Dildaar80's Weblog

Archive for Agustus 2009

Alhamdulillah Jalsah Malaysia ke-22 pada 15-17 Agustus 2009 berlangsung sukses. Diadakan di resort Air Tenang Janda Baik dekat Genting Highland negeri Pahang Malaysia Hadir sekitar 482 peserta dari berbagai negara, belum termasuk peserta lajnah Indonesia yang tidak terdata oleh panitia, pastinya lebih dari 500 orang.
Memecahkan rekord peserta Jalsah Malaysia tahun-tahun sebelumnya. Hadir sekitar 8 orang juga anggota Jemaat dari Port Morysby Mauritius dan khudam-khudam perantau dari Pakistan yang bekerja di Kuala Lumpur, sehingga beberapa ceramah diterjemahkan ke dalam Bahasa Urdhu oleh mubaligh-mubaligh dari Sabah Malaysia.
Peserta merasakan suasana rohani yang begitu mendalam dan enjoi dengan fasilitas yang baik dari resort. Dari hasil bincang-bincang dengan peserta lain tanpa terasa sebagian besar saat mendengarkan ceramah berlinang air mata, bahkan para mubaligh/nara sumber pun menitikkan air mata, bukan hanya anggota biasa.
Jalsah ini juga telah disebut/didoakan oleh Hudhur Al Kamis aba saat pembukaan Jalsah Internasional di Jerman yang waktunya bersamaan, beberapa khudam perantau dari Pakistan mengetahui ada Jalsah di Kuala Lumpur Malaysia dari MTA, sehingga hari ke-2 mereka membanjiri kembali lokasi Jalsah .
Menurut tuan Mln.Ainul Yakin raisut-tabligh Malaysia saat penutupan, ada 2 orang khudam dari Pakistan kerena tidak diberi izin oleh atasannya untuk menghadiri Jalsah tersebut, bersedia dipecat dari pekerjaannya, shingga saat ini telah kehilangan pekerjaannya, mohon didoakan.
Sekali lagi mubarak dan jazakumullah kepda Panitia Jalsah Malaysia ke-22 yang sukses menyelenggarakan acara jalsah yang begitu indah dan tak terlupakan. Amin !

Rafiq Ahmad
Medan

Mungkin saja, Ketua FPI, Muhammad Rizieq Shihab adalah korban permainan politik. Dengan ideologi puritannya terkadang bisa saja dia dan para asistennya menjadi naif dan ekstra lugu. Kalau kita lebih jeli melihat aksi-aksi politik FPI, tentu kita bisa menarik dari arah mana sumber dukungan ke FPI ini berasal. Baca entri selengkapnya »

Saat Komunitas Muslim Ahmadiyah membangun sebuah masjid di Berlin timur tahun lalu – tempat pertama berkembangnya komunisme di Jerman Timur- mereka tidak berfikir prosesnya akan mudah, namun mereka juga tidak menyangka akan mendapat ancaman pembunuhan. Baca entri selengkapnya »

24/08/2009 – 12:10
[increase] [decrease]
PKS Klarifikasi Soal Eks Kader Teroris
Raden Trimutia Hatta
Achmad Mabruri

INILAH.COM, Jakarta – M Syahrir alias Aing yang kini menjadi buronan polisi karena diduga teroris merupakan mantan kader PKS sewaktu masih bernama Partai Keadilan. PKS pun kini tercoreng, karena sang kakak, Anugerah kini masih menjadi kader PKS.

Menurut Ketua Humas PKS, Achmad Mabruri, untuk menjelaskan posisi PKS dan Syahrir yang terlibat jaringan Noordin M Top itu, pihaknya akan menggelar jumpa pers pada pukul 13.00 WIB di kantor DPP PKS, Jalan TB Simatupang, Jakarta. Anugerah, yang merupakan kakah dari Syahrir akan akan menjelaskan langsung soal silsilah keluarga dan kegiatan adiknya.

“Nanti Pak Anugerah, saya dan Tim Advokasi dari PKS yang akan menjelaskan semuanya soal Anugerah dan adiknya. Karena Anugerah fungsionaris PKS di Tanggerang maka kami wajib untuk mengklarifikasi semuanya,” katanya Mabruri kepada INILAH.COM, Jakarta, Senin (24/8).

Mabruri mengakui, sekitar tahun 1998-1999 Syahrir yang kini dicari Polisi sempat menjadi kader PKS yang masih bernama Partai Keadilan. Namun, karena memiliki perbedaan pandangan soal perjuangan partai, akhirnya Syahrir mengundurkan diri dan hanya kakaknya, Anugerah saja yang hingga kini masih di PKS.

Selain Syahrir, Anugerah juga memiliki adik bernama Saifuddin Zuhri yang juga masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) pihak kepolisian karan diduga merupakan kaki tangan Noordin. Anugerah yang kini duduk sebagai anggota DPRD Tangerang dari PKS, juga merupakan kakak ipar dari teroris bom Marriott-Carlton yang tewas di Temanggung, Ibrohim. [mut]

Saat ini Islam dan umat Islam sedemikian terpuruknya sehingga mau menghinakan diri dan agamanya dengan menjadi pengemis yang meminta-minta di jalan. Bukankah tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah? Bukankah lebih terhormat bila tak mampu membangun masjid yang besar, bangun saja musholla sederhana dengan ‘berdikari’ di dekat rumahnya. Lebih baik terhormat walau sederhana daripada menghina diri sendiri walau megah. Bagaimanakah bangsa ini dpt mandiri bila mayoritas Muslimnya sebagian masih bermental pengemis? Bukankah Bung Karno mengumandangkan ‘Berdikari? Berdiri di atas kaki sndiri…ah sayangnya…

Minggu, 23/08/2009 14:00 WIB
MUI Imbau Pembangunan Masjid Tak Minta Sumbangan di Jalan
Novia Chandra Dewi – detikNews
Jakarta – Peminta sumbangan masjid atau pembangunan pondok Baca entri selengkapnya »

Bila benih-benih kebencian ditanam, kebencian pula yang dituai…

JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Masdar Farid Mas’udi dapat memahami langkah polisi memantau ceramah keagamaan. Mengingat sekarang ini muncul gejala ceramah agama dipakai untuk mengumbar kebencian kepada pihak lain hanya karena perbedaan pandangan atau keyakinan.

”Menjaga keamanan masyarakat adalah kewajiban utama negara yang dipikulkan kepada polisi, sementara menebar kebencian sama sakali bukan kewajiban agamawan mana pun, bahkan itu merupakan penistaan spirit agama itu sendiri,” ujarnya kepada Kompas, Sabtu (22/8).

Masdar mengatakan, para pengkhotbah yang istikamah menyuarakan pesan sejati agama yang lurus, yakni keluhuran budi, kebaikan, dan kedamaian bagi semua, pasti tidak ada yang terkurangi hak-haknya dengan langkah polisi tersebut. ”Jika yang bersangkutan adalah pengkhotbah Muslim, seharusnya ingat pesan Nabi Muhammad SAW bahwa seorang Muslim adalah mereka yang bisa mengendalikan mulut dan tangannya dari hal-hal yang mengusik kedamaian orang lain,” ujarnya.

Sementara itu, juru bicara Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR, Mutammimul Ula, menyatakan, pengawasan terhadap ceramah keagamaan dan kegiatan dakwah berpotensi menimbulkan ketegangan.

”Ini berpotensi menjadi sumber ketegangan baru antara umat Islam dan pemerintah,” ujar anggota Komisi I DPR ini.

”Kita jangan menjadi negara polisionil sebab hal itu sama bahayanya dengan negara militer,” katanya kepada Antara.

Menurut Mutammimul, dengan langkah polisi itu, umat Islam dalam posisi sebagai pihak yang dicurigai. Ia mengungkapkan istilah yang diangkat dalam kaitan kebijakan itu, misalnya dakwah provokatif dan melanggar hukum. ”Itu semua kan bisa menjadi pasal karet dan politis,” tandasnya.

Alasan kedua, lanjut Mutammimul, polisi hendaknya jangan panik dalam menghadapi aksi teroris yang seseungguhnya terbatas itu. ”Artinya, untuk menghadapi para teroris yang terbatas itu, jangan mengakibatkan polisi harus mengawasi umat yang mayoritas. Hal ini kan memerlukan energi besar,” katanya.

Ia mengingatkan, polisi sebetulnya tak hanya bertugas memberantas teroris, tetapi juga memiliki tugas-tugas memberantas kejahatan lain. ”Seperti memberantas penyalahgunaan narkoba dan lain-lain yang mengakibatkan kerusakan masyarakat yang sangat besar,” ujarnya.

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif. Baca entri selengkapnya »


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Agustus 2009
M S S R K J S
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik