Dildaar80's Weblog

SIAPAKAH YANG LAYAK MENJADI IMAM RUHANI DAN IMAM SHALAT?

Posted on: 20 Maret 2011


بِسۡمِ اللّٰہِ الرَّحۡمٰنِ الرَّحِیۡمِ

Oleh Ki Langlang Buana Kusuma (Ruhdiyat Ayyubi Ahmad)

وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۱۵﴾

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi menyebut nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah dan berupaya merusakkannya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. Bagi mereka di dunia ada kehinaan dan bagi mereka di akhirat ada azab yang besar (Al-Baqarah [2]:115).

Kezaliman berikutnya yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah Indonesia — akibat penafsiran keliru mengenai 12 butir pernyataan Pimpinan Jemaat Ahmadiyah Indonesia dan butir-butir SKB 3 Menteri (Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung RI) – adalah akibat dari penafsiran keliru butir-butir Pergub dan Perbup/wali kota mengenai Jemaat Ahmadiyah Indonesia, yang pada hakikatnya seluruh butir-butirnya merupakan suatu bentuk “pema-sungan”, yang kemudian oleh kelompok-kelompok Ormas Garis Keras dijadikan senjata untuk melakukan pelarangan secara paksa serta tindak kekerasan terhadap Jemaat Ahmadiyah Indonesia untuk bukan saja larangan berbagai aktifitas sebagai organisasi yang legal dan memiliki Badan Hukum (Sk. Menteri Kehakiman RI No. JA.5/23/13 Tgl. 13-3-1953), tetapi juga larangan untuk melaksanakan peribadahan, padahal beribadah kepada Allah Swt. adalah perintah-Nya dalam Al-Quran, firman-Nya:

وَ مَا خَلَقۡتُ الۡجِنَّ وَ الۡاِنۡسَ اِلَّا لِیَعۡبُدُوۡنِ ﴿۵۷﴾

Dan Aku sekali-kali tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk menyembah-Ku (Adz-Dzāriyāt [51]: 57).

Dengan demikian benarlah firman Allah Swt. pada awal makalah ini mengenai mereka yang melakukan tindak kekerasan terhadap para anggota Jemaat Ahmadiyah dan sarana-sarana peribadahan yang mereka bangun semata-mata karena Allah Swt. dan hanya untuk beribadah kepada-Nya, firman-Nya:

وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۱۵﴾

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi menyebut nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah dan berupaya merusakkannya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. Bagi mereka di dunia ada kehinaan dan bagi mereka di akhirat ada azab yang besar (Al-Baqarah [2]:117).

Tidak ada Paksaan Dalam Masalah Agama

Allah Swt. dalam Al-Quran dengan tegas telah menyatakan bahwa “tidak ada paksaan dalam hal agama” sebab “telah nyata bedanya antara haq (kebenaran) dan bathil (kepalsuan)” (QS.5:4). Dalam Surah lainnya Allah Swt. berfirman bahwa “barangsiapa menghendaki maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki maka inkarlah”, firman-Nya:

وَ قُلِ الۡحَقُّ مِنۡ رَّبِّکُمۡ ۟ فَمَنۡ شَآءَ فَلۡیُؤۡمِنۡ وَّ مَنۡ شَآءَ فَلۡیَکۡفُرۡ ۙ اِنَّاۤ اَعۡتَدۡنَا لِلظّٰلِمِیۡنَ نَارًا ۙ اَحَاطَ بِہِمۡ سُرَادِقُہَا ؕ وَ اِنۡ یَّسۡتَغِیۡثُوۡا یُغَاثُوۡا بِمَآءٍ کَالۡمُہۡلِ یَشۡوِی الۡوُجُوۡہَ ؕ بِئۡسَ الشَّرَابُ ؕ وَ سَآءَتۡ مُرۡتَفَقًا ﴿۳۰﴾

Dan katakanlah: “Haq (kebenaran) itu dari Tuhan kamu, maka barangsiapa menghendaki maka berimanlah, dan barangsiapa menghendaki maka ingkarlah”, sesungguhnya Kami telah menyediakan bagi orang-orang zalim itu api yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka berteriak minta tolong, mereka akan ditolong dengan air seperti leburan timah yang akan menghanguskan wajah-wajah. Sangat buruk minuman itu, dan sangat buruk tempat tinggal itu! (Al-Kahf [18]:30).

Untuk menentukan benar atau tidaknya haq (kebenaran) yang datang dari Allah Swt. tidak pernah ditentukan oleh suara mayoritas, itulah sebabnya semua Rasul Allah yang membawa haq (kebenaran) dari Allah senantiasa didustakan dan ditentang oleh mayoritas umat manusia, dan selaras dengan kenyataan tersebut Allah Swt. telah berfirman kepada Nabi Besar Muhammad saw.:

وَ اِنۡ تُطِعۡ اَکۡثَرَ مَنۡ فِی الۡاَرۡضِ یُضِلُّوۡکَ عَنۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ اِنۡ یَّتَّبِعُوۡنَ اِلَّا الظَّنَّ وَ اِنۡ ہُمۡ اِلَّا یَخۡرُصُوۡنَ ﴿۱۱۷﴾

Dan jika engkau mengikuti kebanyakan orang di bumi mereka akan menyesatkan engkau dari jalan Allah, tidak lain yang mereka ikuti melainkan dugaan dan mereka tidak lain hanya berdusta (Al-An’ām [6]:115).

Firman-Nya lagi:

وَ لَوِ اتَّبَعَ الۡحَقُّ اَہۡوَآءَہُمۡ لَفَسَدَتِ السَّمٰوٰتُ وَ الۡاَرۡضُ وَ مَنۡ فِیۡہِنَّ ؕ بَلۡ اَتَیۡنٰہُمۡ بِذِکۡرِہِمۡ فَہُمۡ عَنۡ ذِکۡرِہِمۡ مُّعۡرِضُوۡنَ ﴿ؕ۷۲﴾

Dan seandainya haq (kebenaran) mengikuti hawa nafsu mereka niscaya akan rusaklah seluruh langit dan bumi dan siapa pun yang ada di dalamnya. Bahkan Kami telah mendatangkan kepada mereka kehormatan mereka (yakni Al-Quran), tetapi mereka berpaling dari kehormatan mereka itu. (Al-Mu’minun [23]:72). Lihat pula Qs.2:121, 146; QS.5:49; QS.13:38.

Haq (kebenaran) yang Turun Di Akhir Zaman

Jemaat Ahmadiyah adalah segolongan dari komunitas Muslim yang telah menerima haq (kebenaran) yang kedatangannya dijanjikan oleh Allah Swt. kepada seluruh umat beragama, yaitu mengenai kedatangan Rasul Akhir Zaman yang akan mengajak (menyeru) mereka kepada kebenaran ajaran Islam (Al-Quran) yang hakiki (QS.7:35-37), firman-Nya:

ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰی وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ وَ لَوۡ کَرِہَ الۡمُشۡرِکُوۡنَ ٪﴿۱۰﴾

Dialah (Allah) Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang haq untuk mengunggulkannya atas seluruh agama walaupun orang-orang musyrik membenci (Al-Shaf [61]:10).

Karena tujuan utama kedatangan para Rasul Allah dari zaman ke zaman adalah mengajarkan Tauhid Ilahi yang murni serta memerintahkan untuk menjauhi thāghūt (para pelampau batas – QS.16:37), berikut adalah beberapa ajaran yang haq dari Al-Quran, yang dikemukakan oleh Rasul Akhir Zaman, Mirza Ghulam Ahmad — Al-Mahdi dan Al-Masih Mau’ud a.s. — yakni:

(1) Pendiri Jemaat Ahmadiyah dakam kapasitasnya sebagai Imam Mahdi (Imam yang mendapat petunjuk) atas dasar petunjuk wahyu dari Allah Swt. telah mengemukakan pemahaman yang benar mengenai Sifat-sifat Al-Asmā’ul husna (nama-nama terindah) Allah Swt., sebab merupakan Sunnatullah bahwa hanya kepada Khalifah Allah sajalah Allah wt. mengajarkan khazanah-khazanah baru ruhani dari Al-Asma’ul husna, yang para malaikat pun tidak mengetahuinya (QS.2:31-35).

(2) Salah satu sifat Al-Asmā’ul husna Allah Swt. tersebut adalah Al-Mursilīn (Yang Maha Mengutus – QS.28:46; QS.44:6), itulah sebabnya Allah Swt. senantiasa mengutus para rasul-Nya baik dari kalangan malaikat mau pun dari kalangan manusia (QS.22:75-76). Dan selaras dengan hal itu Allah Swt. dalam Al-Quran telah mewasiyatkan kepada Bani Adam (umat manusia) mengenai kesinambungan kedatangan Rasul-rasul Allah dari kalangan mereka sendiri (QS.7:35:37).

(3) Atas dasar kenyataan tersebut Allah Swt. telah menyatakan dalam Al-Quran bahwa orang-orang yang menyatakan bahwa seluruh jenis pintu kenabian telah tertutup rapat adalah orang-orang sesat (QS.40:35-37), sebab faham seperti itu bertentangan dengan sifat Al-Mursilīn Allah Swt.

(4) Salah satu sifat Al-Asmā-ul husna Allah Swt. lainnya adalah sifat Al-Mutakallim (Yang Maha Berbicara). Dan menurut Allah Swt. salah satu sarana yang dipergunakan Allah Swt. untuk menyatakan sifat Al-Mutakallim-Nya itu adalah wahyu (QS.42:52-54). Oleh karena itu orang-orang yang menyatakan bahwa seluruh jenis pintu wahyu Ilahi telah tertutup rapat bertentangan dengan kesempurnaan sifat Al-Mutakallim Allah Swt. (Yang Maha Berbicara), dan mereka akan menjadi musuh-musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, Jibril dan Mikail (QS.2:98-102; QS.58:6, 21-23), yakni mereka akan menjadi golongan maghdhub (yang dimurkai – QS.1:7).

(5) Allah Swt. menyatakan mengenai lebah bahwa: “Dan Tuhan engkau telah mewah-yukan kepada lebah” (QS.16:69-70)? Demikian juga kepada ibunda Nabi Musa a.s. pun Allah Swt. telah menurunkan wahyu-Nya: “Dan Kami mewahyukan kepada ibu Musa” (QS.28:8; QS.20:39). Juga mengenai murid-murid Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Allah Swt. berfirman: “Dan ketika Aku mewahyukan kepada hawariyyin: Berimanlah kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku” (QS.5:112; QS.3:53-55; QS.61:15).

(6) Benarkah ketika hukum-hukum agama telah mencapai puncak kesempurnaannya dalam wujud Al-Quran (QS.5:4) dan umat Islam pun telah dinyatakan oleh Allah Swt. sebagai “umat terbaik yang diciptakan untuk seluruh umat manusia” (QS.2:144; QS.3:111) serta Nabi Besar Muhammad saw. sebagai “suri teladan terbaik” (QS.33:22) dan bergelar sebagai “Khātaman Nabiyyīn” (QS.33:41), tetapi tiba-tiba kesinam-bungan turunnya wahyu Ilahi – yang merupakan bukti sifat Al-Mutakallim Allah Swt. — menjadi tertutup rapat dan wahyu Ilahi menjadi suatu yang haram bagi umat Islam? Begitu sia-siakah kesempurnaan ajaran Islam (Al-Quran – QS.5:4) dan suri teladan sempurna Nabi Besar Muhammad saw. (QS.3:32; QS.33:22), sehingga berbagai nikmat keruhanian yang sebelumnya terbuka lebar bagi orang-orang yang beriman (QS.5:21) tiba-tiba menjadi tertutup rapat dan haram bagi umat Islam bagi? Benarkah demikian?

(7) Tidak ada satu ayat Al-Quran pun yang berbunyi: Kullu nafsin dzāiqatul- mawti illa ‘Isa – setiap yang bernyawa pasti merasakan mati kecuali Isa, yang ada berbunyi: Kullu nafsin dzāiqatul- mawti – setiap yang bernyawa pasti merasakan mati (QS.3:186; QS.21:36). Kenapa demikian? Karena menurut Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa seluruh Rasul Allah yang diutus sebelum Nabi Besar Muhammad saw. seluruhnya — termasuk Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. – telah wafat (QS.21:35; QS.3:56, 145; QS.5:117-119).

(8) Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits shahih telah bersabda antara lain: “Sean-dainya Musa dan Isa masih hidup maka ia akan menjadi pengikutku”, beliau saw. bersabda lagi: “Sesungguhnya usia Isa 120 tahun.” Dan menurut Allah Swt. bahwa yang dimaksud dengan kedatangan kedua kali Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. di Akhir Zaman ini adalah misal beliau (QS.43:58), sebab Nabi Isa Ibu Maryam a.s. Israili – selain telah wafat – adalah Rasul Allah hanya untuk Bani Israil (QS.3:50; QS,43:60; QS.61:7).

Dari fakta-fakta tersebut nampak dengan jelas, pihak mana sebenarnya yang telah menodai kesempurnaan ajaran Islam (Al-Quran) serta yang telah menuduh serta menghina Nabi Besar Muhammad saw. sebagai seorang yang abtar (terputus keturunannya), baik keturunan secara jasmani maupun keturunan secara ruhani, padahal dengan tegas Allah Swt. menyatakan bahwa para penentang beliau saw. itulah yang abtar (QS.108:1-4).

Imam Ruhani dan Imam Shalat

Nah, dari fakta-fakta tersebut pun orang-orang yang berakal sehat akan dapat memahami bahwa bagaimana mungkin orang-orang Ahmadi (Jemaat Ahmadiyah) akan menjadikan orang-orang yang telah menghinakan Sifat Al-Asma’ul husna Allah Swt. – khususnya Al-Mursilīn dan Al-Mutakallim — serta yang menghina kesempurnaan martabat Nabi Besar Muhammad saw. – akan menjadikan mereka sebagai imam keruhanian, termasuk sebagai imam shalat?

Kenapa demikian? Bukankah pada hakikatnya ketika orang melaksanakan shalat ia sebenarnya sedang bercakap-cakap dengan Allah Swt.? Lalu bagaimana mungkin orang-orang Ahmadi akan menjadikan sebagai imam shalat mereka yang mengatakan bahwa, na’udzubillāh min dzālik, bahwa sifat Al-Mutakallim Allah Swt. telah batal, demikian juga sifat Al-Mursilīn-Nya? Bukankah Allah Swt. dengan tegas berfirman mengenai turunnya malaikat-malaikat kepada orang-orang yang berkata “Tuhan kami Allah” karena mereka istiqamah (teguh) dalam ucapannya tersebut:

اِنَّ الَّذِیۡنَ قَالُوۡا رَبُّنَا اللّٰہُ ثُمَّ اسۡتَقَامُوۡا تَتَنَزَّلُ عَلَیۡہِمُ الۡمَلٰٓئِکَۃُ اَلَّا تَخَافُوۡا وَ لَا تَحۡزَنُوۡا وَ اَبۡشِرُوۡا بِالۡجَنَّۃِ الَّتِیۡ کُنۡتُمۡ تُوۡعَدُوۡنَ ﴿۳۱﴾ نَحۡنُ اَوۡلِیٰٓؤُکُمۡ فِی الۡحَیٰوۃِ الدُّنۡیَا وَ فِی الۡاٰخِرَۃِ ۚ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَشۡتَہِیۡۤ اَنۡفُسُکُمۡ وَ لَکُمۡ فِیۡہَا مَا تَدَّعُوۡنَ ﴿ؕ۳۲﴾ نُزُلًا مِّنۡ غَفُوۡرٍ رَّحِیۡمٍ ﴿٪۳۳﴾

Sesungguhnya orang-orang yang berkata: “Tuhan kami Allah” kemudian mereka istiqamah (teguh) malaikat-malaikat turun kepada mereka [seraya berkata]: “Janganlah kamu takut dan jangan bersedih, dan bergembiralah kamu dengan surga yang telah dijanjikan kepada kamu. Kami adalah teman-temanmu di dalam kehidupan di dunia dan di Akhirat, dan bagi kamu di dalamnya apa yang diinginkan dirimu, dan bagi kamu di dalamnya apa yang kamu minta, sebagai hidangan dari [Tuhan] Yang Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Fushshilat [41]:31-33). Lihat pula QS.21:104; QS.46:14.

Orang-orang beruntung yang dikemukakan dalam firman Allah Swt. tersebut pada hakikatnya adalah mereka yang beriman kepada Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), yang akibat keimanannya tersebut mereka – dari zaman ke zamam — mengalami berbagai bentuk perlakuan zalim dari para penentang Rasul Allah, firman-Nya:

وَ السَّمَآءِ ذَاتِ الۡبُرُوۡجِ ۙ﴿۲﴾ وَ الۡیَوۡمِ الۡمَوۡعُوۡدِ ۙ﴿۳﴾ وَ شَاہِدٍ وَّ مَشۡہُوۡدٍ ؕ﴿۴﴾ قُتِلَ اَصۡحٰبُ الۡاُخۡدُوۡدِ ۙ﴿۵﴾ النَّارِ ذَاتِ الۡوَقُوۡدِ ۙ﴿۶﴾ اِذۡ ہُمۡ عَلَیۡہَا قُعُوۡدٌ ۙ﴿۷﴾ وَّ ہُمۡ عَلٰی مَا یَفۡعَلُوۡنَ بِالۡمُؤۡمِنِیۡنَ شُہُوۡدٌ ؕ﴿۸﴾ وَ مَا نَقَمُوۡا مِنۡہُمۡ اِلَّاۤ اَنۡ یُّؤۡمِنُوۡا بِاللّٰہِ الۡعَزِیۡزِ الۡحَمِیۡدِ ۙ﴿۹﴾ الَّذِیۡ لَہٗ مُلۡکُ السَّمٰوٰتِ وَ الۡاَرۡضِ ؕ وَ اللّٰہُ عَلٰی کُلِّ شَیۡءٍ شَہِیۡدٌ ؕ﴿۱۰﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ فَتَنُوا الۡمُؤۡمِنِیۡنَ وَ الۡمُؤۡمِنٰتِ ثُمَّ لَمۡ یَتُوۡبُوۡا فَلَہُمۡ عَذَابُ جَہَنَّمَ وَ لَہُمۡ عَذَابُ الۡحَرِیۡقِ ﴿ؕ۱۱﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَہُمۡ جَنّٰتٌ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ ۬ؕؑ ذٰلِکَ الۡفَوۡزُ الۡکَبِیۡرُ ﴿ؕ۱۲﴾ اِنَّ بَطۡشَ رَبِّکَ لَشَدِیۡدٌ ﴿ؕ۱۳﴾ اِنَّہٗ ہُوَ یُبۡدِئُ وَ یُعِیۡدُ ﴿ۚ۱۴﴾ وَ ہُوَ الۡغَفُوۡرُ الۡوَدُوۡدُ ﴿ۙ۱۵﴾ ذُو الۡعَرۡشِ الۡمَجِیۡدُ ﴿ۙ۱۶۱۵﴾ فَعَّالٌ لِّمَا یُرِیۡدُ ﴿ؕ۱۷﴾ ہَلۡ اَتٰىکَ حَدِیۡثُ الۡجُنُوۡدِ ﴿ۙ۱۸﴾ فِرۡعَوۡنَ وَ ثَمُوۡدَ ﴿ؕ۱۹﴾ بَلِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا فِیۡ تَکۡذِیۡبٍ ﴿ۙ۲۰﴾ وَّ اللّٰہُ مِنۡ وَّرَآئِہِمۡ مُّحِیۡطٌ ﴿ۚ۲۱﴾ بَلۡ ہُوَ قُرۡاٰنٌ مَّجِیۡدٌ ﴿ۙ۲۲﴾ فِیۡ لَوۡحٍ مَّحۡفُوۡظٍ ﴿۲۳﴾

Demi langit yang mempunyai gugusan bintang-bintang, dan demi Hari yang dijanjikan, dan demi saksi dan yang disaksikan. Binasalah para pemilik parit api [yang dinyalakan] dengan bahan bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, dan mereka menjadi saksi atas apa yang mereka lakukan terhadap orang-orang beriman, dan sekali-kali mereka tidak menaruh dendam terhadap mereka (yang beriman) itu melainkan karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, Maha Terpuji, Yang kepunyaan-Nya kerajaan seluruh langit dan bumi, dan Allah menjadi saksi atas segala sesuatu. Sesungguhnya orang-orang yang menimpakan fitnah (musibah) kepada orang-orang beriman laki-laki dan perempuan kemudian mereka tidak bertaubat maka bagi mereka azab jahannam dan bagi mereka azab yang membakar. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebun-kebun yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, hal demikian itu keberhasilan besar. Sesungguhnya cengkraman Tuhan engkau benar-benar sangat keras. Sesungguhnya Dia yang memulai dan Yang mengulangi, dan Dia Maha Pengampun, Maha Pecinta, Yang memiliki ‘Arasy , Yang Maha Mulia, Maha Kuasa mengerjakan apa yang Dia kehendaki. Apakah telah datang berita mengenai lasykar-lasykar Fir’aun dan Tsamud. Bahkan orang-orang kafir selalu men-dustakan rasul-rasul], padahal Allah mengepung mereka dari belakang mereka. Bahkan ia adalah Al-Quran yang sangat mulia, dalam batu tulis yang terjaga. (Al-Buruj [85]:2-23).

“Bayyinah” adalah Rasul Allah &

Ibadah yang Hakiki

Menurut Allah Swt. Tauhid Ilahi yang hakiki dan ibadah yang hakiki hanya difahami dan diajarkan oleh para Rasul Allah dengan ajaran utama “sembahlah Allah dan jauhillah thaghut” (QS.16:37), firman-Nya:

لَمۡ یَکُنِ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ مُنۡفَکِّیۡنَ حَتّٰی تَاۡتِیَہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ۙ﴿۲﴾ رَسُوۡلٌ مِّنَ اللّٰہِ یَتۡلُوۡا صُحُفًا مُّطَہَّرَۃً ۙ﴿۳﴾ فِیۡہَا کُتُبٌ قَیِّمَۃٌ ؕ﴿۴﴾ وَ مَا تَفَرَّقَ الَّذِیۡنَ اُوۡتُوا الۡکِتٰبَ اِلَّا مِنۡۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡہُمُ الۡبَیِّنَۃُ ؕ﴿۵﴾ وَ مَاۤ اُمِرُوۡۤا اِلَّا لِیَعۡبُدُوا اللّٰہَ مُخۡلِصِیۡنَ لَہُ الدِّیۡنَ ۬ۙ حُنَفَآءَ وَ یُقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوا الزَّکٰوۃَ وَ ذٰلِکَ دِیۡنُ الۡقَیِّمَۃِ ؕ﴿۶﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ کَفَرُوۡا مِنۡ اَہۡلِ الۡکِتٰبِ وَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ فِیۡ نَارِ جَہَنَّمَ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَا ؕ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ شَرُّ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿۷﴾ اِنَّ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِکَ ہُمۡ خَیۡرُ الۡبَرِیَّۃِ ؕ﴿۸﴾ جَزَآؤُہُمۡ عِنۡدَ رَبِّہِمۡ جَنّٰتُ عَدۡنٍ تَجۡرِیۡ مِنۡ تَحۡتِہَا الۡاَنۡہٰرُ خٰلِدِیۡنَ فِیۡہَاۤ اَبَدًا ؕ رَضِیَ اللّٰہُ عَنۡہُمۡ وَ رَضُوۡا عَنۡہُ ؕ ذٰلِکَ لِمَنۡ خَشِیَ رَبَّہٗ ٪﴿۹﴾

Orang-orang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan berhenti [dari kekafiran] hingga datang kepada mereka bukti yang nyata [yaitu] seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran-lembaran suci, yang di dalamnya terdapat ketetapan-ketetapan abadi. Dan orang-orang yang diberi Kitab tidak berpecah-belah melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata (rasul Allah), padahal mereka tidak diperintahkan melainkan supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya [dan dengan] lurus serta mendirikan shalat, membayar zakat, dan itulah agama yang lurus. Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari kalangan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik akan berada dalam jahannam, mereka kekal di dalamnya. Mereka itu seburuk-buruk makhluk. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh mereka itu sebaik-baik makhluk. Ganjaran mereka ada di sisi Tuhan mereka, kebun-kebun abadi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, mereka akan kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Itulah [balasan][ bagi orang yang takut kepada Tuhan-nya (Al-Bayyinah [98]:2-9).

Karena di Akhir Zaman ini Jemaat Ahmadiyah telah beriman kepada Rasul Akhir Zaman walau pun oleh MUI telah dinyatakan sebagai “sesat dan menyesatkan”, tetapi Allah Swt. telah menyatakan sebagai “khayrul- bariyyah” (sebaik-baik makhluk), sebaliknya dalam firman-Nya tersebut mereka yang mendustakan dan menentang bayyinah (Rasul Allah) itulah dinyatakan sebagai “syarrul bariyyah” (seburuk-buruk makhluk), selaras dengan sabda Nabi Besar Muhammad saw. dalam hadits mengenai keadaan umumnya umat dan ulama Islam di Akhir Zaman, beliau saw. bersabda: ‘ulama-uhum syarrun mantahta adimis- sama’i – ulama-ulama mereka seburuk-buruk makhluk di kolong langit.”

Kaum Pengganti & Makna Lain Orang-orang Musyrik

Menurut Allah Swt. bahwa yang dimaksud dengan “orang-orang musyrik” bukan hanya orang-orang yang mempersekutukan Allah Swt. dengan sembahan-sembahan palsu lainnya, tetapi juga maknanya adalah orang-orang yang memecah-belah agama dan umat beragama menjadi berbagai firqah yang saling bertentangan serta saling mengkafirkan, firman-Nya:

اِنَّ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا لَّسۡتَ مِنۡہُمۡ فِیۡ شَیۡءٍ ؕ اِنَّمَاۤ اَمۡرُہُمۡ اِلَی اللّٰہِ ثُمَّ یُنَبِّئُہُمۡ بِمَا کَانُوۡا یَفۡعَلُوۡنَ ﴿۱۶۰﴾

Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama dan mereka menjadi golongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak berkepentingan apa pun dengan mereka, sesungguhnya urusan mereka terserah kepada Allah, kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan (Al-An’ām [6]:160).

Merupakan Sunnatullah, apabila keadaan umat beragama telah seperti itu maka Allah Swt. pasti akan membangkitkan “kaum lain” sebagai pengganti mereka, firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مَنۡ یَّرۡتَدَّ مِنۡکُمۡ عَنۡ دِیۡنِہٖ فَسَوۡفَ یَاۡتِی اللّٰہُ بِقَوۡمٍ یُّحِبُّہُمۡ وَ یُحِبُّوۡنَہٗۤ ۙ اَذِلَّۃٍ عَلَی الۡمُؤۡمِنِیۡنَ اَعِزَّۃٍ عَلَی الۡکٰفِرِیۡنَ ۫ یُجَاہِدُوۡنَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ وَ لَا یَخَافُوۡنَ لَوۡمَۃَ لَآئِمٍ ؕ ذٰلِکَ فَضۡلُ اللّٰہِ یُؤۡتِیۡہِ مَنۡ یَّشَآءُ ؕ وَ اللّٰہُ وَاسِعٌ عَلِیۡمٌ ﴿۵۵﴾ اِنَّمَا وَلِیُّکُمُ اللّٰہُ وَ رَسُوۡلُہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوا الَّذِیۡنَ یُقِیۡمُوۡنَ الصَّلٰوۃَ وَ یُؤۡتُوۡنَ الزَّکٰوۃَ وَ ہُمۡ رٰکِعُوۡنَ ﴿۵۶﴾ وَ مَنۡ یَّتَوَلَّ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا فَاِنَّ حِزۡبَ اللّٰہِ ہُمُ الۡغٰلِبُوۡنَ ﴿٪۵۷﴾

Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agamanya maka Allah segera akan mendatangkan suatu kaum, Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintaii-Nya, mereka kasih-sayang terhadap orang-orang beriman dan keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjuang di jalan Allah dan tidak takut akan celaan seorang pencela. Itulah karunia Allah, Dia memberikannya kepada siapa yang Dia ketahui, dan Allah Mahaluas, Maha Mengetahui. Sesungguhnya penolong-penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman yang senantiasa mendirikan shalat, membayar zakat dan taat [kepada Allah]. Barangsiapa menjadikan Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai penolong maka sesungguhnya hizbullah (golongan Allah) itulah yang pasti menang (Al-Maidah [5]:55-57)

Firman-Nya lagi:

فَاَقِمۡ وَجۡہَکَ لِلدِّیۡنِ حَنِیۡفًا ؕ فِطۡرَتَ اللّٰہِ الَّتِیۡ فَطَرَ النَّاسَ عَلَیۡہَا ؕ لَا تَبۡدِیۡلَ لِخَلۡقِ اللّٰہِ ؕ ذٰلِکَ الدِّیۡنُ الۡقَیِّمُ ٭ۙ وَ لٰکِنَّ اَکۡثَرَ النَّاسِ لَا یَعۡلَمُوۡنَ ﴿٭ۙ۳۱﴾ مُنِیۡبِیۡنَ اِلَیۡہِ وَ اتَّقُوۡہُ وَ اَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَ لَا تَکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُشۡرِکِیۡنَ ﴿ۙ۳۲﴾ مِنَ الَّذِیۡنَ فَرَّقُوۡا دِیۡنَہُمۡ وَ کَانُوۡا شِیَعًا ؕ کُلُّ حِزۡبٍۭ بِمَا لَدَیۡہِمۡ فَرِحُوۡنَ ﴿۳۳﴾

Maka hadapkanlah wajah engkau kepada agama yang lurus, [itulah] fitrat Allah yang menurut [fitrat] itu Dia menciptakan manusia, tidak ada perubahan dalam penciptaan Allah, itulah agama yang lurus, kebanyakan manusia tidak mengetahui. Kembalilah [bertaubat] kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya, dirikanlah shalat, dan janganlah kamu termasuk orang-orang musyrik, [yaitu] orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, tiap-tiap golongan merasa bangga ada apa yang ada pada mereka (Al-Rūm [30]:31-33).

Menurut Allah Swt. Tauhid Ilahi identik dengan kesatuan dan persatuan umat (satu umat), sedangkan kemusyrikan identik dengan perpecahan umat, firman-Nya:

اِنَّ ہٰذِہٖۤ اُمَّتُکُمۡ اُمَّۃً وَّاحِدَۃً ۫ۖ وَّ اَنَا رَبُّکُمۡ فَاعۡبُدُوۡنِ ﴿۹۲﴾ وَ تَقَطَّعُوۡۤا اَمۡرَہُمۡ بَیۡنَہُمۡ ؕ کُلٌّ اِلَیۡنَا رٰجِعُوۡنَ ﴿٪۹۳﴾

Sesungguhnya umat kamu ini adalah satu umat dan Aku Tuhan kamu maka sembahlah Aku. Tetapi mereka telah memecah-belah urusan agama mereka di antara mereka, [padahal] semuanya akan kembali kepada Kami (Al-Anbiya [21]:93-94] Lihat pula QS. 23:53-55.

Di kala keadaan umat Islam telah berpecah- belah menjadi lebih dari 73 golongan, dan menurut Nabi Besar Muhammad saw. “mereka itu semuanya ada dalam api” maka bagaimana mungkin Jemaat Ahmadiyah akan menjadikan mereka itu sebagai imam ruhani mau pun imam shalat? Sebab Nabi Besar Muhammad saw. telah bersabda “imāmukum minkum (imam kamu dari kalangan kamu”:

Kayfa antum idzā nazala- bna maryama fīkum wa imāmukum minkum – bagaimana keadaan kamu apabila Ibu Maryam turun di kalangan kamu dan menjadi imam kamu dari antara kamu.” (Bukhari, bab turunnya Nabi Isa Ibnu Maryam).

Ansharullāh (Panolong-penolong Allah) &

Mereka yang Melarang Shalat

Jemaat Ahmadiyah adalah segolongan dari kaum Muslim yang telah beriman kepada Imam Mahdi a.s. dan Al-Masih Mau’ud a.s., sebagaimana yang diperintahkan-Nya kepada semua orang yang mengaku beriman untuk menjadi “para penolong Allah”, firman-Nya:

یٰۤاَیُّہَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا کُوۡنُوۡۤا اَنۡصَارَ اللّٰہِ کَمَا قَالَ عِیۡسَی ابۡنُ مَرۡیَمَ لِلۡحَوَارِیّٖنَ مَنۡ اَنۡصَارِیۡۤ اِلَی اللّٰہِ ؕ قَالَ الۡحَوَارِیُّوۡنَ نَحۡنُ اَنۡصَارُ اللّٰہِ فَاٰمَنَتۡ طَّآئِفَۃٌ مِّنۡۢ بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ وَ کَفَرَتۡ طَّآئِفَۃٌ ۚ فَاَیَّدۡنَا الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا عَلٰی عَدُوِّہِمۡ فَاَصۡبَحُوۡا ظٰہِرِیۡنَ ﴿٪۱۵﴾

Hai orang-orang beriman, jadilah kamu penolong Allah sebagaimana Isa Ibnu Maryam berkata kepada pengikut-pengikutnya (hawariyyin): “Siapakah penolong-penolongku di dalam [perjuangan di jalan] Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong Allah”. Maka sebagian dari Bani Israil beriman dan segolongan lagi ingkar, kemudian Kami membantu orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka maka mereka menjadi orang-orang yang menang (Al-Shaf [61]:15).

Alhamdulillāh, dengan karunia Allah Swt. orang-orang Muslim Ahmadi tidak mengikuti langkah-langkah buruk para ulama Yahudi yang berusaha membunuh Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. pada tiang salib (QS.4:158-159), sehingga tidak menjadi golongan “maghdhub” (orang yang dimurkai Allah – QS.1:7) melainkan menjadi orang-orang yang mendapat nikmat-nikmat keruhanian yang disediakan Allah Swt. untuk orang-orang benar-benar beriman kepada Allah Swt. dan Nabi Besar Muhammad saw. (QS.1:7; QS.4:70-71), walau pun dengan resiko mengalami berbagai perlakuan zalim dari kaum mereka yang “musyrik” sebagaimana para pengikut sejati Nabi Isa Ibnu Maryam a.s. Israili di masa awal, sehingga mereka terpaksa harus hidup sebagai ashabul-Kahfi (para penghuni gua – QS.18:10-17).

Berikut adalah firman Allah Swt. mengenai keadaan Nabi Besar Muhammad saw. ketika beliau saw. mendirikan shalat di Mekkah – yakni dalam rangka menegakkan Tauhid Ilahi — namun beliau saw. telah dilarang secara paksa dan secara zalim oleh kaum kafir Quraisy Mekkah menganggap diri mereka sebagai penguasa kota Mekkah dan pengkhidmat Baitullah (Ka’bah – QS.9:17-20), firman-Nya:

اِقۡرَاۡ بِاسۡمِ رَبِّکَ الَّذِیۡ خَلَقَ ۚ﴿۲﴾ خَلَقَ الۡاِنۡسَانَ مِنۡ عَلَقٍ ۚ﴿۳﴾ اِقۡرَاۡ وَ رَبُّکَ الۡاَکۡرَمُ ۙ﴿۴﴾ الَّذِیۡ عَلَّمَ بِالۡقَلَمِ ۙ﴿۵﴾ عَلَّمَ الۡاِنۡسَانَ مَا لَمۡ یَعۡلَمۡ ؕ﴿۶﴾ کَلَّاۤ اِنَّ الۡاِنۡسَانَ لَیَطۡغٰۤی ۙ﴿۷﴾ اَنۡ رَّاٰہُ اسۡتَغۡنٰی ﴿ؕ۸﴾ اِنَّ اِلٰی رَبِّکَ الرُّجۡعٰی ؕ﴿۹﴾ اَرَءَیۡتَ الَّذِیۡ یَنۡہٰی ۙ﴿۱۰﴾ عَبۡدًا اِذَا صَلّٰی ﴿ؕ۱۱﴾ اَرَءَیۡتَ اِنۡ کَانَ عَلَی الۡہُدٰۤی ﴿ۙ۱۲﴾ اَوۡ اَمَرَ بِالتَّقۡوٰی ﴿ؕ۱۳﴾ اَرَءَیۡتَ اِنۡ کَذَّبَ وَ تَوَلّٰی ﴿ؕ۱۴﴾ اَلَمۡ یَعۡلَمۡ بِاَنَّ اللّٰہَ یَرٰی ﴿ؕ۱۵﴾ کَلَّا لَئِنۡ لَّمۡ یَنۡتَہِ ۬ۙ لَنَسۡفَعًۢا بِالنَّاصِیَۃِ ﴿ۙ۱۶﴾ نَاصِیَۃٍ کَاذِبَۃٍ خَاطِئَۃٍ ﴿ۚ۱۷﴾ فَلۡیَدۡعُ نَادِیَہٗ ﴿ۙ۱۸﴾ سَنَدۡعُ الزَّبَانِیَۃَ ﴿ۙ۱۹﴾ کَلَّا ؕ لَا تُطِعۡہُ وَ اسۡجُدۡ وَ اقۡتَرِبۡ ﴿٪ٛ۲۰﴾

Bacalah dengan nama Tuhan engkau yang telah menciptakan, menciptakan insan (manusia) dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhan engkau adalah Maha Dermawan, Yang mengajar dengan qalam (pena), mengajar insan (manusia) apa yang tidak diketahuinya. Sekali-kali tidak, sesungguhnya manusia itu pelampau batas, karena ia menganggap dirinya berkecukupan, sesungguhnya kepada Tuhan engkaulah tempat kembali. Bagaimana pendapat engkau mengenai orang yang melarang seorang hamba [Kami] ketika ia shalat? Bagaimana pendapat engkau jika ia mengikuti petunjuk, atau ia menyuruh bertakwa. Bagaimanakah pendapat engkau jika ia [yang melarang itu] mendustakan dan berpaling? Apakah ia tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat? Sekali-kali tidak! Jika ia tidak berhenti niscaya Kami menarik dia pada jambulnya, jambul orang yang berdusta dan berdosa. Maka biarlah ia memanggil golongannya, Kami pun segera akan memanggil para malaikat pelaksana hukuman. Sekali-kali tidak! Janganlah engkau taat kepadanya melainkan bersujudlah dan mendekatlah [kepada-Ku]” (Al-Iqra [96]:2-20).

Lebih lanjut Allah Swt. berfirman mengenai mereka itu:

مَا کَانَ لِلۡمُشۡرِکِیۡنَ اَنۡ یَّعۡمُرُوۡا مَسٰجِدَ اللّٰہِ شٰہِدِیۡنَ عَلٰۤی اَنۡفُسِہِمۡ بِالۡکُفۡرِ ؕ اُولٰٓئِکَ حَبِطَتۡ اَعۡمَالُہُمۡ ۚۖ وَ فِی النَّارِ ہُمۡ خٰلِدُوۡنَ ﴿۱۷﴾

اِنَّمَا یَعۡمُرُ مَسٰجِدَ اللّٰہِ مَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ اَقَامَ الصَّلٰوۃَ وَ اٰتَی الزَّکٰوۃَ وَ لَمۡ یَخۡشَ اِلَّا اللّٰہَ فَعَسٰۤی اُولٰٓئِکَ اَنۡ یَّکُوۡنُوۡا مِنَ الۡمُہۡتَدِیۡنَ ﴿۱۸﴾ اَجَعَلۡتُمۡ سِقَایَۃَ الۡحَآجِّ وَ عِمَارَۃَ الۡمَسۡجِدِ الۡحَرَامِ کَمَنۡ اٰمَنَ بِاللّٰہِ وَ الۡیَوۡمِ الۡاٰخِرِ وَ جٰہَدَ فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ ؕ لَا یَسۡتَوٗنَ عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اللّٰہُ لَا یَہۡدِی الۡقَوۡمَ الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۘ۱۹﴾ اَلَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ ہَاجَرُوۡا وَ جٰہَدُوۡا فِیۡ سَبِیۡلِ اللّٰہِ بِاَمۡوَالِہِمۡ وَ اَنۡفُسِہِمۡ ۙ اَعۡظَمُ دَرَجَۃً عِنۡدَ اللّٰہِ ؕ وَ اُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفَآئِزُوۡنَ ﴿۲۰﴾

Tidak layak bagi orang-orang musyrik memakmurkan mesjid-mesjid Allah sedangkan diri mereka menjadi saksi atas kekafiran diri mereka sendiri. Mereka itulah yang sia-sia amalnya dan di dalam api mereka akan kekal. Sesungguhnya yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, mendirikan shalat, membayar zakat, dan ia tidak takut kecuali kepada Allah, maka mudah-mudahan mereka itu termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. Apakah kamu menganggap memberi minum kepada orang-orang yang melaksanakan hajji dan yang memelihara Masjidilharam itu [sama] seperti orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjihad di jalan Allah? Mereka di sisi Allah tidak sama dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. Orang-orang yang beriman, berhijrah, dan berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwa mereka memiliki derajat yang tinggi di sisi Allah, dan mereka itulah orang-orang yang berhasil (Al-Taubat [9]:17-20).

Kabar-kabar Gembira bagi Jemaat Ahmadiyah

Insya Allah, dalam waktu yang tidak lama lagi keadaan terzalimi yang selama ini dialami oleh Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia akan segera berakhir, sebab kedudukan mereka sebagai “khalifah di muka bumi” akan benar-benar menjadi kenyataan sebagaimana firman Allah Swt. berikut ini:

وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَ لَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَ لَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَ مَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶﴾

Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh Dia pasti akan menjadikan mereka khalifah di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka khalifah, dan Dia akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridhai bagi mereka dan Dia pasti akan menggantikan bagi mereka keamanan sesudah ketakutan mereka. Mereka akan menyembah-Ku dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan-Ku, dan barangsiapa kafir sesudah itu mereka itulah orang-orang yang durhaka (Al-Nūr [24]:56).

Firman-Nya lagi:

لَقَدۡ صَدَقَ اللّٰہُ رَسُوۡلَہُ الرُّءۡیَا بِالۡحَقِّ ۚ لَتَدۡخُلُنَّ الۡمَسۡجِدَ الۡحَرَامَ اِنۡ شَآءَ اللّٰہُ اٰمِنِیۡنَ ۙ مُحَلِّقِیۡنَ رُءُوۡسَکُمۡ وَ مُقَصِّرِیۡنَ ۙ لَا تَخَافُوۡنَ ؕ فَعَلِمَ مَا لَمۡ تَعۡلَمُوۡا فَجَعَلَ مِنۡ دُوۡنِ ذٰلِکَ فَتۡحًا قَرِیۡبًا ﴿۲۸﴾ ہُوَ الَّذِیۡۤ اَرۡسَلَ رَسُوۡلَہٗ بِالۡہُدٰۦ وَ دِیۡنِ الۡحَقِّ لِیُظۡہِرَہٗ عَلَی الدِّیۡنِ کُلِّہٖ ؕ وَ کَفٰی بِاللّٰہِ شَہِیۡدًا ﴿ؕ۲۹﴾ مُحَمَّدٌ رَّسُوۡلُ اللّٰہِ ؕ وَ الَّذِیۡنَ مَعَہٗۤ اَشِدَّآءُ عَلَی الۡکُفَّارِ رُحَمَآءُ بَیۡنَہُمۡ تَرٰىہُمۡ رُکَّعًا سُجَّدًا یَّبۡتَغُوۡنَ فَضۡلًا مِّنَ اللّٰہِ وَ رِضۡوَانًا ۫ سِیۡمَاہُمۡ فِیۡ وُجُوۡہِہِمۡ مِّنۡ اَثَرِ السُّجُوۡدِ ؕ ذٰلِکَ مَثَلُہُمۡ فِی التَّوۡرٰىۃِ ۚۖۛ وَ مَثَلُہُمۡ فِی الۡاِنۡجِیۡلِ ۚ۟ۛ کَزَرۡعٍ اَخۡرَجَ شَطۡـَٔہٗ فَاٰزَرَہٗ فَاسۡتَغۡلَظَ فَاسۡتَوٰی عَلٰی سُوۡقِہٖ یُعۡجِبُ الزُّرَّاعَ لِیَغِیۡظَ بِہِمُ الۡکُفَّارَ ؕ وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنۡہُمۡ مَّغۡفِرَۃً وَّ اَجۡرًا عَظِیۡمًا ﴿۳۰﴾

Sungguh Allah benar-benar telah menggenapi rukya kepada Rasul-Nya dengan sebenarnya, niscaya kamu akan memasuki Masjidilharam dengan aman jika Allah menghendaki, dengan mencukur habis rambut kepalamu atau memotong pendek tanpa rasa takut. Tetapi Dia mengetahui apa yang kamu tidak ketahui, maka Dia telah menjadikan (menetapkan) bagimu selain itu kemenangan yang dekat. Dia-lah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas semua agama, dan cukuplah Allah sebagai saksi. Muhammad adalah Rasul Allah, dan orang-orang yang besertanya keras terhadap orang-orang kafir [tetapi] kasih-sayang di antara mereka, engkau melihat mereka rukuk, sujud mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda pengenal mereka terdapat pada wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sujud, demikianlah perumpamaan mereka dalam Taurat, sedangkan perumpamaan mereka dalam Injil adalah seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya kemudian menjadi kuat, lalu menjadi kokoh dan berdiri mantap pada batangnya, menyenangkan penanam-penanamnya supaya Dia membangkitkan kemarahan orang-orang kafir dengan perantaraan itu. Allah telah menjadikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara mereka ampunan dan ganjaran yang besar (Al-Fath [48]:28-30).

Pengulangan Kisah Monumental “Dua Putra Adam”

Pada hakikatnya keadaan terzalimi yang dialami oleh para pengikut Rasul Allah di setiap zaman – termasuk Jemaat Ahmadiyah – bukanlah hal yang diluar Sunnatullah, karena Allah Swt. telah mengemukakan dalam Al-Quran berbagai macam “kisah-kisah monumental” yang akan terulang kembali, misalnya Kisah Monumental Adam, Malaikat dan Iblis dan Kisah Monumental Dua putra Adam, yang menceritakan kedengkian pihak-pihak yang pengorbanannya mardud (ditolak Allah Swt.) lalu akibat kedengkiannya mereka melakukan tindakan zalim kepada saudaranya yang pengorbanannya dikabulkan Allah Swt., firman-Nya:

وَ اتۡلُ عَلَیۡہِمۡ نَبَاَ ابۡنَیۡ اٰدَمَ بِالۡحَقِّ ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِہِمَا وَ لَمۡ یُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِ ؕ قَالَ لَاَقۡتُلَنَّکَ ؕ قَالَ اِنَّمَا یَتَقَبَّلُ اللّٰہُ مِنَ الۡمُتَّقِیۡنَ ﴿۲۸﴾ لَئِنۡۢ بَسَطۡتَّ اِلَیَّ یَدَکَ لِتَقۡتُلَنِیۡ مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ یَّدِیَ اِلَیۡکَ لِاَقۡتُلَکَ ۚ اِنِّیۡۤ اَخَافُ اللّٰہَ رَبَّ الۡعٰلَمِیۡنَ ﴿۲۹﴾ اِنِّیۡۤ اُرِیۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓاَ بِاِثۡمِیۡ وَ اِثۡمِکَ فَتَکُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ ۚ وَ ذٰلِکَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِیۡنَ ﴿ۚ۳۰﴾ فَطَوَّعَتۡ لَہٗ نَفۡسُہٗ قَتۡلَ اَخِیۡہِ فَقَتَلَہٗ فَاَصۡبَحَ مِنَ الۡخٰسِرِیۡنَ ﴿۳۱﴾ فَبَعَثَ اللّٰہُ غُرَابًا یَّبۡحَثُ فِی الۡاَرۡضِ لِیُرِیَہٗ کَیۡفَ یُوَارِیۡ سَوۡءَۃَ اَخِیۡہِ ؕ قَالَ یٰوَیۡلَتٰۤی اَعَجَزۡتُ اَنۡ اَکُوۡنَ مِثۡلَ ہٰذَا الۡغُرَابِ فَاُوَارِیَ سَوۡءَۃَ اَخِیۡ ۚ فَاَصۡبَحَ مِنَ النّٰدِمِیۡنَ ﴿ۚ۳۲﴾

Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan pengorbanan maka salah seorang dari keduanya itu dikabulkan (diterima) dan dari yang lain tidak dikabulkan. Ia berkata: “Niscaya engkau akan kubunuh!” [Saudaranya] berkata: “Sesungguhnya Allah hanya mengabulkan hanya dari orang-orang yang bertakwa. Jika engkau menjangkaukan tangan engkau terhadapku untuk membunuhku, aku tidak akan menjangkaukan tanganku terhadap engkau untuk membunuh engkau, sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam. Sesungguhnya aku menginginkan supaya engkau menanggung dosaku dan dosa engkau sendiri maka engkau akan menjadi penghuni api, dan demikianlah balasan bagi orang-orang yang zalim.” Tetapi nafsunya telah membujuknya supaya membunuh saudaranya lalu ia membunuhnya maka ia menjadi di antara orang-orang yang rugi. Lalu Allah mengirim seekor burung gagak yang menggaruk-garuk di tanah supaya Dia memperlihatkan kepadanya bagaimana ia harus menyembunyikan mayat saudaranya. Ia berkata: “Celaka aku! Tidak sanggupkan aku berbuat seperti gagak ini sehingga dapat kusembunyikan mayat saudaraku?” Maka ia menjadi di antara orang-orang yang menyesal (Al-Maidah [5]:28-33).

Dari firman Allah Swt. tersebut nampak jelas bahwa sangat erat hubungannya antara antara orang-orang yang pengorbanannya “mardud” (ditolak) dengan kedengkian dan kekerasan, dan kenyataan itu pulalah yang di Akhir Zaman ini dialami oleh Jemaat Ahmadiyah. Lebih lanjut Allah Swt. berfirman:

مِنۡ اَجۡلِ ذٰلِکَ ۚۛؔ کَتَبۡنَا عَلٰی بَنِیۡۤ اِسۡرَآءِیۡلَ اَنَّہٗ مَنۡ قَتَلَ نَفۡسًۢا بِغَیۡرِ نَفۡسٍ اَوۡ فَسَادٍ فِی الۡاَرۡضِ فَکَاَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ مَنۡ اَحۡیَاہَا فَکَاَنَّمَاۤ اَحۡیَا النَّاسَ جَمِیۡعًا ؕ وَ لَقَدۡ جَآءَتۡہُمۡ رُسُلُنَا بِالۡبَیِّنٰتِ ۫ ثُمَّ اِنَّ کَثِیۡرًا مِّنۡہُمۡ بَعۡدَ ذٰلِکَ فِی الۡاَرۡضِ لَمُسۡرِفُوۡنَ ﴿۳۴﴾ اِنَّمَا جَزٰٓؤُا الَّذِیۡنَ یُحَارِبُوۡنَ اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ وَ یَسۡعَوۡنَ فِی الۡاَرۡضِ فَسَادًا اَنۡ یُّقَتَّلُوۡۤا اَوۡ یُصَلَّبُوۡۤا اَوۡ تُقَطَّعَ اَیۡدِیۡہِمۡ وَ اَرۡجُلُہُمۡ مِّنۡ خِلَافٍ اَوۡ یُنۡفَوۡا مِنَ الۡاَرۡضِ ؕ ذٰلِکَ لَہُمۡ خِزۡیٌ فِی الدُّنۡیَا وَ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿ۙ۳۵﴾

Oleh karena itu Kami menetapkan bagi Bani Israil bahwa barangsiapa yang membunuh seseorang padahal orang itu tidak pernah [membunuh] orang lain atau mengadakan kerusakan di bumi maka seolah-olah ia membunuh seluruh manusia. Dan barangsiapa menyelamatkan nyawa seseorang maka ia seolah-olah menghidupkan seluruh manusia. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan Tanda-tanda yang nyata, kemudian sesungguhnya kebanyakan mereka sesudah itu benar-benar melampaui batas di bumi. Sesungguhnya balasan bagi orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan berusaha mengadakan kerusakan di bumi yaitu mereka dibunuh atau disalib atau pun dipotong tangan dan kaki mereka karena permusuhan mereka, atau mereka diusir dari negeri. Hal demikian itu adalah penghinaan bagi mereka di dunia dan di akhirat mereka akan mendapat azab yang besar, kecuali orang-orang yang taubat sebelum kamu berkuasa atas mereka, maka ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang (Al-Maidah [55]:34-35).

Rasul Akhir Zaman

Ada pun yang dimaksud dengan “seseorang” dalam ayat-ayat tersebut adalah Rasul Allah, terutama sekali Nabi Besar Muhammad saw., karena pendustaan dan penentangan terhadap para Rasul Allah senantiasa mengakibatkan berbagai azab dahsyat menimpa umat manusia, termasuk di Akhir Zaman ini. Sebab merupakan Sunnatullah bahwa Allah Swt. tidak pernah menurunkan azab kepada umat manusia – bagaimana pun sesat dan durhakanya mereka – sebelum terlebih dulu mengirimkan Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.17:16) agar tidak ada alasan bagi manusia untuk menyalahkan Allah Swt., firman-Nya:

وَ لَوۡ اَنَّـاۤ اَہۡلَکۡنٰہُمۡ بِعَذَابٍ مِّنۡ قَبۡلِہٖ لَقَالُوۡا رَبَّنَا لَوۡ لَاۤ اَرۡسَلۡتَ اِلَیۡنَا رَسُوۡلًا فَنَتَّبِعَ اٰیٰتِکَ مِنۡ قَبۡلِ اَنۡ نَّذِلَّ وَ نَخۡزٰی ﴿۱۳۵﴾ قُلۡ کُلٌّ مُّتَرَبِّصٌ فَتَرَبَّصُوۡا ۚ فَسَتَعۡلَمُوۡنَ مَنۡ اَصۡحٰبُ الصِّرَاطِ السَّوِیِّ وَ مَنِ اہۡتَدٰی ﴿۱۳۶﴾٪

Dan seandainya Kami membinasakan mereka dengan azab sebelum [kedatangan Rasul] ini niscaya mereka akan berkata: “Ya Tuhan kami, mengapa Engkau tidak mengirimkan kepada kami seorang Rasul supaya kami mengikuti Ayat-ayat Engkau sebelum kami direndahkan dan dihinakan?” Katakanlah: “Setiap orang sedang menunggu maka kamu pun tunggulah dan kamu segera akan mengetahui siapakah yang ada pada jalan lurus dan siapa yang mengikuti petunjuk [dan siapa yang sesat]” (Thā Hā [20:135-136).

Gempa dahsyat yang menimbulkan gelombang Tsunami yang terjadi tgl 11 Maret 2011 di Jepang serta berbagai bentuk bencana hebat yang terjadi di berbagai peloksok dunia sebelumnya – dan juga yang akan terjadi di masa datang – bukanlah peristiwa-peristiwa yang terjadi secara kebetulan melainkan merupakan benarnya pernyataan Allah Swt. dalam Al-Quran bahwa Allah Swt. tidak pernah menurunkan azab kepada manusia sebelum terlebih dulu diutus Rasul Allah yang kedatangannya dijanjikan kepada mereka (QS.17:16).

Dengan demikian jelaslah bahwa berbagai azab dahsyat yang telah, sedang dan akan terjadi lagi membuktikan benarnya pendakwaan Mirza Ghulam Ahmad a.s. sebagai Rasul Akhir Zaman, yang kedatangannya ditunggu-tunggu oleh semua umat beragama dengan sebutan (nama) yang berbeda-beda, padahal merujuk kepada satu orang Rasul Allah , firman-Nya: Wa idzā- rusulu ‘uqqitat — dan apabila rasul-rasul di datangkan pada waktu yang ditentukan” (Al-Mursalat [77]:13).

Namun sangat disayangkan, pada kenyataannya umumnya manusia mendustakannya bahkan melakukan kezaliman terhadap Rasul Akhir Zaman itu, karena itu sebagai balasan atas ketidakbersyukuran (kekafiran) umumnya umat manusia di Akhir Zaman ini Allah Swt. pun telah menghujani umat manusia dengan berbagai azab (QS.14:8; QS.4:148) sekali pun berbagai bentuk peribadahan dan pengorbanan serta berbagai ritual keagamaan terus menerus dilakukan. Benarlah firman-Nya pada awal uraian ini:

وَ مَنۡ اَظۡلَمُ مِمَّنۡ مَّنَعَ مَسٰجِدَ اللّٰہِ اَنۡ یُّذۡکَرَ فِیۡہَا اسۡمُہٗ وَ سَعٰی فِیۡ خَرَابِہَا ؕ اُولٰٓئِکَ مَا کَانَ لَہُمۡ اَنۡ یَّدۡخُلُوۡہَاۤ اِلَّا خَآئِفِیۡنَ ۬ؕ لَہُمۡ فِی الدُّنۡیَا خِزۡیٌ وَّ لَہُمۡ فِی الۡاٰخِرَۃِ عَذَابٌ عَظِیۡمٌ ﴿۱۱۵﴾

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang menghalangi menyebut nama-Nya di dalam mesjid-mesjid Allah dan berupaya merusakkannya? Mereka itu tidak layak masuk ke dalamnya kecuali dengan rasa takut. Bagi mereka di dunia ada kehinaan dan bagi mereka di akhirat ada azab yang besar (Al-Baqarah [2]:115).

Bagaimana mungkin orang-orang yang “mardud” (ditolak) seperti itu layak menjadi “imam ruhani mau pun imam shalat bagi orang-orang yang telah beriman kepada Rasul Akhir Zaman yang kedatangannya dijanjikan Allah Swt. kepada mereka (QS.7:35-37), sebab hasilnya pasti adalah penolakan Allah juga adanya (QS.5:28-30; QS.5:55-57).

Pajajaran Anyar, 14 Maret 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Maret 2011
M S S R K J S
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Rating

Tweetku

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: