Dildaar80's Weblog

Toleransi Terhadap Ahmadiyah

Posted on: 8 November 2009


Rabu, 23-04-2008 13:56:41 oleh: Binsar Antoni Hutabarat
Kanal: Opini

Melalui perjalanan yang cukup panjang, akhirnya Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakorpakem) yang terdiri dari unsur kejaksaan, kepolisian, Departemen Dalam Negeri, dan Departemen Agama, dalam rapat di kejaksaaan Agung, Rabu (16/4), yang merupakan kelanjutan dari rapat 15 Januari 2008, mengusulkan kepada pemerintah agar memberi peringatan keras untuk menghentikan semua kegiatan jemaah Ahmadiyah, dan jika tak mematuhi rekomendasi itu, tak ada lagi toleransi, pemerintah diminta untuk membubarkan Ahmadiyah.

Alasannya adalah “Ahmadiyah menyimpang dari ajaran pokok (agama Islam). Ahmadiyah telah melakukan kegiatan dan penafsiran keagamaan yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran yang dianut di Indonesia dan menimbulkan keresahan di masyarakat. Itu terbukti berdasarkan hasil pantauan tiga bulan terakhir Bakorpakem yang dilakukan di 33 Kabupaten, terhadap 55 Komunitas jemaat dan bertemu dengan 227 warga Ahmadiyah. Pemantau dalam hal ini Bakorpakem menyimpulkan, Ahmadiyah tidak melaksanakan 12 butir kesepakatan yang dibuat pada 15 Januari 2008.

Meski mendapatkan penolakan dari berbagai kelompok, rekomendasi Bakorpakem ini akan dituangkan dalam surat keputusan bersama (SKB) antara Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Agama. SKB ini sesungguhnya tidak memiliki hierarkhi dalam perundang-undangan di Indonesia, namun, celakanya ini bisa dijadikan instrumen untuk pembubaran Ahmadiyah. Pasalnya, setelah lahirnya SKB itu kegiatan Ahmadiyah dapat dikenakan delik penodaan agama.

Ahmadiyah telah hadir di Indonesia sejak tahun 1924 di Yogyakarta, dan tahun 1928 Ahmadiyah Lahore mendapat pengakuan pemerintah Hindia Belanda, dan Qadian pada tahun 1929. Di masa pemerintahan Indonesia, keduanya memiliki status badan hukum pada tahun 1953, namun kini terancam dibubarkan karena rekomendasi Bakorpakem.

Pembubaran Ahmadiyah menimbulkan pro kontra, Din Syamsudin, Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, berkomentar, “pembubaran Ahmadiyah bukanlah solusi. Kepercayaan dan keyakinan seseorang tidak bisa dihilangkan begitu saja, meskipun organisasinya bubar. Justru itu akan menimbulkan resistensi bagi mereka”. Din Syamsuddin mengusulkan perlunya mengembangkan dialog dengan Ahmadiyah, ketimbang membubarkannya.

Usulan Dim Syamsuddin tepat sekali, dan itu tentunya membutuhkan toleransi yang tinggi. Terindikasi, toleransi yang menjadi ciri Indonesia sebagai bangsa yang amat beragam dan mampu hidup berdamai di bawah Pancasila kini mulai memudar. Pemberian toleransi terhadap Ahmadiyah sebenarnya bukan kekhususan, tetapi telah menjadi pengalaman dalam ke-Indonesiaan kita. Pemberian toleransi terhadap Ahmadiyah semestinya bisa kita lakukan, jika semangat toleransi itu masih terpelihara baik dalam ke-Indonesiaan kita.

Tentang toleransi. Toleransi berasal dari kata “toleran” kata itu sendiri berarti bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dan sebagainya) yang berbeda dan atau yang bertentangan dengan pendiriannya (Kamus Umum Bahasa Indonesia). Jadi, dalam hubungannya dengan agama dan kepercayaan, toleransi berarti menghargai, membiarkan, membolehkan kepercayaan, agama yang berbeda itu tetap ada, walaupun berbeda dengan agama dan kepercayaan seseorang.

Toleransi tidak berarti bahwa seseorang harus melepaskan kepercayaannya atau ajaran agamanya karena berbeda dengan yang lain, tetapi mengizinkan perbedaan itu tetap ada. Toleransi seperti ini, menjadi jalan bagi terciptanya kebebasan beragama, apabila kata tersebut diterapkan pada orang pertama kepada orang kedua, ketiga dan seterusnya. Artinya, pada waktu seseorang ingin menggunakan hak kebebasannya, ia harus terlebih dulu bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya telah melaksanakan kewajiban untuk menghormati kebebasan orang lain?” Dengan demikian, setiap orang akan melaksanakan kebebasannya dengan bertanggung jawab, dan toleransi jauh dari sikap pasif yang menerima apa adanya tanpa perjuangan. Toleransi dalam arti ini juga bukanlah didasarkan pada adanya kesepakatan total terhadap kepercayaa-kepercayaan, karena pluralitas adalah fakta yang tak terbantahkan, karena itu, toleransi tidak akan memaksa seseorang untuk merelatifkan kepercayaan-kepercayaan, apalagi terjebak dalam penjara relativisme.

Benarlah apa yang dikatakan oleh David Little, “jika ada kesepakatan total, seluruh ide toleransi sesungguhnya telah tiada” Toleransi memungkinkan orang dapat belajar tentang kepercayaan-kepercayaan lain, mendengarkannya dengan terbuka, tanpa harus memeluk kepercayaan itu. Sikap aktif dari toleransi juga terlihat ketika harus menahan “rasa sakit” yang muncul ketika menghadapi kepercayaan-kepercayaan yang tidak bisa diterima atau menyimpang (bidat), atau dengan kritik yang “membuat menderita,” yang kemudian justru menghasilkan manfaat besar, karena di dalam proses itu wawasan-wawasan menjadi tajam, orang menjadi lebih jujur dan lebih kritis terhadap diri sendiri, semuanya di dalam kerangka yang tidak menggunakan kekerasan.

Seperti halnya latihan tubuh, ada manfaat dari rasa sakit. Dalam bahasa yang lebih tegas, sikap toleransi sebagaimana dijelaskan David Little didefinisikan oleh Hollenbach sebagai “solidaritas intelektual”, “suatu orientasi yang mengarahkan seseorang untuk melihat perbedaan-perbedaan secara positif dan bukannya dengan pola pikir yang ditandai oleh kecurigaan atau ketakutan.” Hollenbach berujar, “Solidaritas intelektual sebuah sikap yang didasarkan pada harapan bahwa kita benar-benar bisa mencapai suatu titik dimana jika kita memutuskan untuk mendengarkan mengenai apa yang dipikirkan oleh orang-orang lain tentang seperti apa kebaikan bersama itu dan pada gilirannya menceritakan kepada mereka mengapa kita melihat kehidupan yang baik itu sebagaimana kita melihatnya.”

Toleransi terhadap Ahmadiyah. Sebagai organisasi yang berbadan hukum sewajarnyalah Ahmadiyah memiliki hak-hak yang sama dengan semua kelompok yang ada di negeri ini. Tafsiran Ahmadiyah yang berbeda dengan pokok-pokok Islam arus utama tidak boleh diartikan bahwa Ahmadiyah sama sekali tak memiliki kebenaran. Dan jika kita mengakui tak ada satu komunitas yang boleh mengklaim dirinya memiliki kebenaran mutlak, maka kehadiran Ahmadiyah, pastilah memiliki kontribusi positif, apalagi itu sudah terbukti dalam sejarah republik ini. Perbedaan-perbedaan yang ada semestinya bisa dibawa dalam dialog yang jujur dan terbuka, di sanalah perbedaan dapat dimengerti, bukan dicurigai. Apalagi perbedaan tafsir memang sesuatu yang pasti ada. Karena itu memaksakan tafsiran pastilah bukan solusi terbaik untuk memusnahkan tafsiran yang dianggap salah, sebaliknya dialog justru akan membawa pada adanya saling pengertian. Jadi, pemberian toleransi terhadap Ahmadiyah sesuatu yang mesti diberikan jika memang kita memiliki toleransi yang kuat, atau solidaritas intelektual.

Binsar A. Hutabarat
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=7818

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

November 2009
M S S R K J S
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: