Dildaar80's Weblog

Hukuman Rajam dalam perbandingan

Posted on: 24 September 2009


Bagi kristen sebagai agama mungkin iya, tapi bagi yesus jelas tidak. Ia justru seorang perintis gerakan abolisionis. pada saat itu butuh keberanian luar biasa untuk menentang prinsip “oog om oog, tand om tand” (mata ganti mata, gigi ganti gigi) sebagai prinsip utama tujuan pemidanaan, yang salah satunya bentuknya ialah rajam. untuk mengetahui lebih jelas pandangan yesus terhadap hukuman rajam silahkan baca Yohanes 8 : 1 – 11 berikut ini :

8:1. tetapi Yesus pergi ke bukit Zaitun.
8:2 Pagi-pagi benar Ia berada lagi di Bait Allah, dan seluruh rakyat datang kepada-Nya. Ia duduk dan mengajar mereka.
8:3 Maka ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi membawa kepada-Nya seorang perempuan yang kedapatan berbuat zinah.
8:4 Mereka menempatkan perempuan itu di tengah-tengah lalu berkata kepada Yesus: “Rabi, perempuan ini tertangkap basah ketika ia sedang berbuat zinah.
8:5 Musa dalam hukum Taurat memerintahkan kita untuk melempari perempuan-perempuan yang demikian. Apakah pendapat-Mu tentang hal itu?”
8:6 Mereka mengatakan hal itu untuk mencobai Dia, supaya mereka memperoleh sesuatu untuk menyalahkan- Nya. Tetapi Yesus membungkuk lalu menulis dengan jari-Nya di tanah.
8:7 Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.”
8:8 Lalu Ia membungkuk pula dan menulis di tanah.
8:9 Tetapi setelah mereka mendengar perkataan itu, pergilah mereka seorang demi seorang, mulai dari yang tertua. Akhirnya tinggallah Yesus seorang diri dengan perempuan itu yang tetap di tempatnya.
8:10 Lalu Yesus bangkit berdiri dan berkata kepadanya: “Hai perempuan, di manakah mereka? Tidak adakah seorang yang menghukum engkau?”
8:11 Jawabnya: “Tidak ada, Tuhan.” Lalu kata Yesus: “Akupun tidak menghukum engkau. Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.”

• hukuman rajam bukan hukuman milik yahudi saja. banyak bukti yang menunjukan bahwa hukuman mati termasuk rajam juga berlaku ditempat atau pada kelompok masyarakat lain.. Kodeks hammurabi, kodeks Hittite dan kodeks drakonia merupakan dokumen yang membuktikan bahwa proposisi di atas keliru.
• hukuman rajam adalah bentuk penghukuman yang kejam, tidak manusiawi atau merendahkan martabat manusia yang harus ditolak tanpa harus repot mencari dasar argumentasi penolakan yang bersumber dari teks kitab suci agama-agama.

Tommy Albert Tobing
Public Defender
The Jakarta Legal Aid Institute (LBH Jakarta)
Jl. Diponegoro No. 74 Jakarta Indonesia
Phone:+6221- 3145518 Fax:+6221-3912377
Website: http://www.bantuanhukum. org

Assalamu’alaikum,

Hukum rajam (stoned to death) adalah hukum (Syari’at) milik kaum
Yahudi dan sejak zaman dulu sudah diterapkan oleh kaum Yahudi.

Bagi pelaku perzinahan diberlakukan hukuman mati (Imamat 20:10-20) dan rajam sampai mati (Ulangan 22:22-24) dan bahkan setelahnya ratusan tahun kemudian dalam era Hadhrat Yesus a.s., beliau juga menyetujui hukuman bagi penzinah adalah rajam sampai mati (Yohanes 8:3-5).

Lebih lanjut kita lihat dalam Ensiklopedi Perjanjian Baru, Penerbit
Kanisius Yogyakarta, buah tangan Xavier Leon-Dufour, hal. 613 menyebutkan:

“Zinah, yaitu hubungan seksual antara laki-laki (yang sudah atau belum
beristri) dengan perempuan yang sudah bersuami dilarang oleh Hukum,
sebab hubungan yang demikian memperkosa hak milik suami terhadap
istrinya. Kedua pelaku zinah harus dihukum mati, biasanya dirajam oleh
seluruh masyarakat, sebab pelanggaran itu menodai seluruh masyarakat. Apa yang dahulu berlaku bagi perempuan saja, oleh Yesus dinyatakan sebagai hal yang berlaku bagi laki-laki pula …”

Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa hukum rajam sampai mati bagi
pelaku perzinahan sesungguhnya sesuai ajaran agama mereka masih tetap berlaku bagi kaum Yahudi dan Kristen.

Namun bagi sebagian kalangan Yahudi dan Kristen yang gemar dan suka mendiskreditkan Islam dan Nabi Muhammad SAW sering mengatakan bahwa hukum rajam yang pada zaman ini dan masih diterapkan oleh sebagian umat Islam merupakan warisan Islam. Pendapat seperti itu tidak benar, karena sesungguhnya hukum rajam sampai mati adalah berasal dari Bible.

Al-Qur’an Karim, sebagai sumber hukum yang tertinggi, telah final
menetapkan bahwa hukuman bagi perzinahan adalah DERA (24:2-5) dan
tidak pernah ditemukan hukuman rajam bagi pelaku zinah dalam
Al-Qur’an. Dan, Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang menerima taubat dan perbaikan diri atas orang yang melakukan perzinahan (24:5).

Jadi, tidak relevan lagi jika hukum rajam (lempar batu sampai
mati/stoned to death) bagi kasus perzinahan masih dianggap sebagai
bagian dari ajaran Islam, dan kemudian diterapkan pada zaman ini oleh
beberapa golongan Islam yang bercita-cita ingin mengubah suatu negara dengan syari’at versi mereka dan menerapkan kembali seutuhkan hukum rajam (atau hukum lainnya), yang justru bertentangan dengan al-Qur’an Karim.

Salam,
MAS (Muhammad Arya suryawan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

September 2009
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: