Dildaar80's Weblog

Benarkah ‘Yang di atas’ itu Tuhan?

Posted on: 8 Juli 2009


Sering kita dengar ungkapan atau ucapan “Saya sih serahkan pada ‘Yang Di Atas’ saja.” Dalam wawancara dengan reporter televisi, para artis akrab dengan ucapan ini. Kita tidak tahu persis bagaimanakah latar belakang populernya ungkapan ini. Kita juga tidak mengetahui motif dan alasan penggunaan kata ini. Ada seorang kawan yg berpendapat alasan pemakaian kata ini ialah keengganan memakai kata ‘Allah’ karena yg mengucapkan merasa banyak dosa dan tidak pantas mengucapkannya. Atau merasa kotor dan jauh dari Tuhan sehingga tidak layak menyebut nama Tuhan tersebut.

Dalam salah satu acara pembinaan agama Hindu, seorang Petinggi agama Hindu mengkritik sitilah ‘Yang Di Atas’ dan ‘Di sisi-Nya’ dialamatkan kepada Tuhan alasannya Tuhan tidak bersisi dan Tuhan tidak bertempat di suatu tempat fisik termasuk tidak di atas atau di bawah. Mencermati ucapan sang pendeta Hindu ini saya pikir ada benarnya bahwa Tuhan tidak bertempat secara jasmani, tidak di atas tidak pula di bawah.

Kata Bahasa Arab Raafi’ berarti meninggikan atau mengangkat. Kata ini dipakai juga untuk mengangkat tinggi barang-barang secara pisik. Menurut keimanan kami, hanya Wujud Tuhan satu-satunya itulah yang benar-benar Ar Raafi’ (Yang Meninggikan) dan daripada-Nya-lah datang semua pengangkatan tinggi itu. Tuhan adalah Ar Raafi’; kedudukan-Nya berada pada satu ketinggian yang amat tinggi di mana akal manusia tidak dapat membayangkannya. Sebaliknya dari itu, Dia-pun berada sangat dekat dan berada di mana-mana saja, namun Dia itu berada amat jauhnya dan seperti yang disebutkan dalam kata-kata ‘Raafi’ ud darajaat’ – Yang Maha Tinggi Derajat-Nya – (Al Mu’min, 40:16) untuk Diri-Nya sendiri. Tidak ada kedudukan yang lebih tinggi dari Dia ini, oleh karena itu Dia juga adalah Tuhan dari ‘Arasy.

Tahta Singgasana Ilahi adalah sebuah ciptaan yang paling terjauh di mana ‘Arasy Singgasana Ilahi itu adalah satu ciptaan yang paling terjauh dan yang sama dengan Langit-langit bumi dan semua hamparan bumi. Na-udzubillah, bukannya ‘Arasy Singgasana Tuhan itu adalah lebih dekat ke Langit dan jauh dari bumi. Dalam Surah Al Hadiid ada dinyatakan: ‘….. Wa huwa ma’akum aina maa kuntum ..…’ – “….. Dan Dia beserta dengan kamu di mana pun kamu berada …. (57:5). In Surah Al Mujaadilah dinyatakan: ‘ ……. Ma yakuunu min-najwaa tsalaatsatin illaa huwa raabi’uhum ……’ – “ …. Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia yang ke-empatnya …..” (58:8). Dinyatakan di dalam Surah Qaaf: ‘ ….. wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid’. – “….. dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya”. (50:17). Kata-kata dari Tuhan itu menjelaskan bahwa betapa pun Dia itu menduduki Tahta Arasy, tapi Dia itu amat sangat dekatnya. Sifat-sifat-Nya itu lebih dimanifestasikan pada orang-orang yang berada dekat kepada-Nya. Ia meyakinkan kepada mereka akan kedekatan-Nya kepadanya, menyelamatkan dan melindungi mereka terhadap pihak yang menentangnya, serta mengangkat, meninggikan kedudukan mereka.

Pada ayat 3 dari Surah Ar Ra’du; ‘Allaahul ladzii rafa’as samawaati bi ghairi ‘amadin taraunahaa tsummas tawaa ‘alal ‘arsyi ….’ – “Allah, Dia-lah yang meninggikan seluruh langit tanpa tiang di mana kamu dapat melihatnya. Kemudian Dia bersemayam di atas Singgasana ‘Arasy. ….” (13:3). Dalam ayat ini dapat menimbulkan keraguan bahwa Tuhan itu tidak ‘bersemayam’ pada Singgasana-Nya itu sebelum ini. Jawaban untuk ini adalah bahwa Singgasana Tuhan itu adalah bukan sebuah wujud benda secara pisik, tetapi merupakan satu keadaan yang “Keberadaan-Nya” itu sangat jauh, paling jauh. Dia-lah yang menciptakan semua sesuatu itu dan memberikan cahaya kepada matahari, bulan dan bintang-bintang. Dia menciptakan manusia dalam bayang-bayang-Nya sendiri dan memasukkan kualitas kemuliaan-Nya pada orang itu. Jadi Dia itu menciptakan sebuah kiasan/allegory untuk Diri-Nya tetapi dengan menyatakan bahwa Dia itu duduk bersemayam di atas Singgasana-Nya, Dia menyatakan bahwa Dia adalah Maha Tinggi.

Hudhur aba. mengatakan jadi inilah Tuhan itu, Yang adalah Pemilik dari Langit di mana betapa pun demikian amat-sangat tingginya kedudukan-Nya itu, Dia itu adalah lebih dekat daripada urat lehernya. Namun. Walaupun Dia itu lebih dekat daripada urat lehernya, pemandangan mata orang tidak sampai kepada Dia. Dia itu mewujudkan Diri-Nya kepada mereka yang berada dekat kepada-Nya. Dia nyatakan: ‘Laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaara ……’ – “Penglihatan mata tidak dapat sampai kepada-Nya tetapi Dia melihat matanya …… ‘. (Al An’aam, 6:104). Tuhan adalah Yang Ghaib – Tidak Terlihat dan tidak akan pernah ada sesuatu konsep dari wujud secara pisik-Nya dia dalam pengertian orang yang bagaimana pun juga. Keyakinan orang-orang Kristiani yang memberikan status ketuhanan kepada Nabi Isa a.s. adalah keliru. Tuhan tidak memerlukan itu, Nabi Isa a.s. dan ibundanya sama-sama menyantap makanan, kewafatannya pun ada dicatat orang-orang dan jadi inilah buktinya bahwa seseorang yang perlu menyantap makanan tidak dapat menjadi Tuhan.

Dikarenakan kurangnya ilmu atau karena mengikuti pemimpin agama yang tidak mendapatkan petunjuk yang benar –misguided- sebagian besar dari dunia Muslim berpendapat bahwa ayat Alqur-aan yang merujuk pada kata Raafi’ yang digunakan untuk Nabi Isa a.s. itu adalah kenaikan secara pisik ke Langit. Mereka bertahan bahwa Nabi Isa itu akan kembali ke dunia untuk mereformasi dunia. Sebelumnya dikatakan bahwa Nabi Isa ini akan datang atau turun pada abad ke-14 (Kalender Islam) tetapi sekarang mereka mengatakan bahwa ia itu akan turun pada dekat-dekat Hari Kiamat. Kesimpulan mereka yang keliru itu justru mendukung faham keyakinan orang Kristiani. Sebagian kalangan orang-orang Muslim terpelajar di dunia, sekarang ini berusaha untuk menyangkal dan membuktikan bahwa idea demikian itu adalah salah.

Baru-baru ini Presiden Iran memberikan sebuah statement kepada dunia Kristiani tentang hal ini dan juga memberikan impresi/kesannya bahwa ia mempercayai Nabi Isa itu sudah wafat. Beliau memberi nasihat kepada dunia Kristiani dengan mengingat pada ajaran dari Nabi Isa a.s.. Hal ini terpisah dari argumentasi tentang seberapa besarnya-kah Presiden Iran itu sendiri sudah berada pada jalan yang mendapat petunjuk. Hudhur aba. mengatakan orang-orang Jama’at Muslim Ahmadiyah di Turki memberitahukan kepada Khalifah mereka bahwa sudah ada banyak terjemahan-terjemahan baru dari Kitab Suci Alqur-aan yang memberikan tafsir dari ayat dimaksud sebagai Nabi Isa a.s. itu sudah wafat.

Disadur oleh Dildaar dari terjemahan Khutbah Hadhrat Mirza Masroor Ahmad pada 3 Juli 2009 di UK

Iklan

2 Tanggapan to "Benarkah ‘Yang di atas’ itu Tuhan?"

Menarik, artikel yang meletakkan Tuhan di atas…..
Lebih menarik lagi ketika Hudhur mengatakan bahwa Allah itu dekat…..
Jazakumullah atas pencerahannya

ALLAH MAHA TINGGI, BUKAN ARTINYA DI TEMPAT TINGGI, TAPI MENUNJUKAN KEBESARAN DAN KEKUASAANNYA
DISISINYA , BUKAN ARTINYA ALLAH PUNYA TEMPAT TAPI MUNUNJUKAN DEKAT (DALAM KEBAIKAN) DENGAN NYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Juli 2009
M S S R K J S
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: