Dildaar80's Weblog

Hijab atau Pardah: Pilihan Kebudayaan Yahudi dan Kristen

Posted on: 9 Agustus 2010


Don Richardson dalam bukunya ‘Secrets of the Koran’ (Rahasia-Rahasia Al-Quran) memandang bahwa Pardah menjadi sarana penjajahan bagi kaum wanita. Dalam mikroskopnya, pardah menjadikan seseorang wanita terhalang bergaul dan gerah dalam bermasyarakat. Adalah benar bahwa di kalangan negara-negara yang dominan beragama Islam, kaum wanita didesak untuk memakai pardah (salah satu bentuk pardah ialah kerudung/jilbab). Walaupun demikian adanya, ternyata kaum wanita Muslim yang hidup bebas di negara-negara Barat memilih memakai hijab, penutup kepala, bahkan burqah, jubah panjang atau jas luar yang dibalurkan guna menutup tubuh mereka.

Satu-satunya rujukan mengenai penutup kepala (kerudung-jilbab) dalam Perjanjian Baru didasarkan dari pernyataan Paulus dalam Korintus I. Bagi kalangan non-Muslim, kata-katanya mengandung pertentangan: “Tiap-tiap laki-laki yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang bertudung, menghina kepalanya. Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya. Sebab jika tidak mau menudungi kepalanya, maka haruslah ia juga menggunting rambutnya… (Korintus I: ayat 4 s.d. 6). Dilanjutkan dalam Pasal 11 ayat 14 dan 15, Paulus menyebutkan bahwa rambut panjang itulah yang menjadi penudung/penutup bagi kepala seorang wanita. Hal demikian, berimplikasi pada bahwa kaum laki-laki sebaiknya dalam keadaan botak polos tatkala berdoa. Karenanya, terlihat bahwa Paulus kontradiktif dalam pernyataannya sendiri.

Kebiasaan kaum wanita menutupi dirinya sendiri demikian jelas dipraktekkan oleh kaum wanita Yahudi dan Kristen awal. Kita dapat menarik kesimpulan dari sejarah bahwa para pemuka agama waktu itu mempromosikan kesederhanaan kaum wanita lewat kebiasaan menutupi rambut dan pemakaian baju-baju yang longgar (tidak ketat dan membentuk tubuh). Bagaimanapun, kebiasaan ini secara perlahan mulai diabaikan atau dilupakan. Praktek menutupi tubuh dan kepala dalam kalangan wanita Yahudi awal memiliki dasar dalam aturan profetis/kenabian oleh Mikha 6: 8 “… dan hidup dengan rendah hati/sederhana di hadapan Allahmu?” yang juga disebutkan dalam Talmud Bavli (Talmud Babilonia).

Dengan demikian, sementara kaum wanita diminta menutupi dirinya sendiri dengan pakaian yang ditentukan, kaum laki-laki diperintahkan memakai pakaian yang sederhana. Kaum Yahudi golongan Haredi sebagaimana kaum Yahudi Ortodoks dewasa ini masih memakai pakaian tradisional kippa, sedangkan kaum wanita mempunyai berbagai cara atau gaya dalam menutupi rambut mereka pada saat ini, seperti kaum wanita Muslim memakai berbagai bentuk yang berbeda dari hijab (pardah-pent.). Lebih jauh lagi, kaum Yahudi merujuk pada Sarah dan Rebekah, istri Abraham dan istri Ishaq, dengan hormat. Dua rujukan bagi wanita yang menutup kepala ditemukan dalam Perjanjian Lama menunjukkan bahwa kedua wanita ini memakai penutup bagi kepala mereka .

Kaum wanita Yahudi mengikuti jejak mereka, memakai pakaian yang sedemikian rupa menolong mereka berserah diri kepada Tuhan. Oleh karena itu, dalam mengamalkan kesederhanaan tersebut, kaum wanita menghindari keangkuhan mereka dan merendahkan hati mereka dan menyadari potensi mereka diarahkan pada kerohanian mereka. Sebagai contoh, ketika pembantu Abraham menemani Rebekah ke tanah Negeb, dimana ia nanti akan menjadi istri Ishak, Rebekah memperlihatkan kesederhanaannya baik luar maupun dalam: ‘And Isaac was out walking in order to meditate in the field….When he raised his eyes and looked…there, camels were coming! When Rebekah raised her eyes, she caught sight of Isaac and she swung herself down from off the camel. Then she said to the servant, “Who is that man walking in the field to meet us?” and the servant said, “It is my master.” And she [Rebekah] proceeded to take a head-cloth and to cover herself. (Genesis 24: 63-65). Terjemahnya “Dan Ishak berjalan keluar untuk bermeditasi/bertafakur di ladang.. Ketika ia melayangkan pandangannya, maka dilihatnya ada unta-unta datang. Ribka/Rebekah juga melayangkan pandangnya dan ketika dilihatnya Ishak, turunlah ia dari untanya. Katanya kepada hamba/pembantunya itu: “Siapakah itu laki-laki yang berjalan di padang ke arah kita?” Jawab hamba itu: “Dialah tuanku itu.” Lalu ia (Rebekah) mengambil kain penutup kepala dan menutupi dirinya itu’. (Genesis/Kejadian 24: 63-65)

Dari paragraph diatas, jelas bahwa bukan hanya Rebekah/Ribka menutup kepalanya ketika ia mengenal identitas seseorang asing/tak dikenal yang nantinya akan menjadi suaminya, bahkan saat ia belum mengetahui identitas laki-laki tersebut, Ribka turun dari unta untuk menghindari penampakan dirinya/kemungkinan saling memandang antara keduanya. Sikapnya yang demikian itu karena dirinya tidak ingin menarik perhatian seorang asing/tak dikenal. Rebekah adalah pribadi injili/alkitabiah, dan nampaknya ia sudah mengejawantahkan seluruh nilai Islami. Teladan Sarah menegaskan akan benarnya aturan Islam bagi wanita Muslim untuk menutupi diri mereka. Sarah diberi hadiah oleh raja Abimelech agar dapat ia dapat dikenali diantara rakyatnya dan tiada seorang pun yang mengganggunya. Dikatakan dalam Genesis/Kejadian 20: 16, “Here it is a covering of the eyes to all who are with you, and before everybody, and you are cleared of reproach”. Terjemahannya: “Inilah dia kuberikan padamu sebuah (kain) penutup dari mata semua orang yang bersama-sama dengan engkau, maka sebelum tiap orang, maka engkau disucikan dari celaan.”

Mr. Richardson ingin menyalahkan ‘obsesi’ orang Islam yang menghendaki kaum wanita mereka tertutupi dengan ‘Muhammad, Al-Quran dan Islam’. Padahal, sebagai tambahan berdasarkan sejarah Yahudi dan Kekristenan, bahkan masa pertengahan Eropa dan seni masa Renaisans penuh dengan lukisan-lukisan kaum wanita berpenutup kepala dan mengenakan jubah menutupi tubuhnya. Maria, ibunda Yesus biasa dilukis dan dipahat dalam keadaan berpakaian longgar (tidak ketat) yang membungkus seluruh tubuhnya . Lebih lanjut lagi, ia/Maria malahan selalu dilukis dengan warna pakaian gelap, sangat mirip dengan Pardah/Hijab Islam. Hal yang sama dengan itu ialah pada 1917, Ritus Latin bagi Gereja Katolik menjadikannya wajib bagi para biarawati mengenakan sesuatu yang sangat mirip dengan pakaian Islami. Walaupun peraturan tersebut telah direvisi, beberapa gereja menganggapnya kode berpakaian yang ‘Tradisi Tak Terlupakan’.

Ada beberapa argumentasi bahwa perintah menutupi badan, baik didalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru adalah bagi perempuan bersuami saja. Pembenaran akan kepercayaan semacam ini menyatakan bahwa kain penutup kepala melambangkan seorang wanita bersuami dan kepatuhannya kepada suaminya. Akan tetapi dalam Tessalonika 1 5: 16-17, kita membaca, “Bersukacitalah senantiasa. Tetaplah berdoa.” Tak ada satu pun yang dikecualikan dari beribadat/berdoa disini; baik muda maupun tua perlu berdoa senantiasa; seperti juga bagi yang menikah mau pun yang belum menikah.

Kalangan Kristen yang dominan, sayangnya telah menjauh dari praktek penutupan tubuh/jilbab/hijab/pardah, menuntut bahwa kaum wanita tidak lagi memerlukan penutupan tubuh/telekung. Wanita jaman sekarang tidak lagi ingin menegakkan cita-cita ideal menjadi wanita santun dan sederhana seperti Maria dan Rebekah; malahan ia menonjolkan dirinya agar menjadi mampu berdiri di samping pria, memamerkan dirinya sendiri dan ingin mengenal dan menginginkan pria yang mereka saksikan/lihat. Tentu saja kaum pria akan senang dengan apa yang mereka lihat karena “… mata para lelaki takkan puas” (Amsal 27: 20), walau pun kaum pria masih menganggap wanita ceroboh semacam itu sebagai ‘kurang terhormat’.

Selanjutnya, Islam memerintahkan pardah bagi wanita beriman. Ya, seperti berulangkali dikatakan, pardah ialah guna melindungi kaum wanita itu sendiri. Tetapi apakah sebenarnya maksud dari hal itu? Bahwa kaum lelaki takkan menyentuh mereka? Artinya bahwa wanita semacam itu yang dibalik kerudungnya dapat merasakan aman bahwa lelaki di depannya tidak memiliki kecenderungan nafsu syahwat kepadanya, dan berperilaku tepat seperti sebaliknya – laki-laki menundukkan pandangannya dan menghormati wanita seperti diperintahkan oleh al-Quran Katakanlah kepada orang-orang mukmin laki-laki, mereka hendaklah menundukkan mata mereka dan memelihara aurat mereka. Yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka kerjakan. (Surah an-Nur, 24: 31)

Menutup/hijab/pardah bukan dimaksudkan untuk mengintimidasi seseorang tetapi guna membuatnya tetap mengingat Allah, yang Maha Melihat/Menyaksikan tiap hati laki-laki dan perempuan. Sebanyak Mr. Richardson ingin percayai bahwa pardah adalah ‘pilihan budaya Islam’, dia tidak bisa menolak bahwa kaum wanita mengenakan pardah jauh sebelum Nabi Muhammad hidup. Pardah tanpa diragukan lagi adalah sebagian dari warisan Judeo-Kristen. Islam hanya meneruskannya.

Ditulis oleh Maham Khan, anggota Lajnah Imaillah (wanita Muslim Ahmadiyah) Amerika Serikat, staf editor majalah bulanan ‘Sunrise’

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Agustus 2010
M S S R K J S
« Jul   Sep »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: