Dildaar80's Weblog

Kebutuhan Mendesak Korban Gempa Sumbar

Posted on: 3 Oktober 2009


Terus terang, ini soal sulit. Tim kecil sy baru sempat melihat, blm bisa mencatat. Setiap org punya catatan, tetapi catatan mana yg benar, sy blm yakin.

1. Dari Haji Lambau, kawan sy, pengusaha ternak: dia mengatakan beras habis. Dia usahakan membeli beras ke Solok, pakai truknya. Blm ada kabar. Masyarakat membutuhkan beras, krn hampir seluruh pasar hancur. Kalau barang2 kelontong masih mudah ditemukan, dijual di toko2 yg rusak ringan. Selain beras, tentu semua yg terkait beras dan dapur. Biar makanan tersaji agak lengkap. Kalau tukang masak, tdk perlu khawatir, krn semua ibu di Minang bisa memasak. Kompor juga masih bisa dipakai. Mungkin nanti minyak tanah atau gas yg langka. Makan, makan, dan makan, itu yg diperlukan dlm bbrp hari ini.

2. Dokter dan obat2an. Nah, ini susah2 sulit. Knp? Tdk semua tempat ada yg luka atau meninggal. Seorg ibu bercerita ke sy bhw ada neneknya yg butuh bantuan dokter, krn neneknya tdk mungkin dibawa ke kawasan yg ada puskesmasnya. Tinggal di bukit. Ada juga korban patah tulang pergi ke tempat2 pengobatan tradisional. Jadi, kalau ada dokter dan obat: HARUS JELI MENCARI KORBAN. Tdk byk yg benar2 punya informasi spt ini, kecuali kalau tenda kuning sudah berdiri: korbannya meninggal.

3. Relawan. Sy bukan anti relawan. Sampai skrg, ada satu tim relawan yg tlp sy, mrk ada di balaikota. Bukan apa2: sy khawatir mrk tdk bisa berbuat apa2. Scr psikologis, mrk tentu butuh penyesuaian diri. Korban gempa beda dgn tsunami Aceh. Di Aceh, byk mayat harus diangkat. Di Sumbar, puing2pun tdk bisa diangkat pakai tangan, juga batu2 besar, pohon kelapa, apalagi utk mengalirkan air sungai yg terbendung longsor. Jadi, lupakan pengalaman Aceh, krn sy juga dulu kesana. Bayangkan saja kondisi ini: yg luka sedikit, di areal diluar Padang, semua org bisa bekerja, tetapi tdk tahu mengerjakan apa. Bagi sy, relawan yg dibutuhkan adalah yg bisa mengorganisasi massa, menyusun rencana dlm hari2 ke dpn, membuat coretan2 di posko2 mrk, memberikan kemungkinan2 tugas yg harus dilakukan. Organisatoris lbh tepat dibutuhkan, ketimbang relawan yg ikhlas bekerja dgn tangan. Kalaupun ada tim relawan, usahakan memberikan contoh kpd masyarakat yg masih kebingungan: apa rumah harus dirobohkan? Knp dirobohkan? Apa yg pertama perlu dibangun dulu.

4. Insiyur teknik sipil dan arsitek diperlukan. Ya, alumni sekolah2 teknis. Ini kebutuhan terbesar dlm minggu2 dpn. Menyusun kerangka bangunan, memprediksikan kebutuhan bahan, mulai membangun. Kebutuhan peralatan pertukangan, semen, paku, dllnya, ke depan akan semakin meningkat. Juga alat2 penghancur rmh2 yg rusak berat, tapi masih berdiri tdk bisa dihuni. Dulu sy bercita2 menjadi insinyur, kini sy bermimpi byk insiyur yg turun ke lapangan dgn seluruh kegagahan dan peralatan lapangannya.

5. Tenda. Ini kebutuhan besar, sebelum pondok2 derita berdiri. Pergilah ke pedalaman, usahakan jalan kaki dulu, siap2 dgn sepatu bot dan tongkat, lewati tanah2 berlumpur dan kayu2 malang melintang. Byk jalan2 kabupaten dan kecamatan yg tertimbun: oleh rumah yg diseret arus longsor, oleh pohon2 tumbang, oleh batu2 besar. Jangkau rumah2 penduduk yg biasanya berkelompok2, rumah2 kaum, saling berjauhan. Kmrn, ada helikopter Australia yg keliling2, lalu singgah di area yg sulit dijangkau, tapi parah. Sy yakin, mrk adalah pers asing, krn data mrk di pemberitaan luar negeri terbaca lbh akurat, daripada berita lokal. Jmlh korban yg mrk tulis lbh besar dari yg dlm negeri, terutama bagi wartawan yg mungkin masih menulis PERNYATAAN, bukan KENYATAAN.

6. Kondisi jalanan sudah mulai penuh kendaraan. Akibatnya, mungkin, adalah kehausan akan BBM. Akibatnya, mungkin, adalah kendaraan org2 yg benar2 bekerja utk kemanusiaan, akan harus antri berjam2 bersama dgn kendaraan org2 yg ingin wisata bencana. Sy kira harus ada pom bensin khusus utk para petugas lapangan ini yg berbeda dgn pom bensin umum yg macet berjam2 itu. Kendaraan dari JKT dan Bandung sudah masuk, hari ini kendaraan dari Semarang dan Surabaya mungkin juga masuk.

Lubuk Buaya, pagi ini, pukul 8.30. Rombongan JK sudah menuju Pariaman. Sy memutuskan utk istirahat saja, menunggu kalau ada logistik yg bisa diambil nanti dari Hercules, daripada harus hadapi penjagaan ekstra ketat yg biasa dilakukan petugas2 penting lapangan: ” kami mengawal wapres”, kata mrk, sambil cekikikan di tlp, spt yg sy saksikan sering sekali dlm setahun ini.

Indra Jaya Piliang
Berani beda, berani benar, berani pulang

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: