Dildaar80's Weblog

Karya-Karyaku


‘Carilah ilmu walau harus ke negeri Cina’

Dua ribu tahun yang lalu bahkan lebih berkuasalah di Tiongkok atau Cina seorang kaisar atau raja yang luas wilayahnya. Karena kelalimannya, pemimpin-pemimpin rakyat bangkit melawan. Tercatat ada 3 orang pemimpin pemberontak. Setelah berjuang cukup lama, berhasillah mereka bertiga menguasai ibu kota dan menggulingkan raja. Dua orang pemimpin tersebut beserta prajurit masing-masing sibuk menjarah harta benda yang tersimpan di gedung-gedung kerajaan dan rumah-rumah penduduk. Satu orang pemimpin terlihat tenang, prajuritnya tidak bergeming menunggu perintah. Mata sang pemimpin melihat suatu bangunan megah tapi tidak dipedulikan para prajurit yang sibut menjarah-rayah tersebut. Dengan cepat dikeluarkannya perintah, “Cepat kuasai gedung arsip dan pustaka kerajaan itu! Itulah harta benda yang sebenarnya” Terbukti bahwa perwira cerdas dan bijak ini lebih maju beberapa tahun kemudian dibanding 2 perwira lainnya karena di dalam gedung itulah tersimpan catatan-catatan laporan hasil pengamatan para cendekiawan kerajaan berisi hal-ihwal kerajaan seperti wilayah, penduduk, hasil bumi disertai saran-saran kebijakan apa yang perlu diambil.

Dari kisah diatas memang tak salah bila Nabi Muhammad s.a.w. bersabda “uthlubul ‘ilma wa lau bish shiin” (hadits riwayat al-Baihaqi) ‘Carilah ilmu walau harus ke negeri Cina’. Bangsa ini telah mengenal tulisan ribuan tahun sebelumnya. Lebih jauh lagi mereka memiliki kebiasaan menulis data-data penting dalam gulungan-gulungan yang nantinya disimpan dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Tidak heran bila penulisan sejarah kerajaan-kerajaan bangsa kita pasti merujuk pada catatan-catatan cendekiwan Cina yang berkunjung ke negeri kita atau arsip di Cina berisi berita kunjungan utusan dari Nusantara ke negeri mereka. Warisan tertulis mengenai apa-apa yang terjadi pada masa lalu di negeri kita boleh dibilang kurang. Bangsa kita lebih suka mendongeng yang diceritakan turun-temurun tanpa ada keterangan jelas kapan terjadinya seperti yang pernah disampaikan oleh Tarmizi Taher, mantan menteri agama pada masa Orde Baru, “Ummat Islam di negeri kita ini kurang senang membaca, karena pengaruh budaya oral (lisan/ngobrol), seperti dalang dan tabligh.”

Permasalahan Bangsa Indonesia dan Jemaat

Kualitas pendidikan (ta’lim) masyarakat dan jemaat kita berpengaruh langsung pada sektor ekonomi dan kesehatan. Lebih penting lagi sedikit banyak relatif berpengaruh kepada sektor spiritual atau kerohanian kita. Apabila ta’lim atau pendidikan formal dan kejemaatan kita kurang maka itu juga menurunkan kualitas kehidupan baik keduniaan maupun kerohanian kita. Keadaan tersebut lebih diperburuk dengan masih dominannya budaya tutur (informasi dari mulut ke mulut) daripada budaya baca dalam masyarakat kita yang menjadi kendala utama dalam meningkatkan kualitas sumber daya masyarakat yang seharusnya mampu mengembangkan diri dalam menambah ilmu pengetahuannya secara mandiri melalui membaca.

Tidak disangkal bahwa ada banyak cara transfer ilmu dan informasi selain membaca, namun sepertinya kalau kita mengandalkan budaya tutur pada zaman ini akibatnya kualitas pendidikan kita akan sangat mundur ke belakang. Tarbiyat (pendidikan, pelatihan dan keteladanan moral dan rohani) memang mengutamakan praktek walaupun sebagai penunjang diperlukan juga bacaan-bacaan karena tidak selamanya pengurus dan pimpinan Jemaat dapat berinteraksi langsung dengan anggota-anggotanya.

Kita bergembira dengan adanya minat baca anggota jemaat. Terbukti dengan respon atau tanggapan dan pertanyaan yang diterima para pengelola media seperti Darsus, Suara Ansharullah, Gema dan yang lainnya. Tanggapan dan komentar mengenai isi mengindikasikan perhatian dan minat membacanya. Walaupun demikian dari berbagai segi, kita perlu meningkatkan minat baca tersebut guna meningkatkan kualitas keilmuan dan kejemaatan kita. Dalam hal ini sebuah wadah tempat buku-buku, majalah dan tempat belajar diperlukan yaitu perpustakaan, tempat dimana semua data-data, buku-buku yang menggambarkan kuantitas dan kualitas keilmuwan berbagai penulis terekam dan tersimpan.

Apa itu Perpustakaan?

Dalam arti tradisional, perpustakaan adalah sebuah koleksi buku dan majalah. Walaupun dapat diartikan sebagai koleksi pribadi perseorangan, namun perpustakaan lebih umum dikenal sebagai sebuah koleksi besar yang dibiayai dan dioperasikan oleh sebuah kota atau institusi, dan dimanfaatkan oleh masyarakat yang rata-rata tidak mampu membeli sekian banyak buku atas biaya sendiri.
Tetapi, dengan koleksi dan penemuan media baru selain buku untuk menyimpan informasi, banyak perpustakaan kini juga merupakan tempat penimpanan dan/atau akses ke map, cetak atau hasil seni lainnya, mikrofilm, mikrofiche, tape audio, CD, LP, tape video dan DVD, dan menyediakan fasilitas umum untuk mengakses gudang data CD-ROM dan internet.

Oleh karena itu perpustakaan modern telah didefinisikan kembali sebagai tempat untuk mengakses informasi dalam format apa pun, apakah informasi itu disimpan dalam gedung perpustakaan tersebut atau tidak. Dalam perpustakaan modern ini selain kumpulan buku tercetak, sebagian buku dan koleksinya ada dalam perpustakaan digital (dalam bentuk data yang bisa diakses lewat jaringan komputer).
Berbeda dengan kondisi perpustakaan yang telah maju, di sisi lain masih banyak perpustakaan yang kondisinya memprihatinkan. Perpustakaan yang kondisinya memprihatinkan biasanya dikelola secara manual. Pengolahan koleksi, layanan peminjaman atau pengembalian koleksi pada perpustakaan yang termasuk dalam kategori ini dilakukan secara manual. Dengan layanan manual ini perpustakaan tidak mampu memberikan layanan yang cepat dan berkualitas layanan kepada pengguna perpustakaan.

Peran Penting Perpustakaan dalam Peradaban

Peran penting membaca dan bahan bacaan termasuk buku (terkait didalamnya perpustakaan) dalam rangka penyebarluasan pesan Islam telah sejak awal disadari oleh Hadhrat Masih Mau’ud a.s. bahkan lebih jauh lagi sejak jaman awal Islam. Kalau kita tilik sejarah tentu akan kita dapati perhatian para mujaddid dan khalifah terhadapnya. Nabi s.a.w. mensyaratkan kebebasan para tawanan kafir Makkah yang bisa mengajar pada para Muslim tuna aksara, para khalifah sesudah beliau memperbanyak al-Quran yang sebelumnya telah dijilid jadi satu dan disebar ke berbagai kota. Beberapa pribadi dipercayakan secara khusus menyimpannya. Pada masa Khalifah Umar r.a., didirikanlah gedung bernama ‘Diwan’, tempat di mana catatan-catatan resmi disimpan. Perwira-perwira tentara ditempatkan untuk menjaganya.

Budaya tutur dan hapalan yang kuat dari bangsa Arab walaupun masih dominan yang bisa dilihat dari jumlah orang yang bisa membaca namun demikian beberapa raja sebelum Islam berminat akan penulisan sejarah. Tradisi tulis-menulis dan membaca sangat meningkat setelah Islam datang. Khalifah-khalifah Islam baik Arab maupun non-Arab mengumpulkan para ilmuwan dan mendorong penulisan buku-buku bidang hadits, tarikh/sejarah dan sebagainya. Orang-orang Islam dari negeri tetangga seperti Iran, Bukhara dan yang lainnya menutupi kelemahan bangsa Arab dalam penulisan buku-buku dengan semakin banyaknya ilmuwan Muslim asal negeri non-Arab menulis buku-buku penting. Perlu dicatat bahwa pengumpul dan penulis 6 kitab hadits terkenal bukanlah orang Arab. Mereka ialah al-Bukhari (asal Bukhara/Uzbekistan), Muslim (asal Sajastani, Iran), Tirmidzi (Iran), Abu Daud, an-Nasaa-i dan Ibnu Maajah.

Adanya buku-buku berisi pendapat-pendapat keagamaan para mujaddid dan cendekiawan Muslim tidak terlepas dari peranan berbagai pihak yang mengkondisikan demikian. Para ulama mendorong generasi demi generasi agar menuntut ilmu; pemerintah atau kerajaan Islam menyediakan sarana dan prasarana penunjang seperti tunjangan untuk para guru, membangun tempat-tempat pendidikan, mengundang para cendekiawan berkumpul dan berbahas berbagai macam ilmu dan yang lainnya; para orang tua mendorong putra-putrinya belajar dan lain sebagainya.

Ada riwayat yang patut dicatat disini mengenai Imam Syafi’i yang masih kanak-kanak senantiasa diantar ke sekolah oleh ibunya yang sudah ditinggalkan mati suaminya. Muhammad bin Idris (Imam Syafi’i) memang sudah dikondisikan dan dimotivasi sejak kecil mencintai ilmu oleh ibunya yang sudah janda. Atau Khalifah al-Makmun yang mendirikan ‘Baitul Hikmah’ (Rumah Kebijaksanaan). Anggotanya ialah para cendekiawan Muslim, Yahudi, Kristen, Majusi, penganut kepercayaan lama bahkan Hindu. Keluasan keanggotaan ini menggambarkan keluasan wilayah dan pluralitas penduduk Dinasti Abbasiyyah. Kegiatan ‘Baitul Hikmah’ meliputi pembahasan dan perdebatan, penerjemahan dan penulisan (didalamnya termasuk penyimpanan hasil kajian dalam perpustakaan). Khalifah al-Makmun mengumpulkan buku-buku dari negeri-negeri tetangga untuk diterjemahkan. Raja-raja yang mengirimkan buku dikirimi hadiah-hadiah. Amerika Serikat sudah lama mempraktekkan hal ini. Mereka mempunyai perpustakaan-perpustakaan berisi buku-buku dari Negara-negara di dunia termasuk Indonesia.

Rekam jejak karya ilmiah para ilmuwan Muslim dapat sampai secara turun temurun ke masa sekarang ialah karena jasa para pecinta ilmu yang menyimpan dan menjaga dengan baik karya-karya tulis cendekiawan masa itu. Penjagaan dan pewarisan karya-karya tulis alim-ulama dan para mujaddid Muslim tersebut dilakukan baik oleh perorangan maupun kelompok terorganisasi (jamaah, Negara atau kerajaan) yang membangun tempat khusus semacam perpustakaan. Diantara hasil karya para imam ialah sebagai berikut: Imam Syafi’i menulis buku berjudul ‘al-Umm’ dan ‘Ar-Risaalah’. Imam Ibnu ‘Arabi menulis ‘Futuhat Makkiyyah’, Fushush al-Hikam dan Tarjumanul Aswaaq; Imam Al-Ghozali menulis buku ‘Ihya Ulumiddiin’, at-Tahafut dan al-Munqizh min adh-Dholal; dan ribuan ulama lainnya beserta karya-karya tulis mereka yang tidak bisa dihitung hal mana kita patut bersyukur kepada Allah akan sampainya karya-karya tulis mereka hingga masa sekarang karena puluhan bahkan ratusan karya tulis para ‘alim di masa lalu ada juga yang sama bahkan mendukung akidah Islam Ahmadiyah. Padahal dalam sejarahnya mereka mengalami berbagai penentangan yang salah satu bentuknya ialah penyitaan dan penghancuran karya-karya mereka di daerah-daerah yang penduduknya menentang terhadap mereka.

Sekilas Mengenai Riwayat Perpustakaan Pertama Jemaat Ahmadiyah

Pada tahun pertama (1908-1909) masa kekhalifahan atau kepemimpinan Hadhrat Khalifatul Masih I r.a., beliau r.a. mendirikan sebuah perpustakaan umum di Qadian. Beliau sendiri adalah pribadi pembelajar (suka belajar) dan mencintai buku. Perpustakaan tersebut dibawah kendali Sahibzadah Hadhrat Mirza Bashir-ud-Din Mahmud Ahmad r.a. (putra sulung Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad). Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. menyumbangkan buku-buku koleksi pribadi beliau dan juga bantuan dana. Istri Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad yang dikenal dengan sebutan Hadhrat Amma Jaan r.a. memberikan sebuah rumah besar untuk berdirinya perpustakaan tersebut. Donasi atau bantuan dalam bentuk buku dan keuangan diberikan juga oleh Nawab Muhammad Ali Khan, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, Mir Muhammad Ishaq, Khalifa Rasheed-ud-Din Sahib r.a., Sheikh Yaqoob Ali Sahib r.a., Hadhrat Mufti Muhammad Sadiq r.a. dan Maulana Sayyid Abdul Hayyi ‘Arabi (dari keturunan Arab).

Sadr Anjuman-i-Ahmadiyya juga menyediakan sebuah kopi dati tiap-tiap penerbitan yang dilakukannya. Pihak-pihak lainnya demikian pula maju ke depan memberikan sumbangan dana dan buku-buku. Berdirinya perpustakaan pertama mengindikasikan bahwa Hadhrat Khalifatul Masih I r.a. menyadari akan fakta bahwa sebuah perpustakaan yang berisi stok buku-buku yang bagus (lengkap) menjadi sumber kekuatan yang sebenarnya dari anggota Jemaat.
Setelah khalifah Jemaat (Huzur II r.a.) pindah ke Pakistan karena adanya partition (Hindustan dibagi menjadi Negara India/Bharat dan Negara Pakistan oleh Inggris pada 1947 atas dasar perbedaan agama), di Rabwah pun dibangunlan sebuah perpustakaan yang dikenal dengan nama ‘Khilafat Library’ atau perpustakaan Khilafat.

Hubungan Penegakan Syariat (Yuqiimusy Syari’ah) dan Perpustakaan
Dalam buku ‘Inqilaabi Hakiki’ atau Revolusi sejati, Hadhrat Khalifatul Masih II r.a. menulis bahwa kewajiban menegakkan peradaban (tamaddun) Islam tak dapat kita jalankan kalau kita belum kerjakan perkara-perkara yang dibawah ini, tetapi untuk itu hal-hal yang mesti dijalankan lebih dahulu ialah:

Pertama ialah perubahan dalam cita-cita atau Perubahan Paradigma. Jemaat harus dirubahkan, dan mereka harus mengetahui, bahwa tidak cukup hanya dengan mengucapkan ‘laa ilaaha illalloh’ saja, begitupun hanya beriman saja kepada Nabi Muhammad s.a.w. dan Hazrat Masih Mau’ud a.s. belum menyempurnakan tujuan kita.

Kedua ialah Ketaatan Sempurna. Perlu dibangunkan kehendak dan tekad yang kuat kedalam hati Jemaat “bahwa kita akan taat dan tunduk dengan sesempurna-sempurnanya walaupun kita derita kerugian bagaimana pun besarnya”. Karena hal-hal ini adalah bertalian dengan nizam atau organisasi dan kalau ada seorang saja yang melanggar atau melampaui organisasi atau peraturan ini, kemudian semua urusan dapat menjadi kusut atau kacau. Huzur II r.a. lalu menyampaikan contoh agar Ahmadi pedagang tidak boleh menjual barang yang buruk dan merugikan sesuai ajaran Islam.

Ketiga ialah Perpustakaan Islam. Untuk mencapai maksud dan tujuan penegakan peradaban Islam (yuqiimusy syari’ah/menegakkan syariat) harus disediakan buku-buku yang menerangkan dasar-dasar pelajaran Islam ataupun hukum-hukum dan masalah-masalah lain menurut pelajaran Islam yang sebenarnya.

Keempat ialah Paksaan yang Jaiz atau Dibolehkan. Mempergunakan paksaan untuk menegakkan syariat dimana perlu dan sampai batas yang diperbolehkan; mendesak kepada orang yang mau bekerja kalau telah dipaksa…Orang yang datang kepada Jemaat dengan bai’atnya berarti ia telah menyerahkan dirinya kepada Jemaat sehingga pimpinan Jemaat mempunyai hak mendesaknya agar taat dan patuh pada hukum Islam dan peraturan-peraturan Jemaat. Keburukan namanya akan memburukkan nama Jemaat dan kelemahannya akan menimbulkan kelemahan dalam Jemaat… Akan tetapi orang yang tidak suka kepada hal ini, ia bebas dan merdeka sepenuhnya untuk memisahkan diri dari Jemaat ini.

Pada kesempatan lain, Huzur II r.a. juga menyampaikan pentingnya perppustakaan. Laporan pandangan mata berjudul ‘Majlis Musyawarat Selayang Pandang’ oleh Saleh Asjabiby an-Nahdi tertanggal 14 April 1952 menjelaskan demikian. Acara Majlis Musyawarat yang dihadiri utusan-utusan dari berbagai Negara itu berlangsung selama tiga hari, 11 s.d. 13 April 1952. Pada pembukaan hari pertama (11/04/52), diantara hal yang disampaikan Huzur II r.a. ialah mengenai perpustakaan. Perawi atau pelapor yakni Saleh A. Nahdi (alm) menulis: “Lama benar beliau (Huzur II r.a.) membicarakan soal perpustakaan (Library) dan bagaimana penting persediaan buku-buku dalam perpustakaan-perpustakaan, terutama di pusat Jemaat. Isi dari buku-buku itulah yang senantiasa menjadi bekal dan senjata berjuang tiap prajurit yang dikirim ke medan tabligh. Tidak ada pengecualian dari pembacaan-pembacaan karena tiap bacaan memberi pengertian dan menambah ilmu segalanya pada tiap pembaca. ‘Saya’, kata beliau, membaca segala macam buku pengetahuan. Seseorang seharusnya membaca sebanyak-banyaknya. Setelah kupasan hal bacaan dan kepentingannya beliau menjelaskan pentingnya masjid-masjid dimana ada Jemaat terutama diluar negeri.”

Semoga kita mendapat taufik untuk mewarisi dan mewariskan karya-karya tulis positif hasil karya orang-orang yang mendapat pencerahan dari Allah. Tidak lupa tentunya bila karya-karya tersebut dapat sarana pencerahan dan hidayah bagi kita dan orang lain. Lebih penting lagi semoga Allah member kita taufik menikmati keindahan rohani dan mengamalkan ajaran-ajaran yang tercantum dalam karya-karya tulis Hadhrat Imam Mahdi ‘alaihissalam, para khalifah beliau dan cendekiawan jemaat lainnya, aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya

Desember 2016
M S S R K J S
« Agu    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: