Dildaar80's Weblog

Mengkritisi Menteri Agama

Posted on: 10 Februari 2011


Kata Menteri Agama Suryadarma Ali: “Ada 4 opsi solusi: (1) Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama, tetapi tidak boleh pakai atribut Islam seperti Masjid, al-Qur’an dsb. (2) Kaum Ahmadiyah mengintegrasikan diri dengan paham Islam mainstream (3) Ahmadiyah tetap eksis karena HAM (4) Ahmadiyah dibubarkan. Konon, Sang Menteri cenderung opsi-2. Hmh ini pembicaraan yang menarik, yuuk kita lihat satu-satu….

Opsi-1: Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama, tetapi tidak boleh memakai atribut Islam seperti Masjid, al-Qur’an dsb.

Ini aneh, jika dianggap sebagai suatu sekte, haruslah jelas dia sekte dari agama mana. Secara substansi amat jelas Ahmadiyah merupakan paham yang berbasis al-Qur’an dan Hadits, melakukan ritual seperti halnya muslim lainnya. Maka pantaslah bila menggunakan atribut Islam tersebut. Selain dari itu, pertanyaannya, memangnya siapa sih yang berwenang melarang Ahmadiyah memakai atribut Islam tersebut? Menteri Agama? Tidak ada dasar yang mendukungnya. Sebagaimana komunitas atau kelompok lainnya, dalam bidang apapun seperti keilmuan, keolahragaan, kemasyarakatan, kesenian, bisnis dsb., maka biarlah mereka kaum Ahmadiyah sendiri yang merumuskan klaim afinitas ke mana dan memberi nama kelompoknya sendiri sebagai hak asasi mereka. Ketika saya muat sebagai status facebook, seorang bernama Rachel Hutami memberi contoh kasus kalangan Kristiani: “Aneh banget… Saksi Yehova juga pakai simbol gereja, alkitab, gak ada yang melarang”.

Seorang facebooker, Stefano Kuok menulis, Saksi Yehuwa memuat hal-hal yang bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku, seperti :- menolak hormat bendera dan- menolak ikut berpolitik. Ajaran yang mereka yakini juga dianggap bertentangan dan menyimpang dari kebijaksanaan dan politik pemerintah RI dan dianggap MERESAHKAN karena PERILAKU PENYEBARAN AGAMA. Secara resmi pengajaran Saksi-Saksi Yehuwa di Indonesia dilarang melalui Surat Keputusan Jaksa Agung Nomor 129 Tahun 1976. Februari 1994 ada upaya untuk mencabut SK ini dengan berlandaskan Pasal 29 UUD 1945, Tap MPR Nomor XVII/1998 tentang HAM, dan Instruksi Presiden No. 26 Tahun 1998. Pada 1 Juni 2001 SK ini kemudian dicabut

Ternyata Saksi Yehova ini sekte yang agresif, bukan hanya Islam yang mereka cela, melainkan sesama sekte Kristiani lainnya. Namun, kaum Kristiani tidak melakukan tindakan kekerasan, apalagi sampai terjadi kematian. Opsi-1 ini jelas aneh, tidak sesuai dengan gejala sosial, dan tidak logis. Sungguh memalukan bahwa opsi ini muncul dari seorang Menteri yang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Opsi ini hanya pantas muncul dari kecerdasan selevel anak-anak, bukan dewasa cendekiawan.

Opsi-2: Kaum Ahmadiyah mengintegrasikan diri dengan paham Islam mainstream.

Konon, MenAg menyatakan dia cenderung memilih opsi-2, tentu pantas sekali, amat wajar, tetapi ini cermin ‘bias’ paham Islam mainstream. Jika MenAg itu seorang dari kalangan Ahmadiyah, niscaya pilihannya tidak akan begitu. Jangan lupa, dalam hal kebenaran, dan soal selera, tidak ada masalah mayoritas dan minoritas. Tentu saja ‘mengintegrasikan diri’ dalam konteks opsi-2 menurut MenAg itu bukanlah sesuatu yang bersifat sukarela, melainkan karena ada pendiktean, pengarahan, pemaksaan dari pihak lain. Ada keterpaksaan yang harus diderita oleh kaum Ahmadiyah. Jelas, ada pemaksaan kehendak mayoritas terhadap komunitas minoritas. Sesungguhnya, baik minoritas atau mayoritas memiliki hak eksistensial yang sama. Sekecil apapun, sesedikit apapun suatu jenis pohon langka atau aneh sekalipun berhak tumbuh di tengah-tengah belantara atau kebun di mana suatu jenis pohon jumlahnya menguasasi ruang yang ada sebagai mainstream. Kita tidak boleh menyingkirkan pihak yang kecil yang sedikit itu demi hegemoni pihak yang banyak dan besar. Jangan lupa, sejarah kemanusiaan selain diisi oleh sejarah munculnya suatu konsep atau pemikiran yang mulanya dari seorang pemrakarsa, lalu berkembang. Memang pada tahap lanjutannya ada yang lalu merosot dan hilang dari pentas sejarah. Namun ada juga yang mulanya dianut populasi kecil lama-lama menjadi anutan mayoritas dan tetap eksis hingga sekarang. Kita harus memiliki sikap simetris dengan ketika kita minoritas di suatu negara besar. Memaksakan opsi-2 ini terang-terangan bertentangan dengan jaminan kebebasan menganut beragama/ berkeyakinan dan menjalankan agama/ keyakinannya itu, hak berkumpul dan berserikat, yang merupakan hak asasi manusia. Opsi-2 ini juga nyata-nyata aneh, tidak sesuai dengan gejala sosial, dan tidak logis. Sungguh memalukan bahwa opsi ini muncul dari seorang Menteri yang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Opsi ini hanya pantas muncul dari kecerdasan selevel anak-anak, bukan dewasa cendekiawan.

Opsi-3 : Ahmadiyah tetap eksis karena HAM.

Ini adalah opsi yang terbaik, sebab cocok dengan konsep hak asasi manusia (HAM), sesuai dengan amanat konstitusi NKRI, dan sejalan dengan ajaran Islam. Opsi-3 ini sesuai dengan gejala sosial, dan logis. Seharusnya hanya ini opsi ini muncul dari seorang selevel Menteri yang memang seharusnya punya wawasan kenegarawanan yang memang seharusnya peka kepada aspirasi seluruh warga negara. Secara otomatis, opsi-3 ini mendorong kita mencabut SKB 3 Menteri yang memang ‘banci’ itu, yang nyata-nyata melanggar prinsip HAM itu. Kelak terbukti SKB ini tidak menjadi solusi, malah menjadi faktor provokatif pelanggaran-pelanggaran berupa aksi kekerasan oleh kalangan mainstream. Mungkin banyak yang merasa heran, bagaimana mungkin saya tulis bahwa opsi ini selain cocok dengan konsep hak asasi manusia (HAM), sesuai dengan amanat konstitusi NKRI, juga sejalan dengan ajaran Islam. Ini akan saya uraikan di belakang.

Opsi-4: Ahmadiyah dibubarkan.

Opsi ini, jelas merupakan tindakan berlebihan, dan melanggar HAM. Opsi yang hanya mencerminkan kedangkalan dan ksempitan wawasan. Apalagi apabila organisasi keagamaan yang melakukan penyerangan tidak dikenai hukuman atas serangan brutal yang menimbulkan banyak kerugian material dan imaterial, atau dibubarkan juga…Salah satu ormas yang sering dikait-kaitkan dengan kasus kekerasan seperti Front Pembela Islam (FPI) pernah juga dituntut pihak-pihak lain untuk dibubarkan. Misalnya, tidak kurang dari Ulil Abshar Abdala seorang yang dikenal sebagai tokoh Jaringan Islam Liberal, sesaat setelah diresmikannya menjadi anggota Dewan Pengurus Pusat Partai Demokrat sempat melontarkan wacana perlunya pembubaran ormas ini. Namun, menurut saya, sejalan dengan konsep hak berserikat dan berkumpul, hak mengemukakan pendapat, keduanya tidak perlu dibubarkan. Kita hanya perlu menghukumnya saja melalui jalur hukum, dan selebihnya harus ada pembinaan. Tentu proses hukum yang dijalankan hendaknya tegas-terbuka dan memenuh rasa keadilan, yang sesuai dengan sistem demokratis.

Intinya, opsi-1, opsi-2, dan opsi-4 itu melanggar Konstitusi, HAM dan melanggar ajaran Islam. Amat menarik, seorang facebooker bernama Fernando Adventius menulis respon atas status yang saya tulis, katanya “Saya pilih opsi 5=2+3 = Ahmadiyah dilihat sebagai sekte agama yang berintegrasi dengan Islam mainstream dan exist karena HAM”. Intinya, ya opsi-3 itu.

BAGAIMANA KITA MEMANDANG AHMADIYAH

Secara teologis kasus Ahmadiyah memang menarik. Tentang Ahmadiyah ini saya cuma punya beberapa literatur, al.: Ahmadiyah dan Pembajakan al-Qur’an (M. Amin Djamaluddin, LPPI, 1992), Menusuk Ahmadiyah (Wawan H. Purwanto, CMP Press, 2008), Mengapa Saya Keluar dari Ahmadiyah (Ahmad Hariadi, 2008), Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian (Ian Adamson, Pustaka Marwa, 2010) juga beberapa karya orang Ahmadiyah juga, al. : Perlukah al-Qur’an Diturunkan (Mirza Bashiruddin Ahmad, Yayasan Wisma Damai, 1992), Kristianologi Qur’an (KH Simon Ali Yasir, Darul Kutubil Islamiyah, 2005). Selebihnya saya baca di perpustakaan.

Dari sedikit bacaan itu, secara teologis saya dapat menyimpulkan Ahmadiyah pada dasarnya adalah paham atau tafsir versi lain tentang Islam yang dibawa Kanjeng Nabi Muhammad saw. Paham yang membentuk komunitas baru itu lahir dari karya intelektual-spiritual Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian. Kelak, komunitas ini terpecah dua, menurut saya karena dua faktor: (1) dinamika persaingan kepemimpinan (2) adanya klaim Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi, walaupun Nabi Non-Syariat, yaitu Ahmadiyah Qadiani, yang menduduki kepemimpinan dan mengklaim kenabian itu, dan Ahmadiyah Lahore, yang tidak mengklaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad. Tetapi keduanya sama-sama tidak menafikan eksistensi Nabi Muhammad saw sebagai Rasul dan pembawa syari’at (hukum) Islam, oleh karenanya kedua komunitas menggunakan atribut Islam, bersaksi dengan dua syahadat (syahadatain) yang dikenal paham mainstream, ibadah solat di masjid dengan kiblat ke Baitullah, puasa di bulan Ramadhan, haji ke Makkah, membaca al-Qur’an, dsb.

Kaum Ahmadiyah menafsirkan satu kata ‘khatamul anbiya’ secara berbeda dari tafsir konvensional paham mainstream. Kalau, paham mainstream memberi tafsir ‘khatamul anbiya’ sebagai Nabi ‘Penutup Estafet Nabi-nabi’, maka kaum Ahmadiyah memberi tafsir sebagai ‘Nabi Termulia di antara Nabi-nabi’, dengan tafsir demikian mereka membuka peluang untuk klaim kenabian Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi tanpa-syariat baru, yang kualitas atau derajat kenabiannya ‘biasa’ vis a vis Muhammad Sang Nabi Pembawa Syari’at, Sang Nabi Termulia di antara jajaran para Nabi. Karena itu kaum Ahmadiyah berakidah dan beribadah dsb. sebagaimana umat muslim lainnya yang mainstream.

Menghormati penjelasan mereka tentang klaim kenabian oleh Ahmadiyah Qadiani, dalam pandangan saya serupa saja dengan klaim keimaman saudara-saudara kita kaum Syiah, baik Imamiyah 7, atau Imamiyah 12 dengan Imam Mahdi al-Muntazhor (Pemimpin Yang Ditunggu Kehadirannya kelak), dsb. Dan serupa dengan konsep Mujaddid yang muncul tiap abad dalam pandangan sebagian kalangan Sunni. Atau bahkan serupa juga dengan konsep Ratu Adil dalam kosmologi budaya Jawa. Bacaan saya tentang Syiah juga sedikit, al : Mungkinkah Sunnah & Syi’ah Bersatu (Syaikh Muhibuddin Al-Khatib, Pustaka Muslim, 1380H ), Sunnah-Syi’ah Bergandengan Tangan Mungkinkah (M. Quraish Shihab, Lentera Hati, 2007M/1428H) dll.

SIMPUL MASALAH LAIN: CONTOH DUA SIKAP BERBEDA

Nah, intermezo, kita harus akui, tidak semua kita membaca buku-buku Ahmadiyah dan Syiah, juga begitu tidak semua kaum Syiah membaca buku-buku Ahmadiyah dan Sunni, juga tidak setiap orang Ahmadiyah membaca buku-buku Syiah dan Sunni. Ini serupa juga dengan gejala tidak semua orang Muhammadiyah membaca buku-buku kalangan NU, dan sebaliknya. Namun, dalam desain besarnya, atau basis utamanya, semua sama, yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah. Namun, dari intermezo ini, tampak ada satu simpul masalah: masing-masing tidak saling ‘baca buku saudara’nya yang lain, untuk tidak mengatakan ‘buku-buku lawannya’.

Sebagai ilustrasi, coba perhatikan saat saya lakukan edit atas tulisan ini, sudah masuk komentar dari Candra Arifin, seorang facebooker, yang memberikan komentar ngelantur, yang penyebab ngelanturnya itu hanya satu hal sederhana hanya baca judul Note ini tidak baca isinya. Dengan tidak fair juga dia balas facebooker lain, Ayu Pratiwi, yang sebaliknya memahami isi Note ini dan mengingatkannya bhw dia belum baca isi Note saya. Candra Arifin malah menulis: “tidak perlu baca Note itu, tidak wajib’ katanya. Bahkan anak muda ini memberi nasihat yang dia sendiri tampaknya tidak memahami makna filosofis, teologis dan makna sosiologis pesannya itu. Karena sikapnya jumud (sempit) maka perilaku dalam ungkapan status FB-nya juga jumud. Dua sikap berbeda, Mengapa berbeda. Candra anak muda masih tetap dalam tempurungnya di Bandung, Ayu Pratiwi sedang melanglang mancanegara, kini di Jepang negara yang konsisten dengan penerapan kebebasan beragama/berkeyakinan, kebebasan berserikat/berkumpul dan mengemukakan pendapat. Memang hanya yang pernah hidup di lingkungan kebebasan sejati yang dapat memahami nilai kebebasan itu. Apalagi kondisi psikososial lingkungan keagamaan memang beda.

Dahulu Prof Dr HM Rasyidi pernah menyebutkan lingkungan keagamaan itu menyebabkan manusia terlibat secara emosi. Memang emosi itu penting dalam beragama. Sayangnya, terkadang orang larut dalam emosi yang keliru juga, apalagi bila didasari persepsi yang keliru. Kondisi psikologis ini sungguh berbeda dengan kondisi psikososial dalam suatu komunitas ilmiah, di mana setiap ilmiawan bergairah membaca tulisan karya siapa saja yang terkait tema yang sedang menjadi wacana bersama, sehingga terbuka kritik, terjadi pertukaran pendapat secara seru tetapi positif-konstruktif-progresif tanpa emosi-obsesif, kemudian terbuka perubahan paham, dan lalu terbangunlah akumulasi informasi mengambil bentuk konsep ilmiah yang baru. Tidak ada kebencian, tidak ada serangan kekerasan verbal atau fisik.

ANEH DAN TRAGIS : DULU MERDEKA KINI MALAH JADI TIDAK MERDEKA

Dalam skema persepsi saya, secara historis, di Indonesia kehadiran kaum Ahmadiyah adalah rombongan ketiga, setelah rombongan pertama Islam Tradisional yang menandai kaum NU beserta beberapa Tarikat Sufi, dan rombongan kedua Islam Modernis yang menandai kaum Persatuan Islam (Persis), Muhammadiyah, al-Irsyad, dsb. Setahu saya, bentrokan fisik yang besar mungkin pernah terjadi hanya ketika KH Ahmad Dahlan mengubah kiblat Masjid Ageng di Yogyakarta itu saja, itupun karena akumulasi-eskalasi perselisihan paham dalam konteks tajdid (reformasi-purifikasi) versus tradisi konvensional kalangan Kyai dan pesantrennya yang dianggap mengadopsi berbagai bid’ah akibat pengaruh aqidah dan ritual agama lama yaitu Hindu dan Buddhisme. Kalau merujuk kepada film Sang Pencerah (Brahmantyo, 2009) tampak bahwa bentrokan itu berupa penyerangan kaum tradisional merusak-membakari properti kaum Muhammadiyah, persis dilakukan kaum Radikalis seperti pernah dilaporkan semacam Front Pembela Islam (FPI), terhadap kaum Ahmadiyah berulang kali, di beberapa tempat. Sungguh bentrokan yang absurd-brutal-bodoh.

Namun perlu dicatat: Pertama, meskipun dalam banyak butir pemahaman hingga kini relasinya cenderung bagaikan ‘minyak dan air’ tetapi secara umum antara kaum NU dan kaum Muhammadiyah tidak ada lagi bentrokan fisik yang brutal dan bodoh. Kedua, kehadiran kaum Ahmadiyah sebenarnya sudah sejak sebelum kemerdekaan. Mereka hadir ‘menumpang’ perahu Muhammadiyah, bahkan entah bagaimana berita acaranya, mereka diperkenalkan dalam forum muktamar. Saya tidak tahu, apakah proses kemunculan dan perpisahannya serupa dengan proses munculnya Partai Komunis Indonesia yang ‘menumpang’ perahu Partai Syarikat Islam Indonesia.

Nah, peristiwa bentrokan kekerasan berupa penyerangan kepada jiwa-raga, fisik-psikis kaum Ahmadiyah itu barulah terjadi dalam satu dekade terakhir, belakangan ini saja. Dengan kata lain, mereka merdeka selama hampir 80-an tahun, namun dalam 10 tahunan belakangan, justru dalam proses demokratisasi bangsa dan negara ini, era reformasi, kok malah kehilangan kemerdekaannya. Ini bukan hanya ajaib-misterius, tetapi juga tragis-menyedihkan. Ada apa. Mengapa kejadian demikian bisa terjadi?

Di sini kita lihat bahwa kemungkinan simpul masalah pertama itu dapat kita tambah dengan adanya simpul masalah kedua: ulama-kyai-cendekiawan masing-masing tidak dapat memberikan pencerahan dengan pendekatan ukhuwah islamiyah dan tasamuh (toleransi), alih-alih demikian malah masing-masing terperangkap dalam narsisme golongan, bagaikan katak dalam tempurung masing-masing, dan tiap diri/ golongan menggelembungkan ego golongan masing-masing. Lebih buruk lagi, tidak terelakkan dugaan bahwa dalam khutbah, ceramah, kuliah yang mereka selenggarakan mungkin saja terselip provokasi permusuhan.

Dugaan demikian amat masuk akal, dan ini pernah disinggung oleh mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam konferensi opini program MetroTV dipandu Zelda Savitri, 2-3 hari lalu. Saya tidak ingin terbangun kondisi di mana isi seminar, khutbah, ceramah dipantau-disaring oleh pemerintah seperti konon terjadi di Malaysia dan Singapura. Saya pikir, seharusnya para ulama-kyai-cendekiawan-agamawan mulai menyadari bahaya penyebaran paham / ajaran radikal-jumud yang menimbulkan permusuhan-perpecahan sosial berbasis ideologi. Paham pluralism misalnya, di kalangan kaum Muhammadiyah yang mengklaim dirinya modernis itupun tidaklah diterima secara merata tuntas secara vertikal atau horizontal. Yang menonjol sepertinya hanya segelintir yang sepaham dengan Prof Dr Syafi’i Maarif.

Saya juga mengalami sendiri bagaimana kejumudan dalam Muhammadiyah. Seorang Ketua Majlis Dakwah misalnya, pernah dalam pengajian ini menggebrak dengan pertanyaan mengejutkan ‘Mengapa orang-orang Islam di Telkom memberikan akses fasilitas telepon kepada orang-orang non-Muslim, kenapa yang bekerja di PLN memberikan akses fasilitas listrik kepada orang-orang kafir. kenapa membiarkan gereja dibangun’ , ‘untuk apa memperingati Hari Kartini, kan kita punya Khadijah, Aisyah…untuk apa kita peringati Hari Pendidikan dengan mengenang Ki Hajar Dewantara ‘kan kita punya Nabi Muhammad saw seorang pendidik”, dsb. Bahkan ketika saya mengemukakan komentar dukungan atas pluralism ala Buya Syafi’i, ke 6-7 figur pengurus suatu cabang, respon mereka semua negatif, dan sang Ketua Majlis Dakwah itu mencap saya kafir. Ini mengejutkan, mengklaim kaum modernis tetapi wawasannya jumud-sempit. Kebetulan 2-3 bulan kemudian muncul buku bagus ‘Argumen Pluralisme Agama’ (Dr Abdul Moqsith Gazali, Kata Kita, Peb 2009). Menarik, sementara di kalangan tradisional justru muncul kelompok yang menamakan dirinya Jaringan Islam Liberal. Di kalangan muda Muhammadiyah juga muncul kelompok yang menghendaki liberalisasi namun tidak begitu terdengar gaungnya.

DIPERLUKAN MODERASI-TOLERANSI DAN PENEGAKAN HUKUM YANG TEGAS

Simpul masalah ketiga, menurut saya adalah SKB 3 Menteri itu, dan keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan pembatalannya. Masuk kelompok simpul masalah ketiga ini: Fatwa MUI tentang ‘sesat’nya paham Ahmadiyah. Keduanya tidak mencerminkan pemahaman makna kebebasan beragama/berkeyakinan yang sebenarnya. Juga kebebasan berserikat dan berkumpul. Masalahnya bukan karena kekurangpahaman HAM dan falsafah konstitusi kita saja, tetapi juga kekurangpahaman atas ajaran Islam berbasis al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kalau begitu, bagaimana pesan suci al-Qur’an dan pesan mulia Kanjeng Nabi dalam as-Sunnah, yuuk kita lihat satu demi satu. Kita tidak akan mengulas substansi teologis kaum Ahmadiyah, atau Syi’ah juga, namun kita lihat bagaimana al-Qur’an dan as-Sunnah, berpesan menyikapi perbedaan paham agama/ keyakinan sebagai fakta social.

Dengan merujuk pesan-pesan moderat-toleran-luhur terkandung dalam ayat-ayat suci al-Quran di bawah ini dapatlah kita simpulkan betapa SKB 3 menteri, keputusan MK menolak peninjauan.pencabutan SKB 3 Menteri itu mengandung kebodohan, melanggar hak-hak asasi yang Tuhan sudah install dalam diri-diri manusia, apapun penganut agama/keyakinannya.

(Ini saya sajikan seadanya dulu, nanti akan saya bereskan, Nanti akan saya lengkapi dengan pesan mulia Kanjeng Nabi Muhammad saw, insyaallah. Sekarang sedang repot ada tamu….)

—-Penyiaran ajaran harus dengan langkah lembut, nonkekerasan

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sungguh Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sungguh itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (keingkaran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan.Sungguh Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. QS. 016:125-128

—Al-Qur’an, Nabi Muhammad sama sekedar peringatan bukan pemaksa, kamu harus sabar :

Dan Sungguh telah Kami buat dalam Al-Qur’an ini segala macam perumpamaan untuk manusia. Dan Sungguh jika kamu membawa kepada mereka suatu ayat, pastilah orang-orang ingkar itu akan berkata: “Kamu tidak lain cuma orang-orang yang membuat kepalsuan belaka. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang-orang yang tidak (mau) memahami. Dan bersabarlah kamu, sungguh janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu. QS.030:058-060

Sungguh kamu cuma memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Mahapemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.(QS.036:011)

Al Qur’aan itu tiada lain cuma peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali bila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. QS.081:027-029

Dan Kami turunkan (Al-Qur’an) itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Qur’an itu telah turun dengan (membawa) kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.(QS.017:105)

GUSTI ALLAH JUGA MENJAMIN KEBEBASAN

–Bahkan orang dijamin kebebasan memilih untuk tidak beriman sekalipun

Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka siapa ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan siapa ingin (ingkar) biarlah ia ingkar”. Sungguh Kami telah sediakan bagi orang orang zalim itu neraka, yang gejolaknya mengepung mereka. Dan jika mereka meminta minum, niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka. Itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek. Sungguh mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik. Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga ‘Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah; (QS.018:029-031)

Siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang ingkar sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim. Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya laknat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) laknat para malaikat dan manusia seluruhnya, mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh, kecuali orang-orang yang tobat, sesudah (ingkar) itu dan mengadakan perbaikan. Karena sungguh Allah Mahapengampun—Mahapenyayang. (QS.003:085-089)

Allah menyatakan bahwasanya tiada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tiada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah),—Mahaperkasa—Mahabijaksana. Sungguh agama (yang diridhai) di sisi Allah cuma Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Siapa ingkar terhadap ayat-ayat Allah maka sungguh Allah sangat cepat hisab-Nya. Lantas jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: “Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku”. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al-Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: “Apakah kamu (mau) masuk Islam”. Jika mereka masuk Islam, sungguh mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu cuma menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Mahamelihat hamba-hamba-Nya. (QS.003:018-020)

—-Allah Mahakuasa saja tidak memaksakan, kenapa ada manusia memaksakan ajaran

Tidak ada paksaan dalam beragama; sungguh telah jelas jalan benar dari jalan sesat. Karena itu siapa ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, sungguh ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang takkan putus. Dan Allah Mahamendengar–Mahatahu. (QS.002:256)

Sungguh telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka siapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan siapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku (Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). QS.006:104

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman seluruh orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman seluruhnya ? (QS.010:099)

Katakanlah: “Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman. Sungguh orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya bila Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, (QS.017:107)

—-Gusti Allah Mahakuasa saja membiarkan ada beragama komunitas, untuk tiap komunitas aturan bisa berbeda, mengapa ada manusia mahakerdil memaksa kaum Ahmadiyah untuk membuang keyakinan mereka membuat sama dengan mainstream

…Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Cuma kepada Allah-lah kembali kamu seluruhnya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.005:048)

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa dikehendaki-Nya. Dan sungguh kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS.016:093)

Dan kalau Allah menghendaki niscaya Allah menjadikan mereka satu umat (saja), tetapi Dia memasukkan orang-orang yang dikehendaki-Nya ke dalam rahmat-Nya. Dan orang-orang yang zalim tidak ada bagi mereka seorang pelindungpun dan tidak pula seorang penolong. (QS.042:008)

—-Kamu tidak akan bisa mengubah keyakinan seseorang, apalagi satu komunitas, jadi jangan memaksakan kehendak, sesudah kamu menyampaikan ajakan, serahkan kepada Gusti Allah, jangan lalu memaksa, merusak barang-rumah-masjid-alQuran mereka itu berlebihan dan bodoh.

Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk siapa dikehendakiNya. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, pahalanya itu untukmu sendiri. Dan janganlah kamu belanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup, kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.002:272)

Sungguh kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS.028:056)

Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman seluruh orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang beriman seluruhnya ? (QS.010:099)

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.QS.010:100

—-Kalaupun mereka berkata kasar atau tidak sesuai harapan, apalagi hanya karena berbeda paham : mereka pun gak merusak harta-bendamu, tidak membunuh orangmu, kamu harus sabar, kok malah kamu menzalimi mereka.

Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya). Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan setiap selesai sembahyang……Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al-Qur’an orang yang takut dengan ancaman-Ku. (QS.050:039-040, 045)

—Dosa terbesar adalah penyekutuan Tuhan, beda paham Ahmadiyah itu, termasuk klaim Nabi Non-syariat Mirza Ghulam Ahmad, itu urusan Tuhan :

Sungguh Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa dikehendaki-Nya. Siapa mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.(QS.004:048)

Sungguh Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa dikehendaki-Nya. Siapa mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya. Yang mereka sembah selain Allah itu, tidak lain cuma berhala, dan (dengan menyembah berhala itu) mereka tidak lain cuma menyembah setan yang durhaka. (QS.004:116-117)

… Sungguh orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS.005:072)

—Alih-alih ke pelecehan dan penindasan ajaran/penganut agama/keyakinan lain, kamu harus fokus kepada aktivitas kontribusi social. Gusti Allah sendiri menyatakan mereka yang beragama/ berkeyakinan lain juga punya peluang balasan

Sungguh orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah, akhirat dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan mereka, tidak ada kekuatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS.002:062)

…. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Cuma kepada Allah-lah kembali kamu seluruhnya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu. (QS.005:048)

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang goib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.009:105)

Siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan. (QS.011:015-016)

Siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik. Kepada masing-masing golongan baik golongan ini maupun golongan itu Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi. Perhatikanlah bagaimana Kami lebihkan sebagian dari mereka atas sebagian (yang lain). Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatnya dan lebih besar keutamaannya. (QS.017:018-021)

JANGAN MENZALIMI KAUM LAIN, MINORITAS, NONMUSLIM, KAUM AHMADIYAH

—-Jangan kebencian karena berbeda paham, menjadikan kamu menzalimi kaum Ahmadiyah:

Hai orang-orang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan. (QS.005:008)

—Jangan memaki paham lain, bahkan jangan menghina sesembahan agama/keyakinan lain

Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Lantas kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan. (QS.006:108)

—Jangan usir orang yang beribadah

Dan berilah peringatan dengan apa yang diwahyukan itu kepada orang-orang yang takut akan dihimpunkan kepada Tuhannya (pada hari kiamat), sedang bagi mereka tidak ada seorang pelindung dan pemberi syafaatpun selain daripada Allah, agar mereka bertakwa. Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaanNya. Kamu tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatan mereka dan merekapun tidak memikul tanggung jawab sedikitpun terhadap perbuatanmu, yang menyebabkan kamu (berhak) mengusir mereka, (sehingga kamu termasuk orang-orang yang zalim). (QS.006:051-052)

–Hormati mereka beribadah di tempat masing-masing, jangan robohkan tempat ibadah

Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjidNya, dan berusaha untuk merobohkannya? Mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). Mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat terkena siksa yang berat. Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sungguh Allah Mahaluas (rahmatNya) —Mahatahu. (QS.002:114-115)

Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja), dan siapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum (ingkar) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Siapa tidak memperolehnya, maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan tobat dari pada Allah. Dan adalah Allah Mahatahu—Mahabijaksana. Dan siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya. Hai orang-orang beriman, bila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, karena di sisi Allah ada harta yang banyak. Begitu jugalah keadaan kamu dahulu, lalu Allah mengkaruniakan nikmat-Nya atas kamu, maka telitilah. Sungguh Allah Mahatahu apa yang kamu kerjakan. (QS.004:092-094)

Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: siapa membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya. Dan sungguh telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, lantas banyak di antara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, cuma mereka dibunuh atau disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar, kecuali orang-orang yang tobat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Mahapengampun—Mahapenyayang. (QS.005:032-034)

Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan siapa dibunuh secara zalim, maka sungguh Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sungguh ia adalah orang yang mendapat pertolongan. (QS.017:033)

—-Apakah seperti contoh kasus Musa, akan dibunuh Fir’aun hanya karena beda paham?

Dan seorang lelaki yang beriman di antara para pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata: “Apakah kamu akan membunuh seorang lelaki karena dia menyatakan: “Tuhanku ialah Allah padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. Dan jika ia seorang pendusta maka dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu”. Sungguh Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi pendusta. (QS.040:028)

—Sumber kejahatan adalah iblis-setan. nah Allah tidak membunuh Iblis, mngapa kita hendak membunuh kaum Ahmadiyah, bukankah itu zalim-bodoh ?

Iblis menjawab: “Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”. Allah berfirman: “Sungguh kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” Iblis menjawab: “Karena Paduka telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Paduka yang lurus, lantas saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Paduka tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). Allah berfirman: “Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sungguh siapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahannam dengan kamu seluruhnya”. QS.007:014-018)

Allah berfirman: “Keluarlah dari surga, karena sungguh kamu terkutuk, dan sungguh kutukan itu tetap menimpamu sampai hari kiamat”. Berkata iblis: “Ya Tuhanku, (kalau begitu) maka beri tangguhlah kepadaku sampai hari (manusia) dibangkitkan, Allah berfirman: “(Kalau begitu) maka sungguh kamu termasuk orang-orang yang diberi tangguh, sampai hari (suatu) waktu yang telah ditentukan, Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Paduka telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka seluruhnya, kecuali hamba-hamba Paduka yang mukhlis di antara mereka”. Allah berfirman: “Ini adalah jalan lurus, kewajiban Aku-lah (menjaganya). Sungguh hamba-hamba-Ku tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang sesat. (QS.015:034-042)

—Ada tuduhan Ahmadiyah ‘bikin’ kitab ‘Tadzkirah’ sebagai tambahan selain al-Quran, bukankah sama dengan buku-buku utama kaum Syi’ah dengan pesan-pesan Ahlul Bayt, biarlah mereka tanggung sendiri akibatnya. Tetapi kedua kaum ini juga tidak bermaksud menggantikan al-Qur’an.

Maka kecelakaaN yang besarlah bagi orang-orang menulis Al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya; “Ini dari Allah”, (dengan maksud) untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu. Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakan yang besarlah bagi mereka, akibat apa yang mereka kerjakan (QS.002:079)

Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang bersegera (memperlihatkan) keingkarannya, yaitu di antara orang-orang yang mengatakan dengan mulut mereka:”Kami telah beriman”, padahal hati mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka merobah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan: “Jika diberikan ini (yang sudah di robah-robah oleh mereka) kepada kamu, maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah”. Siapa Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS.005:041)

—Tidak usah repot, memaksakan kesamaan, menghakimi keyakinan orang/komunitas lain. sebab soal-semacam itu perbedaannya akan diselesaikan oleh Gusti Allah sendiri nanti di akhirat

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. Demikian itu (cuma) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang benar”. (Tidak demikian) bahkan siapa menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Dan orang-orang Yahudi berkata: “Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan”, dan orang-orang Nasrani berkata: “Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,” padahal mereka (sama-sama) membaca Al-Kitab. Demikian pula orang-orang tidak mengetahui, mengatakan seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili di antara mereka pada hari Kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya. (QS.002:111-113)

Tentang sesuatu apapun kamu berselisih, maka putusannya (terserah) kepada Allah. (Yang mempunyai sifat-sifat demikian) itulah Allah Tuhanku. Kepada-Nya lah aku bertawakkal dan kepada-Nyalah aku kembali. (QS.042:010)

—Jangan memantau, kamu bukan pengawas nonmuslim, juga bukan penjaga Ahmadiyah, bukan tanggungjawabmu, serahkan kepada Allah

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan yang beramal saleh, (bahwa) untuk mereka ampunan dan pahala yang besar. Adapun orang-orang ingkar dan mendustakan ayat-ayat Kami, mereka itu adalah penghuni neraka. (QS.005:009-010)

Ikutilah apa yang telah diwahyukan kepadamu dari Tuhanmu; tidak ada Tuhan selain Dia; dan berpalinglah dari orang-orang musyrik. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan(Nya). Dan Kami tidak menjadikan kamu pemelihara bagi mereka; dan kamu sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka. (QS.006:106-107)

Dan berimanlah kamu kepada yang telah Aku turunkan (Al-Qur’an) yang membenarkan apa yang ada padamu (Taurat), dan janganlah kamu menjadi orang pertama ingkar kepadanya, dan janganlah kamu menukarkan ayat-ayat-Ku dengan harga yang rendah, dan cuma kepada Akulah kamu harus bertakwa. Dan janganlah kamu campur adukkaN yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. !QS.002:041-042)

Pastilah bahwa mereka di akhirat nanti adalah orang-orang yang merugi.(QS.016:109)

Sungguh orang-orang yang menukar iman dengan keingkaran, sekali-kali mereka tidak dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun; dan bagi mereka azab yang pedih. Dan janganlah sekali-kali orang-orang ingkar menyangka, bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sungguh Kami memberi tangguh kepada mereka cuma supaya bertambah-tambah dosa mereka; dan bagi mereka azab yang menghinakan. QS.003:176-178)

Dan tidak ada seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.QS.010:100

Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi ingkar; sungguh mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala) kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS.003:176)

Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Mahatahu—Mahabijaksana. (QS.009:106)

by Arief Maulany

Bekasi, cuaca hati cerah-ceria, di tengah lingkungan kekelaman kejahilan, 9 Pebruari 2011

http://www.facebook.com/note.php?saved&&note_id=431055906637#!/note.php?note_id=151002218289361&id=801678835

Iklan

1 Response to "Mengkritisi Menteri Agama"

Di sini juga ada peringatan kepada mereka yang suka membuat kerosakan atas nama jihad, yang menyatakan bunuh diri dibolehkan dalam Islam, keganasan dan mencetuskan huru-hara itu dibolehkan dalam Islam, dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Semua ini sebenarnya tidak diterima di sisi Allah. Jika mendakwakan diri ada hubungan dengan Allah Ta’ala, janganlah berbangga kerana telah membunuh nyawa orang-orang yang tidak bersalah dengan mengumumkan bahawa ‘ini adalah pekerjaan kami dan kami telah sempurnakan’. Sepatutnya kamu berusaha dengan menyatakan bahawa ‘kami telah merendahkan diri dan bersabar serta banyak berdoa’. Jangan jadikan undang-undang negara itu tunduk kepada kamu atau jangan berusaha untuk itu. Sebabnya, semua itu adalah ciri-ciri orang takbur, dan orang yang takbur tidak akan mendapat pertolongan daripada Allah.

http://barahinahmadi.blogspot.com/2010/12/kesabaran-dan-doa-doa.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Februari 2011
M S S R K J S
« Jan   Mar »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: