Dildaar80's Weblog

Keutamaan Menyegerakan Berbuka

Posted on: 8 September 2009


Pertanyaan X: Kata ‘al-Lail’ dalam ayat al-Quranul karim ‘tsumma atimmush shiyaamu ilal lail’ artinya ‘maka sempurnakanlah/selesaikanlah puasa hingga malam’ apakah maksudnya dari segi loghat/bahasa? Dan bagaimanakah pelaksanaan bulan puasa oleh hadhrat rasulullah s.a.w.?
Jawab: Makna ‘lail’ menurut lughat/bahasa Arab ialah ‘waktu sejak tenggelamnya matahari hingga terbitnya’.

Tetapi berdasarkan sunnah mutawatiroh/tradisi turun-temurun dan ijma/kesepakatan amalan umat, jelas, dalam ayat ini tidak dimaksudkan ‘sepanjang malam’ tetapi adalah pada bagian tertentu dari waktu malam itu, dilaksanakannya buka puasa. Sekarang bila kita tela’ah/pelajari istilah-istilah Quraniyah untuk mendapatkan kejelasan tentang bagian waktu itu, maka ‘bagian waktu’ itu ialah pada waktu mulainya malam yakni pada saat terbenamnya matahari/. Karena mafhum/pengertian dari (ilaa/hingga) ialah ‘puasa dilakukan hingga datangnya malam’, dan ‘buka puasa’ dilakukan tepat di saat mulainya malam tersebut.

Dan hal ini didukung oleh hadits berikut ini: Hadhrat Rasulullah s.a.w. bersabda: “Idza aqbalal lailu wa adbaran nahaaru wa ghobatasy syamsu faqod afthorosh shooimu (Shahihul Bukhori kitabush shoum baab mataa afthoro ash-shooimu)
“Tetapi ketika malam tiba dan siang menghilang serta matahari telah terbenam, maka orang berpuasa mestilah berbuka.” (Shahihul Bukhori kitab tentang shoum/puasa bab bilakah orang berpuasa melakukan ifthar/buka) ‘Laa yazaalun naasu bi khoirin ma ‘ajjilul fithro’ (Bukhori baab ta’ajjalul ifthaar) “Selama orang-orang cepat berbuka puasa, maka selama itu mereka berada dalam keselamatan dan kebaikan’ (Shahihul Bukhori kitab tentang shoum/puasa bab menyegerakan berbuka puasa)

Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Rasulullah s.a.w. bersabda: ‘orang-orang Yahudi dan Nashara/nasrani suka melambat-lambatkan dalam membuka puasa, orang-orang Islam tidak boleh demikian” (Ibnu Maajah Kitabush shoum/kitab tentang puasa, bab tentang menyegerakan buka puasa)

Nabi Muhammad s.a.w. senantiasa berusaha untuk bersegera dalam berbuka puasa. Jadi demikianlah sunah mutawatiroh dan demikianlah amalan para ulama ahlus sunnah wal jama’ah.

Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad r.a. menulis dalam ‘Tafsir Kabir Surah al-Baqoroh: “Tsumma atimmushshiyaama ilallaili, di tempat ini yang dimaksud dengan ‘lail’ bukanlah gelap pekat, tapi hanya berarti waktu tenggelamnya matahari,…orang-orang yang perasaan syaknya terlalu besar, mula pertama mereka menantikan tenggelamnya matahari, tapi karena masih ada cahaya merah di ufuk, maka hati mereka tak tenteram sehingga mereka menunggu lebih lama lagi sampai menjadi gelap, dan barulah mereka berbuka puasa. Cara ini bertentangan dengan syariat. Allah ta’ala memerintahkan “atimmushshiyaama ilallaili” sedangkan makna dari ‘lail’ ialah sejak matahari terbenam hingga terbitnya kembali di ufuk timur. Hal ini bukanlah berarti bahwa berbuka puasa tak dapat dilakukan selama belum menjadi gelap pekat.”
Disadur dari surat edaran khusus JAI no.25 tanggal 22 Juni 1984

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

September 2009
M S S R K J S
« Agu   Okt »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: