Dildaar80's Weblog

Perpustakaan dan Usaha Meningkatkan Minat Baca

Posted on: 1 November 2009


Oleh : Januari Sihotang

Rentetan persoalan sepertinya terus menggerogoti bangsa kita, tak terkecuali dunia pendidikan.

Berbagai persoalan tersebut telah menjerat gerak maju pendidikan kita. Contoh nyata, dulu Malaysia atau Vietnam belajar ke Indonesia mengenai pengelolaan pendidikan dan mereka banyak menyekolahkan warganya untuk mengecap pendidikan di Indonesia. Namun dekade terakhir, justru warga kita yang banyak belajar ke perguruan tinggi di Malaysia dan menganggap dunia pendidikan mereka lebih maju.

Berkenaan dengan parameter makro berupa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia, pada tahun 2006 hanya meningkat 0,71 poin atau menurun dibandingkan 2005 (0,99). IPM tahun 2008 hanya 70,05 dari target 75,60, ini harus menjadi perhatian karena target IPM 80 pada tahun 2010 hanya mempunyai waktu 1 tahun lagi.

Berbagai persoalan yang menimpa dunia pendidikan sebagian besar diakibatkan minimnya sarana dan prasarana. Hal ini tentu tak lepas dari minimnya dana pendidikan. Meskipun UUD 1945 Pasal 31 ayat (4) sudah mengamanatkan agar negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya dua puluh persen dari APBN atau APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

Salah satu sarana pendidikan yang ketersediaannya masih sangat minim bahkan terkesan memprihatinkan saat ini adalah perpustakaan. Dari sekitar hampir 200 triliun anggaran pendidikan, alokasi untuk perpustakaan sangat kecil. Maka kita tak perlu heran jika daya Biro Pusat Statistik (BPS) 2008 menyebutkan bahwa hanya 27,6 persen sekolah dasar di tanah air yang memiliki perpustakaan. Kenapa tidak, boro-boro mendirikan perpustakaan, gedung sekolah saja sudah banyak yang rusak, lapuk bahkan ambruk.

Inilah realita pendidikan kita saat ini. Perlunya sebuah perpustakaan sering kali luput dari perhatian. Padahal perpisahan merupakan satu variabel yang sangat menentukan terhadap pencapaian dan peningkatan kualitas pendidikan.

Syihabuddin Qalyubi, salah satu peneliti di Pusat Pembinaan Perpustakaan Departemen Pendidikan Nasional, mengemukakan bahwa minimnya perpustakaan di Indonesia, terutama di taraf pendidikan dasar dan menengah disebabkan oleh 1) banyak sekolah yang menyelenggarakan perpustakaan 2) keberadaan dan kegiatan perpustakaan sangat tergantung kepada sikap kepala sekolah 3) kebanyakan perpustakaan tidak memiliki pengelola tetap (pustakawan) 4) pekerjaan di perpustakaan masih dianggap sebagian kalangan sebagai pekerjaan yang kurang menarik dan terhormat 5) koleksi perpustakaan sekolah umumnya kurang bermutu dan 6) dana yang dialokasikan untuk perpustakaan sangat terbatas (Kompas, 2//6/2008).

Belum memadainya kondisi dan pelayanan perpustakaan di Indonesia tentu berpengaruh terhadap minat baca masyarakat terutama kalangan pelajar. Masyarakat kita ini cenderung memilih menonton televisi daripada membaca. Rendahnya minat baca juga tak luput dari makin mahalnya harga buku. Walaupun akhir-akhir ini bazaar buku mulai ramai, namun intensitas dan lokasinya belum sepenuhnya memuaskan penikmat dan kolektor buku.

Dewasa ini, masyarakat semakin dimanja tayangan-tayangan hiburan di televisi. Tayangan televisi memaksimalkan hiburan, namun terkesan meminimalkan pendidikan terhadap pemirsa. Dengan penyajian yang lebih professional dan menghibur, tak bisa disangkal kalau televisi telah memagnet animo masyarakat, terutama kaum ibu dan remaja. Walau sesungguhnya secara tak langsung pemirsa telah banyak dibohongi dan dininabobokan televisi. Bagaimana tidak, tayangan hiburan seperti sinetron melulu topiknya konflik, kemewahan dan cinta yang sering jauh dari kenyataan. Hal ini juga telah menyebabkan generasi muda Indonesia sekadar bangsa pemimpi tanpa berusaha meraihnya.

Kebanyakan Nonton Televisi

Dengan kebanyakan menonton televisi, otomatis masyarakat menjadi lemah dalam budaya baca. Lemahnya minat baca juga tentu mempengaruhi daya kritis dan pola pikir. Karena dengan membaca kita dapat menambah pengetahuan dan dan memunculkan ide-ide serta memperluas wawasan.

Di kalangan pelajar atau mahasiswa, membaca sudah merupakan tuntutan dan mutlak. Pelajaran yang didapat di dalam kelas sesungguhnya sudah tidak memadai lagi dalam mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Padahal tidak semua pelajar mampu untuk mengikuti private less ataupun untuk mencari les belajar tambahan di luar jam sekolah. Alasannya masih sangat klasik yaitu ketidakmampuan ekonomi masyarakat secara umum. Oleh karena itu, mengefektifkan perpustakaan merupakan solusi dalam meningkatkan minat baca. Gedung perpustakaan yang representatif, koleksi buku yang memadai dan pelayanan pustakawan yang professional akan dapat menarik animo atau minat baca masyarakat terutama pelajar. Masyarakat akan merasa nyaman di perpustakaan bahkan menjadikannya sebagai rumah kedua.

Keberadaan perpustakaan dapat berfungsi ekonomis karena masyarakat dapat membaca tanpa mengeluarkan biaya. Semakin lama, kemudahan dalam mengakses dan mendapatkan buku dengan sendirinya akan menimbulkan kecintaan membaca. Pemanfaatan perpustakaan bagi pelajar akan dapat memperkaya pengalaman belajar serta mampu menanamkan kebiasaan belajar sendiri. Keberadaan perpustakaan yang dikelola secara professional juga diharapkan dapat menginternalisasika n berbagai dimensi nilai. Sehingga aspek edukatif dan kreatif yang merupakan orientasi berdirinya perpustakaan dapat terwujud.

Bila ini terjadi, masyarakat sudah dapat lebih mandiri dalam bernivasi dan mengembangkan ilmu pengetahuannya. Tidak terbatas seperti program-program yang ditawarkan televisi yang hanya sekadar melintas dalam ingatan kita. Berbeda dengan membaca dimana kita dapat mengulangi dan mengulanginya kembali hingga kita merasa benar-benar merasa paham.

Dengan pembangunan dan pengelolaan perpustakaan yang baik, maka generasi muda yang menjadi pemegang tongkat estafet kepemimpinan bangsa ini diharapkan menjadi generasi gemar membaca dan mampu menjadi generasi intelek, berdedikasi dan kritis.***

(Penulis Dosen Akademi Akuntansi Profesional Indonesia (AAPI) Medan. Analis Hukum Center of Law and Democracy Studies (CLDS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

November 2009
M S S R K J S
« Okt   Des »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: