Dildaar80's Weblog

Archive for the ‘Uncategorized’ Category

Ijtima Nasional Majlis Khuddamul Ahmadiyah Indonesia dan Athfalul Ahmadiyah Indonesia pada 01-03 September 2006 di Baturraden, Banyumas.

 

 

  • In: Uncategorized
  • Komentar Dinonaktifkan pada Surat dari Aljazair

Contoh yang berada di Algeria (Aljazair) ada di hadapan kita pada hari-hari ini. Jemaat di sana bukan Jemaat lama [kebanyakan Mubayyi’in baru], namun setelah mereka mengimani Hadhrat Masih Mau’ud as, bergabung dengan Jemaat Aakhariin ‘kaum hari akhir’ dan telah mengikuti Khilafat Ahmadiyah, iman mereka ditinggikan kepada level puncak. Kita dapat menerangkan ketinggian iman mereka melalui surat dari salah seorang tahanan di kalangan mereka yang dikirim kepada saya kemarin atau yang sampai kepada saya kemarin: “Allah Ta’ala telah mengaruniai kami kenikmatan Islam sejati yang menghidupi hati-hati kami dan menghimpun jiwa-jiwa menjadi sebuah bangunan kokoh (bunyanum marshush) yang saling menyayangi karena Allah dibawah perintah seorang Khalifah.”

Kemudian, ia menulis ditujukan kepada saya, “Sayyidii (Tuanku, Hudhur)! Para Ahmadi dari berbagai pelosok negeri mengunjungi saya setelah saya keluar dari penjara. Mereka semua senang dan bahagia dengan pertolongan Allah.” (di satu sisi mereka menanggung kesulitan keluarga sementara di sisi lain menikmati sukacita dan kebahagiaan saat turun pada mereka karunia-karunia Allah)

Mereka mempercayakan saya tugas menyampaikan salam kepada Hudhur dan permohonan didoakan bagi mereka. Mereka terus aktif melanjutkan pekerjaan dan doa agar meninggikan kalimat kebenaran. Tiap kali musibah-musibah hilang dari kami, kami tetap melanjutkan penyebaran kebenaran sembari memohon pertolongan Allah dengan menunduk dalam doa.

Pada hari-hari ini kesulitan bertambah disebabkan adanya solidaritas, kecintaan dan ikatan kami dengan Khalifah kami nan tercinta. Kami telah menyaksikan dengan mata kami pengabulan dari Allah atas doa-doa Hudhur bagi kami. Kami telah melihat dalam musibah-musbah banyak tanda yang menambah iman dan keyakinan kami atas Hadhrat Masih Mau’ud as yang merupakan pecinta sejati terhadap Junjungan kami, Muhammad saw. Karunia-karunia Allah turun berlipat ganda kepada para Ahmadi di Aljazair.”

Beberapa Ahmadi dibebaskan dari penjara baru-baru ini. Kita doakan semoga Allah menyediakan sarana-sarana pembebasan bagi yang lainnya juga. (آمين)

Seorang Ahmadi lainnya yang pernah ditahan menulis: “Saya yakin saat di penjara bahwa Allah menakdirkan kami hidup beberapa lama dari kehidupan kami di sana supaya kami dapat mengungkap sebagian keajaiban-Nya. (maksudnya, penahanan, hukuman dan keputusan pengadian menentang kita ada hikmah khasnya dari Allah supaya Dia memperlihatkan kita sebagian keajaiban-Nya. Dengan demikian, hilanglah kesulitan dari kita.)

Tadinya kami berpikir dalam masa kebebasan, kemakmuran dan kelapangan, kami akan meraih banyak kesuksesan dan kami sangka akan melihat wajah Tuhan nan Mulia serta kami ketahui jalan-Nya. Tapi sekarang saya baru tahu bahwa dalam masa itu kami hanya tahu hal sedikit saja tentang itu dan sekarang keadaan inilah saya melihat contoh dari segala keajaiban-Nya.

Saya tidak pernah takut penjara karena yang saya cemaskan ialah jika saya belum memenuhi kewajiban terhadap Allah dan para makhluk-Nya dengan semestinya.

Dalam penjara saya melihat banyak mimpi yang memberikan ketenangan. Diantaranya ialah saya juga beberapa kali berjumpa dengan Hudhur. Doa-doa Hudhur memberikan saya ketentraman, keyakinan dan kepuasan selama saya di penjara.

Saya mohon doa kepada Hudhur untuk istri saya. Ia biasa banyak bersabar dan berjuang keras.” (Istrinya adalah satu-satunya Ahmadi dalam keluarganya – dan seluruh keluarganya adalah non-Ahmadi. Saat kejadian pemenjaraan suaminya ini, ayah istrinya wafat, saudara-saudarinya telah meninggalkannya (istrinya itu) karena keahmadiyahannya itu setelah muncul penentangan terhadap Jemaat.)

“Saat saya masuk penjara, banyak orang meninggalkan istri saya.” (Sepertinya keluarga suaminya yang bukan Ahmadi.) Namun, para wanita Ahmadi yang saleh mengisi kekosongan ini dengan cinta kasih mereka.”

Mereka semua menjadi seperti keluarga. Saat keluarga istrinya itu meninggalkan istrinya, para anggota Jemaat Ahmadiyah menjadi keluarganya.

(Hadhrat Mirza Masrur Ahmad, Khalifatul Masih V atba, 26 Mei 2017)

IMG0157A IMG0154A IMG0160ADiriku di Jakarta, Univ. Paramadina

Batur Raden, 09-08-2013 (5) Batur Raden, 09-08-2013 (4) Batur Raden, 09-08-2013 (3) Batur Raden, 09-08-2013 (2) Batur Raden, 09-08-2013 (1) Batur Raden, 09-08-2013 Batur Raden (12) Batur Raden (11) Batur Raden (10) Batur Raden (9) Batur Raden (8) Batur Raden (7)

IMG01299-20130809-1126

 

Batur Raden, Banyumas, 9 Agustus 2013

Mubarik n Mln. Muhyiddin Shah-20130303-1319

Mln. Muhyiddin Syah, Shd bersama Mubarik

Muhyiddin Shah (4)

Muhyiddin Shah

Muhyiddin Shah (1)

Muhyiddin Shah (2)

Muhyiddin Shah (3)

Pagi Hari, setelah Subuh, beberapa jam setelah kewafatan. Tampak Mln. Qamaruddin Syahid melayat dengan jemaah.

 

IMG00720-20130303-1318

IMG00718-20130303-1318

IMG00719-20130303-1318

Kawan dan guru yang telah pergi, Mln. Amar Ma'ruf Aziz, Mbsy

Sosok penentang keras dan penyiksa dari para pengikut Nabi Muhammad s.a.w. pada masa awal Islam.

“Maka, bukanlah kamu yang membunuh mereka melainkan Allah swt. yang telah membunuh mereka. Dan bukan engkau yang melempar pasir ketika engkau melempar, melainkan Allah swt. yang telah melempar, dan supaya Dia menganugerahi orang-orang mukmin anugerah yang baik dari-Nya. Sesungguhnya Allah swt. Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Al-Anfal:18)

Kemenangan di Badar itu sebenarnya bukan disebabkan oleh suatu kecakapan atau kemahiran pihak orang-orang Islam. Baca entri selengkapnya »

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Seperti mengenai banyak hal yang lain, kalau kita berbicara tentang kiai dan pesantren, kita terpaksa harus membuat katagori pembeda: kiai sekarang atau kiai dulu; pesantren sekarang atau pesantren dulu. Soalnya memang terdapat banyak perbedaan antara kiai sekarang dengan kiai di zaman dulu. Demikian pula dengan pesantren; apalagi sekarang ini banyak pesantren baru yang sama sekali berbeda bahkan sering ‘ideologi’nya bertolak belakang dengan pesantren di zaman dulu.

Kiai di zaman dulu –biasanya ‘pemilik’ pesantren—rata-rata adalah orang
yang di samping memiliki ilmu agama lebih dari kebanyakan masyarakatnya, memiliki kecintaan yang mendalam kepada tanah air dan umatnya. Para kiai di zaman dulu, membangun pondok pesantren mereka sendiri untuk menampung santri-santrin mereka yang menimba ilmu darinya. Santri-santri mereka, tidak hanya diberi ilmu agama, tetapi dididik untuk mengamalkan ilmu yang mereka dapat. Menurut mereka, iIlmu tidak ada gunanya bila tidak diamalkan. Kitab-kitab kuning yang diajarkan kiai-kiai kepada santri-santrinya adalah kitab-kitab yang umumnya merupakan penjabaran dari Kitab suci AlQuran dan Sunnah Rasulullah SAW menurut pemahaman Ahlu Sunnah wal Jama’ah. Paham yang mengajarkan Islam *rahmatan lil’aalamiin *dan sikap hidup *tawassuth wal I’tidaal*, sikap tengah-tengah dan tidak ekstrem.

Para santri juga dididik untuk mencintai tanah air mereka. *Hubbul wathan minal iimaan*, “Cinta tanah air adalah bagian dari iman”, merupakan slogan di kalangan kiai dan pesantren tempo doeloe. Di zaman penjajahan, banyak kiai yang menjadikan pesantrennya sebagai markas perlawanan terhadap penjajah. Banyak kiai yang gugur dan menjadi penghuni penjara pemerintah kolonialis dalam rangka membela tanah air. Dengan berbagai dalil ‘kitab kuning’, para kiai mengobarkan semangat rakyat melawan penjajah . Fatwa jihad melawan penjajah oleh Kiai Hasyim Asyari Tebuireng Jombang, misalnya, telah mengorbarkan semangat arek-arek Jawa Timur untuk melawan Sekutu di Surabaya. Kiai Subki Parakan Temanggung dengan bambu runcingnya yang terkenal itu, menggembleng mental pejuang-pejuang kemerdekaan. Kiai Baidlowi Lasem mengutus beberapa santrinya untuk memata-matai Belanda yang konon mendarat di daerah Sayung.

Itu hanyalah sekedar contoh bagaimana para kiai pesantren dulu mengajarkan, mendidik, dan mencontohkan sikap patriotisme. Di zaman kebangkitan, para kiai pesantren medirikan organisasi yang mereka namakan Nahdlatul Wathan yang artinya Kebangkitan Tanah air.

Maka tidak heran bila beberapa kiai yang –ketahuan– kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional. Bahkan Mohammad Asad Syihab, seorang wartawan Arab yang di zaman revolusi tinggal di Indonesia, di antara buku-bukunya tentang tokoh-tokoh nasional Indonesia yang diterbitkan di Kuwait, menulis buku berjudul *Al-‘Allaamah Mohammad Hasyim Asy’ari Wadli’u Labinati Istiqlaali Indonesia*. Terjemah harfiahnya: Mahakiai Mohammad Hasyim Asy’ari Peletak Batu Pertama Kemerdekaan Indonesia.

Para kiai ‘model dulu’ selalu menanamkan kepada santri-santrinya bahwa
mereka adalah orang Indonesia yang beragama Islam; bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia. Orang Islam yang kebetulan di Indonesia boleh jadi tidak peduli apapun yang menimpa Indonesia, tapi orang Indonesia yang beragama Islam tidak bisa tidak memikirkan dan berjuang bagi kebaikan Indonesia. Kecuali mungkin orang yang terbalik akalnya.

Alhamdulillah, menurut pengamatan saya, minimal para kiai dan pesantren pelanjut generasi sebelumnya masih tetap mempertahankan pemahaman tentang Islam *rahmatan lil’aalamiin* dan sikap hidup *tawassuth wal I’tidaal*, sikap tengah-tengah dan tidak ekstrem, serta memiliki rasa keIndonesiaan yang tebal seperti kiai dan pesantren di zaman dulu.

Akhir-akhir ini orang dibingungkan dengan munculnya sikap-sikap kasar bahkan bengis dari kalangan yang juga menyebut diri kaum muslimin. Munculnya ustadz-ustadz yang dari raut muka hingga tindakan dan ucapannya membuat orang bergidik. Ada jama’ah yang tampak bangga dengan keangkerannya. Bahkan ada yang tidak masuk akal: perbuatan merusak yang tegas-tegas dilarang oleh kitab suci Al-Quran justru dianggap jihad atau minimal dianggap amar makruf nahi munkar. Bahkan ada yang tega meledakkan bom di tengah-tengah keramaian.

Kalau yang melakukan kekerasan dan pengrusakan itu bukan orang Indonesia, mungkin kita bisa mengatakan itu pihak yang iri dan dengki kepada kita. Tapi kalau itu orang Indonesia sendiri, kita jadi bingung. Kalau jama’ah yang merupakan sekedar anak-anak-buah, kita masih bisa mengerti. Tapi mereka yang merupakan imam-imam dan ustadz-ustadz itu masakan tidak mengenal pemimpin agung panutan umat Islam Nabi Muhammad SAW yang bassam, wajahnya tersenyum menyenangkan, yang bicaranya lembut, yang sikapnya santun, yang penuh kasih sayang, yang bergaul dengan penuh adab, yang beramar-makruf dengan baik dan bernahi-munkar tidak dengan munkar, yang berjihad dengan aturan dan etika?

Saya pikir, inilah yang merupakan tantangan utama kiai dan pesantren saat ini. Mereka –yang memiliki sanad, mata rantai keIslaman sampai ke
Rasulullah SAW– dituntut untuk tampil sebagaimana kiai dan pesantren dulu untuk mengenalkan kerahmatan Islam dan kesantunan serta kasih sayang Nabi Muhammad SAW. Jangan sampai generasi kita dididik oleh mereka yang yang –sadar atau tidak, karena kepentingan atau kebodohan—justru ingin mencemarkan nama baik Islam dan merusak tanah air kita.

Penulis adalah pemimpin Pondok Pesantren Roudhotut Thalibin, Rembang.


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Agustus 2017
M S S R K J S
« Jul    
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik