Dildaar80's Weblog

Puasa dan pentingnya sahur

Posted on: 11 September 2009


Soal/pertanyaan IV: Bagaimanakah bentuk puasa agama Islam?

Jawab: Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menjelaskan bentuk puasa dalam agama Islam sebagai berikut:
“Bentuk puasa dalam agama Islam adalah demikian: bahwa setiap orang baligh dan berakal terkena perntah puasa selama sebulan….bentuk puasa itu ialah seorang tak boleh makan-minum walaupun sedikit sejak fajar tiba sampai matahari terbenam dan tak boleh menaruh perhatian pda masalah perhubungan khusus suami-istri. Hendaknya orang makan sebelum fajar agar [ada jasmaninya tak tertimpa beban yang berlebihan. Dan orang itu hendaknya berbuka setelah terbenamnya matahari” (Tafsir Kabir Surah al-Baqoroh hl. 373-374)

Soal/pertanyaan V:
Apakah niat itu ‘penting’ untuk berpuasa?

Jawab; Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad menyatakan bahwa: “Niat adalah penting untuk berpuasa. Tanpa niat maka tak ada pahalanya. Niat adalah nama dari iradah (kehendak) hati.” (Al-Fadhl, 28 Juli 1914)
Sampai saat munculnya garis putih yang terbentang dari utara ke selatan di dinihari pda ufuk timur maka boleh makan-minum. Kalau seseorang telah berhati-hati dalam penetapan wakatu untuk makan sahur tapi kemudian ada yang mengatakan bahwa saat dia makan sahur itu garis putih telah muncul, maka puasa orang itu dapat diteruskan. ‘Waktu makan sahur’ Nabi Muhammad s.a.w. dan waktu sholat (subuh) ditengarai oleh waktu kira-kira selama pembacaan 50 ayat Al-Quran.
Kata-kata hadits itu sebagai berikut:
‘an zaid ibni tsaabit qoola tasaharnaa ma’a rosulillaahi shollolloohu ‘alaihi wa sallam tsumma qumnaa ilash sholaati qoola qultu kam kaana qodru dzaalika qoola khomsiina ayah (Tirmidzi abwaabush shoumi ma jaa-a fii ta-khiiris sahuur)
“Dari Zaid ibni Tsabit ia berkata: ‘Kami makan sahur bersama Rasulullah s.a.w. kemudian kami berdiri untuk sholat. Orang yang mendengar berkata: “saya menanyakan, berapa lama jaraknya?” ia menjawab: “sekitar lima puluh ayat”’ (Turmudzi bab-bab mengenai puasa pembahasan tentang takhir/mengakhirkan makan sahur)
Seorang yang tidur dari pagi sampai sore tanpa makan-minum, atau karena sibuknya bekerja lupa makan-minum, maka keadaan lapar orang seperti itu tak dapat dianggap puasa karena tak ada sama sekali niatnya untuk berpuasa, dan kelaparannya itu tak dimaksudkannya sebagai puasa.

Soal/pertanyaan VII:
Seorang telah berniat untk puasa nafal, tetapi tidak sempat makan sahur, maka bolehkah/mestikah dia berpuasa?
Seorang pada bulan Romadhon, sakit di waktu malam. Dan ketika waktu sahur, kesehatannya telah pulih, maka mustikah/bolehkah dia berpuasa?

Jawab:
Makan sahur adalah sunnah. Tidak harus atau wajib. Maka kalau ada orang yang tidak sempat makan sahur, maka dia dapat berpuasa. Jadi tidak benar puasanya itu tidak sah.
Kalau pada waktu sahur, kesehatannya dalam keadaan baik, maka mesti berpuasa. Maksud dari ‘niat puasa di malam hari’ ialah bahwa hendaknya sebelum fajar, seorang supaya bertekad puasa.

Soal/pertanyaan VIII:
Apakah makan sahur itu penting/harus?

Jawab:
Berpuasa tanpa makan sahur, tak ada berkahnya. Namun kalau keharusan atau karena udzur, boleh berpuasa tanpa makan sahur.
Anas rodhiyalloohu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘tasahharuu fa inna fis sahuuri barokah.’ Shahihul Bukhori Kitabush Shoum “Hendaklah kamu sekalian makan sahur karena didalam makan sahur ada keberkatannya.”
‘as-sahuuru barokatun innallooha wa malaa-ikatahu yusholluuna ‘alal musahhiriin’
“Didalam makan sahur ada keberkatannya; Allah dan para malaikat-Nya mengirimkan kebaikan, keselamatan dan rahmat kepada orang-orang yang makan sahur.”

Soal/Pertanyaan IX:
Soal dari seseorang disampaikan kehadapan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalam yakni: “Saya berada di dalam rumah dan saya berkeyakinan pada waktu itu masih waktu untuk melaksanakan puasa; jadi, saya makan minum kemudian berniat puasa. Tapi kemudian, dari orang lain diketahui bahwa saat itu garis/benang putih fajar telah nampak. Sekarang apa yang harus saya lakukan?”

Jawab; Hadhrat Aqdas ‘alaihissalam menjawab:
“Dalam keadaan demikian, puasanya sah. Tak perlu menggantinya karena dia telah berhati-harti dan tak ada perubahan dalam niatnya.” (Al-Badr, 14-02 1907)

Iklan

1 Response to "Puasa dan pentingnya sahur"

jika saya bangun sebelum subuh, dan saya lupa kalo hari ini saya harus puasa karena saya sudah berkodrad puasa senin kamis sampai tujuan saya terwujud apa kah saya dapat melanjudkan puasa saya sedangkan jika kita tidak sahur maka puasa kita tidak bermakna di mata Allah SWT, apa yang saya harus lakukan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

September 2009
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Rating

Tweetku

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: