Dildaar80's Weblog

Tiga Golongan Sifat Allah

Posted on: 9 Juli 2009


Sifat-sifat itu pada garis besarnya dapat dibagi dalam tiga golongan:

Pertama, sifat-sifat yang khusus bagi Tuhan dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan makhluk-makhluk-Nya, contohnya: Al-Hayy – Yang Mahahidup; Al-Qadir – Yang Empunya kekuasaan dan wewenang; Al-Majid – Yang Maha Gilang Gemilang.

Kedua, sifat-sifat yang bertalian dengan kejadian alam semesta dan menunjukkan pertalian antara Tuhan dengan segala makhluk-Nya dan sikap-Nya terhadap mereka, contohnya Al-Khaliq – Yang Maha Pencipta; Al-Malik – Yang Maha Berdaulat.

Ketiga, sifat-sifat yang mulai bekerja sebagai akibat perbuatan baik-buruk makhluk Tuhan karena diberi kemauan, umpamanya, Ar-Rahim – Dia memberi ganjaran, atas kehendak Sendiri, perbuatan-perbuatan baik manusia berlimpah-limpah dan berulang-ulang; Maliki Yaumid Din – Yang Empunya Hari Pembalasan: Al-Afuww – Dia mengampuni kesalahan-kesalahan; Ar-Rauf – Dia Maha Pengasih; dsb.

Beberapa dari sifat-sifat itu nampaknya seolah-olah ulangan, tetapi jika diperhatikan, orang dapat melihat perbedaan di antara sifat-sifat itu. Umpamanya, beberapa sifat itu bertalian dengan takhlik (penciptaan makhluk), seperti Khaliqu Kulli Syai’in, Al-Badi, Al-Fatir, Al-Bari, Al-Mu’id, Al-Musawwir, Ar-Rabb. mula-mula nampaknya seperti tindih-menindih, tetapi sesungguhnya sifat-sifat itu menunjukkan segi-segi yang lain.
Khaliqu Kulli Syai’in berarti bahwa Tuhan telah menciptakan semua benda dan bermakna pula bahwa Dia pun Yang Menciptakan benda dan roh.

Sementara kaum/golongan percaya bahwa Tuhan memberi bentuk tetapi tidak menciptakan. Umpamanya, mereka tidak memandang Dia sebagai Pencipta benda dan roh; mereka mempercayai bahwa benda dan roh itu ada dengan sendirinya dan kekal pula seperti Tuhan sendiri. Jika Tuhan dalam Alquran hanya digambarkan sebagai Yang Maha Pencipta belaka, orang-orang itu dapat mengklaim bahwa mereka pun beriman kepada Tuhan Yang Maha Pencipta dalam artian bahwa Dia mempersatukan jasad dan roh dan dengan demikian memberi bentuk dan dalam artian tertentu menciptakan manusia. Tafsiran demikian dapat membiarkan arti yang sebenarnya dari Alquran dalam keraguan tentang hal ini.

Dengan menjelaskan bahwa Tuhan itu Yang Menjadikan segala sesuatu, Alquran telah memperluas jangkauan arti sifat menjadikan itu, dengan demikian jalannya hingga menjadikan benda dan roh itu juga termasuk di dalamnya.

Badi’ bermakna bahwa Tuhan telah merencanakan dan merekayasa tatanan alam semesta dan oleh karenanya tatanan ini tidak merupakan suatu kebetulan atau tiruan dari yang lain.

Faathir berarti Wujud yang mengambil sesuatu dengan memecahkan kulitnya. Maka sifat Fatir itu menunjukkan bahwa Tuhan telah menjadikan zat dengan kemampuan berkembang yang lekat di dalamnya dan bahwa pada saatnya yang tepat Dia membuka kulitnya atau tutupnya yang membatasi dan menahan bekerjanya daya-daya itu dan membuatnya bekerja. Umpamanya, sebuah biji mempunyai kemampuan tumbuh menjadi tumbuh-tumbuhan atau pohon, tetapi kemampuan itu hanya bekerja pada musim tertentu dan di bawah kondisi-kondisi tertentu. Jika kondisi-kondisi itu telah timbul dan musim itu datang, biji itu mulai mengembangkan kemampuan tumbuhnya. Jadi, sifat ini menunjukkan bahwa Tuhan telah menciptakan alam semesta itu sesuai dengan seperangkat hukum-hukum dan bahwa tiap-tiap bagian alam semesta itu terus-menerus berkembang sesuai dengan hukum-hukum itu. Setiap saat bagian-bagian alam semesta itu terus menerobos tingkat-tingkat persiapan, dan kemampuan yang tersimpan di dalamnya mulai bekerja pada musim-musim yang tertentu dan kemudian bentuk-bentuk baru kehidupannya mulai nampak.

Sifat Khalq (mencipta) bermakna pula perencanaan. Khaliq (pencipta) berarti pula bahwa Tuhan telah mengatur semua benda dalam tertibnya yang pas dan bahwa alam semesta itu dikendalikan oleh suatu tatanan tertentu.

Barri, bermakna bahwa Tuhan memulai berbagai manifestasi kejadian dan kemudian menetapkan hukum-hukum, dengan mematuhi hukum-hukum itu benda yang dijadikan itu mengulangi dan melipatgandakan terus jenisnya. Hal itu dikuatkan oleh sifat Mu’id yang bermakna pengulangan.

Mushowwir berarti bahwa Tuhan telah memberi tiap-tiap makhluk suatu bentuk yang sesuai dengan fungsinya. Ini menunjukkan bahwa penyempurnaan kejadian itu tidak hanya terletak dalam memberikan kepada makhluk itu kemampuan-kemampuan yang pas tetapi penyempurnaan kejadian itu dicapai dengan memberikan bentuk yang pas pula.

Rabb bermakna bahwa Tuhan, sesudah menciptakan, terus memupuk kemampuan-kemampuan makhluk-makhluk secara bertahap dan dengan demikian menyampaikan makhluk-makhluk itu kepada kesempurnaan.
Semua sifat itu menunjukkan berbagai segi kejadian. Seperti itu pula beberapa sifat lainnya yang mula-mula nampak seperti tindih-menindih atau hanya semata-mata pengulangan, sebenarnya dimaksud untuk menunjukkan perbedaan-perbedaan yang sangat halus. Sekali makna tiap-tiap sifat itu dapat dipahami dengan jelas maka orang dapat menghargai keindahan dan keagungan alam rohani yang digambarkan oleh Alquran.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: