Dildaar80's Weblog

Perjalanan ke Sumbar

Posted on: 3 Oktober 2009


RantauNet@googlegro ups.com>; Forahmi; FPK
Subject: [Forum-Pembaca- KOMPAS] Laporan Hari ke3

Karena baru datang hari ini, laporan ini dinamakan Laporan Hari ke3.

Sebelumnya, saya sedikit “membela” Pemda Sumbar dlm acara SUN TV pd Kamis mlm. Dan saya cabut kembali pernyataan itu. Memang, setahun lalu saya dengar Gamawan Fauzi bicara dlm acara SSM tentang antisipasi gempa, tsunami, dll. Fauzi Bahar juga sudah mengadakan simulasi gempa dan tsunami.

Kenyataannya tdklah begitu. Pas pesawat kami landing di BIM, tdk ada posko gempa di BIM. Tdk terlihat Sumbar adalah wilayah gempa terbesar, 7,9 skala ritcher. Yg ada adalah sopir2 taxy menawarkan diri. Saya beruntung krn rata2 mereka sudah kenal dgn wajah sy, hingga mrk hanya mengajak bersalaman.

Kargo kami dibongkar di anggar kargo. Ada pasukan TNI di sana dan relawan gempa dari Jepang. Saya juga bertemu relawan PMI dan sempat bersalaman dgn Marie Muhammad. Terus terang, saya “kasihan” kpd Ketua PMI itu, tapi juga trenyuh dgn ketidakmauannya utk mempercayakan tugas2 berat PMI kpd org2 yg lbh muda dan segar. Kargo kami, dari Sahabat Muda — dlm pilpres adalah relawan JK-Wiranto, dari pihak keluarga– ada dua truk sedang bak terbuka. Tanda terima dgn petugas bandara dibuat di dgn tulisan tangan. Satu tenda darurat HIPMI, terangkut oleh PMI, krn memang tdk dititipkan ke sy.

Ada bbrp dokter, konseling, dan relawan yg di pesawat. Mrk tdk tahu harus kemana. Sebagian akan langsung lapotr ke Sarkotlak Bencana. Sebagian mau ikut sy, tapi sy mengatakan tdk tahu juga info lapangan. Sempat jumpa dan ngobrol dgn Gubernur Alex Noerdin dan Kapolda Sumsel, sebelum mrk pergi.

Sy bergerak dgn 2 mbl truk dan 1 mbl APV, langsung menuju Kampung Dalam. Rencananya mau dibongkat dulu di Padang, krn ada satu gudang yg sudah disiapkan tim sy di lapangan. Tapi truk sudah mengarah ke Pariaman, jadinya saya ikuti. Sy singgah di Buayan yg dulu pernah jadi posko cabang IJP 09 Center. Dapurnya roboh, tetapi scr umum desa Buayan, kec Batang Anai, selamat.

Bergerak ke Lubuk Alung. Kabarnya pasarnya rusak berat. Tapi bangunan ruko2 baru di jln by pass utuh dan bagus. mungkin pas dibangun diawasi langsung oleh pemiliknya.

Lewat Kec Sintuk Toboh Gadang, Kec Nan Sabaris, Ulakan Tapakis, dll. Sudah mulai byk rumah2 rusak, dari ringan, sedang, berat, sampai rata dgn tanah. Ada tulisan2 di jalan: posko bencana, tapi tdk ada org.

Lewat Pasar Kurai Taji yg rusak berat, serta rumah2 yg rusak dan runtuh. Inilah kawasan Pariaman Selatan. Termasuk parah. Mau lewat by pass di pariaman tengah, macet, krn antre bbm di pom bensin. Balik, lewat kantor walikota baru yg rusak berat atau sedang, lalu ke pariaman tengah. Kondisi juga rusak: ringan sampai berat.

Pariaman Utara lebh baik. Tdk byk kerusakan berarti. Kecuali Naras. Masuk ke Simpang 4 Toboh arah Kampung Dalam, pemandangan gempa mulai merata: air yg mengalir melewati rumah, tenda2 darurat, rmh rubuh dan rusak berat, posko2 di sepanjang jln. Pemandangan ini tdk berhenti di seluruh kawasan Kec V Koto Kampung Dalam: Campago, Pasar Pariaman, Tandikat, Padang Manis. Di sini, satu truk berhenti. Logistik masuk ke sebuah kamar, lalu dikunci. Kunci dipegang Muhardi, tmnku waktu SMA. Besok mau didistribusikan, setelah dimasukkan ke kantong2 plastik. Pesannya 1: berikan ke sebanyak mungkin org atau kepala rumah tangga, walau hanya mendapat 1 buah susu Ultra.

sempat bicara dgn bbrp org, minum, ditraktir malam sama yg bawa mobil. 90 persen rumah rusak, dlm arti hanya 10 persen yg bisa dihuni.

Satu truk pergi ke kawasan tempat tinggal saya, seberang sungai yang menguning — dulu jernih –. Lalu, ditaruh di Pos Pemuda. Disiplin berlaku disini: semua rumah harus dapat. Akhirnya dibagikan, tanpa harus pakai kupon, krn org saling kenal mengenal. Bbrp “pejabat” sy lihat agak masam mukanya, krn cara distribusi itu tdk lwt mrk.

Truk2 itu sempat distop, tmsk oleh tentara. Tapi krn mrk mengenal siapa yg di dlm mbl, tdk jadi distop atau dipaksa utk membongkar sembarangan, apalagi dijarah. Satu kardus yg jatuh, malah diantar naik motor oleh org.

Rmh ayah dan ibu sy rusak berat, oleng, tdk bisa ditinggali. Rmh2 yg lain rata dgn tanah atau rusak berat. Hanya satu rumah baru tetangga sy yg utuh: disanalah kami makan siang, eh, sore, dgn membawa ikan yg dibeli di sebuah kedai. Kami tentu menyeberangi sungai. Kaki sy sudah terbiasa “melihat” dlm air dan gelap, hingga tahu mana air dlm, mana air dangkal, walau warna air kuning atau jlnan gelap mlm2.

Usai sholat, kami langsung bergerak lagi ke seberang, kembali ke arah semula, pergi ke sungai janiah, basung, kampung tanjung, tigo jerong, kampung pauah, kampuang apar, dll. Di beberapa titik, turun, berdiskusi dgn byk org, kadang dgn nada marah. Sy terpaksa turun berkali2, krn tdk enak hati, pas org2 melihat ada sy di mbl.

Di Talau, bertemu dgn 3 wali korong, melihat lokasi longsor. Masih ada 2 mayat tertimbun. Mrk butuh mesin raksasa pengeruk batu dan lumpur, butun sinsaw utk memotong pohon2 kelapa, dll, agar bisa menemukan ke2 mayat itu. Tokoh masyarakatnya menangis minta tolong, krn yg tertimbun saudaranya. Spt biasa, mrk menggunakan bahasa kelas tinggi ke saya: “Ponakan tentu paham apa yg ada di perut Mamak. Mamak tdk perlu keluarkan, karena malu. Kami sudah bekerja, tapi apa daya, kami tdk bisa memindahkan bukit yg longsor itu dgn tangan.” Dll. Dll.

Di titik2 pemberhentian itu, sy lohat ibu2 sedang memasak, krn sudah mlm. Mrk menghuni tenda2 darurat. Dgn bermodal suara, sy jg datangi rmh2 pakai lilin yg keluarga2nya duduk di teras, krn rmh sudh hancur. Ada yg sedang makan, ada yg sedang menerima dunsanak2 yg sudah tiba dari arah Pekanbaru dan Jambi.

Juga sempat jumpa wali nagari dan satu anggota DPRD. Mrk sibuk dgn catatan di tangan. Terlihat sekali ketegangan. Di Marunggi, Pariaman Selatan, jumpa dgn kepala desanya, serta ibu2 yg sudah mulai tidur di teras atau halaman rumah. Gelap gulita, bermodal lilin dan bintang2 di langit.

Sebelumnya makan pecel ayam di rumah makan dpn ktr walikota. 1 dari 2 rmh makan yg buka pakai genset. Rata2 yg makan keluarga2 berpunya, mungkin orang rantau, atau relawan2 pakai seragam. Juga ada wartawan Metro TV.

Sempat juga jadi polisi lalu lintas di simpang 4 toboh, krn mbl macet di pom bensin. Kedua bahu jln dimasukin di satu jalur. Bbrp org sopir bersalaman, krn kenal, juga yg membawa motor. Ada yg tertawa dan berteriak2 memanggil. “Pejabat” nagari yg naik mtr, lalu datangi sy, malah ngajak ngobrol, ngomong pileg, pilpres, pilkada, munas, dll. Tipe yg tdk sy sukai: “Saya tdk paham semua itu. Lbh baik mikirin gempa ini,” kata sy.

Bbrp titik kemacetan lagi bertemu. Pas masuk kota padang, pom bensin sudah mulai sepi. Isi bensin jam 00.30. Listrik menunggu di Padang. Semula dikira genset oleh yg punya mbl dan sekalogus sopir kami dan sekaligus yg punya toko grosir yg sama kami sejak mendarat. Nyatanya: listrik PLN. Alhamdulillah.

Kami tidur di rmh saudaranya. Ketika sy menulis ini, nyamuk2 menghirup darah sy di tangan dan kaki. Nyamuk2 yg lapar krn gempa juga, mungkin.

Yg jelas, dari yg sy lihat, dengar, amati: gempa ini dahsyat. Dahsyat daya rusaknya. Dahsyat dlm menunjukkan kinerja manusia. Dahsyat dlm penyajian lwt TV: yg masih fokus ke satu dan dua titik saja. Dahsyat dlm kesemrawutan dan kebingungan.

Mudah2an, besok gempa bumi ini dahsyat dlm hal kepedulian: peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Selamat mlm. Sy minum sebutir decolsin sblm menulis ini.

Padang, 3 Oktober, pukul 3 pagi.
Indra Jaya Piliang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: