Dildaar80's Weblog

Hati-hati hidup di Indonesia

Posted on: 18 April 2009


Allahu Akbar!

Hati-hatilah hidup di Indonesia. Apalagi kalau anda jemaat Ahmadiyah. Hanya Islam versi pemerintah saja yang berhak hidup di Indonesia.

Gerakan anti Ahmadiyah kembali merebak. Aksi massa mulai muncul kembali setelah Badan Koordinasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Bakor Pakem) resmi menyatakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI) sebagai aliran yang menyimpang dari ajaran pokok Islam (16/4/2008).

Hari Minggu kemarin The Jakarta Post (April 20, 2008) mengabarkan, “Several thousand Muslim hard-liners staged a peaceful rally at the National Monument (Monas) on Sunday, demanding the government issue a decree to disband the ‘deviant’ Islamic sect Jamaah Ahmadiyah.” Dan hari ini (22/04/08) nasib mereka akan ditentukan oleh Surat Keputusan Bersama (SKB) 3 menteri: Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri, dan Jaksa Agung.

Apa kesalahan Jemaat Ahmadiyah Indonesia? Lembaga yang berbadan hukum (SK Menteri Kehakiman RI, 13 Maret 1953, nomor JA.5/23/13) ini meyakini bahwa Ghulam Ahmad (1835/1908) adalah Imam Mahdi atau Masih Mau’ud menurut agama Islam. Ia mengajarkan beragama tanpa kekerasan. Semboyannya “Love for All, Hatred for None” (Cinta untuk Semua, Tiada Kebencian untuk Siapapun). Hanya itu.

Masalahnya sekarang, apa pengaruhnya ketika Ghulam Ahmad diakui sebagai nabi tanpa syariat? Menurutku tidak berdampak apa-apa. Adalah hak setiap orang untuk mengklaim penampakan yang ia peroleh. Setidaknya, sistem keyakinan mereka membawa mereka kepada kehidupan yang lebih baik dan semakin berperikemanusiaan, semakin sayang kepada sesama manusia dan alam semesta. Itulah yang utama. Agama itu untuk memanusiakan manusia. Bagaimana kualitasnya, kasih saja ke Tuhan.

Dan aku tidak percaya 100% ada wakil Tuhan di dalam kelompok Islam semacam Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), Front Pembela Islam (FPI), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), dan segala macam ormas Islam Beku Budaya. Apalagi dengan model Islam yang dibawa oleh Forum Betawi Rempug (FBR), aduh mak. Lebih baik mereka menciptakan Jakarta yang damai dan aman saja.

Menurutku Ghulam Ahmad itu orang baik. Aku pernah berdialog dengan pengikutnya di Bandung, baik atas nama lembaga maupun personal. Aku juga pernah membaca hampir semua buku yang mereka berikan. Tidak ada yang istimewa dalam segi apa pun. Rasionalitas mereka positivistik, cenderung tidak percaya mistisisme. Jadi, tidak ada peringatan haul, tawassul, ziarah kubur dengan aroma mistis yang kental. Ahmadiyah itu seperti Muhammadiyah tapi tanpa imamah. Ahmadiyah pun masih jauh tertinggal dengan pemikiran mazhab Islam lainnya, terutama Syiah. Meskipun aku banyak kritik Ahmadiyah, bukan otomatis aku di pihak yang lebih benar ketimbang mereka, apalagi saleh. Nggaklah.

Lepas dari bagaimana corak keyakinannya, mereka adalah orang yang taat hukum dan mengakui Pancasila sebagai dasar negara Republik Indonesia. Bandingkanlah dengan FPI, HTI, MMI, dan kelompok Islam lain yang selalu menebar takut di jalan-jalan protokol. Di relung hati mereka yang paling dalam, mereka ingin mengubah dasar negara Pancasila ke Islam. Apakah itu tidak lebih berbahaya?

Lalu, apa yang salah dengan keyakinan Ahmadiyah? Mereka hanya percaya boleh ada nabi pasca Muhammad SAW. Mereka juga tidak terindikasi makan uang negara dan menindas rakyat. Okelah, mereka sesat karena tidak sesuai dengan keyakinan mayoritas. Tapi, apakah pikiran dan keyakinan bisa diadili? Lagipula, keyakinan mayoritas tidak berhubungan sama sekali dengan benar dan salah sesuatu. Kebenaran juga tidak bisa dilekatkan pada restu negara.

Pemerintah tidak perlulah mematenkan mana agama yang resmi tidak resmi, aliran yang sesat tidak sesat. Serahkanlah kepada masyarakat masing-masing. Tugas pemerintah itu urus masalah publik, bukan urus masalah privat orang. Seperti dendang Iwan Fals, “urus saja moralmu (wahai pemerintah).”

Akhirnya, mengapa Kejaksaan via Bakor Pakem doyan mengurus masalah privat ini? Bila dicermati, masih ada tugas publik kejaksaan yang lebih prioritas. Yakni tentang BLBI. Dulu masalah BLBI sebenarnya sedang hangat. Keluarga presiden saja mau diusut. Sedangkan yang paling mendukung pengusutan BLBI itu banyak dari PKS, PAN minus Partai Golkar, yang notabene deket dengan Islam.

Karena isu sensitif selalu berkenaan dengan aliran sesat, maka Depag-lah yang mendapatkan bola apinya dengan JAI sebagai obyek. Maftuh Basyuni (Menag) dan Nasaruddin Umar (Dirjen Bimas Islam) akhirnya yang sibuk urus hal ini. Siapa yang tepuk tangan dalam hal ini? Tentu aktor-aktor intelektual di balik FUI, FUUI, dan lain-lain. Siapa lagi kalau bukan oknum Angkatan Darat yang merasa eksistensinya tercerabut alias nganggur ketika Indonesia itu aman dan damai? Memang ada juga dari mereka yang murni berjuang karena keyakinan. Tapi tetap saja mereka pasti butuh duit untuk sedekah jariyah dan naik haji.

Bila penghancuran JAI berhasil maka kelompok-kelompok agama dan mazhab lain yang minoritas sudah masuk daftar antrian. Mazhab Syiah (yang jelas-jelas masih saudara sesusuan dengan kaum Ahlusunnah Waljamaah), warga Kristen di komunitas Islam siap dijadikan tumbal proyek politik elite. Padahal, Wahabisme yang berlindung di ketiak MMI/HTI/FUI/dll lah yang sebenar-benar anti pluralisme, anti Pancasila dan anti-NKRI.

Hati-hatilah bila paham anda berbeda dengan paham pemerintah. Setidaknya itulah gambaran nyata tentang nasib kelompok keagamaan yang berbeda dengan mainstream. Ternyata, berbuat baik saja tidak cukup di Indonesia. Ketika pelakunya beragama Kristen, atau orang Cina, atau berpaham Ahmadiyah, maka tidak akan ada ucapan terima kasih kepada mereka. Ketika orang Kristen memberikan donasi kesehatan, pendidikan dan pangan kepada penduduk miskin, sontak elite agama menudingnya sebagai Kristenisasi. Ketika warga Cina memberikan bantuan kepada warga pribumi, ditanggapi sinis sebagai upaya mencari hati warga asli. Ketika jemaat Ahmadiyah bersosialisasi dengan warga sekitar, dianggap sebagai upaya menyebarkan ajaran Ahmadi-nya. Sungguh repot hidup di negeri ini.

Jadi, hati-hatilah hidup di Indonesia. Apalagi kalau anda jemaat Ahmadiyah. Hanya Islam versi pemerintah saja yang berhak hidup di Indonesia… [Andito] from anditoaja.wordpress.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

April 2009
M S S R K J S
« Mar   Mei »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Top Rating

Tweetku

Kesalahan: Twitter tidak merespons. Tunggulah beberapa menit dan perbarui halaman.

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: