Dildaar80's Weblog

Seputar Diriku


Dildaar Ahmad Dartono lahir di Purwokerto, bagian barat propinsi Jawa Tengah pada hari Jum’at, 12 Desember 1980. Nama dari orang tua, Dartono, sebuah nama jawa yang didasari oleh perhitungan hari pasaran dalam kalender jawa. Ralim (1952- ), sang ayah seorang Muslim abangan yang jarang melaksanakan syariat Islam dalam bidang ibadah namun cukup menekuni aspek batin dan etik dari ajaran Islam. Ibu Penulis, Tawen (1951- ) pada umur paruh bayanya rajin mengikuti pengajian di sebuah mesjid Muhammadiyah. Semenjak kecil, Penulis yang merupakan anak kelima dari 7 bersaudara bersama saudara-saudaranya yang lain mengikuti aktivitas ibadah di mesjid tersebut.

Pendidikan formal dimulai pada Sekolah Dasar Negeri III Kelurahan Mersi, Purwokerto tahun 1987-1993. Penulis sempat menyabet rangking tiga besar dan kerapkali mewakili sekolah dalam lomba-lomba ilmiah. Sekolah Lanjutan Pertama Negeri (SLTP N) 8 Purwokerto yang merupakan sekolah favorit kedua se-karesidenan Banyumas menjadi tempat belajar selanjutnya. Semasa bersekolah di tempat ini Penulis tetap aktif mengikuti pengajian-pengajian Muhammadiyah di sekitar tempat tinggal Penulis. Hobi membaca terus dipupuk. Prestasi di sekolah bisa dikatakan tidak menonjol. Olah raga sepak bola dan beladiri sempat digeluti.

Setelah tamat SLTP pada tahun 1996 Penulis tidak melanjutkan pendidikan ke sekolah yang lebih tinggi karena terbentur masalah ekonomi. Selama setahun kurang, Penulis bekerja menjadi pelayan toko olah raga milik pengusaha keturunan di Purwokerto. Pada tahun 1997 barulah Penulis dapat melanjutkan ke Sekolah Menengah Kejuruan Negeri I Purwokerto Jurusan Bisnis Manajemen Bidang Studi Akuntansi. Tahun 1998, ketika masih menginjak kelas I dan berumur 17, Penulis bai’at masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah atas pertablighan seorang guru bidang Perbankan dan bisa dikatakan satu-satunya Ahmadi di desanya.

Dildaar Ahmad merupakan nama hadiah dari Hadhrat Mirza Tahir Ahmad rohmatullah ‘alaihi (1928-2003), Imam Jemaat Ahmadiyah keempat pada 2000. Nama ini berarti kekasih Ahmad (Nabi Muhammad s.a.w. yang di akhir jaman muncul lagi secara rohani dalam wujud pengikut beliau, Hadhrat Ahmad ‘alaihissalam. Pengalaman berkhidmat di Jemaat Ahmadiyah diantaranya pernah mendapat amanat sebagai Qaid MKAI cabang Purwokerto dan asisten Sekretaris Isyaat Jemaat Ahmadiyah Purwokerto. Setelah selama beberapa bulan membantu kakak sulung di Jakarta berjualan sayur-mayur, pada tahun 2002 Penulis mendaftar ke Jamiah Ahmadiyah Indonesia dan diterima. Masuknya penulis ke Pusat Pendidikan Mubalig ini tidak lepas dari dorongan motivasi berbagai pihak. Keraguan karena merasa lemah dan tidak mampu sebenarnya pernah dihinggapi sehingga sempat maju-mundur ketika memutuskan akan masuk Jamiah Ahmdiyah Indonesia ini.

Selama belajar di Jamiah Ahmadiyah Indonesia, Penulis pernah menjadi ketua kelas II, pengurus majalah kampus “Bisyarat”, ketua Urdu Klub dan aktif di Forum Kajian Ilmu Kalam “Kisti Kalam”. Penulis aktif mengirimkan artikelnya ke Majalah MKAI Gema, Bisyarat, dan Nur Islam. Penulis pernah mendapat tugas mengikuti beberapa seminar di luar kampus. Sekarang Penulis sedang bersiap-siap melakukan tugas sebagai mubalig Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Penulis berharap mendapat doa dari para pembaca agar Allah memberi pertolongan dan kekuatan iman dalam melakukan ta’lim, tarbiyat, tablig dan khidmat kemanusiaan. Aamiin.

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Agustus 2017
M S S R K J S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: