Dildaar80's Weblog

Kritik Untuk MUI

Posted on: 6 Oktober 2009


Pembaca yang saya hormati, seorang yang menamakan dirinya ‘Pelanglang’ di polikana.com pada hari Sabtu, 3 Okt ’09 pukul 03:53 menyampaikan artikelnya sebagai kritik terhadap MUI dan pihak-pihak yang mengaitkan bencana gempa di Sumbar dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh rakyat Sumbar.

Saya tidak sepenuhnya menolak semua opininya walaupun tidak juga sepenuhnya menerima. Inti atau benang merah yang dapat kita ambil dalam artikelnya ialah adalah lebih baik membantu korban bencana alam daripada menyalahkan mereka atas ‘dosa-dosa’ yang telah mereka lakukan sebagai penyebab bencana. Saya yakin dengan berjalannya waktu ada saat yang tepat dan mengesankan bila cobaan bencana tersebut dimaknai secara relijius dan itu bukan ketika mereka sedang membutuhkan bantuan materi/fisik.

Pertama-tama, ucapan duka cita dan bela sungkawa mendalam saya untuk semua saudara-saudara di Sumatra Barat, tak peduli agama, suku, ras, ataupun partai politiknya.

Apapun yang bisa diberikan, seminimal apapun, niscaya akan meringankan beban saudara-saudara kita. Jikapun tidak ada harta berharga, sekedar doa tulus sudah cukup mampu untuk melapangkan. Pun itu tidak, setidaknya kita mesti menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar yang justru menyakiti para korban.

Coba simaklah petikan komentar Ketua MUI Sumut ini (liputan lengkap bisa dilihat disini):

Komentar pertama: Namun, musibah gempa itu juga bisa berarti peringatan karena banyaknya maksiat atau perilaku masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan agama. Untuk itu, selain bersabar, warga Sumbar yang mengalami musibah gempa tersebut juga harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT karena mungkin banyak melakukan kesalahan.

Absurditas komentar pertama:

Bagi orang yang percaya Tuhan, tak dielakkan semua peristiwa pasti akan menjadi bagian atas kehendak dariNya, termasuk gempa di Sumbar. Tapi dengan menyimpulkan bahwa peristiwa ini sebagai bentuk atas peringatan (baca: hukuman) karena banyaknya maksiat ini sudah terlalu jauh. Komentar ini seakan menempatkan komentator sebagai seorang yang mengetahui kehendak Tuhan. Menutup kemungkinan bahwa Tuhan mungkin saja punya niatan lain yang tidak mesti ditafsirkan sebagai hukuman.

Komentar ini justru mengarahkan pada tindakan “blame the victims”. Korban yang sudah menderita disalahkan lagi sebagai penyebab turunnya bencana. Jadi alih-alih bersimpati, sang komentator berpendapat bahwa korban memang layak mendapatkan penderitaan itu karena perbuatan maksiat yang telah dilakukannya. Apa benar demikian?

Bagaimana dengan negara seperti Jepang. Biarpun banyak gempa, kenapa korban yang jatuh tidak sebanyak yang di Indonesia? Ya karena gempa memang sebuah fenomena alam normal. Korban minimal karena usaha preventif mereka lebih baik dari Indonesia. Itu saja.

Komentar kedua: Selain itu, musibah tersebut juga peringatan untuk pemerintah agar lebih giat memberantas maksiat dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. “Pemerintah harus sadar, banyaknya tempat maksiat justru mengundang bala bagi daerah itu,” katanya.

Absurditas komentar kedua:

Ini komentar tidak nyambung, seakan-akan jika maksiat tidak ada, maka gempa tidak akan terjadi. Maksiat (korupsi, manipulasi, birokrasi tak efisien, dll) pada satu sisi memang mesti diberantas, tapi menghubungkan musibah dengan banyaknya maksiat, it’s nonsense.

Getaran gempa sebagai suatu fenomena alam, itu tidak membunuh (kecuali diiringi tsunami). Yang membunuh adalah struktur bangunan yang tidak dapat menahan guncangan gempa. Artinya, untuk terhindar dari dampak gempa (bencana), asal konstruksi bangunan dibuat tahan gempa, maka korban bisa diminimalkan. Jadi bukan dengan kegiatan pemberantasan maksiat.

Pernyataan bahwa pemerintah harus sadar, banyaknya tempat maksiat justru mengundang bala bagi daerah itu, ini jelas pernyataan tak berdasar. Apa buktinya? Secara natural, Indonesia memang terletak di jalur gempa. Mau ada maksiat atau tidak, gempa tetap punya peluang besar untuk terjadi.

Mudah-mudahan bencana tidak lagi sering mampir di Indonesia. Semoga usaha meminimalkan dampak bencana juga bisa dilakukan semakin baik dan terencana. Tak ingin lagi melihat begitu banyak airmata dari mereka yang kehilangan orang-orang yang dikasihinya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: