Dildaar80's Weblog

Virus Salafi Wahabi Mewabah Indonesia

Posted on: 17 Desember 2011


Oleh Darisman Broto

FENOMENA pengkafiran di antara sesama umat Islam sudah lama terjadi yang digambarkan oleh penulis buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi karya Syaikh Idahram bahwa sekte Salafi Wahabi bukan saja mengkafirkan golongan Islam lainnya yang tidak sejalan dan sepaham, bahkan membuat tindakan kekerasan sampai membunuhi bagi yang tidak mau mengikutinya. Dengan bukti-bukti sejarah dan kitab-kitab sirah dari sekte Salafi Wahabi sendiri, dengan sangat gamblang sang penulis membeberkannya.

Perpaduan kolaborasi pemangku paham Salafi Wahabi dan pemerintahan Saudi Arabia sebagai pemegang kekuasaan Baitul Makkah, saat ini, menjadi simbol representasi masyarakat Islam di seluruh dunia. Namun demikian, paham atau golongan Islam lainnya menolak sebagian paham Salafi Wahabi sebagai acuan Islam yang kâffah. Termasuk yang menolak tersebut yaitu yang mengaku dirinya Ahlussunah waljama’ah.

Tidak banyak orang yang tahu bahwa keluarga Saud yang kini menjadi “kuncen” Makkah itu adalah masih memiliki hubungan darah dan emosional dengan Yahudi Arab. Jadi, tidak ada sama sekali hubungannya dengan “keturunan” Rasulullah saw. yang di Indonesia dikenal dengan para “Habib”.

Fatwa Kafir Oleh Siapa Untuk Siapa?

Tidak sadar tokoh-tokoh ulama kita di Indonesia yang sangat jelas mempertontonkan perilaku pengkafiran umat Islam golongan lain yang tidak sejalan dan sepaham. Salah satu contoh adalah fatwa MUI (Majelis Ulama Indonesia) dalam MUNAS II tahun 1980 yang menyatakan bahwa Ahmadiyah adalah kelompok di luar Islam, sesat, dan menyesatkan. Keputusan fatwa ini ditegaskan lagi dalam MUNAS MUI VI di Jakarta tahun 2005.

Sang penulis buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi Syaikh Idahram, pada halaman 81—82, mengutip dua buah hadis dari riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan siapa yang dapat dikatakan Muslim atau bukan.

Berikut hadisnya:

مَنْ صَلّٰى صَلَاتَنَا وَ اسْتَقْبَلَ قِبْلَتَنَا وَ أَكَلَ ذَبِيْحَتَنَا فَذٰلِكَ الْمُسْلِمُ الَّذِيْ لَهُ ذِمَّةُ اللهِ وَ ذِمَّةُ رَسُوْلِهِ فَلَا تُخْفِرُوا اللهَ فِيْ ذِمَّتِهِ . ﴿رواه البخاري﴾
Artinya, “Barangsiapa yang shalat seperti shalat kita, menghadap kiblat seperti kiblat kita, dan makan sembelihan seperti (cara) menyembelihnya kita, maka dia adalah seorang muslim yang dilindungi Allah dan rasul-Nya. Maka, janganlah kalian merusak perlindungan Allah.” (HR Bukhari).

مَنْ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَ كَفَرَ بِمَا يُعْبَدُ مِنْ دُوْنِ اللهِ حَرَّمَ مَالُهُ وَ دَمُّهُ وَ حِسَابُهُ عَلٰى اللهِ . ﴿رواه مسلم﴾
Artinya, “Siapa saja yang berkata «Laa ilaaha illa ‘l-Laah» dan mengingkari ‘ibadah kepada selain Allah’, maka haram harta dan darahnya. Adapun perhitungannya ada di sisi Allah.” (HR Muslim).

Jika saja, MUI menggunakan metode dua hadis di atas, maka tidak akan keluar fatwa pengkafiran, sesat-menyesatkan terhadap warga muslim Ahmadiyah seperti itu.

Kanjeng Nabi Muhammad-Rasulullah saw. telah memberikan suatu jalan yang simple untuk mencirikan seseorang itu muslim atau bukan. Tanpa harus membuka sembilan kitab sebagaimana rujukan untuk memutuskan suatu fatwa terhadap Ahmadiyah, para ulama MUI dapat datang dan melihat di mana warga Ahmadiyah shalat Jumat di masjid mereka berada. Apakah mereka shalatnya sama seperti yang dipraktekan Rasulullah saw.? Dan apakah menghadap kiblat? Dan apakah memakan sembelihan (cara) seperti umat muslim umumnya? Hal ini dapat dibuktikan dengan sangat simple.

Bapak-bapak ulama MUI dapat menyuguhkan kepada warga muslim Ahmadi berupa sate ayam atau gule kambing yang dipotong oleh Bapak-bapak sendiri dengan ucapan basmallah. Silakan Bapak-bapak lihat, apakah orang-orang muslim Ahmadi mau memakan hidangan sate ayam atau gule kambing yang disediakan Bapak-bapak—yang terhormat anggota MUI. Adakah metode lain yang cukup Qath’i selain metode yang sudah digariskan Penghulu segala Nabi yaitu Muhammad saw. dalam memfatwakan seseorang atau golongan itu muslim atau kafir?

Alḥamdu li’l-Laah! Ada sebagian Ulama di beberapa daerah yang langsung melihat dan shalat bersama dengan warga muslim Ahmadi yang akhirnya mengerti dan paham akan kemusliman warga Ahmadiyah.

Pembunuhan Berbungkus Syariat

Apa yang sudah terjadi dalam sejarah berdarah sekte Salafi Wahabi sudah sangat jelas gamblang dilihat dan dipertontonkan di mata umat. Bukan saja muslim Ahmadiyah dikafirkan secara resmi oleh lembaga yang bernama MUI, bahkan sudah terjadi pembunuhan atas orang-orang muslim Ahmadiyah oleh sekelompok orang yang mengaku dirinya muslim. Tayangan Youtube.com telah mempertontonkan secara internasional tragedi penyerangan warga muslim Ahmadiyah di kecamatan Cikeusik, kabupaten Padeglang, provinsi Banten,6 Februari 2011 dengan secara biadab oleh warga muslim lainnya. Setelah dibunuh, mayatnya masih diinjak-injak dan dipukuli dengan batang bambu.

Perkampungan muslim Ahmadiyah di Pulau Lombok dirusak dan dibakar oleh umat yang juga menamakan diri muslim. Sehingga, sejak 4 Februari 2006 sampai sekarang, warga muslim Ahmadiyah Lombok menjadi pengungsi di negerinya sendiri.

Mesjid warga muslim Ahmadiyah di Cisalada, Bogor, juga dibakar masa yang menamakan dirinya masyarakat muslim. Di Parakansalak, Sukabumi mesjid warga muslim Ahmadiyah juga dihancurkan dan dibakar oleh masa muslim, sejak 28 April 2008 hingga kini mesjid tersebut tidak boleh dibangun kembali oleh aparat setempat.

Dan masih banyak lagi tindakan kekerasan yang dialami warga muslim Ahmadiyah di wilayah Indonesia yang didokumentasi oleh Komnas HAM, SETARA, Wahid Institut, KONTRAS dan Muslim Moderat Society yang konsen dengan perdamaian dan persatuan umat Islam yang dipimpin intelektual Muda NU Zuhairi Misrawi.

Pemerintah Indonesia belum lama ini dikejutkan dengan eksekusi mendadak atas pemancungan Muslimah Sumiati TKW asal Bekasi oleh pemerintah Saudi Arabia. Bukan saja umat yang seiman bergejolak hatinya namun umat yang diluar Islam pun dengan rasa sebangsa setanah air akan mengutuk tindakan pemerintah Saudi Arabia.Satu-satunya Ulama Pengurus Besar di NU Masdar F. Mas’udi yang berani berterik atas perlakuan ketidakadilan atas Mahkamah Arab Saudi di Harian Umum Kompas. Yang lainnya bungkam seribu bahasa. Menjadi pertanyaan secara teologis syariati, apakah pantas seorang muslimah yang mempertahankan kehormatannya diganggu oleh seorang laki-laki yang dirasuki nafsu setan kemudian dengan terpaksa harus membunuh, lalu dihukum Qishos ?

Tindakan penghukuman pancung terhadap Sumiati tak pelak mengukuhkan hukum Islam di Saudi Arabia yang masih menganggap pembantu (babu/ TKW ) sebagai budak yang berhak diapakan saja oleh sang majikan. Kiranya tidak berlebihan jika kaum “kafir” di luar sana memberikan sindiran yang melecehkan terhadap Islam Saudi Arabia “ Babi haram, tapi babu halal”. Penghalalan hubungan intin terhadap para budak yang mereka miliki begitu leterlij dimaknai pada QS. Al Mu’minun ayat 5-6 .

Sejatinya Sumiati divonis bebas murni sebab dalam kondisi seperti itu dia dalam kondisi perang ( jihad ) melawan hawa nafsu bejad sang majikan.Tak sedikit kisah para TKW yang pulang dengan menenteng anak balita berwajah Arab tanpa Bapak yang syah dan tak ada cerita hukum rajam dan pengusiran dari kampungnya diberlakukan atas majikannya.Wahai para pengusung tegaknya syariat Islam di negeri ini, apakah hukum syariat Islam seperti itu yang akan kalian berlakukan di negeri Indonesia tercinta ini ?

Penghancuran rumah Allah

Berkenaan dengan penghancuran masjid-masjid warga muslim Ahmadiyah seorang dai muda berkomentar disuatu media televisi dengan lancangnya menisbatkan kepada suatu peristiwa di zaman Rasulullah SAW pernah beliau meruntuhkan bangunan masjid orang-orang munafik.

Mari kita baca dan telaah Surah dan ayat yang berkaitan dengan peristiwa tersebut :
“ Dan (diantara orang-orang munafik itu) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan (pada orang-orang mukmin), untuk kekafiran dan memecahbelah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu[660]. Mereka sesungguhnya bersumpah: “Kami tidak menghendaki selain kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta ( dalam sumpahnya) [ QS.At Taubah: 107 ].

Catatan kaki pada Al Quran dan Terjemah DEPAG RI [ 660 ]: Yang dimaksud dengan orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu ialah seorang pendeta Nasrani bernama Abu Amir, yang mereka tunggu-tunggu kedatangnnya dari Syiria untuk bersembahyang di masjid yang mereka dirikan itu, serta membawa tentara Romawi yang akan memerangi kaum muslimin. Akan tetapi kedatangan Abu ‘Amir ini tidak jadi karena ia mati di Syiria. Dan masjid yang didirikan kaum munafik itu diruntuhkan atas perintah Rasulullah s.a.w. berkenaan dengan wahyu yang diterimanya sesudah kembali dari perang Tabuk.

Lihatlah kalimat terakhir dari catatan kaki oleh Tim penyusun Al Quran dan Tafsir DEPAG RI tersebut bahwa peruntuhan masjid milik orang-orang munafik itu atas perintah Rasulullah SAW berdasarkan wahyu yang diterimanya.

Coba bayangkan bagaimana jadinya jika seorang ulama dan suatu organisasi masa Islam mempunyai fatwa sendiri yang mana itu masjid orang-orang munafik dan yang mana itu masjid orang-orang yang sungguh-sungguh beriman kepada Allah swt. Dan dengan penilaian sendiri untuk mengeksekusi masjid-masjid mana yang harus diruntuhkan. Dan alangkah berbahayanya jika kelompok Muhammad Syarif mempunyai legitimasi untuk menghancurkan masjid Az Zikro milik kepolisian daerah Polres Cirebon dan melukai beberapa jamaahnya yang sedang shalat Jumat, karena dalam penilaiannya sebagai bagian dari pemerintahan thogut.

Yang jelas seorang Rasul apalagi Rasul yang berpangkat khatamannbiyiin tidak akan bertindak dan berkata-kata atas kemauannya sendiri.Yang menjadi pertanyaan, apakah para dalang penghancuran dan penutupan masjid-masjid milik warga muslim Ahmadiyah mendapat wahyu atau perintah langsung dari Allah swt atas tindakannya itu ?

Dengan atas nama desakan umat Islam dan arogansi kekuasaan masjid-masjid warga muslim Ahmadiyah selain ada yang dirusak ada juga yang ditutup atas segala aktifitas termasuk untuk shalat berjamaah, bersujud dan menyanjung kebesaran nama Allah swt.

Isi SKB tiga menteri terhadap Ahmadiyah yang hanya melarang menyebarkan ajaran ada Nabi lagi setelah Nabi Muhammad SAW dihadapan umum kian merembet pelarangan beraktifitas apa pun termasuk shalat Jumat di beberapa daerah pada warga Ahmadi, sungguh tindakan berlebihan dan melampau batas.

Apa ancaman bagi orang-orang yang menghalang-halangi beribadah kepada Allah swt:
“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalang-halangi menyebut nama Allah dalam masjid-masjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya ? Mereka itu tidak sepatutnya masuk didalamnya (masjid Allah), kecuali dengan rasa takut ( kepada Allah ). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan diakhirat mendapat siksa yang berat [ QS.Al Baqarah:114 ]

Pelarangan Pergi Haji

Bukan itu, saja sejarawan Wahabi, Ibnu Bisyr, dengan bangganya menceritakan tentang kejadian di tahun 1221 ketika keluarga Saud melarang jamaah haji asal Syam, Istambul, dan sekitarnya memasuki kota Makkah. Padahal rombongan jamaah haji tersebut telah sampai di kota Madinah menuju Makkah. Rombongan yang dipimpin oleh Gubernur Abdullah al-Uzham Pasya dan para petinggi negeri itu terpaksa menelan pil pahit untuk kembali ke negerinya masing-masing guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.( Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, halaman 101 ) .
Pelarangan pergi haji oleh Pemerintah Arab Saudi sudah lama terjadi terhadap warga muslim Ahmadi diseluruh dunia. Tidak aneh ,memang itulah kenyataan yang terjadi.

Namun demikian, Alhamdulillah masih ada beberapa warga muslim Ahmadi yang mendapat karunia Allah swt diberikan jalan untuk menempuh rukun Islam yang kelima itu. Bapak Haji Abdul Basit, Bapak Haji Kandali Ahmad Lubis, Bapak Haji Agus Mubarik Ahmad dan Bapak Haji Ir. Ari Setarso adalah warga muslim Ahmadi Jakarta dan masih banyak lagi “pak Haji” dan “bu Hajjah” warga muslim Ahmadi di kota-kota lainnya yang memang sungguh-sungguh pergi menunaikan ibadah Haji ke Makkah-Arab Saudi, bukan ke Qadian India yang dituduhkan H.M.Amin Djamaluddin dan diamini penuh sebagai rujukan yang mutawatir oleh Bapak Prof.Dr. KH.Abdurrahman,M.A. asal Bandung. Sudah terbukti kebohongan H.M. Amin Djamaludin namun sang Profesor masih saja menuding Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pendiri Jemaah Ahmadiyah sebagai Plagiator Al Quran dengan rujukan-rujukan yang diberikan oleh H.M. Amin Djamaluddin yang hanya lulusan Sekolah Guru Agama ( PGA ) itu.

Beda dengan sang Profesor yang satu ini, beda pula dengan Profesor Doctor Iskandar Zulkarnain, untuk menulis sebuah karya sejarah berdirinya Gerakan Ahmadiyah di Indonesia beliau harus bergaul akrab dengan warga Ahmadiyah serta membaca karya-karya tulis sang Pendirinya guna mendalami karya ilmiahnya sebagai sumber data yang berimbang dan akurat, bahkan sampai bertemu langsung dan berwawan cakap dengan Khalifah Ahmadiyah di London, Inggris.

Rumah kuno Allah swt yang disebut Bakkah atau Makkah itu sejatinya milik semua umat manusia, karena semua umat adalah hambanya. Sejak Nabi Ibrahim as umat manusia sudah diseru untuk beribadah Haji, telusuri QS. Al Hajj ayat 26-27. Sejarah juga mencatat bahwa sebelum Islam hadir sebagai agama jauh sebelum itu para kaum paganis Arab sudah melakukan ritual ibadag Haji. Lantaran wahyu-wahyu suci yang diterima oleh Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad ada sebagian yang mirip ayat-ayat Al Quran lalu dengan mudahnya sang Profesor menuduh beliau sebagai Plagiat Al Quran. Jadi, pertanyaan buat Pak Profesor Abdurrahman, apakah ritual ibadah Haji umat muslim itu dapat dikatakan sebagai plagiat ritual ibadah Haji-nya kaum paganis Arab ?

Ulama mana pun tahu bahwa perintah puasa itu adalah suatu ibadah yang juga diperintahkan oleh Allah swt kepada umat terdahulu sebelum Islam ,amati QS.Al Baqarah ayat 183. Pertanyaan lagi untuk pak Profesor, apakah ibadah puasa umat Islam itu suatu Plagiat dari umat terdahulu?

Kesamaan atau kemiripan ayat-ayat Al Quran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW khatamannabiyyin dengan wahyu-wahyu Suci yang diterima Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad itu menunjukan bahwa Tuhan-nya Nabi Muhammad SAW dengan Tuhan-nya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad adalah sama, dus Jibrilnya sebagai perantara turunnya wahyu pun sama juga. Itulah yang disebut sunatullah, percakapan seorang hamba dengan Tuhannya menunjukan sifat Mutakalimun Allah swt masih tetap lestari sampai kapan pun. Dan menunjukan Allah swt masih tetap HIDUP.

Imam Jalaluddin Abdur Rahman As Suyuthi dalam bukunya” Turunnya ISA BIN MARYAM Pada Akhir Zaman” pada halaman 50 terbitan CV HAJI MASAGUNG dengan tegas meyakini Isa bin Maryam nanti tetap menerima Wahyu Hakiki, bukan Ilham. Keyakinan As Suyuthi berkenan dengan Nabi Isa as nanti akan tetap mendapat Wahyu Hakiki dan tetap berpangkat Nabi dan Rasul yang tidak membawa syariat baru bukanlah pendapat pribadi namun diperkuat dengan hadis-hadis riwayat Muslim, At-Tarmidzi dan An-Nasai yang tidak diragukan lagi sebagai hadis Mutawatir.

Warga Nahdliyin sebagian besar juga meyakini Nabi Isa as akhir zaman nanti tetap akan berpangkat sebagai Nabi dan Rasul hal ini termaktub dalam Akhkamul Fuqaha Kumpulan masalah-masalah Dinyah dalam Mu’tamar NU ke 1 s/d 15 Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan diterbitkan oleh CV Toha Putra Semarang, halaman 34-35.
Jamaah Ahmadiyah meyakini masih adanya Wahyu yang akan turun dan meyakini ada Nabi lagi yang tidak membawa syariat baru setelah Nabi Muhammad SAW berpijak dan beranjak dari kedua keyakinan “Nuzul Al Masih” yang juga terdapat di kedua buku tersebut.

Jadi jika kepercayaan masih ada Wahyu dan Rasul setelah Nabi Muhammad SAW dianggap suatu yang menyimpang dan sebagai suatu yang menodai agama dalam tatanan hukum di Indonesia maka dengan semestinya buku Turunnya ISA BIN MARYAM Pada Azhir Zaman terbitan CV Haji Masagung dan buku Kumpulan masalah-masalah Dinyah Nahdlatul Ulama terbitan CV Toha Putra Semarang diberangus dari peredarannya di seluruh wilayah hukum di Indonesia. Namun sayang pemberangusan buku atau suatu penerbitan yang dulu kewenangannya dipegang Kejaksaan Agung kini sudah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi.

Ganjil memang jika perkara perbedaan penafsiran dan beda pemahaman dibawa-bawa ke ranah hukum, apalagi yang berkaitan dengan penistaan atau penodaan agama, yang satu mengklaim suatu kebenaran yang lainnya mempertahankan suatu kebenaran yang lain pula.

Jika Plagiator Al Quran dibawa keranah hukum ( dunia ) yang dituduhkan Profesor Dr KH Abdurrahman,MA tentu sang hakim akan mempertanyakan suatu bukti, mana HAK PATEN Al Quran yang dimiliki pak Profesor sebagai orang yang mewakili umat Islam yang menunjukan bahwa Al Quran itu Kitab Sucinya orang Islam. Dalam beberapa ayat Al Quran Allah swt menyeru kepada orang-orang beriman Yaa ayyuhaladziina ammanuu, dan ada beberapa ayat yang menyeru Yaa ayyuhannas. Itu menunjukan Al Quran bukan saja diperuntukan untuk yang telah beriman(umat muslim ) tapi juga diperuntukan untuk umat manusia secara universal.

Suatu kali dalam persidangan Lia“Eden”Aminudin Jaksa menuduh bahwa dia bertemu dengan Jibril yang palsu, KH Abdurahman Wahid yang biasa disapa Gus Dur sebagai pembela yang meringankan berujar kepada Jaksa dipersidangan, “Emangnya kalian pernah bertemu dengan Jibril yang asli ?” Sungguh suatu pertanyaan bernada sindiran yang sangat berharga buat mereka yang menilai sesuatu “palsu” namun tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya yang “asli”. Demikian pun hendaknya jika seseorang menuduh ada nabi “palsu” tentunya harus mengetahui bagaimana sebenarnya ciri nabi yang “asli”.

Dan kalimat yang perlu direnungi oleh para penggiat atau aktifis keislaman yang mengaku dirinya pembela Islam, Gus Dur acap pernah berucap, “ Tuhan tidak perlu dibela karena Dia bisa membela dirinya sendiri.”

Jangankan seorang Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Muhammad SAW saja jika mengada-ada dusta atas nama Allah diancam akan diputus urat nadinya, telaah QS Al Haqqah ayat 44-47. Jika Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad mengada-ada dusta atas nama Allah tidak akan sempat menyebarkan wahyu-wahyu Suci yang terus diperkenalkan oleh jamaahnya. Sejak menerima wahyu pada Maret 1882 beliau terus hidup mengkhidmati Islam sampai dengan wafatnya secara wajar di tahun 1908. Dan umat tidak perlu kawatir dan ambil pusing terhadap tangan-tangan jahil yang akan merusak dan merubah ayat-ayat Al Quran karena Al Quran sudah ada sang Penjaga yang terus memeliharanya, tengok QS Al Hijr ayat 9. Adakah seorang manusia yang diberikan kewenangan untuk memeliharanya atas nama Allah swt ?

Bid’ah Terpaksa atau Terpaksa Bid’ah ?

Para Ulama Salaf, tabi’i dan Tabi’i tabi’in jika memulai khutbah mengucapkan dua kalimah syahadat cukup dengan “Asyhadu allaa illaha ilallahu wa asyahadu anna muhammadarrasulullah” . Namun untuk membendung kepercayaan ada “Nabi Lagi” sebagian ulama masa kini yang Salafi maupun yang Ahlisunnah waljamaah “menambah-nambah” dengan satu kalimat lagi dibelakangnya demikian jadinya “Asyahadu alla illaha ilallahu wa asyahdu anna Muhammadarrasulullah, Laa Nabiya Ba’dahu.” Konon kata para fuqaha sesuatu yang haram jika terpaksa bisa jadi halal. Namun pada zaman Salafi bukankah orang yang mengaku Nabi juga sudah ada, lalu kenapa mereka tidak pakai jurus menambah dua kalimah syahat menjadi tiga kalimat.

Furu’ boleh beda, Ushul tidak boleh beda ?

Di Masjid sana kalau shalat Jumat Adzannya dua kali, di masjid sini cukup satu kali. Di Masjid sana kalau Taraweh dua puluh tiga kali plus witir. Di masjid sini cukup sebelas kali plus witir. Di kampung sana kalau ada orang Islam yang meninggal di Tahlil-in dan dingaji-in. Di kampung sini tidak perlu di Tahlil dan dingaji-in. Kayak kucing mati sudah dikubur, selesai sudah, begitu kata sebagian orang. Perbedaan itu ada yang menamakan Furu’ atau Cabang atau Khilafiah, tidak perlu dipersoalkan atau diperpanjang, istilah kerennya dapat ditoleransi.

Namun jika masalah kepercayaan, keyakinan, Akidah atau biasa disebut Ushul itu masalah mendasar, harus sama tidak boleh beda. Itulah sebagain ulama keukeh berpendapat. Kalau masalah Ushul beda itu sudah sesat dan kufur, demikian mereka berfatwa.

Marilah kita telaah tafsir ayat-ayat yang dikemukakan oleh pendiri dan ketua MUI pertama Prof.Dr.Buya Hamka berkaitan dengan keyakinan bahwa Nabi Isa as sudah wafat. Dalam tafsir Al Quran Al Azhar bahasan surah An Nisa’ ayat 157-158 Nabi Isa as tidak diangkat ke langit dengan badan kasarnya, namun diselamatkan disuatu tempat yang aman, bahkan Buya Hamka mengamini penyelidikan dan penemuan Mirza Ghulam Ahmad bahwa Nabi Isa as telah wafat dan kuburnya ada di Srinagar ( Kashmir, India )lihat Juz VI halaman 71. Dalam bahasan surah Al Maidah ayat 117 lebih tegas lagi setelah kewafatannya itu barulah para pengikutnya membelokkan ajarannya yang mempertuhankan Nabi Isa as dan ibudanya. Hasbullah Bakry dalam bukunya Pedoman Islam di Indonesia juga mengemukakan pendapat yang sama bahwa Nabi Is as telah wafat, kewafatannya bukan disalib dan diselamatkannya bukan diangkat ke ”langit” namun dalam lindungan Allah beliau as hidup hingga usianya 120 tahun di tempat yang tinggi dan datar serta bermata air seperti yang tergambar dalam Al Mukminun : 50.

Lain Buya Hamka lain pula ulama PERSIS ustadz A. Hasan, ulama yang satu ini tetap keukeh mempertahankan keyakinanya bahwa Nabi Isa as masih hidup dilangit sampai sekarang dan diakhir zaman nanti akan turun. Itu jelas beliau kemukakan dalam debat dengan wakil dari Ahmadiyah Rahmat Ali HAOT dan Abu Bakar Ayub HA pada tahun 1933 di Gang Kenari Batavia.

Dari kedua ulama kesohor antara Buya Hamka dan ulama A. Hasan berkaitan dengan kepercayaan Nabi Isa as telah wafat dan masih hidup di langit jelas suatu kepercayaan yang bertolak belakang. Bisakah kepercayaan yang sangat penting dan mendasar ini ditoleransi ? Siapakah dari antara kedua ulama ternama itu yang benar dan yang sesat jika masalah Ushul tidak boleh beda ?

Mari bergandeng tangan

Seperti yang dinukil oleh sang penulis Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi suatu ayat yang menjadi pegangan orang untuk berdakwah dalam surah An-Nahl [16]:125
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik, Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Amat jelas kalimah Allah tersebut sebagai pegangan orang yang akan berdakwah, dengan hikmah dan pelajaran yang baik, bukan dengan cacian dan celaan. Dengan bantahan pun yang dianjurkan dengan cara baik pula, bukan dengan aksi kekeran. Dan pada kalimah terakhir menunjukan hanya Tuhan-lah yang mempunyai hak dan lebih tahu siapa yang tersesat dan siapa yang mendapat petunjuk. Manusia mana pun tidak ada yang diberi wewenang untuk mengkafirkan manusia lainnya. Sungguh fatwa MUI telah melampaui batas.

Kalau saya boleh menyimpulkan, melihat dan membaca ternyata virus paham dakwah Sekte Salafi Wahabi sudah merasuki sebagian tokoh-tokoh ulama Indonesia. Dan sudah sangat clop dan lengkap aksi dakwah Salafi Wahabi yang ditiru oleh sebagian ulama dan umat Islam Indonesia terhadap Jamaah muslim Ahmadiyah yaitu dikafirkan dan mengalami tindak kekerasan oleh orang-orang yang juga mengaku dirinya muslim.

Dalam uraian terakhir penutup buku tersebut sang penulis mengajak kita semua khususnya umat Islam untuk saling bahu membahu dalam dakwah mengajak kepada Allah swt dengan jalan senantiasa mengedepankan sikap lemah lembut dan perangai yang baik, serta menghindari sedapat mungkin kata-kata yang buruk dan perangai yang jahat.

Sudah menjadi kewajiban warga Ahmadiyah selalu bersedia dimana saja untuk berdialog dan bekerjasama dengan umat Islam yang lainnya dalam rangka mengajak seruan kebaikan di jalan Allah swt, serta menyambut dengan baik ajakan sang penulis pada kalimat penutup buku tersebut. Ajakan resolusi jihad yang dicanangkan oleh Bapak Ketua Umum PBNU Profesor Dr KH Said Agil Siraj,MA baru-baru ini perlu mendapat sambutan masyarakat luas khususnya kaum muslimin di Indonesia termasuk warga muslim Ahmadiyah. Akhirul kalam,Jakarta, 9 Desember 2011.

Wassalam,
Darisman Broto
Seorang warga muslim Ahmadiyah
Jl.Praja Dalam E No.53 Kebayoran Lama Jakarta Selatan
HP. 081807335402
Email : mydarisman@yahoo.com
http://www.multibizindo.indonetwork.co.id
————————————————————————————-
Buku berjudul :
Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, penulis : Syaik Idahram
Kata Pengantar : Praf.Dr.KH.Said Agil Siraj,M.A.
Penerbit & Distribusi : Pustaka Pesantren
Salakan Baru No.1 Sewon Bantul
Jl. Parangtritis Km.4,4 Yogyakarta
Telp.(0274) 387194
Fax.(0274) 379430
http://www.lkis.co.id
Komentar para tokoh terhadap buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi :

Ust. H.Muhammad Arifin Ilham, Pimpinan Majlis Zikir az-Zikra:
“ Saya rasa, rumah-rumah setiap muslim perlu dihiasi dengan buku penting seperti ini, agar anak-anak mereka juga turut membacanya, untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus. Islam adalah agama yang lembut, santun dan penuh kasih-sayang.”

KH.Dr. Ma’ruf Amin, MA Ketua Majlis Ulama Indonesia [MUI] :
“Buku ini layak dibaca oleh siapa pun. Saya berharap, setelah membaca buku ini, seorang muslim meningkat kesadarannya, bertambah kasih-sayangnya, rukun dengan saudaranya, santun dengan sesama umat, lapang dada dalam menerima perbedaan, dan adil dalam menyikapi permasalahan.”

Prof.Dr. KH. Said Agil Siraj, MA Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama [PBNU] :
“Saya sangat bergembira dengan adanya karya ilmiah dari Saudara Syaikh Idahram ini yang merupakan satu karya penting bagi masyarakat muslim Indonesia. Bisa dikatakan, belum ditemukan karya setajam ini sebelumnya dalam mengkritisi Salafi Wahabi.”

Iklan

3 Tanggapan to "Virus Salafi Wahabi Mewabah Indonesia"

bukan kah golongan ahmadiyah itu punya nabi dan kitab sendiri apa msh bisa d katakan sebagai muslim?

Belajarlah islam secara kafah jadi tidak sepotong potong saya kira sg penulis belum belajar anyak.

Astagfirullah al’azhim, bersabarlah saudararaku se-aqidah, aku(hamba) ini hanya bisa menyampaikan bahwa renungkanlah dengan dalam bahwa satu diantara orang yang pertama diazab ALLAH di neraka adalah mereka yang berilmu (tahu) namun mereka mengingkarinya, dan merekalah orang-orang yang NIFAQ, sesungguhnya pada diri manusia itu selalu berisi 10 penyakit bathin/roh dan beruntunglah bagi mereka yang membersihkan dirinya, dan jangalah kamu melampaui batas-batas dari ketentuan-ketentuan ALLAH (yang ALLAH sendiri dengan sifat Esa mengetahui HAQIQAT (AL-HAQ) yang mengetahui RAHASIA-NYA)
(hamba hanya orang yang lemah, tidak mengerti AL-QURAN dan mempelajari AL-QURAN tidak dengan NAFSU, melainkan dengan perasaan HALUS…..)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Desember 2011
M S S R K J S
« Okt   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rating

Tweetku

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: