam semesta ini telah menebar penjajahan, peperangan, serta konflik berkepanjangan di kalangan manusia? Ia menyatakan mengakui Tuhan namun perilakunya sendiri menunjukkan ia berlaku bak Tuhan yang menentukan dan menghukum mana yang sesat, mana yang benar dan mana yang menodai kebenaran atau agama. Manusia egois mengukur kebenaran dari pendapat pribadinya sendiri sembari memaksakan orang lain agar mengikutinya. Ia mengancam, menjajah, memerangi dan akhirnya timbullah konflik berkepanjangan di kalangan manusia. Pertanyaan untuk poin kelima belas: apa itu agama dan Tuhan? Apakah bedanya dengan diagamakan dan dituhankan.

oleh Dildaar Ahmad


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Maret 2010
M S S R K J S
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik