Dildaar80's Weblog

Islam Bagi Wanita Modern

Posted on: 13 Juli 2009


Oleh: Mrs. Mansoora Hyder-Muneeb – UK

Penterjemah: A.Q.Khalid

Agama Islam sesungguhnya memang untuk wanita modern karena kaum wanita mengalami perwujudan eksistensi dengan turunnya agama Islam 1500 tahun yang lalu. Mungkin terdengar ajaib bagi anda bahwa melalui Islam-lah maka wanita bisa menjadi modern dan memperoleh hak-haknya, suatu hak yang masih diperjuangkan sebagian wanita di bagian lain dunia sampai saat ini.

Citra umum yang dikemukakan tentang wanita Muslim adalah gambaran dari kaum wanita yang tertekan, terpaksa menikah dengan orang yang bukan pilihannya, terbelenggu pada pengaturan dan keinginan suami serta keluarganya, tidak boleh mendapat pendidikan, tidak boleh mengemukakan pendapat, tidak boleh meninggalkan rumah tanpa menutup muka dan rias wajah sama sekali dilarang. Namun izinkan saya untuk menjernihkan pandangan ini karena citra tersebut bukanlah gambaran hakiki dari kaum wanita dalam Islam.

Apa yang menarik wanita kepada agama Islam adalah karena hanya agama ini saja yang benar-benar memberikan kesamaan hak dan kemerdekaan. Sejak dari zaman purba masa Yunani dan kerajaan Rumawi, wanita dianggap sebagai mahluk yang lebih rendah daripada laki-laki dan tidak memiliki kemerdekaan. Bahkan kaidah agama yang datang kemudian juga ternyata tidak memberi keringanan kepada wanita di masa itu seperti yang ditetapkan dalam kitab Kejadian 3:16: ‘Firman-Nya kepada perempuan itu: “Susah payahmu waktu mengandung akan Ku-buat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.”’

Sampai dengan abad keenam, kondisinya malah menurun dan bertambah buruk:

‘Di Arabia sebelum Islam dan di bagian dunia lainnya, kondisi wanita sama saja dengan budak belian atau sebagai benda milik yang tidak mempunyai hak. Wanita tidak bisa memiliki harta atau pun mewarisi kekayaan. Dalam masalah rumah tangga, mereka tidak mempunyai hak atas anak-anak mereka atau pun diri mereka sendiri. Suami mereka bisa menjual atau meninggalkan mereka kapan yang bersangkutan menginginkan. Jika mereka disiksa oleh suami, sebagai isteri ia tidak memiliki hak mengajukan gugatan cerai. Wanita tidak memiliki status nyata di dalam masyarakat, tidak dihormati sebagai isteri, ibu atau pun sebagai anak putri. Bahkan anak-anak perempuan seringkali dianggap tidak ada harganya dan banyak yang dibunuh pada saat lahir. Wanita tidak mendapat pendidikan dan tidak punya suara dalam masalah keagamaan karena mereka dianggap terbatas keruhanian dan daya inteleknya.’ (Pathway to Paradise)

Banyak dari kondisi di atas masih terdapat di Barat sampai abad 19 dan 20, sedangkan dengan kedatangan Islam maka wanita modern langsung mewujud eksistensinya. Islam adalah agama kedamaian. Arti kata Islam sendiri adalah damai dan penyerahan diri (kepada kehendak Allah swt). Agama ini memberikan petunjuk norma-norma kehidupan yang lengkap bagi seluruh umat manusia dan berlaku sepanjang waktu mendatang. Orang yang mengikuti dan mengamalkan akidah ini disebut sebagai Muslim. Umat Muslim mengimani bahwa Tuhan menciptakan diri kita dengan suatu tujuan dan Dia telah memberikan arahan serta petunjuk agar kita berusaha beribadah kepada-Nya, mematuhi aturan-Nya dan mengkhidmati kemanusiaan. Al-Quran menyatakan:

‘Dan tidaklah Aku menciptakan jinn dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.’ (S.51 Adz-Dzariyat:57)

Seorang Muslim meyakini bahwa Tuhan akan menilai dan menghakimi perbuatan dan kelakuannya selama hidup di dunia, untuk mana ia akan memperoleh ganjaran atau hukuman pada kehidupan di akhirat. Tuhan telah memberikan petunjuk kepada manusia dalam hidup ini berbentuk Kitab Suci Al-Quran dan ajaran Rasulullah Muhammad saw. Guna memahami peran wanita dalam masyarakat modern, kita harus memahami terlebih dahulu konsep kebersamaan di antara laki-laki dan wanita dalam Islam. Al-Quran secara kategoris menyatakan kesamaan derajat laki-laki dan wanita, bahkan dari sejak awal diciptakannya manusia.

‘Dia telah menciptakan kamu dari diri seorang, kemudian Dia menjadikan daripadanya jodohnya. . .’ (S.39 Az-Zumar:7)

Al-Quran juga menyatakan bahwa kapabilitas keruhanian wanita itu sama dengan laki-laki:

‘Barangsiapa mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki atau pun perempuan, sedang ia mukmin maka mereka yang serupa ini akan masuk surga dan mereka sedikit pun tidak akan dianiaya biar sebesar alur biji korma pun.’ (S.4 An-Nisa:125)

Dalam agama Islam, status wanita adalah sama dengan laki-laki, meski ada perbedaan yang timbul karena bentuk tubuh. Jika perbedaan ini tidak diperhitungkan maka tidak akan ada diskriminasi di antara kedua jenis itu, misalnya dalam olahraga jadinya wanita bisa dipertandingkan dengan pria. Seorang petinju wanita jadinya bisa diadu dengan seorang petinju pria. Tetapi nyatanya kita tidak menemui hal demikian karena alam sudah mengatur laki-laki dan wanita masing-masing memiliki bentuk tubuh, fungsi, kapabilitas dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu tugas dan tanggungjawab mereka dalam masyarakat juga berbeda. Kitab suci Al-Quran menyatakan:

‘. . . dan turutilah fitrah yang diciptakan Allah yang sesuai dengan fitrat itu Dia telah membentuk umat manusia. Tiada perubahan dalam penciptaan Allah. . .’ (S.30 Ar-Rum:31)

Salah satu contoh perbedaan fungsi dan kapabilitas ialah wanita bisa mengandung anak sedangkan laki-laki tidak. Hanya wanita yang fitratnya memiliki ciri phisiologis dan psikologis untuk melakukan hal itu. Lagi pula untuk itu wanita cenderung lebih sabar, lembut hati dan rasa keterikatan selama mengandung anaknya, hal mana menjadikan dirinya sebagai yang paling tepat untuk membesarkan anak-anak. Karena itulah Islam menganjurkan wanita untuk tinggal di rumah guna mengurus keluarganya.

Adapun laki-laki, fitrat phisik dan emosionalnya dirancang lebih kuat dan karena itu lebih tepat untuk kehidupan di luar rumah sehingga Islam menetapkan peran mereka sebagai penjaga, pelindung dan pencari makan, semuanya itu merupakan tanggungjawab yang selaras dengan kebutuhan mereka. Sebagai seorang suami, laki-laki menjadi penjaga keluarga dan dianggap sebagai kepala rumah tangga. Semua itu bukan masalah superioritas laki-laki dan inferioritas wanita, tetapi lebih kepada kapasitas alamiah dan fungsi sepatutnya, sejalan dengan peran yang diberikan oleh alam kepada mereka. Wanita Muslim yang mengikuti petunjuk tersebut menyatakan bahwa mereka menikmati harga diri, stabilitas dan kepuasan dalam hidup, yang adalah faktor-faktor yang pada umumnya tidak ada dalam masyarakat kini.

Islam telah mengatur posisi ekonomis daripada wanita dan memberikan kepadanya hak untuk memiliki kekayaan dan harta benda sendiri, suatu hak yang baru dinikmati wanita Eropah pada tahun 1882 (atau 13 abad setelah turunnya Islam) karena sebelum itu segala miliknya otomatis menjadi milik suaminya jika ia kemudian menikah. Islam memberikan keamanan ekonomis kepada wanita dan membebaskan dirinya dari tanggungjawab mencari nafkah. Namun wanita Muslim tetap boleh bekerja jika ia menginginkan sepanjang masih dalam perimeter ajaran Islamiah dan sepanjang fungsi dan kewajibannya kepada rumah dan keluarga tidak terpengaruh. Jika wanita Muslim bekerja maka semua penghasilannya adalah miliknya sendiri yang bebas ia gunakan untuk apa pun. Jika ia kemudian memasukkan penghasilannya itu untuk keperluan rumah tangganya maka tindakannya itu dianggap sebagai suatu kebaikan tersendiri. Hak demikian memberikan kebebasan finansial yang absolut, ketenangan dan kenyamanan kepada wanita Muslim, suatu hak yang didambakan oleh wanita lain dalam masyarakat sekarang.

Begitu juga pada saat perkawinan, Islam telah memberikan perlindungan pada status ekonomi wanita melalui sistem uang mahar. Dalam hal ini seorang suami diwajibkan memberikan sejumlah uang tertentu kepada pengantinnya. Perkawinan merupakan lembaga yang paling penting karena menjadi unit dasar dari suatu masyarakat. Hazrat Muhammad Rasulullahsaw bersabda: ‘Nikah adalah syariatku, siapa yang tidak mengikutinya maka ia bukanlah daripadaku.’ Tanpa adanya akad nikah maka wanita bisa disalahgunakan sebagai obyek pemuas nafsu semata. Karena itulah Islam memastikan bahwa melalui perkawinan tercipta suatu ikatan yang memberikan hak kepada wanita yang tidak bisa digantikan dengan persahabatan atau perserikatan dalam bentuk apa pun. Al-Quran menggambarkan suami dan isteri sebagai pakaian satu bagi yang lainnya yaitu dalam bentuk rasa aman, kehormatan dan sebagai hiasan.

Tujuan daripada perkawinan dalam Islam adalah:

1. Memungkinkan pria dan wanita untuk hidup bersama guna menghayati kasih dan kebahagiaan serta kepuasan batin dalam akidah Islamiah.

2. Guna menghasilkan keturunan serta menyediakan lingkungan yang stabil dan saleh bagi pendidikan mereka.

3. Memberikan suatu ikatan hukum yang akan memelihara masyarakat dari degradasi moral dan sosial.
Islam memandang perkawinan sebagai sarana melalui mana dorongan dan kebutuhan fitrat manusia, baik phisikal mau pun emosional, bisa dikendalikan tetapi juga tersalurkan pada saat yang bersamaan. Pemuasan nafsu phisikal yang tidak terkendali dan tanpa batasan, sama sekali tidak diizinkan dalam Islam. Perzinahan atau hubungan seks bebas dianggap sebagai dosa besar. Seorang pria Muslim tidak bisa begitu saja mendatangi seorang wanita hanya dengan tujuan untuk memuaskan nafsu badaniah semata. Ia hanya bisa melakukannya melalui suatu ikatan hukum pernikahan yang juga membawa tanggungjawab, tugas dan kewajiban atas keluarga dan anak-anak sepanjang sisa hidupnya.

‘Hasil dari adanya restriksi seperti itu ialah terciptanya suatu masyarakat yang akhlak dan stabilitasnya akan terjaga baik.’ (Pathway to Paradise)

Mengenai perceraian, Islam memberikan hak kepada wanita untuk mengajukan gugatan cerai. Tidak ada pada agama lain di dunia ini dimana wanita bisa menikmati kebebasan seperti itu, dan baru pada abad ke 19 wanita Perancis dan Inggris bisa memperoleh independensi demikian.

Islam memang mengizinkan isteri lebih dari satu, namun membatasinya hanya sampai empat orang, sedangkan pada berbagai masyarakat dan agama lain tentang batasan jumlah isteri ini tidak diatur. Kesalah-pahaman yang mengemuka sekarang ini tentang poligami ialah karena dianggap hanya sebagai pemuas nafsu dan kenikmatan badaniah semata, padahal pandangan demikian adalah hal yang salah. Sesungguhnya Islam membolehkan poligami hanya berdasarkan kondisi dan persyaratan tertentu saja, dimana seorang pria harus bertanggungjawab penuh secara moral dan finansial atas setiap wanita yang dikawini dan anak-anak yang dilahirkan olehnya. Al-Quran menegaskan bahwa:

‘. . . Dan jika kamu khawatir kamu tak akan dapat berlaku adil, maka kawinilah seorang perempuan saja.’ (S.4 An-Nisa:4)

Dengan demikian Islam menegah poligami tidak resmi yang sekarang ini marak dalam masyarakat modern dimana seorang pria bisa saja mempunyai gundik berapa maunya, untuk jangka waktu singkat satu malaman, perselingkuhan dan sebagainya. Ketiadaan kendali akhlak telah menjadikan monogami tercederai. Dua perang dunia yang lalu telah menimbulkan degradasi akhlak di Eropah dan Amerika dimana rasio laki-laki dan wanita pada beberapa tempat menjadi 1 pria dibanding 3 wanita. Melalui sistem poligami yang diajarkan Islam, sebenarnya akan bisa dipelihara nilai-nilai akhlak dan spiritual kaum wanita dan masyarakat secara keseluruhan.

Dalam Islam, kegiatan memperoleh pendidikan merupakan kewajiban, baik bagi pria mau pun wanita. Hazrat Muhammad Rasulullahsaw bersabda: ‘Menjadi kewajiban bagi tiap Muslim dan Muslimah untuk mencari pengetahuan.’ Adanya pengetahuan akan memungkinkan setiap orang untuk berfikir secara logis dan nalar. Melalui pengetahuan seseorang bisa memperoleh pemahaman yang akan mencerahkan kebijaksanaannya. Kenyataannya pendidikan merupakan hal yang amat penting bagi wanita karena ia bertanggungjawab membesarkan generasi yang akan datang. Ketika pendidikan sudah menjadi bagian dari wanita Islam, di Barat pada masa lalu jika ada wanita yang menunjukkan punya sedikit pengetahuan, langsung saja ia akan dianggap sebagai wanita sihir dimana ratusan ribu dari mereka kemudian dibakar hidup-hidup pada api unggun. Adalah suatu fakta bahwa baru pada tahun 1886 seorang wanita bisa mengikuti ujian di Cambridge Exam Board dan baru pada tahun 1948 seorang wanita bisa memperoleh gelar sarjana dari Cambridge. Sebagian besar dari kalian pasti tercengang mengetahui bahwa baru tahun 1920 wanita boleh diterima di Oxford. Sampai dengan tahun 1953, guru wanita gajinya lebih rendah dibanding pria yang berprofesi sama di sekolah yang sama untuk jangka waktu yang sama. Sampai dengan tahun 1955, pegawai negeri wanita memperoleh penghasilan yang lebih kecil dari pria dimana perjuangan mereka mencari persamaan hak belum juga selesai sampai sekarang.

Tidak ada yang lebih menggugah perbincangan selain tentang sepotong kain yang dikenakan seorang wanita Muslim sebagai penutup kepalanya. Terdapat kesalah-pahaman yang menganggap cadar itu sebagai tanda penindasan atau pengekangan, padahal bagi seorang wanita Muslim, cadar itu merupakan tanda dari perlindungan, kehormatan dan harga diri. Cadar bukanlah tanda otoritas laki-laki di atas wanita karena tujuan utamanya adalah untuk menjaga wanita dari keburukan dalam masyarakat. Al-Quran menyatakan:

‘Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman bahwa mereka hendaknya merundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka memamerkan kecantikan mereka atau perhiasan mereka kecuali apa yang dengan sendirinya nampak dari kecantikan itu, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka. . .’ (S.24 An-Nur:32)

Islam memberikan cara-cara penjagaan di muka sehingga wanita tidak sampai dilecehkan. Mencegah sesungguhnya lebih baik daripada memperbaiki kemudian. Petunjuk cara berpakaian dan menutup tubuh telah membantu memperkecil daya tarik dan godaan bagi pria kepada wanita dan karena itu wanita menjadi terpelihara dari segala masalah yang dihadapi masyarakat modern, seperti perkosaan, kehamilan muda, aborsi, AIDS dan lain-lain. Lagi pula adanya cadar memberikan ketenteraman bagi kedua pasangan. Karena acara-acara pertemuan juga dilakukan terpisah maka wanita tidak usah merisaukan adanya perempuan lain yang mencoba menggoda suaminya, dan demikian juga sebaliknya. Aspek dari segregasi (pemisahan menurut jenis) serta cadar akan mengurangi kadar kecemburuan dan rasa rendah diri di antara para wanita yang biasanya suka mencuat di hadapan kaum pria.

Sejarah dan fakta menuntun diri saya untuk meyakini bahwa Islam sesungguhnya sebuah agama modern dan adalah masyarakat yang biasanya hanyut terbawa arus coba-coba untuk kemudian kembali lagi pada ketentuan yang telah digariskan Islam berabad-abad yang lalu. Apa yang kelihatannya modern itu sebenarnya telah diturunkan 1500 tahun yang lalu. Karena itu, berbeda dari anggapan modern, sebenarnya wanita Muslim memiliki kehormatan harga diri dan kepuasan serta tidak dihalangi untuk mengejar karier dalam bentuk apa pun atau pun kegiatan sehat lainnya. Wanita tetap bisa mengikuti olahraga, lari marathon, menjalankan usaha, menjadi dokter atau pengacara atau juga diplomat. Bahkan ia bisa saja maju mencalonkan diri sebagai presiden kalau mau. Ia memiliki kebebasan dalam memilih pasangan yang akan memberi nafkah baginya dan bagi keluarganya. Ia boleh mengajukan gugatan cerai dan kemudian menikah lagi. Ia bisa pergi kemana suka dan melakukan apa yang disukainya sepanjang ia membatasi diri menurut ajaran Islam serta purdahnya. Atau ia bisa memilih santai saja di rumah dan menikmati kemerdekaan ekonomisnya.

Saya adalah seorang Muslim kelahiran Inggris. Saya tidak merasa dibatasi. Saya tidak terkebelakang. Saya memiliki kemerdekaan dan kebebasan penuh melalui Islam dan karena itu saya menyimpulkan: ‘Islam adalah untuk wanita modern dan ia mewujud eksistensinya bersamaan dengan turunnya Islam sekitar 1500 tahun yang lalu.’

Referensi:

1. Al-Quran dengan terjemahan dan tafsir singkat (1987), Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ed. 2.

2. Alkitab, Jakarta, Lembaga Alkitab Indonesia, 2002.

3. Pathway to Paradise, a guidebook of Islam, Lajna Imaillah USA, Ahmadiyya Movement in Islam.

4. Al-Fazal, 18 Januari 2002, pidato tentang Status Wanita dalam Islam oleh Khalifatul Masih IV saat Jalsah Salanah 26 Juli 1986.

5. Review of Religions, My Role and Rights as a Muslim Woman” oleh Mrs. Aziza Rahman, September 1999, h.29-45.

6. Woman in Islam, Sir Muhammad Zafrullah Khan, Islam International Publications Ltd.

Iklan

5 Tanggapan to "Islam Bagi Wanita Modern"

ada sedikit koreksi
anda mencantumkan “‘Katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman bahwa mereka hendaknya merundukkan pandangan mereka dan memelihara kemaluan mereka dan janganlah mereka memamerkan kecantikan mereka atau perhiasan mereka kecuali apa yang dengan sendirinya nampak dari kecantikan itu, dan mereka mengenakan kudungan mereka hingga menutupi dada mereka. . .’ (S.24 An-Nur:32)”
sebenarnya itu adalah arti surat an-nur ayat 31. 😀
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya………………”

Terima kasih (jazakillah) atas komentar anda…

,,,,,Assalamualaikum warohmatullahiwabarokatuh,,,salam ukhuwaislamiyah darii saya,,,saya sngat setuju dg ap yg anda tulis,,,hendakk nya wanita islami mnjaga auratt nya dg baikk shingga tdk timbul kemaksiatannn atas diri nya dan org lainn.

itu suratnya an nuur ayat 31.

jazakallah zaid

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: