Dildaar80's Weblog

Archive for Februari 2011

Tulisan ini sebelumnya dimuat di harian Koran Tempo, 12 Februari 2011
Kitapun perlu mengingat, bahwa Islam memiliki sejarah panjang perbedaan pandangan dan penafsiran, bahkan pada tingkat akidah yang sangat prinsipil. Sejarah polemik dan pengkafiran oleh dan terhadap Mu’tazilah, Khawarij, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan seterusnya sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan gamblang memberi pelajaran kepada kita tentang hal itu.

Lagi-lagi, kekerasan dan persekusi terhadap warga Ahmadiyah membawa pada kesimpulan polemik yang mengarah pada solusi yang musykil: menjadikan Ahmadiyah sebagai agama baru di luar Islam. Tak kurang, Direktur Lembaga Pertahanan Nasional Muladi, dan Ketua Komisi VIII DPR Abdul Kadir Karding, mengusulkan solusi tersebut. Begitu juga Menteri Agama Suryadharma Ali. Muladi merujuk kasus Pakistan yang menurutnya menjadikan Ahmadiyah sebagai agama baru, untuk mencegah terjadinya kekerasan. Bahkan, Wakil Ketua DPR Priyo Budi Santoso menyatakan bahwa Pemerintah berwenang menjadikan Ahmadiyah sebagai agama baru. Solusi ini muskil, dan bahkan bertentangan dengan akal sehat kita, karena beberapa fakta.

Pertama, Pakistan justru adalah contoh buruk perlakuan terhadap warga Ahmadiyah. Meski dianggap kelompok minoritas tersendiri sejak 1974, dan dinyatakan sebagai non-muslim pada 1984, persekusi, kekerasan, dan pembunuhan terhadap warga Ahmadiyah tidak pernah surut. Kasus besar terakhir terjadi pada 28 Mei 2010 lalu, ketika 7 orang bersenjata senapan dan granat menyerang secara membabi buta dua masjid Ahmadiyah di Model Town dan Garishaw saat warga Ahmadiyah menjalankan salat Jumat. Serangan itu menewaskan lebih dari 90 orang warga Ahmadiyah.

Kebijakan Negara Pakistan itu sendiri sangat diskriminatif dalam sudut pandang kebebasan beragama karena kemudian dalam Undang-undang tahun 1984, menjalankan keimanan dianggap sebagai tindakan kriminal.

Kedua, di Indonesia sendiri sudah sangat jelas beberapa preseden di mana beragama sendiri bukanlah jaminan keselamatan dan jaminan tidak adanya kekerasan. Bahkan terhadap kelompok agama yang dianggap sebagai “agama resmi” di Indonesia saja sudah sangat nyata kekerasan itu terjadi. Kasus Temanggung, dan ratusan kasus penutupan dan perusakan gereja dan tempat ibadah lain menunjukkan itu. Kita juga memiliki preseden kasus agama-agama yang secara internasional sudah diakui dan dideklarasikan sebagai agama sendiri yang masih saja menerima perlakuan diskriminatif dan menjadi obyek kekerasan, seperti penganut agama Bahai, Sikh, Yahudi. Kita pun juga disodori fakta dihukumnya Lia Eden dan Abdurrahman yang sudah mendeklarasikan komunitasnya sebagai komunitas di luar Islam.

Ketiga, jika Agama Ahmadiyah dideklarasikan, seperti halnya di Pakistan dan juga disebut-sebut oleh beberapa tokoh yang mengusulkan hal itu, sebagai konsekuensinya: tempat ibadah Ahmadiyah tidak boleh disebut Masjid, tidak boleh ada adzan, ibadahnya tidak boleh salat, dan seterusnya yang intinya: tidak boleh ada ajaran dan ritual yang “menyerupai” Islam, karena menyerupai berarti menodai. Logika ini yang menjerat Lia Eden karena menggunakan terma-terma Islam dalam ajarannya. Juga yang membuat Majelis Ulama Indonesia Losarang memfatwa sesat komunitas Suku Dayak Bumi Segandu Losarang karena salah satu ritualnya “menyerupai” perhelatan dalam tradisi Islam.

Ini juga tidak bisa diterima akal sehat karena lebih dari 200.000 pengikut Ahmadiyah justru harus meninggalkan apa yang mereka yakini sebagai kebenaran, sebagai keyakinan yang menghubungkan mereka dengan Tuhan seru sekalian alam, sebagai jalan hidup mereka turun temurun, seperti halnya kita meyakini agama kita.

Keempat, nampaknya kita perlu melihat kembali bahwa satu-satunya perbedaan prinsipil antara Ahmadiyah dengan Islam lainnya adalah keyakinan bahwa ada Nabi setelah Nabi Muhammad SAW, yang adalah Imam Mahdi yang dijanjikan. Jika dalam pandangan kaum Asy’ari umumnya Imam Mahdi yang dijanjikan adalah Nabi Isa AS (yang juga Nabi) yang akan turun di akhir zaman nanti, maka dalam pandangan Ahmadiyah, Imam Mahdi yang dijanjikan adalah Mirza Ghulam Ahmad, sambil perlu digarisbawahi bahwa Ahmadiyah juga meyakini bahwa saat inilah akhir zaman itu. Di luar perbedaan itu, tidak ada perbedaan prinsipil lainnya. Catatan lainnya adalah, dalam pandangan Ahmadiyah: posisi kenabian Mirza Ghulam Ahmad berbeda dengan posisi kenabian Nabi Muhammad SAW, karena Mirza Ghulam Ahmad tidak membawa syariat sendiri melainkan menegaskan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Bahkan kalimat Mirza Ghulam Ahmad yang sering dikutip warga Ahmadiyah adalah “Dibandingkan Nabi Muhammad SAW, aku tidak sebanding bahkan dengan setitik debu yang menempel di kaki Muhammad SAW”.

Kitapun perlu mengingat, bahwa Islam memiliki sejarah panjang perbedaan pandangan dan penafsiran, bahkan pada tingkat akidah yang sangat prinsipil. Sejarah polemik dan pengkafiran oleh dan terhadap Mu’tazilah, Khawarij, Asy’ariyah, Maturidiyah, dan seterusnya sepeninggal Nabi Muhammad SAW dengan gamblang memberi pelajaran kepada kita tentang hal itu.

Kelima, kita juga perlu menegaskan kembali bahwa Indonesia bukan Negara agama, bukan Negara Islam, yang menggunakan ukuran kebenaran berdasarkan agama semata. Kita telah menyepakati membangun sebuah Negara yang tidak membenci agama, tapi tidak pula didasarkan pada ukuran satu agama (apalagi satu aliran agama) untuk membuat kebijakan. Negara ini membedakan antara dosa dan pelanggaran hukum. Dalam konteks ini, Negara harus netral agama. Dan pemerintah tidak memiliki kewenangan untuk menentukan penafsiran yang ini lebih benar daripada penafsiran yang itu.

Akhirnya, fakta-fakta kemuskilan di atas semestinya membawa kita untuk menengok kepastian lain: bahwa kekerasan adalah pelanggaran hukum, diskriminasi adalah pelanggaran hak asasi manusia. Karena itu, Negara ini harus mencari solusi untuk menjadikannya zero tolerance terhadap kekerasan. Dan saya kira dalam hal ini kita sepakat dengan kesimpulan Presiden SBY menanggapi kasus Cikeusik bahwa perangkat Negara sangat mencukupi untuk melakukan tindakan antisipatif dan preventif terhadap gejala kekerasan, dan bukan hanya menjadi pemadam kebakaran. Yang terakhir itupun terjadi hanya dalam beberapa kasus. Kebanyakan kasus lainnya, terjadi pembiaran demi pembiaran oleh aparat Negara, kalau tidak malah turut berada di barisan pelaku dan legitimator kekerasan.

Semoga beberapa pernyataan terakhir Presiden SBY untuk mengantisipasi dan melawan kekerasan adalah sebentuk komitmen, bukan sekadar pemanis bibir, atau juga pemadam kebakaran

Iklan

Agama seringkali hanya difahami sebagai sistem kepercayaan atau keyakinan terhadap ajaran Tuhan, sehingga berimplikasi kepada pemahaman bahwa agama adalah sebuah doktrin teologis. Hal ini disebabkan oleh pengkultusan terhadap agama ketimbang memahami inti dari ajaran agama. Banyak agamawan yang senang mengutip ayat Kitab suci secara serampangan, asal akur, kendati ayat itu tidak mencerminkan hidup dan sikapnya sendiri. Hal ini memperlihatkan sikap hidup yang inkonsisten. Padahal inti dari agama adalah iman, dan beriman itu adalah suatu sikap hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan-tindakan yang tidak hanya mencerminkan ajaran formal agama tetapi suatu yang mencerminkan tujuan dan tindakan baik dari agama.

Dalam beragama, masalah yang seringkali muncul adalah ketika para penganut agama menerima agama juga sebagai “kebenaran mutlak”, lebih-lebih ketika mereka berusaha memaksa orang lain juga menerimanya. Lebih parah lagi ketika mereka “memutlakkan” pemahamannya sendiri sebagai kebenaran. Karena itu tidak mengherankan apabila ada penganut agama yang merasa terpanggil untuk melakukan apa saja demi dan untuk agama mereka masing-masing, untuk kemurnian atau kemuliaan agama sehingga muncul istilah penyimpangan atau penghinaan atau penistaan terhadap agama bagi yang berseberangan dengan ‘kebenaran’ yang dimutlakkannya.

Padahal pemutlakkan atas sebuah penafsiran teks hanyalah akan memunculkan tindakan kekerasan yang justru berlawanan dengan semangat agama yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebaikan. Sejumlah persoalan yang menyangkut kebebasan beragama bermunculan mulai dari kekerasan berbasis agama (Abdul Aziz Dahlan, 1993), pelarangan ajaran-ajaran tertentu, sampai kepada kriminalisasi terhadap mereka yang dianggap sesat dalam aktivitas keagamaannya. Dalam hal inilah, agama pada akhirnya tak lebih dari daripada penjajah: penjajah Hak Asasi Manusia (HAM). Apalah artinya menjadi orang yang ‘beragama’ sementara kita hidup dengan mengabaikan kebebasan, tanpa memiliki rasa kemanusiaan. Kita hanya sibuk mensensus, mempedulikan status keagamaan orang lain, mempertanyakan sudah beribadah atau belum, sesat atau tidak sesat. Main sikat, main hajar, main hakim sendiri terhadap mereka yang dianggap sesat atau menyimpang.

Akhirnya akan timbul pertanyaan dalam pikiran kita bagaimana agama bisa meyakinkan kita akan kehidupan damai kelak dalam ‘kehidupan’ setelah kita mati di surga kalau agama justru menyulut kebencian, kekerasan dan aksi brutal—saat ini dan di sini ?

Hak asasi manusia (HAM) adalah hak yang dimiliki manusia karena dirinya manusia (Rhoda E. Howard, 2000). Kebebasan beragama merupakan salah satu manifestasi dari HAM. Kebebasan beragama dalam kacamata Hak Asasi Manusia (HAM) mempunyai posisi yang kompleks (Romli Atmasasmita, 2004). Ia sering dipandang sebagai fasilitator bagi kepentingan proteksi manusia sebagai Homo Sapiens. Menurut Ifdhal Kasim (2001) kebebasan beragama muncul sebagai HAM yang paling mendasar dalam instrumen-instrumen politik nasional dan internasional, jauh sebelum berkembangnya pemikiran mengenai perlindungan sistematis untuk hak-hak sipil dan politik.

Namun demikian, kebebasan beragama menemukan jantung “persoalan” yang utama ketika berhadapan dengan entitas negara. Sejauh mana legitimasi moral dan hukum bahwa negara boleh “mengelola” (baca: mengatur, membatasi, dan melarang) tindakan-tindakan yang bertolak tarik dengan kebebasan beragama? Bagaimana juga kerangka yang bernurani untuk membaca kebebasan beragama berhadapan dengan kekuasaan dan kepentingan umum dalam tarikan nafas HAM?
Dalam instrumen hukum nasional kebebasan beragama diatur dalam Pasal 28 (e) ayat 2 dan Pasal 29 ayat 2 Undang-Undang Dasar 1945 di mana disebutkan bahwa: Setiap orang berhak atas kebebasan meyakini kepercayaan, menyatakan fikiran dan sikap, sesuai dengan hati nuraninya (Vide Pasal 28 (e) ayat 2 UUD 1945). Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya, dan beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu (Vide Pasal 29 ayat 2 UUD 1945). Instrumen hukum nasional tersebut pada prinsipnya sudah cukup sebagai jaminan konstitusi untuk kebebasan beragama di Indonesia.

Sedangkan dalam instrument hukum internasional terdapat pada Pasal 18 Universal Declaration of Human Right menyatakan: Setiap orang mempunyai hak untuk berpikir, berperasaan, dan beragama; hak ini meliputi kemerdekaan untuk menukar agama atau kepercayaan, dan kemerdekaan baik secara perseorangan maupun secara golongan, secara terbuka dan tertutup, untuk memperlihatkan agama dan kepercayaannya dengan mengerjakannya, mempraktikkannya, menyembahnya, dan mengamalkannya.

Berdasarkan instrument hukum di atas, baik nasional maupun internasional, maka orang mau memeluk dan mengamalkan agama, jenis agama apa saja harus dihormati dan diberi kebebasan. Begitu juga sesuai konsep HAM, setiap aliran harus diberi kebebasan dan tidak boleh dilarang apalagi dihentikan penyebarannya secara paksa. Siapa yang memaksa untuk menghentikan ajaran agama semacam ini, apalagi dengan menggunakan kekerasan, maka mereka akan dicap sebagai pelanggar HAM, dan dapat diproses ke pengadilan.

Masalah JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) memang menjadi isu dilematis bagi pemerintah. Pada satu sisi pemerintah berkewajiban melindungi setiap keyakinan warganya, namun pada sisi lain, pemerintah merasa harus mengakomodasi MUI, lembaga yang notabene didirikan oleh pemerintah. MUI menganggap JAI sebagai golongan sesat dan siapa saja yang telah menjadi Jama’ahnya untuk kembali pada ajaran islam murni.

Seharusnya dalam kasus JAI, negara tidak mempunyai hak untuk menentukan suatu bentuk worship atau kepercayaan sebagai agama atau bukan. Negara juga tidak berhak menilai apakah sesuatu aliran agama itu sesat, tidak sesuai, atau bertentangan dengan the mainstream, yang dianggap aliran baku.

Kalau pun suatu sekte aliran keagamaan memang sesat, jika perlu negara dapat dan mungkin justru harus bertindak, bukan terhadap “kesesatan” keagamaan itu an sich, melainkan terhadap tindakan-tindakan yang melanggar hukum negara yang menyangkut ketertiban umum, khususnya dalam ranah pidana, seperti perkawinan anak-anak di bawah umur atau pembunuhan massal sebagai ritual yang dituntut oleh persyaratan agama itu (J. Soedjati Djiwandono, 1999).
Dalam hal ini, sisi kontroversial dari lahirnya SKB tentang JAI adalah bagaimana menangani JAI sebagai penyebab munculnya ketidaktertiban sosial. Secara umum, hak memang bisa dibatasi, sebagaimana tertuang dalam ICCPR (International Convention on Civil and Political Rights) yang di Indonesia telah diratifikasi melalui UU No. 12 Tahun 2005, yaitu sejauh menyangkut “keselamatan, ketertiban, kesehatan, moral masyarakat dan perlindungan kebebasan dasar orang lain.” Jembatan yang menghubungkan “penyimpangan” dengan pembolehan pembatasan atas alasan “ketertiban masyarakat” adalah UU No. 1/PNPS/1965 jo. UU No. 5/1969 tentang pencegahan pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Di sinilah pada akhirnya kesahihan legal-konstitusional SKB tersebut bergantung. Dengan ini pembatasan JAI yang dituangkan dalam SKB dilakukan karena pemerintah memandang bahwa JAI—karena “penyimpangannya”—menjadi penyebab munculnya ketidaktertiban, atau “menimbulkan pertentangan dalam masyarakat.” Keberadaan UU itu sendiri mengandaikan bahwa pemerintah, melalui Bapor Pakem memiliki kemampuan dan wewenang untuk memutuskan penyimpangan itu.

Dalam hal ini, tindakan Bapor Pakem sebagai perpanjangan tangan negara dalam menetapkan penafsiran tunggal terhadap pokok-pokok ajaran agama tertentu merupakan tindakan yang dapat menghilangkan kemerdekaan pikiran. Padahal kemerdekaan pikiran itu merupakan hak asasi manusia yang tidak dapat dikurangi ataupun ditangguhkan. Keragaman penafsiran dan ekspresi keagamaan itu juga merupakan hakikat manusia.

Sudah seharusnya negara tidak ikut campur terlalu dalam terhadap urusan agama dan penafsiran terhadap agama. Keberadaan SKB tentang JAI seharusnya ditinjau ulang. Jika SKB ini mengatur wilayah publik maka itu masih dapat dibenarkan oleh konstitusi, tetapi jika sudah mengatur wilayah privat, maka itulah yang inkonstitusional.

Selain itu, pertentangan yang paling mencolok atas butir-butir SKB adalah dari instrumen hukum nasional sendiri, yaitu UUD 1945 yang memiliki kedudukan tertinggi dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia, yang titik tekannya pada jaminan kebebasan memeluk agama dan beribadat menurut agamanya (Vide Pasal 28E ayat 1), kebebasan berkeyakinan (Vide Pasal 28E ayat 2), hak beragama yang merupakan non derogable right (Vide Pasal 28I ayat 1), dan jaminan negara atas kemerdekaan bagi tiap penduduk untuk beragama dan beribadah (Vide Pasal 29 ayat 2).

Pasal 1 ayat (3) UUD 1945 menyebutkan bahwa “Negara Indonesia adalah negara hukum”. Selain sebagai negara hukum, Indonesia merupakan negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa seperti yang tertera pada Pasal 29 ayat (1) UUD 1945. Selain itu, Pasal 29 ayat (2) UUD 1945 menjelaskan relasi negara dan agama yang ada di Indonesia itu. Pada Pasal tersebut disebutkan “Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu.”

Menurut A.V Dicey (dalam A. Masyhur Effendi, 1993) tiga ciri penting negara hukum ialah HAM dijamin melalui Undang-Undang, persamaan kedudukan di hadapan hukum, supremasi aturan-aturan hukum dan tidak adanya kesewenang-wenangan tanpa aturan yang jelas. Semua orang dan semua kelompok mempunyai hak, kesempatan, dan kewajiban, atau komitmen yang sama sebagai warga negara dan kedudukan sama (equal) di depan hukum (J. Soedjati Djiwandono, 1999).
Indonesia sebagai negara hukum dan berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa, maka Indonesia harus menjunjung tinggi supremasi hukum serta meyakini bahwa nilai-nilai religius merupakan salah satu sumber inspirasi bagi negara dalam menjalankan kewajibannya. Salah satu ciri negara hukum ialah mengakui dan menjamin adanya HAM. Salah satu HAM yang penting untuk dijamin keberadaannya ialah hak untuk beragama. Negara sama sekali tidak diberikan kewenangan untuk mengakui bahwa keberadaan agama tertentu sesat. Jika negara kemudian melakukan perlakuan seperti itu, maka sebetulnya negara telah melakukan perbuatan yang inkonstitusional karena bertentangan dengan UUD RI 1945.
Dari pemaparan di atas dapat diambil kesimpulan bahwa SKB No 3/2008, KEP-033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 Tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat sesungguhnya sangat bertentangan dan tidak sejalan dengan jaminan normatif tentang hak kebebasan beragama yang ada di dalam sistem hukum Indonesia yaitu UUD 1945.

Selain itu di dalam asas peraturan perundang-undangan terdapat asas lex superior derogat legi inferiori, yang bilamana terjadi konflik atau pertentangan antara peraturan perundang-undangan yang tinggi dengan yang rendah maka yang tinggilah yang harus didahulukan. Dalam hal ini ada pertentangan antara Undang-Undang Dasar 1945 dengan isi SKB No 3/2008, KEP-033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 Tentang Peringatan dan Perintah Kepada Penganut, Anggota, dan atau Anggota Pengurus Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dan Warga Masyarakat.

Tentunya perlu kita tahu bahwa UUD 1945 memiliki kedudukan tertinggi dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia, sedangkan SKB No 3/2008, KEP-033/A/JA/6/2008, dan No 199/2008 kedudukannya dalam Peraturan Perundang-undangan di Indonesia hanya merupakan peraturan selain Peraturan Perundang-undangan yang merujuk pada UU No. 1/PNPS/1965 jo. UU No. 5/1969 tentang pencegahan pencegahan penyalahgunaan dan/atau penodaan agama. Maka sesuai asas lex superior derogat legi inferiori, dalam menangani kasus JAI seharusnya perspektif hak kebebasan beragama dalam UUD 1945 lebih didahulukan oleh negara.

Dalam hal kasus JAI, kiranya peran negara perlu dibatasi hanya sebagai semacam fasilitator untuk dialog di antara kelompok-kelompok agama yang bertentangan, dan memastikan bahwa ruang berdialog itu cukup luas, tak direpresi oleh negara sendiri secara politis atau suatu kelompok masyarakat yang mengatasnamakan ‘kemurnian agama’—yang dapat berujung kepada kekerasan dan pelanggaran HAM.

***

oleh Teddy Delano pada 18 Februari 2011 jam 3:17

Ulamaa’ Suu’ (evil preacher) ulama jahat ternyata sudah diwanti-wanti akan ada diantara umat manusia. Demikianlah kabar dari Nabi Muhammad s.a.w. yang bersabda:

“Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah SWT berfirman : ‘Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi diriku, Aku bersumpah, Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR. Tirmidzi).

Sabda Nabi Muhammad saw dari ‘Ali rodhiyalloohu ‘anhu, Yuusyiku an ya’tiya, alannaasi zaamanun la yabqaa minal islami illa ismuhu wa laa minal qur’ani illa rasmuhu masajiduhum ‘amiratun wahiya kharaabun minal huda ‘ulamaa ‘uhum syarrun man tahta adiimis sama’i min indihim takhrujul fitnah wa fiihim ta’uudu.

Akan datang masanya pada manusia tatkala Islam hanya tinggal namanya saja, dan Al-Qur’an hanya tinggal tulisannya saja (tanpa manusia mengerti dan mengamalkannya isinya). Masjid-masjid akan ramai dan penuh dengan orang-orang tetapi kosong dari petunjuk.Ulama mereka (ulama uhum) akan menjadi wujud yang paling buruk dibawah kolong langit ini, fitnah-fitnah dan kekacauan akan mengalir dari mereka dan akhirnya akan kembali kepada mereka juga…(Baihaqi fii Syi’abul Iman, Misykat ).

Nabi Muhammad saw bersabda, “Akan datang sesudahku penguasa-penguasa yang memerintahmu. Di atas mimbar mereka memberi petunjuk dan ajaran dengan bijaksana, tetapi bila telah turun mimbar mereka melakukan tipu daya dan pencurian. Hati mereka lebih busuk dari bangkai.” (HR. Ath-Thabrani)

Kata Menteri Agama Suryadarma Ali: “Ada 4 opsi solusi: (1) Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama, tetapi tidak boleh pakai atribut Islam seperti Masjid, al-Qur’an dsb. (2) Kaum Ahmadiyah mengintegrasikan diri dengan paham Islam mainstream (3) Ahmadiyah tetap eksis karena HAM (4) Ahmadiyah dibubarkan. Konon, Sang Menteri cenderung opsi-2. Hmh ini pembicaraan yang menarik, yuuk kita lihat satu-satu….

Opsi-1: Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama, tetapi tidak boleh memakai atribut Islam seperti Masjid, al-Qur’an dsb.

Ini aneh, jika dianggap sebagai suatu sekte, haruslah jelas dia sekte dari agama mana. Secara substansi amat jelas Ahmadiyah merupakan paham yang berbasis al-Qur’an dan Hadits, melakukan ritual seperti halnya muslim lainnya. Maka pantaslah bila menggunakan atribut Islam tersebut. Selain dari itu, pertanyaannya, memangnya siapa sih yang berwenang melarang Ahmadiyah memakai atribut Islam tersebut? Menteri Agama? Tidak ada dasar yang mendukungnya. Sebagaimana komunitas atau kelompok lainnya, dalam bidang apapun seperti keilmuan, keolahragaan, kemasyarakatan, kesenian, bisnis dsb., maka biarlah mereka kaum Ahmadiyah sendiri yang merumuskan klaim afinitas ke mana dan memberi nama kelompoknya sendiri sebagai hak asasi mereka. Ketika saya muat sebagai status facebook, seorang bernama Rachel Hutami memberi contoh kasus kalangan Kristiani: “Aneh banget… Saksi Yehova juga pakai simbol gereja, alkitab, gak ada yang melarang”.

Seorang facebooker, Stefano Kuok menulis, Saksi Yehuwa memuat hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, seperti :- menolak hormat bendera dan- menolak ikut berpolitik. Ajaran yang mereka yakini juga dianggap bertentangan dan menyimpang dari kebijaksanaan dan politik pemerintah RI dan dianggap MERESAHKAN karena PERILAKU PENYEBARAN AGAMA. Secara resmi pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia dilarang melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976. Februari 1994 ada upaya untuk mencabut SK ini dengan berlandaskan Pasal 29 UUD 1945, Tap MPR Nomor XVII/1998 tentang HAM, dan Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998. Pada 1 Juni 2001 SK ini kemudian dicabut

Ternyata Saksi Yehova ini sekte yang agresif, bukan hanya Islam yang mereka cela, melainkan sesama sekte Kristiani lainnya. Namun, kaum Kristiani tidak melakukan tindakan kekerasan, apalagi sampai terjadi kematian. Opsi-1 ini jelas aneh, tidak sesuai dengan gejala sosial, dan tidak logis. Sungguh memalukan bahwa opsi ini muncul dari seorang Menteri yang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Opsi ini hanya pantas muncul dari kecerdasan selevel anak-anak, bukan dewasa cendekiawan.

Opsi-2: Kaum Ahmadiyah mengintegrasikan diri dengan paham Islam mainstream.

Konon, MenAg menyatakan dia cenderung memilih opsi-2, tentu pantas sekali, amat wajar, tetapi ini cermin ‘bias’ paham Islam mainstream. Jika MenAg itu seorang dari kalangan Ahmadiyah, niscaya pilihannya tidak akan begitu. Jangan lupa, dalam hal kebenaran, dan soal selera, tidak ada masalah mayoritas dan minoritas. Tentu saja ‘mengintegrasikan diri’ dalam konteks opsi-2 menurut MenAg itu bukanlah sesuatu yang bersifat sukarela, melainkan karena ada pendiktean, pengarahan, pemaksaan dari pihak lain. Ada keterpaksaan yang harus diderita oleh kaum Ahmadiyah. Jelas, ada pemaksaan kehendak mayoritas terhadap komunitas minoritas. Sesungguhnya, baik minoritas atau mayoritas memiliki hak eksistensial yang sama. Sekecil apapun, sesedikit apapun suatu jenis pohon langka atau aneh sekalipun berhak tumbuh di tengah-tengah belantara atau kebun di mana suatu jenis pohon jumlahnya menguasasi ruang yang ada sebagai mainstream. Kita tidak boleh menyingkirkan pihak yang kecil yang sedikit itu demi hegemoni pihak yang banyak dan besar. Jangan lupa, sejarah kemanusiaan selain diisi oleh sejarah munculnya suatu konsep atau pemikiran yang mulanya dari seorang pemrakarsa, lalu berkembang. Memang pada tahap lanjutannya ada yang lalu merosot dan hilang dari pentas sejarah. Namun ada juga yang mulanya dianut populasi kecil lama-lama menjadi anutan mayoritas dan tetap eksis hingga sekarang. Kita harus memiliki sikap simetris dengan ketika kita minoritas di suatu negara besar. Memaksakan opsi-2 ini terang-terangan bertentangan dengan jaminan kebebasan menganut beragama/ berkeyakinan dan menjalankan agama/ keyakinannya itu, hak berkumpul dan berserikat, yang merupakan hak asasi manusia. Opsi-2 ini juga nyata-nyata aneh, tidak sesuai dengan gejala sosial, dan tidak logis. Sungguh memalukan bahwa opsi ini muncul dari seorang Menteri yang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Opsi ini hanya pantas muncul dari kecerdasan selevel anak-anak, bukan dewasa cendekiawan.

Opsi-3 : Ahmadiyah tetap eksis karena HAM.

Ini adalah opsi yang terbaik, sebab cocok dengan konsep hak asasi manusia (HAM), sesuai dengan amanat konstitusi NKRI, dan sejalan dengan ajaran Islam. Opsi-3 ini sesuai dengan gejala sosial, dan logis. Seharusnya hanya ini opsi ini muncul dari seorang selevel Menteri yang memang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang memang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Secara otomatis, opsi-3 ini mendorong kita mencabut SKB 3 Menteri yang memang ‘banci’ itu, yang nyata-nyata melanggar prinsip HAM itu. Kelak terbukti SKB ini tidak menjadi solusi, malah menjadi faktor provokatif pelanggaran-pelanggaran berupa aksi kekerasan oleh kalangan mainstream. Mungkin banyak yang merasa heran, bagaimana mungkin saya tulis bahwa opsi ini selain cocok dengan konsep hak asasi manusia (HAM), sesuai dengan amanat konstitusi NKRI, juga sejalan dengan ajaran Islam. Ini akan saya uraikan di belakang.

Opsi-4: Ahmadiyah dibubarkan.

Opsi ini, jelas merupakan tindakan berlebihan, dan melanggar HAM. Opsi yang hanya mencerminkan kedangkalan dan ksempitan wawasan. Apalagi apabila organisasi keagamaan yang melakukan penyerangan tidak dikenai hukuman atas serangan brutal yang menimbulkan banyak kerugian material dan imaterial, atau dibubarkan juga…Salah satu ormas yang sering dikait-kaitkan dengan kasus kekerasan seperti Front Pembela Islam (FPI) pernah juga dituntut pihak-pihak lain untuk dibubarkan. Misalnya, tidak kurang dari Ulil Abshar Abdala seorang yang dikenal sebagai tokoh Jaringan Islam Liberal, sesaat setelah diresmikannya menjadi anggota Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat sempat melontarkan wacana perlunya pembubaran ormas ini. Namun, menurut saya, sejalan dengan konsep hak berserikat dan berkumpul, hak mengemukakan pendapat, keduanya tidak perlu dibubarkan. Kita hanya perlu menghukumnya saja melalui jalur hukum, dan selebihnya harus ada pembinaan. Tentu proses hukum yang dijalankan hendaknya tegas-terbuka dan memenuh rasa keadilan, yang sesuai dengan sistem demokratis.

Intinya, opsi-1, opsi-2, dan opsi-4 itu melanggar Konstitusi, HAM dan melanggar ajaran Islam. Amat menarik, seorang facebooker bernama Fernando Adventius menulis respon atas status yang saya tulis, katanya “Saya pilih opsi 5=2+3 = Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama yang berintegrasi dengan Islam mainstream dan exist karena HAM”. Intinya, ya opsi-3 itu.

BAGAIMANA KITA MEMANDANG AHMADIYAH

Secara teologis kasus Ahmadiyah memang menarik. Tentang Ahmadiyah ini saya cuma punya beberapa literatur, al.: Ahmadiyah dan Pembajakan al-Qur’an (M. Amin Djamaluddin, LPPI, 1992), Menusuk Ahmadiyah (Wawan H. Purwanto, CMP Press, 2008), Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah (Ahmad Hariadi, 2008), Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian (Ian Adamson, Pustaka Marwa, 2010) juga beberapa karya orang Ahmadiyah juga, al. : Perlukah al-Qur’an Diturunkan (Mirza Bashiruddin Ahmad, Yayasan Wisma Damai, 1992), Kristianologi Qur’an (KH Simon Ali Yasir, Darul Kutubil Islamiyah, 2005). Selebihnya saya baca di perpustakaan.

Dari sedikit bacaan itu, secara teologis saya dapat menyimpulkan Ahmadiyah pada dasarnya adalah paham atau tafsir versi lain tentang Islam yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad saw. Paham yang membentuk komunitas baru itu lahir dari karya intelektual-spiritual Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian. Kelak, komunitas ini terpecah dua, menurut saya karena dua faktor: (1) dinamika persaingan kepemimpinan (2) adanya klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, walaupun Nabi Non-Syariat, yaitu Ahmadiyah Qadiani, yang menduduki kepemimpinan dan mengklaim kenabian itu, dan Ahmadiyah Lahore, yang tidak mengklaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Tetapi keduanya sama-sama tidak menafikan eksistensi Nabi Muhammad saw sebagai Rasul dan pembawa syari’at (hukum) Islam, oleh karenanya kedua komunitas menggunakan atribut Islam, bersaksi dengan dua syahadat (syahadatain) yang dikenal paham mainstream, ibadah solat di masjid dengan kiblat ke Baitullah, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Makkah, membaca al-Qur’an, dsb.

Kaum Ahmadiyah menafsirkan satu kata ‘khatamul anbiya’ secara berbeda dari tafsir konvensional paham mainstream. Kalau, paham mainstream memberi tafsir ‘khatamul anbiya’ sebagai Nabi ‘Penutup Estafet Nabi-nabi’, maka kaum Ahmadiyah memberi tafsir sebagai ‘Nabi Termulia di antara Nabi-nabi’, dengan tafsir demikian mereka membuka peluang untuk klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi tanpa-syariat baru, yang kualitas atau derajat kenabiannya ‘biasa’ vis a vis Muhammad Sang Nabi Pembawa Syari’at, Sang Nabi Termulia di antara jajaran para Nabi. Karena itu kaum Ahmadiyah berakidah dan beribadah dsb. sebagaimana umat muslim lainnya yang mainstream.

Menghormati penjelasan mereka tentang klaim kenabian oleh Ahmadiyah Qadiani, dalam pandangan saya serupa saja dengan klaim keimaman saudara-saudara kita kaum Syiah, baik Imamiyah 7, atau Imamiyah 12 dengan Imam Mahdi al-Muntazhor (Pemimpin Yang Ditunggu Kehadirannya kelak), dsb. Dan serupa dengan konsep Mujaddid yang muncul tiap abad dalam pandangan sebagian kalangan Sunni. Atau bahkan serupa juga dengan konsep Ratu Adil dalam kosmologi budaya Jawa. Bacaan saya tentang Syiah juga sedikit, al : Mungkinkah Sunnah & Syi’ah Bersatu (Syaikh Muhibuddin Al-Khatib, Pustaka Muslim, 1380H ), Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan Mungkinkah (M. Quraish Shihab, Lentera Hati, 2007M/1428H) dll.

SIMPUL MASALAH LAIN: CONTOH DUA SIKAP BERBEDA

Nah, intermezo, kita harus akui, tidak semua kita membaca buku-buku Ahmadiyah dan Syiah, juga begitu tidak semua kaum Syiah membaca buku-buku Ahmadiyah dan Sunni, juga tidak setiap orang Ahmadiyah membaca buku-buku Syiah dan Sunni. Ini serupa juga dengan gejala tidak semua orang Muhammadiyah membaca buku-buku kalangan NU, dan sebaliknya. Namun, dalam desain besarnya, atau basis utamanya, semua sama, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, dari intermezo ini, tampak ada satu simpul masalah: masing-masing tidak saling ‘baca buku saudara’nya yang lain, untuk tidak mengatakan ‘buku-buku lawannya’.

Sebagai ilustrasi, coba perhatikan saat saya lakukan edit atas tulisan ini, sudah masuk komentar dari Candra Arifin, seorang facebooker, yang memberikan komentar ngelantur, yang penyebab ngelanturnya itu hanya satu hal sederhana hanya baca judul Note ini tidak baca isinya. Dengan tidak fair juga dia balas facebooker lain, Ayu Pratiwi, yang sebaliknya memahami isi Note ini dan mengingatkannya bhw dia belum baca isi Note saya. Candra Arifin malah menulis: “tidak perlu baca Note itu, tidak wajib’ katanya. Bahkan anak muda ini memberi nasihat yang dia sendiri tampaknya tidak memahami makna filosofis, teologis dan makna sosiologis pesannya itu. Karena sikapnya jumud (sempit) maka perilaku dalam ungkapan status FB-nya juga jumud. Dua sikap berbeda, Mengapa berbeda. Candra anak muda masih tetap dalam tempurungnya di Bandung, Ayu Pratiwi sedang melanglang mancanegara, kini di Jepang negara yang konsisten dengan penerapan kebebasan beragama/berkeyakinan, kebebasan berserikat/berkumpul dan mengemukakan pendapat. Memang hanya yang pernah hidup di lingkungan kebebasan sejati yang dapat memahami nilai kebebasan itu. Apalagi kondisi psikososial lingkungan keagamaan memang beda.

Dahulu Prof Dr HM Rasyidi pernah menyebutkan lingkungan keagamaan itu menyebabkan manusia terlibat secara emosi. Memang emosi itu penting dalam beragama. Sayangnya, terkadang orang larut dalam emosi yang keliru juga, apalagi bila didasari persepsi yang keliru. Kondisi psikologis ini sungguh berbeda dengan kondisi psikososial dalam suatu komunitas ilmiah, di mana setiap ilmiawan bergairah membaca tulisan karya siapa saja yang terkait tema yang sedang menjadi wacana bersama, sehingga terbuka kritik, terjadi pertukaran pendapat secara seru tetapi positif-konstruktif-progresif tanpa emosi-obsesif, kemudian terbuka perubahan paham, dan lalu terbangunlah akumulasi informasi mengambil bentuk konsep ilmiah yang baru. Tidak ada kebencian, tidak ada serangan kekerasan verbal atau fisik.

ANEH DAN TRAGIS : DULU MERDEKA KINI MALAH JADI TIDAK MERDEKA

Dalam skema persepsi saya, secara historis, di Indonesia kehadiran kaum Ahmadiyah adalah rombongan ketiga, setelah rombongan pertama Islam Tradisional yang menandai kaum NU beserta beberapa Tarikat Sufi, dan rombongan kedua Islam Modernis yang menandai kaum Persatuan Islam (Persis), Muhammadiyah, al-Irsyad, dsb. Setahu saya, bentrokan fisik yang besar mungkin pernah terjadi hanya ketika KH Ahmad Dahlan mengubah kiblat Masjid Ageng di Yogyakarta itu saja, itupun karena akumulasi-eskalasi perselisihan paham dalam konteks tajdid (reformasi-purifikasi) versus tradisi konvensional kalangan Kyai dan pesantrennya yang dianggap mengadopsi berbagai bid’ah akibat pengaruh aqidah dan ritual agama lama yaitu Hindu dan Buddhisme. Kalau merujuk kepada film Sang Pencerah (Brahmantyo, 2009) tampak bahwa bentrokan itu berupa penyerangan kaum tradisional merusak-membakari properti kaum Muhammadiyah, persis dilakukan kaum Radikalis seperti pernah dilaporkan semacam Front Pembela Islam (FPI), terhadap kaum Ahmadiyah berulang kali, di beberapa tempat. Sungguh bentrokan yang absurd-brutal-bodoh.

Namun perlu dicatat: Pertama, meskipun dalam banyak butir pemahaman hingga kini relasinya cenderung bagaikan ‘minyak dan air’ tetapi secara umum antara kaum NU dan kaum Muhammadiyah tidak ada lagi bentrokan fisik yang brutal dan bodoh. Kedua, kehadiran kaum Ahmadiyah sebenarnya sudah sejak sebelum kemerdekaan. Mereka hadir ‘menumpang’ perahu Muhammadiyah, bahkan entah bagaimana berita acaranya, mereka diperkenalkan dalam forum muktamar. Saya tidak tahu, apakah proses kemunculan dan perpisahannya serupa dengan proses munculnya Partai Komunis Indonesia yang ‘menumpang’ perahu Partai Syarikat Islam Indonesia.

Nah, peristiwa bentrokan kekerasan berupa penyerangan kepada jiwa-raga, fisik-psikis kaum Ahmadiyah itu barulah terjadi dalam satu dekade terakhir, belakangan ini saja. Dengan kata lain, mereka merdeka selama hampir 80-an tahun, namun dalam 10 tahunan belakangan, justru dalam proses demokratisasi bangsa dan negara ini, era reformasi, kok malah kehilangan kemerdekaannya. Ini bukan hanya ajaib-misterius, tetapi juga tragis-menyedihkan. Ada apa. Mengapa kejadian demikian bisa terjadi?

Di sini kita lihat bahwa kemungkinan simpul masalah pertama itu dapat kita tambah dengan adanya simpul masalah kedua: ulama-kyai-cendekiawan masing-masing tidak dapat memberikan pencerahan dengan pendekatan ukhuwah islamiyah dan tasamuh (toleransi), alih-alih demikian malah masing-masing terperangkap dalam narsisme golongan, bagaikan katak dalam tempurung masing-masing, dan tiap diri/ golongan menggelembungkan ego golongan masing-masing. Lebih buruk lagi, tidak terelakkan dugaan bahwa dalam khutbah, ceramah, kuliah yang mereka selenggarakan mungkin saja terselip provokasi permusuhan.

Dugaan demikian amat masuk akal, dan ini pernah disinggung oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam konferensi opini program MetroTV dipandu Zelda Savitri, 2-3 hari lalu. Saya tidak ingin terbangun kondisi di mana isi seminar, khutbah, ceramah dipantau-disaring oleh pemerintah seperti konon terjadi di Malaysia dan Singapura. Saya pikir, seharusnya para ulama-kyai-cendekiawan-agamawan mulai menyadari bahaya penyebaran paham / ajaran radikal-jumud yang menimbulkan permusuhan-perpecahan sosial berbasis ideologi. Paham pluralism misalnya, di kalangan kaum Muhammadiyah yang mengklaim dirinya modernis itupun tidaklah diterima secara merata tuntas secara vertikal atau horizontal. Yang menonjol sepertinya hanya segelintir yang sepaham dengan Prof Dr Syafi’i Maarif.

Saya juga mengalami sendiri bagaimana kejumudan dalam Muhammadiyah. Seorang Ketua Majlis Dakwah misalnya, pernah dalam pengajian ini menggebrak dengan pertanyaan mengejutkan ‘Mengapa orang-orang Islam di Telkom memberikan akses fasilitas telepon kepada orang-orang non-Muslim, kenapa yang bekerja di PLN memberikan akses fasilitas listrik kepada orang-orang kafir. kenapa membiarkan gereja dibangun’ , ‘untuk apa memperingati Hari Kartini, kan kita punya Khadijah, Aisyah…untuk apa kita peringati Hari Pendidikan dengan mengenang Ki Hajar Dewantara ‘kan kita punya Nabi Muhammad saw seorang pendidik”, dsb. Bahkan ketika saya mengemukakan komentar dukungan atas pluralism ala Buya Syafi’i, ke 6-7 figur pengurus suatu cabang, respon mereka semua negatif, dan sang Ketua Majlis Dakwah itu mencap saya kafir. Ini mengejutkan, mengklaim kaum modernis tetapi wawasannya jumud-sempit. Kebetulan 2-3 bulan kemudian muncul buku bagus ‘Argumen Pluralisme Agama’ (Dr Abdul Moqsith Gazali, Kata Kita, Peb 2009). Menarik, sementara di kalangan tradisional justru muncul kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal. Di kalangan muda Muhammadiyah juga muncul kelompok yang menghendaki liberalisasi namun tidak begitu terdengar gaungnya.

DIPERLUKAN MODERASI-TOLERANSI DAN PENEGAKAN HUKUM YANG TEGAS

Simpul masalah ketiga, menurut saya adalah SKB 3 Menteri itu, dan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pembatalannya. Masuk kelompok simpul masalah ketiga ini: Fatwa MUI tentang ‘sesat’nya paham Ahmadiyah. Keduanya tidak mencerminkan pemahaman makna kebebasan beragama/berkeyakinan yang sebenarnya. Juga kebebasan berserikat dan berkumpul. Masalahnya bukan karena kekurangpahaman HAM dan falsafah konstitusi kita saja, tetapi juga kekurangpahaman atas ajaran Islam berbasis al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kalau begitu, bagaimana pesan suci al-Qur’an dan pesan mulia Kanjeng Nabi dalam as-Sunnah, yuuk kita lihat satu demi satu. Kita tidak akan mengulas substansi teologis kaum Ahmadiyah, atau Syi’ah juga, namun kita lihat bagaimana al-Qur’an dan as-Sunnah, berpesan menyikapi perbedaan paham agama/ keyakinan sebagai fakta social.

Dengan merujuk pesan-pesan moderat-toleran-luhur terkandung dalam ayat-ayat suci al-Quran di bawah ini dapatlah kita simpulkan betapa SKB 3 menteri, keputusan MK menolak peninjauan.pencabutan SKB 3 Menteri itu mengandung kebodohan, melanggar hak-hak asasi yang Tuhan sudah install dalam diri-diri manusia, apapun penganut agama/keyakinannya.

(Ini saya sajikan seadanya dulu, nanti akan saya bereskan, Nanti akan saya lengkapi dengan pesan mulia Kanjeng Nabi Muhammad saw, insyaallah. Sekarang sedang repot ada tamu….)

—-Penyiaran ajaran harus dengan langkah lembut, nonkekerasan

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sungguh itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.Sungguh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. 016:125-128

—Al-Qur’an, Nabi Muhammad sama sekedar peringatan bukan pemaksa, kamu harus sabar :

Dan Sungguh telah Kami buat dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sungguh jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang ingkar itu akan berkata: “Kamu tidak lain cuma orang-orang yang membuat kepalsuan belaka. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. Dan bersabarlah kamu, sungguh janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. QS.030:058-060

Sungguh kamu cuma memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Mahapemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.(QS.036:011)

Al Qur’aan itu tiada lain cuma peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. QS.081:027-029

Dan Kami turunkan (Al-Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.(QS.017:105)

GUSTI ALLAH JUGA MENJAMIN KEBEBASAN

–Bahkan orang dijamin kebebasan memilih untuk tidak beriman sekalipun

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka siapa ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan siapa ingin (ingkar) biarlah ia ingkar”. Sungguh Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah; (QS.018:029-031)

Siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang ingkar sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (ingkar) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sungguh Allah Mahapengampun—Mahapenyayang. (QS.003:085-089)

Allah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),—Mahaperkasa—Mahabijaksana. Sungguh agama (yang diridhai) di sisi Allah cuma Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah maka sungguh Allah sangat cepat hisab-Nya. Lantas jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu cuma menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Mahamelihat hamba-hamba-Nya. (QS.003:018-020)

—-Allah Mahakuasa saja tidak memaksakan, kenapa ada manusia memaksakan ajaran

Tidak ada paksaan dalam beragama; sungguh telah jelas jalan benar dari jalan sesat. Karena itu siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang takkan putus. Dan Allah Mahamendengar–Mahatahu. (QS.002:256)

Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). QS.006:104

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman seluruh orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman seluruhnya ? (QS.010:099)

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman. Sungguh orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS.017:107)

—-Gusti Allah Mahakuasa saja membiarkan ada beragama komunitas, untuk tiap komunitas aturan bisa berbeda, mengapa ada manusia mahakerdil memaksa kaum Ahmadiyah untuk membuang keyakinan mereka membuat sama dengan mainstream

…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Cuma kepada Allah-lah kembali kamu seluruhnya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.005:048)

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa dikehendaki-Nya. Dan sungguh kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS.016:093)

Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong. (QS.042:008)

—-Kamu tidak akan bisa mengubah keyakinan seseorang, apalagi satu komunitas, jadi jangan memaksakan kehendak, sesudah kamu menyampaikan ajakan, serahkan kepada Gusti Allah, jangan lalu memaksa, merusak barang-rumah-masjid-alQuran mereka itu berlebihan dan bodoh.

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa dikehendakiNya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, pahalanya itu untukmu sendiri. Dan janganlah kamu belanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.002:272)

Sungguh kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS.028:056)

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman seluruh orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman seluruhnya ? (QS.010:099)

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.QS.010:100

—-Kalaupun mereka berkata kasar atau tidak sesuai harapan, apalagi hanya karena berbeda paham : mereka pun gak merusak harta-bendamu, tidak membunuh orangmu, kamu harus sabar, kok malah kamu menzalimi mereka.

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang……Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku. (QS.050:039-040, 045)

—Dosa terbesar adalah penyekutuan Tuhan, beda paham Ahmadiyah itu, termasuk klaim Nabi Non-syariat Mirza Ghulam Ahmad, itu urusan Tuhan :

Sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa dikehendaki-Nya. Siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS.004:048)

Sungguh Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa dikehendaki-Nya. Siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain cuma berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain cuma menyembah setan yang durhaka. (QS.004:116-117)

… Sungguh orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS.005:072)

—Alih-alih ke pelecehan dan penindasan ajaran/penganut agama/keyakinan lain, kamu harus fokus kepada aktivitas kontribusi social. Gusti Allah sendiri menyatakan mereka yang beragama/ berkeyakinan lain juga punya peluang balasan

Sungguh orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, akhirat dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekuatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS.002:062)

…. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Cuma kepada Allah-lah kembali kamu seluruhnya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.005:048)

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang goib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.009:105)

Siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS.011:015-016)

Siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (QS.017:018-021)

JANGAN MENZALIMI KAUM LAIN, MINORITAS, NONMUSLIM, KAUM AHMADIYAH

—-Jangan kebencian karena berbeda paham, menjadikan kamu menzalimi kaum Ahmadiyah:

Hai orang-orang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan. (QS.005:008)

—Jangan memaki paham lain, bahkan jangan menghina sesembahan agama/keyakinan lain

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Lantas kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS.006:108)

—Jangan usir orang yang beribadah

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (QS.006:051-052)

–Hormati mereka beribadah di tempat masing-masing, jangan robohkan tempat ibadah

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjidNya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat terkena siksa yang berat. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sungguh Allah Mahaluas (rahmatNya) —Mahatahu. (QS.002:114-115)

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (ingkar) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Siapa tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan tobat dari pada Allah. Dan adalah Allah Mahatahu—Mahabijaksana. Dan siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. Hai orang-orang beriman, bila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah mengkaruniakan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sungguh Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan. (QS.004:092-094)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, lantas banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, cuma mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Mahapengampun—Mahapenyayang. (QS.005:032-034)

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sungguh ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (QS.017:033)

—-Apakah seperti contoh kasus Musa, akan dibunuh Fir’aun hanya karena beda paham?

Dan seorang lelaki yang beriman di antara para pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang lelaki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sungguh Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS.040:028)

—Sumber kejahatan adalah iblis-setan. nah Allah tidak membunuh Iblis, mngapa kita hendak membunuh kaum Ahmadiyah, bukankah itu zalim-bodoh ?

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sungguh kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Paduka telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Paduka yang lurus, lantas saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Paduka tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sungguh siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu seluruhnya”. QS.007:014-018)

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sungguh kamu terkutuk, dan sungguh kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan, Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Paduka telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka seluruhnya, kecuali hamba-hamba Paduka yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman: “Ini adalah jalan lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sungguh hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang sesat. (QS.015:034-042)

—Ada tuduhan Ahmadiyah ‘bikin’ kitab ‘Tadzkirah’ sebagai tambahan selain al-Quran, bukankah sama dengan buku-buku utama kaum Syi’ah dengan pesan-pesan Ahlul Bayt, biarlah mereka tanggung sendiri akibatnya. Tetapi kedua kaum ini juga tidak bermaksud menggantikan al-Qur’an.

Maka kecelakaaN yang besarlah bagi orang-orang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan (QS.002:079)

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) keingkarannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Siapa Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS.005:041)

—Tidak usah repot, memaksakan kesamaan, menghakimi keyakinan orang/komunitas lain. sebab soal-semacam itu perbedaannya akan diselesaikan oleh Gusti Allah sendiri nanti di akhirat

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (cuma) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang benar”. (Tidak demikian) bahkan siapa menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS.002:111-113)

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS.042:010)

—Jangan memantau, kamu bukan pengawas nonmuslim, juga bukan penjaga Ahmadiyah, bukan tanggungjawabmu, serahkan kepada Allah

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka. (QS.005:009-010)

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka. (QS.006:106-107)

Dan berimanlah kamu kepada yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang pertama ingkar kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan cuma kepada Akulah kamu harus bertakwa. Dan janganlah kamu campur adukkaN yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. !QS.002:041-042)

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.(QS.016:109)

Sungguh orang-orang yang menukar iman dengan keingkaran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang ingkar menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sungguh Kami memberi tangguh kepada mereka cuma supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. QS.003:176-178)

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.QS.010:100

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi ingkar; sungguh mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS.003:176)

Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Mahatahu—Mahabijaksana. (QS.009:106)

by Arief Maulany

Bekasi, cuaca hati cerah-ceria, di tengah lingkungan kekelaman kejahilan, 9 Pebruari 2011

http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=431055906637#!/note.php?note_id=151002218289361&id=801678835

Saudara-saudara, saya ingin membagi informasi tentang ajaran Ahmadiyah yang saya baca langsung dari kitab karangan pendirinya: Mirza Ghulam Ahmad (MGA). Kitab yang menj…adi rujukan saya adalah “al-khazain al-ruhiyah”, “al-mawahib al-rahman” yang merupakan terjemahan dari bahasa Urdu Ahmadiyah. Saya akan membagi pembahasan jadi dua, yaitu aja…ran-ajaran apa dari mereka yang sama dan ajaran-ajaran apa dari mereka yang berbeda.

Ajaran Ahmadiyah sama dgn mayoritas umat Islam dalam:

1. Agama mereka adalah Islam, syahadat mereka adalah La ilaaha illahu wa muhammad rasulullah. Penegasan agama Islam dan syahadat ini ditulis oleh Mirza Ghulam Ahmad di Juz 19 al-Khazain al-Ruhiyah-Kitab Mawahib al-Rahman. “Tidak masuk dlm Jemaat kami,kecuali yg memeluk Islam,mengikuti Kitab Allah,sunnah manusia terbaik (Muhammad saw).. dst (MGA). Maka tidak benar kalau menganggap Ahmadiyah adalah agama baru seperti Bahai, Sikh, dst. Ahmadiyah adalah nama ormas keagamaan bukan agama. Ahmadiyah seperti Muhammadiyah, atau NU, atau Persis, dll (nama ormas keagamaan bukan agama, bukan madzhab fiqh atau firqah).

Penegasan ini brasal dr pendirinya Mirza Ghulam Ahmad bahwa tidak seorang pun yang boleh masuk jemaat kami (#ahmadiyah) kecuali dia muslim. Penghakiman terhadap Ahmadiyah bersumber dari sas-sus, fitnah untuk tujuan di luar dakwah Islam, tpi soal kekuasaan. Saya telah mengunjungi dua masjid Ahmadiyah di London, yang pertama London Mosque (al-fadl) mesjid tertua di Inggris (thn 20-an) dan Baytul Futuh. Tidak benar kalau pengikut Ahmadiyah hajinya ke Qadian-India atau ke London, ini fitnah besar. Pengikut Ahmadiyah yg ke London atau ke Qadian untuk mengikuti “Jalsa Salanah” annual meeting ‘pertemuan tahunan’ di Indonesia pun ada.

2. Ahmadiyah percaya Muhammad SAW sebagai “Khatam al-Nabiyyin” (‘penutup nabi2′)-sprti ditegaskan oleh MGA dalam “Mir’ah Kamalat Islam”.

3. Ahmadiyah percaya tidak ada kitab suci selain al-Quran yang di dalamnya Kalam Ilahi, syariat sempurna & terakhir. Oleh karena itu, yg menuduh Ahmadiyah punya kitab suci selain al-Qur’an yang disebut-sebut tadzkirah adalah fitnah & dusta besar. Tadzkirah yang berasal dari ucapan, catatan, dan ilhamat Mirza Ghulam Ahmad dibukukan 27 tahun setelah MGA wafat bukan kitab suci Ahmadiyah.

4. Rukun Islam Ahmadiyah ada (5): syahadat, shalat, puasa, zakat & haji ke baitullah di Mekkah. Dlm ibadat Ahmadiyah ikut madzhab Hanafi.

5. Apa yg diharamkan oleh Allah & Rasul-Nya pengikut Ahmadiyah juga haramkan ini ditegaskan dalam kitab Nur al-Haqq

Kesimpulan, rukun Iman (6) dan rukun Islam (5) pengikuti Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam sedunia.

Ahmadiyah shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah) jumlah rakaat sama, bunyi adzan sama (kalau Syiah beda), dalam subuh tak ada qunut. Dalam shalat Ahmadiyah seperti Muhammadiyah tidak ada zikir setelah shalat, doanya tidak nyaring, tidak ada qunut, tidak ada shalawat di antara 2 khutbah. Koreksi untuk anda: (Ahmadiyah shalat 5 waktu (bukan 3 waktu seperti Syiah)…Syiah shalat 5 waktu juga, tapi dibagi menjadi Subuh, Zuhur dan Ashar, Magrib dan Isya. by Rachmat Setiawan)

1. Ahmadiyah percaya wahyu itu berlanjut, namun hanya “wahyu tabsyiri wal indzari” (wahyu dakwah) bukan “wahyu tasyrii” (wahyu syariat). Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad dapat wahyu, tapi isinya bukan syariat baru, tapi penegasan pada syariat Muhammad SAW. Apakah wahyu bisa diturunkan pada selain Nabi? Jawabnya bisa. Ibu Musa as dapat wahyu di surat al-qashash ayat 8. Selain Ibu Musa, Maryam menerima kalam dari malaikat (al Imran ayat 46), atau al-hawariyun –pengikut setia Isa (al-maidah ayat 112). Wa idz awhaytu ila al-hawariyyina an aminu bi wa bi rusuli – saat Kuwahyukan pada pengikut setia Isa,untuk beriman pada-Ku & RasulKu” (al-maidah 112).

Kesimpulan dari dalil-dalil tadi wahyu bisa diturunkan Allah pada selain Nabi, Ibu Musa, Maryam, pengikut Isa tapi bukan “wahyu syariat”. Benar Mirza Ghulam Ahmad mengaku menerima wahyu, tapi BUKAN WAHYU SYARIAT, wahyu itu tdk membatalkan syariat Muhammad SAW. Mohon anda baca kembali istilah wahyu ayat-ayat Qur’an yang diturunkan selain Nabi, atau bahkan pada tumbuhan dan binatang, tapi bukan wahyu syariat.

2. Ahmadiyah percaya semua nabi tubuhnya adalah manusia biasa, dan akan berakhir sprti manusia biasa (mati), dmikian jga Isa as. Yang membedakan Ahmadiyah dengan umat Islam yang lain yaitu, bagi ahmadiyah Isa telah wafat, tidak hidup jasmani-rohani nya di langit. Ahmadiyah dengan argumentasi nalar dan teks menolak bahwa saat ini Nabi Isa masih hidup, berada di langit, tubuh & ruhnya dan akan datang lagi. Ahmadiyah percaya Nabi Isa as, seperti nabi-nabi yang lain, tubuhnya manusia dan punya ajal, tubuh punya umur. Karena Ahmadiyah percaya nabi Isa telah wafat, maka mesias dan imam mahdi-ratu adil yg dijanjikan-adalah orang lain,bukan Nabi Isa yang wafat. Ahmadiyah percaya orang yang sudah wafat tidak akan kembali ke dunia ini, sprti halnya Nabi Isa as. Ia tidak akan kembali lagi ke dunia. Keyakinan Ahmadiyah ini lebih rasional dibanding kebanyakan umat Islam yang percaya Isa sebagai manusia masih hidup tubuhnya & berada di langit.

Dibanding Iman Syiah 12 Imam (yang ada di Iran) mereka percaya imam ke-12 yang ada di abad pertengahan masih hidup dan akan kembali ke dunia. Arti “rafa’a” dlm quran untuk Isa as, bukan Allah “mengangkat” jasad dan ruhnya ke langit, tapi “mengangkat derajatnya” (mulia).

3. Kalau bagi mayoritas umat Islam, mesias (al-masih) dan Imam Mahdi belum turun, bagi Ahmadiyah sudah turun yaitu Mirza Ghulam Ahmad. Dengan catatan keras: Mesias dan Imam Mahdi ini memperkuat syariat Muhammad SAW, tidak boleh menambah atau mengurangi sedikit pun. Karena nubuat2 ini harus diletakkan dalam doktrin bahwa Mesias itu adalah seorang nabi (tanpa syariat) yg memperkokoh syariat Muhammad saw.

Jadi meski Ahmadiyah percaya Mirza Ghulam Ahmad seorang nabi (Mesias) dan dapat wahyu, tapi TIDAK ADA SYARIAT BARU. Ibadat mereka sama dengan yang lain.

Banyak yang salah paham, dikiranya keyakinan Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi dan mendapat wahyu otomatis mengubah syariat Muhammad? Salah besar itu. Jangan menutup mata, bahwa keyakinan Ahmadiyah terhadap Mirza Ghulam Ahmad ada landasan teks dan rasional, mereka berhak untuk percaya.

Keyakinan Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi tidak mengubah syahadat, hanya diucapkan dlm bay’at unt masuk jemaat Ahmadiyah. Nama Mirza Ghulam Ahmad dan wahyunya tidak disebut dalam bacaan shalat, tidak pula di masjid-masjid Ahmadiyah. Foto Mi…rza Ghulam Ahmad dan penggantinya (khulafa’) memang dipasang di kantor2 Ahmadiyah tapi tidak di masjid. Di masjid-masjid Ahmadiyah hanya ada syahadat dan ayat-ayat al Quran, tidak ada foto Mirza Ghulam atau ucapan-ucapannya.

Anda yg mau mengetahui ajaran Ahmadiyah bacalah dari buku-buku aslinya bukan kutipan-kutipan dari musuh-musuh mereka 🙂

Kesimpulan saya : rukun iman dan Islam Ahmadiyah sama dengan mayoritas Islam, bedanya Mesias & Imam Mahdi bagi mereka sudah datang, sedangkan bagi yang lain belum.

Ibadat Ahmadiyah sama dgn umat Islam yang lain, secara madzhab fiqh mereka ikut Imam Hanafi (Imam fiqh pertama dlm 4 Madzhab). Ada kaidah fiqh yang sering dikutip GusDur qawl al-mujtahidi ‘an khashmihi laa yu’khadz (pendapat mujtahid tentang lawannya tak bisa diambil). Oleh karena itu, pendapat MUI, FPI, FUI,HTI atau siapapun yg memusuhi Ahmadiyah tidak bisa diandalkan, karena mereka punya bias-permusuhan. Ada kaidah fiqh yang lain juga untuk tidak mudah menghakimi, “idra’uu al-syubhaat” (hindari perkara-perkara yang belum jelas).

Semoga saya dijauhkan dari keangkuhan menganggap diri bisa menghakimi orang lain dalam soal iman.

Saya telah melihat tata-cara ibadah Ahmadiyah sampai pemimpin tertinggi mereka yg dipanggil “hudhur”, masjid-masjid mereka, tidak ada perbedaan. Isi dari ‘Jalsah Salanah’ adalah ceramah-ceramah dan shalat tahajud, tidak ada ritual dan ibadat baru yang tidak dikenal Islam. Saya menyimpan foto-foto masjid-masjid Ahmadiyah di inggris dari luar hingga bagian dalam. Di luarnya ada kalimat syahadat dan di dalamnya ada ayat-ayat Qur’an. Tidak ada foto Mirza Ghulam dan kutipan kata-katanya di masjid-masjid Ahmadiyah, tidak ada kultus luar biasa padanya di jemaat #ahmadiyah.

Setiap masjid Ahmadiyah ada kalimat syahadat “Tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad Rasulullah”, tidak benar ada tambahan Mirza Ghulam nabi Allah. Kalau ada yang bilang: syahadat Ahmadiyah itu beda, shalatnya beda, puasanya beda, zakatnya beda, hajinya beda: ini fitnah besar!

Orang Ahmadiyah dari Pakistan memang tidak bisa naik haji ke Mekkah, karena di paspor mereka dipaksa ditulis agama mereka Ahmadi bukan Islam. Orang-orang Ahmadiyah Pakistan kalau mau naik haji pakai paspor Inggris atau India yang tak cantumkan agama di paspor mereka.

Apakah mayoritas umat Islam di Indonesia memusuhi Ahmadiyah? Tidak benar, kalau benar mereka takkan hidup di sini sejak tahun 20-an. Benar kalau mayoritas umat Islam di Indonesia berbeda dalam beberapa poin ajaran dengan Ahmadiyah tapi berbeda bukan berarti memusuhi.

Namun hal yang berkaitan dgn ibadah-ibadah mahdlah, hal yang “al-ma’lum min al-din bi al-dlarurah”, Ahmadiyah sama dengan mayoritas umat Islam Indonesia. Perdebatan kelompok Islam yang lain dengan Ahmadiyah sudah terjadi sejak lama, tapi tindakan kekerasan ini fenomena baru. Saya sering ditanya kenapa Ahmadiyah sangat dibenci? Lalu saya balik Tanya, kenapa baru sekarang mereka dibenci? Mereka di Indonesia sejak tahun 20-an lhoo!

Saat ini, seolah-olah sudah jadi parameter-tapi tolol-yang mau dianggap Islamnya bener maka harus membenci dan membubarkan Ahmadiyah. Kalau itu dipakai, maka KH Hasyim Asy’ari pendiri NU bisa dituding Islamnya nggak bener , karena tidak pernah ada fatwa membubarkan Ahmadiyah.

Yang belum pernah shalat, masuk masjid Ahmadiyah atau baca kitab-kitabnya tolong jangan sok tahu dank oar-koar tentang Ahmadiyah, anda cuma nelan fitnah. Siapa yg bilang ini: kebohongan kalau diulang-ulang suatu saat akan jadi kebenaran. Inilah yg terjadi pada #ahmadiyah. Banyak bukti : saksi, rekaman video, foto FPI lakukan aksi-aksi kekerasan, divonis pun sudah. Tapi Ahmadiyah tidak pernah lakukan kekerasan.

Kata siapa orang Ahmadiyah tidak bisa shalat dengan muslim yang lain?Atau muslim yang lain dilarang shalat di masjid Ahmadiyah? Buktikan dulu. ‘ala kulli hal Ahmadiyah sudah ada zaman Hadlratu Syekh Hasyim Asy’ari, tidak ada fatwa bubarkan ahmadiyah, saya manut beliau. Kalau memang Ahmadiyah boleh dibubarkan, sudah bisa sejak zaman KH Hasyim Asy’ari atau KH Wahid Hasyim yang jadi Menteri Agama yang pertama.

Kalau ada orang NU yang mau bubarkan Ahmadiyah, berarti ia anggap dirinya lebih dari Hadlratu Syaikh Hasyim Asyari. Seharusnya Surya Darma Ali Menteri Agama sekarang mengikuti KH Wahid Hasyim Menteri Agama pertama yang melindungi Ahmadiyah. Kiai-kiai NU yg ikut2an mau bubarin Ahmadiyah itu kiai-kiai baru yang amalannya “kursi fulitik” bukan “ayat kursi” 🙂

Pertanyaan yg harus dijawab, mengapa baru sekarang Ahmadiyah dimusuhi padahal mereka sudah ada di negeri ini sejak tahun 20-an? Kenapa baru Menteri Agama sekarang Surya Darma Ali yang mau bubarkan Ahmadiyah sementara Menteri Agama pertama KH Wahid Hasyim lindungi mereka? GusDur tegas membela Ahmadiyah sebagai hak konstitusional, sebagai warga-negara bukan sebagi ajaran. Jadi, sikapi Ahmadiyah sebagai warga-negara. Bagi anda yang tak setuju ajaran Ahmadiyah, tanamkan tasamuh (toleransi) sikapi mereka seperti GusDur menyikapinya sebagai warga-negara.

Anda kalau mau belajar NU, mau tahu NU ya ke GusDur, sanad beliau nyambung,msh bertemu KH Hasyim Asyari,KH Wahid Hasyim,KH Wahab, KH Bisyri. Ajaran, tafsir dan tradisi NU yg otoritatif menurut saya melalui #GusDur,yg punya darah,ideologi&karamah tokoh2 NU,tolong jgn sebut yg lain

Selama KH Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Wahab, KH Bisyri, dan KH Abdurrahman Wahid tidak berfatwa bubarkan Ahmadiyah saya pun tidak! GusDur pernah ditanya, Gus Ahmadiyah sesat karena ngaku terima wahyu Respon GusDur “gitu aja kok sesat, gimana Wahyu Sihombing”

Kesimpulan saya dr bacaan, amatan & pengalaman langsung, rukun Islam Ahmadiyah sama persis! Nama Mirza Ghulam Ahmad tidak disebut dalam syahadat atau shalat hanya dalam bay’at (ikrar masuk jemaat) Ahmadiyah. Orang mau yg masuk tarekat saja ada bay’at untuk taat pada Allah, Rasululullah, Syaikh Pendiri Tarekat dan Syaikh yang bai’at dia, begitu pula Ahmadiyah. Ahmadiyah tidak bisa dikafirkan karena mereka syahadat, shalat, puasa, berhaji, zakat, ikuti Qur’an & Sunnah Nabi. Mereka muslim. Sekali lagi anda yang tidak bisa terima ajaran Ahmadiyah (meskipun mayoritas sama) tasamuhlah (toleran) sikapi mrka sbgai warga-negara. Tak sedikit yang benci Ahmadiyah karena tidak tahu, seperti pepatah: al-nasu a’da’u ma jahilu (manusia cenderung memusuhi yang tak diketahuinya).

Informasi tentang Ahmadiyah yang dianggap kebenaran sebenarnya tak lebih kebohongan yang diulang-ulang. Sekian sekedar berbagi informasi tentang Ahmadiyah yang berasal dari bacaan, amatan dan pengalaman pribadi saya langsung berinteraksi dgn mereka.

Kalau ada yang sibuk ngurusin keyakinan Ahmadiyah, emang siapa Yang punya surga dan neraka? Kuu anfusakum wa ahlikum nara (jaga dirimu dan keluargamu dari neraka).

-Guntur Romli-

Penulis, Aktivis, dan Kurator di Komunitas Salihara, Jakarta


Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Februari 2011
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik