Dildaar80's Weblog

Perbedaan Antara Filosof dan Nabi

Posted on: 9 September 2009


Hubungan antara wahyu dengan sang penerima wahyu itu amatlah erat; dan kita tidak dapat berharap memahami yang satu tanpa memahami yang lain.

Seorang ahli filsafat dapat memisahkan sesuatu yang diucapkan dari siapa yang mengucapkannya dan merenungkan ucapan itu secara terpisah dari orang yang mengucapkannya. Suatu peribahasa Arab memandang sesuatu yang diucapkan seseorang adalah lebih penting daripada orang yang mengucapkannya; akan tetapi, sebagian besar manusia awam tidak membedakan dua hal itu dan memandang kedua-duanya sama penting. Berkenaan dengan kitab wahyu, rasanya penting sekali dalam mempelajari Kitab itu supaya memperhatikan kehidupan dan watak orang yang menerima Kitab dari Tuhan dan menyampaikannya kepada khalayak kaumnya itu.

Suatu ajaran agama yang bagaimana pun baik keterangannya, tidak akan diterima oleh suatu kaum jika mereka tidak terpikat oleh suatu tarikan pesona kepribadian yang kuat. Hal demikian adalah karena hukum syariat itu tujuannya lain dari hukum duniawi. Negara memerlukan faktor kemantapan dan ketertiban. Maka, diusahakannyalah mewujudkan kepatuhan lahir. Keperluan itu sudah memadai kalau dipenuhi oleh peraturan hukum yang menjamin perilaku lahir yang baik. Motif-motif tidak menjadi soal selama tidak ada penyimpangan-yang-tampak dari hukum.

Motif-motif jahat tidak dijatuhi hukuman oleh pengadilan mana pun selama motif-motif tidak menimbulkan tindakan jahat. Namun, dilihat dari segi agama, motif atau niat adalah sama pentingnya dengan perbuatan yang ditimbulkannya, bahkan lebih penting pula. Perbuatan pun penting karena merupakan gejala-gejala dan tanda-tanda dari niat yang tidak tampak. Akan tetapi, perbaikan dalam perbuatan-yang-tampak bukan jaminan adanya perbaikan pada niat-yang-tersembunyi. Kebalikannya, perbaikan dalam niat-yang-tidak-tampak merupakan jaminan perbaikan dalam perbuatan-perbuatan yang tampak.

Api tanpa panas adalah mustahil. Demikian pula kesucian hati adalah mustahil tanpa perbuatan yang suci. Kealpaan sementara atau kemalasan mungkin ada; tetapi, pada umumnya, kesucian hati pasti menjuruskan kepada perilaku suci. Kesucian hati dapat dipelihara dengan menyaksikan contoh yang kongkret. Peraturan hukum yang baik mengimbau pengertian dan pikiran sehat; tetapi contoh yang baik mengimbau motif dan perasaan kita.

Peraturan hukum yang baik membuat kita berpikir, tetapi contoh yang baik membangkit kita untuk berbuat. Jika pikiran menjadi halus, hal itu mungkin mengakibatkan sifat jasmani dan rohani kita jadi halus atau mungkin juga tidak. Yang ditimbulkan oleh pikiran halus hanya kelakuan baik yang sifatnya sementara – bukan yang tetap dan mantap. Perkara ini dapat digambarkan dengan perbedaan antara perbuatan baik yang biasa dilakukan terhadap orang lain dan perbuatan baik seorang ibu terhadap anaknya yang terbit dari naluri-naluri atau fitrat alami. Yang pertama, umumnya, timbul karena pertimbangan akal, sedang yang kedua terutama terbit dari perasaan. Perilaku yang bersumber pada akal tidak dapat menandingi perilaku yang bersumber pada perasaan atau pembawaan yang tumbuh dari perasaan.

Cinta dan kasih sayang seorang ibu terhadap anaknya bersumber pada perasaan atau pada pembawaan-pembawaan yang dibentuk oleh perasaan. Perhatian seorang ahli filsafat terhadap kesejahteraan tetangga timbul dari pertimbangan akal. Kelakuan berdasarkan pertimbangan akal itu tidak tetap atau tidak konsekuen; sebab pemikiran sering menemui kegagalan dan fakta-fakta yang timbul tidak selamanya dapat ditanggapi semuanya sebelum tindakan diperintahkan. Keraguan dan pertimbangan, dua buah inti semua perbuatan dari hasil pemikiran dapat menjadi berlarut-larut. Tetapi perbuatan yang bersumber pada perasaan atau kecenderungan yang terbentuk dari perasaan adalah spontan, tetap dan konsekuen. Seorang ibu mungkin nampak terlajak (berlebih-lebihan) dalam pengorbanan, tetapi imbauan akal tak akan dapat mencegah si ibu mengikuti jalan yang telah digariskan oleh alam. Jika anaknya ada dalam kesulitan, ia tidak akan diam dan termenung melainkan berbuat apa yang dikira baik untuk anaknya. Seluruh alam pikirannya akan tertuang ke situ. Oleh karena itu, agaknya, tema-tema tuntutan akhlak tidak akan berhasil, kecuali kalau manusia dapat diajari bertindak menurut pembawaan-pembawaan dan perasaan-perasaan yang berakar pada emosi-emosi dan dorongan-dorongan alami mereka. Jika panggilan untuk bertindak datang, maka sambutannya hendaklah tidak tertahan oleh pertimbangan-pertimbangan yang tidak-tidak, tetapi harus keluar dengan sendirinya dari dalam tiap individu dan tidak karena paksaan dari luar atas bisikan akal.

Memang harus diakui bahwa perasaan-perasaan itu biasanya diberi tempat kedua di belakang pertimbangan akal. Tetapi, ini adalah karena kita hanya memikirkan perasaan-perasaan yang tak terlatih atau tidak terpimpin. Kelakuan yang berhubungan dengan perasaan-perasaan itu hanya memperpendek atau menghilangkan jangka-waktu kebimbangan dan timbang-menimbang yang terjadi di antara panggilan (niatan) bertindak dan melakukan tindakan itu sendiri.

Penghapusan jarak itu sangat perlu, jika tindakan-tindakan harus cepat dan banyak. Seseorang yang terlalu banyak atau terlalu sering menimbang-nimbang akan membuang-buang waktu untuk bertindak. Tetapi seseorang yang menangkap suatu kebenaran dan menuangkan kebenaran itu dalam bentuk gerak rasa, tak pernah ragu-ragu untuk menyambut panggilan untuk bertindak. Orang semacam itu tak pernah terkalahkan oleh orang yang terlalu cenderung kepada pertimbangan-pertimbangan. Hasil kerjanya dua puluh kali lipat lebih dari pada yang dicapai oleh orang yang kedua tadi. Kespontanan menyambut dan kebiasaan mengikuti dorongan hati yang tiba-tiba, tidak mengurangi nilai perbuatan dan tindakannya. Sebab, sesungguhnya ia tidak berbuat atas dorongan hati yang bersifat sementara dan tiba-tiba datangnya; ia menimbang dan memperoleh pandangan yang dalam mengenai tujuan-tujuan dan cara pencapaiannya. Lalu, pendalaman ini dibuatnya menjadi bagian dari perasaannya sendiri.

Tindakannya spontan dan seolah-olah tanpa dipikir masak-masak, tetapi perbuatannya mempunyai dasar pemikiran dan merupakan hasil pertimbangan-pertimbangan. Hanya untuk dia, pertimbangan-pertimbangan sekali telah ditetapkannya tidak perlu diulang kaji. Pertimbangan yang berlebih-lebihan dan pertimbangan berulang-ulang tidak dapat disebut rasional. Karena itu, tiap-tiap upaya mengadakan islah(reformasi) secara besar-besaran atau mengadakan upaya memugar dunia harus menunggu bukan sampai ada kejelasan dan keyakinan intelektual, namun harus dikaitkan kepada emosi-emosi dan dorongan-dorongan yang hidup di dalam hati manusia. Kecemerlangan otak yang betapa pun sempurnanya tidak dapat membebaskan kita dari keragu-raguan, ialah, menyerap kebenaran dan kemudian meresapkan ke dalam watak dan kepribadian kita. Sesudah itu, kebenaran tidak lagi kita anggap sebagai sesuatu yang harus ditakuti atau dinikmati, melainkan berfungsi sebagai isyarat-isyarat dan penyuluh-penyuluh untuk mengadakan tindakan dan pencapaian.

Untuk orang awam asimilasi kebenaran-kebenaran ke dalam watak keseharian ini tidak mungkin terjadi kecuali kalau ada pengaruh contoh-contoh praktis. Penalaran mungkin merangsang pengertian kita, tetapi tidak dapat merangsang nilai kemampuan melupakan diri sendiri yang hanya dapat dilakukan oleh seorang tokoh yang menjadi contoh hidup. Kata-kata yang dipergunakan dalam doa-doa boleh jadi sangat tepat dan persuasif, namun tidak ada yang dapat lebih menciptakan kekhusukan yang diperlukan di dalam salat selain menyaksikan seseorang yang beribadah sedang larut dalam sembahyangnya.

Akan tetapi janganlah kita salah kaprah. Suatu contoh mungkin dapat menyesatkan dan juga berbahaya. Contoh harus diuji sebelum contoh itu dibiarkan mempengaruhi kita. Kalau contoh itu tidak diuji lebih dahulu dan ternyata memuaskan, maka meniru-niru contoh itu hanya akan menjadikan perseorangan-perseorangan dan masyarakat dikungkung oleh adat dan kebiasaan belaka.

Jadi apa yang kita perlukan adalah ajaran yang dapat dipahami oleh akal dan contoh praktis yang tidak bercacat. Kita bersyukur kepada Allah Taala bahwa Kitab-kitab yang diwahyukan oleh-Nya telah diturunkan kepada nabi-nabi dan tidak dijatuhkan dari atas. Kitab-kitab itu mengimbau pengertian kita dan nabi-nabi memikat hati kita. Oleh karena itu tidak mengherankan kalau nabi-nabi jauh lebih mengesankan kepada umat manusia dari pada para ahli filsafat, dan mereka berhasil sedangkan para ahli filsafat gagal.

Ahli-ahli filsafat berusaha menjernihkan alam pikiran kita namun tidak menjadikan kita pengikutnya dengan memperlihatkan contoh baik mereka. Akan tetapi, para nabi menempuh ikhtiar kedua-duanya. Para nabi merangsang akal kita lewat kitab-kitab mereka dan memikat hati kita dengan contoh pribadi mereka. Ajaran mereka yang tersurat menajamkan daya pengertian kita, sedangkan tanda-tanda keberadaan Allah Taala yang dapat kita saksikan dalam wujud mereka menimbulkan keyakinan, keimanan, dan semangat.

Dikutip dari buku ‘Pengantar Tafsir Al-Quran’ oleh HM Basyiruddin Mahmud Ahmad (1889- wafat pd tahun 1965-semoga Allah merahmati dan menerima semua amal dan cita2 beliau, aamiin), tokoh Islam India-Pakistan, sahabat Muhammad Ali Jinnah, pendiri Pakistan dan Muhammad Zafrullah Khan, menteri luar negeri Pakistan pertama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

September 2009
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: