Dildaar80's Weblog

Kisah Masuk Islamnya Muhammad Sadiq alias Howard William Scott

Posted on: 6 Juni 2009


Disadur dari majalah Anshorullah Amerika Serikat, ‘An-Nahl’ 1994 oleh Dildaar Ahmad

Dalam salah satu pidatonya selama Jalsah Salanah United Kingdom of Britania (Inggris Raya) 1993 Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Khalifah keempat dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. memberikan komentar yang istimewa mengenai Saudara Muhammad Sadiq, bahwa Sdr. Sadiq telah kehilangan cahaya matanya tetapi Allah telah menambah cahaya di hatinya. Di bawah ini adalah kisah dari Brother Muhammad Sadiq masuk Islam lewat Jamaah Ahmadiyah:

Nama saya Muhammad Sadiq. Sebelum menerima Islam, nama saya adalah Howard William Scott. Saya diberitahu bahwa mubaligh Muslim pertama yang dikirim ke Amerika Serikat adalah Mufti Muhammad Sadiq. Saya suka nama itu sehingga saya putuskan memakai nama itu untuk diri saya sendiri. Saya lahir di Newark, New Jersey, 29 Oktober 1912. Orang tua saya tinggal di Irvington, New Jersey. Karena lingkungan yang tidak menyenangkan mereka berpisah. Saya tinggal bersama ibu saya yang membawa saya ke tempat nenek di Newark. Saya pergi bersekolah di Newark, namun sayangnya, tidak menamatkan sekolah SMU. Keluarga saya memiliki tradisi menjadi pemusik yang tekun. Saya senantiasa belajar bermusik dari anggota keluarga saya. Kebanyakan saya diajari musik jenis klasik. Namun semenjak musik jazz mendapat popularitas yang luar biasa di negeri ini, minat saya juga berubah kesana. Inilah penyebab utama kenapa sekolah saya tidak berlanjut. Saya menjadi musisi jazz yang cukup bagus dan mulai mendapat uang dari itu. Karenanya, saya memutuskan untuk menjadikan music sebagai karir/pekerjaan saya dan lebih jauh menekuninya.

Pada masa itu, tidak banyak kesempatan bagi warga Amerika keturunan Afrika (berkulit hitam). Karena itulah, saya berusaha mencari pekerjaan dengan memilih bidang engeneering yang mana saya telah menyelesaikan kursusnya serta lulus. Walaupun saya berusaha sekuat tenaga, saya tidak mendapat pekerjaan sesuai bidang yang saya pelajari sehingga akhirnya saya tetap bergelut di bidang musik hingga menerima Islam. Kemudian pendapatan pokok saya berasal dari pekerjaan-pekerjaan sambilan. Saya menjadi pelukis lalu berhenti melukis. Ketika saya pertama kali melukis, saya mempunyai sedikit pengetahuan tentangnya tetapi majikan tempat saya bekerja melatih saya dengan baik. Saya tidak pernah memiliki anak dari pernikahan saya. Karenanya, istri saya meminta saya mengadopsi anak terlantar. Dengan gembira saya menerima sarannya. Akhirnya kami memiliki tiga anak dari ibu yang sama. Walaupun saya masih menyayangi mereka namun mereka tidak masuk Islam sehingga membuat saya kecewa.

Saya dibesarkan di sebuah keluarga yang taat beragama, namun demikian Gereja tidak menarik bagi saya. Hingga saya menemukan sesuatu yang berkesan dalam Islam. Awalnya, saya bahkan sangat skeptis/ragu dengan Islam. Sebagai musisi/pemusik, saya biasa mendengar orang-orang berbicara mengenai Islam, tetapi apa-apa yang saya dengar tentang agama ini begitu bodoh sehingga saya tidak mempedulikannya. Hingga, suatu hari pada tahun 1947, seorang kawan memberi saya sebuah buku berjudul “The Life of Muhammad/Kehidupan Muhammad’ karya Sufi Muthiur Rahman Benggalee (Muballigh asal Bangladesh). Saya berlinang air mata setelah membaca buku itu. Apa yang begitu membuat hati saya pedih adalah saya ingin sekali mencintai Muhammad salam dan berkat Allah untuk beliau, namun saya tidak bisa.

Kemudian saya diperkenalkan kepada beberapa orang yang membawa Islam ke Harleem (sebuah bagian kota New York yang dihuni warga keturunan Afrika-Pen). Salah seorang dari mereka adalah Talib Dawud yang menjelaskan kepada saya segala hal. Lalu ia menanyakan pada saya apakah saya siap menerima Islam. Saya jawab saya tidak bersedia. Dengan heran ia bertanya, “Kenapa?” saya jawab saya tidak memiliki arti diantara orang-orang Muslim. Dia meminta saya sekurang-kurangnya saya menerimanya dengan dasar uji coba dulu, hal mana saya menyetujuinya. Lalu saya dibawa ke Mubaligh Ghulam Yasin yang secara formal menyaksikan bai’at saya kedalam Ahmadiyyah. Saya mengisi formulir baiat. Beliau membacakan sepuluh syarat baiat kepada saya. Saya berdoa kepada Allah memohon ampunan dari segala dosa-dosa di masa lalu dan berjanji setia dengan sungguh-sungguh untuk hidup dengan kesucian. Istri saya begitu bahagia mendapatkan saya menerima Islam. Dia, kemudian menjadi seorang wanita yang sangat terkemuka dalam Islam. Setelah menerima Ahmadiyyah, saya juga mempelajari sekte-sekte/kelompok-kelompok dalam Islam tetapi kenyataan bahwa Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, Al-Masih Yang Dijanjikan, dalam tulisan-tulisan beliau terdengar seperti Nabi Suci Muhammad salam dan berkat Allah atas beliau, saya tidak menemukan kesulitan dalam mengenal Ahmadiyyah sebagai Islam sejati.

Kemudian pada tahun 1974 saya mengunjungi Pakistan dan India untuk pertama kalinya hal mana mulai sebuah hubungan yang dekat dengan Hadharat Mirza Nasir Ahmad, Khalifah Masih Mau’ud a.s. yang ketiga. Saya meninggalkan Pakistan dan India dengan perasaan istimewa, sebuah perasaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Pada tahun 1970-an saya pergi ke Qadian dan Rabwah begitu seringnya sehingga para penjaga perbatasan di dua sisi akan bertanya kepada saya, “Tahun ini bagaimana kabar anda, tuan?” Saya harap saya dapat tinggal di Rabwah lebih lama daripada yang telah saya lakukan tetapi ibu saya tidak bisa mengadakan perjalanan bersama saya karenanya saya harus kembali untuk merawat beliau. Ketika saya mengunjungi Bahishti Maqbarah (Pekuburan bagi para mushi/mushiah) di Qadian, mata saya berlinang air mata. Saya merasa begitu kuat memiliki Islam yang mana perasaan tersebut tidak pernah terasakan sebelumnya.

Pada tahun-tahun awal saya menerima Ahmadiyah, Saudara Abid Haneef dan saya biasa pergi ke New York dan menyebarluaskan selebaran sebagai tabligh. Dengan melakukannya kami dapat membawa begitu banyak orang kepada Islam namun sayangnya kebanyakan dari mereka tidak tetap bersama kami. Suatu hari, Saudara Abid Haneef dan saya ditangkap oleh polisi New York karena membagi-bagikan selebaran. Polisi tersebut memukul kami dan membawa kami ke pengadilan dimana kami dituntut dengan berbagai alasan. Ketika kami meninggalkan pengadilan, saya mengatakan kepada pengacara saya bahwa kami tidak berbuat kesalahan dan para polisi tersebut sedang mabuk. Pengacara tersebut juga bercanda kepada kami dengan mengatakan bahwa saya tidak bisa mengatakan apa-apa karena hakimnya juga sedang mabuk.

Beberapa tahun kemudian, ketika saya bertemu Sir Zafrullah Khan, beliau menanyakan saya apakah saya telah memohon pengampunan dari Tuhan. Saya menjawab, “Saya tidak melakukan suatu kesalahan.” Beliau menanyakan lagi pertanyaan yang sama dan saya menjawab dengan hal yang sama. Untuk ketiga kalinya ia menanyakan hal yang sama dan kembali saya menjawab dengan hal yang sama. Setelah itu, beliau berjalan meninggalkan saya tanpa mengucapkan suatu kata pun. Sekarang barulah saya sadari bahwa ia berusaha mengatakan kepada saya, setelah menerima Islam dan Ahmadiyyah telah menjadi pencapaian terbesar bagi hidup saya. Dengan tetap melanjutkan profesi atau pekerjaan sebagai musisi/pemusik, saya bisa mendapatkan uang lebih banyak tetapi saya tidak akan menukar keimanan saya dengan kemakmuran duniawi. Saya menemukan dalam Ahmadiyah apa yang tidak saya temukan di tempat manapun. Walaupun saya mendapatkan penghasilan yang lumayan dari sebagai pemusik yang saya geluti, saya tidak pernah bahagia. Saya telah menyaksikan apa-apa yang terjadi pada musisi-musisi lainnya terlihat muram. Akhirnya mereka berlari menuju kematian.

Ketika menggeluti bidang musik, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Perasaan kehilangan selalu hinggap hingga saya menerima Islam yang mana saya menyaksikan visi yang jelas di masa depan. Pengaruh yang lain dari Islam dan Gerakan Muslim Ahmadiyyah pada diri saya setalah bergabung dengannya ialah saya mulai mengasihi sesama manusia. Sebelum saya menerima Islam, saya selalu membenci orang-orang karena ketidakadilan yang ditimpakan kepada kami (golongan kulit hitam-pent.) oleh golongan mayoritas/terbanyak (yaitu golongan kulit putih-pent.). Sekali saya menggabungkan diri pada Jamaah Muslim Ahmadiyah, sikap tersebut berubah sama sekali. Secara keseluruhan saya menemukannya sebagai sebuah masyarakat yang penuh cinta kasih.

Saya ingin berterima kasih pada Mubaligh/Missonary Ghulam Yasin dalam usahanya melatih saya dan mengajari saya Kitab Suci Al-Quran. Beliau memang sangat kaku/keras dalam gayanya mengajar, tetapi saya sungguh-sungguh senang bahwa beliau telah mengajar sebisa yang beliau lakukan. Beliau tidak akan mengijinkan kami pergi hingga beliau puas kami menghapal ayat-ayat yang beliau tugaskan kepada kami untuk menghapalnya. Saya mencintai dedikasi/pengabidiannya dan gayanya mengajar dan sungguh-sungguh menghargainya. Semenjak saya kehilangan penglihatan pada kedua mata saya, saya mendengarkan tape rekorder dan berupaya menghapal Al-Quran sebanyak yang saya bisa.

Akhirnya, saya ingin menyebutkan disini bahwa tidak ada orang yang lebih baik di dunia ini melebihi Hadhrat Mirza Tahir Ahmad, Penerus keempat dari Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Beliau sungguh-sungguh orang yang sangat manis. Sekarang bila ada cara untuk menggapai hati orang-orang ialah melalui khutbah dan ceramah-ceramahnya. Beliau berbicara mengenai kebenaran dan pesan beliau menyentuh hati saya setiap kali saya mendengarnya. Saat saya menghadiri Jalsah Tahunan di London tahun ini, selama ceramah beliau, beliau mengatakan sesuatu yang menyentuh hati saya dan saya tidak bisa menahan diri kecuali bersuara keras, “Naaraa-i-takbir.” Hadhrat Khalifatul Masih segera mengenali suara saya. Hal selanjutnya yang saya dengar ialah sebuah komentar yang yang penuh cinta mengenai diri saya oleh Hadhrat Khalifatul Masih. Beliau menyebut nama saya di hadapan seluruh audiens (hadirin) dengan tiba-tiba berubah dari berbahasa Urdu ke bahasa Inggris.[1] Hal ini adalah sesuatu penghargaan yang diluar dugaan yang saya pikir tidak pantas saya terima hingga membuat kedua mata saya mencucurkan air mata kebahagiaan. Saya tidak akan dapat melupakan keberkatan yang agung ini. Satu hal yang perlu saya sampaikan mengenai Hadhrat Khalifatul Masih , bahwa seandainya saya tidak mengetahui sedikit pun mengenai islam tetapi mendengar hanya satu saja dari khutbah beliau niscaya saya akan menerima Islam segera saat itu juga.

Semoga Allah memberkati Jemaat ini. Semoga Allah menunjukkan keberkatan yang luar biasa banyaknya kepada Hadhrat Muhammad al-Mushtafa (shollollahu ‘alaihi wa sallam), Hadhrat Masih Mau’ud (salam atas beliau) dan para khalifah beliau. aamiin


[1] Komentar Hudhur IV r.h.a. ialah: “Saudara Sadiq (Brother Sadiq) suara anda layaknya musik bagi telinga saya!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Juni 2009
M S S R K J S
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Top Rating

Tweetku

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: