Dildaar80's Weblog

Ragam Sisi Penjalaran dan Pemberdayaan Iptek

Posted on: 22 Maret 2009


Oleh Bambang Hidayat

Bahwasanya kebanggaan “nasional” juga menjadi pendorong eksplorasi di
koloni dan pengembangan infrastruktur agroindustri dapat dilihat dari
dialog Treub dengan administratur perkebunan.
Treub, sambil menekankan perlunya ilmu pengetahuan bagi warna vitalitas nasional, secara retorik menanyakan: Indeed gentlemen at the moment you will not be able to produce your sugar even a penny cheaper due to this (pure scientific) researchers; but do you want us to come
down in the estimation of the whole civilized world to a tenth-rate colonial power?.

Pekik itu bergayut, Nederland kecil di Eropa tetapi
besar di dunia –
dan bersama itu timbul chauvinisme nasional bahwa
pekerjaan hasil
karya terbaik putra bangsa akan menstimulir
peri-kenasionalan di
Belanda, sebagai pusatnya metropolis (Zilstra,
1959; Schoor, 1994).

Hoo (1995: komunikasi pribadi) mengatakan bahwa
aktivitas pengalihan
iptek memang fenomenal, dalam arti peneliti tidak
hanya mengambil alih
hasil dari luar tetapi aktif merambah dan
menyesuaikan iptek yang
dikembangkan di belahan dunia lain agar dapat
diterapkan dengan
sempurna di bumi Indonesia. Tidak dapat disangkal
bahwa pertanian dan
perkebunan harus memandang kritis ilmu baru karena
kondisi lembah
tropika berbeda dengan zona lintang tinggi.
Pembangkitan
mikroorganisme dan hama sangat cepat di daerah
lembab tropika ini.
Usaha proaktif mengalihkan dan menjinakkan iptek
untuk keperluan
domestik adalah suatu keharusan.

Lewis Pyenson (1987) menulis: …that in no other
European colony or
dominan were scientific standards higher or
accomplishment more
significant than on Java. Dia malah menyebutkan
bahwa, dalam kaitan
dengan imperialisme kultural, koloni Belanda,
Hindia Timur sudah
memperlihatkan beberapa keunggulan. Dia
membandingkan keberadaan
mazhab ilmiah yang sudah lahir (pada tahun 1840)
sebelumnya di Batavia
(sekarang Jakarta) dengan status kota Toronto yang
pada akhir abad 19
masih berujud kota kecil tanpa dinamika iptek. Di
Jakarta, doktor ilmu
pengetahuan sudah dianugerahkan kepada peraih gelar
kesarjanaan
tertinggi itu, sebelum Australia menyajikan gelar
tersebut di
universitasnya.

Indonesia kala itu juga sudah menyediakan sarana
dan perangkat keras,
mendahului Jepang, Kanada, India, bagi calon
pemenang hadiah Nobel,
yakni Eyckman sebagai penemu vitamin B. Penemuan
Vitamin B, yang pada
intinya berkaitan
erat dengan penumpasan penyakit beri-beri,
sekaligus mengetengahkan
pandangan baru tentang vitamin. Eyckman tidak
sendirian di deretan
raksasa pengobatan penyakit tropika dan penyakit
anjing gila. Bosch
mendahului Rudolf Virchof dalam teori typhus.

Para ahli fisika di Bandung telah meneliti sinar
kosmik pada
ketinggian 20 km pada awal tahun 1920-an. Kota ini
yang terletak
beribu kilometer jauhnya dari pusat metropolis,
Amsterdam,
mempersembahkan cabang pengetahuan baru bagi dunia,
suatu kebanggaan
tersendiri bagi ilmuwan di metropolis. Jadi, tampak
bahwa pengembangan
ilmu murni dan terapan di Indonesia pada akhir abad
19 sudah mencapai
tingkat yang tinggi dan berjalan berdampingan.

***

TENTU saja pengamat skeptis mempunyai beberapa
pertanyaan mendasar
yakni: apakah sebabnya momentum tersebut tidak
otomatis teralihkan
kepada penerusan upaya ilmiah di Indonesia?
Pertanyaan lain yang
mungkin menyentuh harga diri ialah: dapatkah atau
bolehkah kita bangga
terhadap prestasi gemilang di dalam masa yang belum
menjadi milik kita
itu?

Tentu saja sebagai bangsa yang bertanggung jawab
terhadap kemerdekaan
politiknya, sudah semestinya kita menjawab
pertanyaan tersebut dengan
serius dan mencari cara menerobos ke masa depan
sains dan teknologi
serta tidak terlarut ke dalam keemasan masa lalu.
Pernyataan ini
hendaknya kita lihat dalam lingkup yang luas sambil
mengingat bahwa
sementara ini telah banyak fondasi ilmu pengetahuan
dan teknologi yang
kita bina.

Dalam 10 tahun pertama kemerdekaan, praktis kita
tidak mempunyai waktu
untuk membangun infrastruktur ilmu pengetahuan,
karena tugas
menegakkan batas kapling negara yang masih selalu
diminati kekuasaan
lain. Namun perlu dicatat dengan bangga bahwa dalam
periode itu dua
buah universitas nasional telah menyajikan
darmabaktinya untuk
membentuk ilmuwan generasi pertama pascapenjajahan.
Jumlah lembaga
pendidikan itu kini mencapai lebih dari 76 buah
universitas negeri dan
tidak kurang dari 1.176 universitas swasta
(Hidayat, 1996).

Sarana ilmiah baik yang terkait dengan departemen
teknis maupun
non-departemen dan meliputi berbagai area ilmu
pengetahuan dan
berbagai kedalaman melengkapi peta ilmiah Indonesia
dewasa ini.
Terobosan teknologik tahun 1960-an (Alisyahbana,
1969) yang meletakkan
satelit komunikasi untuk keperluan bangsa merupakan
salah satu contoh
realistis visi ke depan upaya bangsa. Patut pula
dicatat debut
Indonesia dalam bidang agroindustri, aeroindustri
dan ilmu kesehatan.

Namun di tengah galaknya pembangunan dan
pembangkitan infrastruktur
tersebut sebenarnya kita masih galau melihat sisi
lain wajah ilmu
pengetahuan kita. Gibbs (1995) mengulas iptek yang
hilang di “dunia
ketiga”, dengan memperlihatkan rendahnya produksi
ilmiah kita diukur
dari jumlah dan mutu karya ilmiah yang tertulis dan
menjadi penilaian
publik dan mitra bestarinya. Penelitian ilmiah
adalah tidak saja
tanggung jawab ilmuwan kepada antar-generasi,
tetapi juga kepada
kemajuan. Jatidiri Hortus Botanicus di Bogor di
masa lalu diperoleh
karena ketaat-asasan penulisan penemuan ilmiah,
bukan dari besar atau
kecilnya infrastruktur.

Untuk masa depan yang panjang pertanggungjawaban
moril seperti itu
masih akan berlaku dan akan tetap merupakan ukuran
keberhasilan kita.
Kinoshita (1993) dalam mengulas geografi ilmiah di
Asia Timur belum
memasukkan sumbangan Indonesia dalam berbagai
bidang ilmu pengetahuan
(geologi, biologi) karena ulasannya terpumpun pada
penyediaan
prasarana dan sarana penelitian di abad yang akan
datang. Tetapi kita
tahu bahwa sementara itu Lembaga Eyckman telah
berdiri di Jakarta.
Juga tidak dapat diingkari bahwa dalam 3-4 tahun
terakhir ini dana
penelitian meningkat (Habibie, 1995), namun lebih
dari itu barangkali
masih diperlukan cara untuk mengalihkan sikap dan
nilai ilmu
pengetahuan agar kita dapat berada di front depan
iptek guna mengejar
kemajuan dan memperbesar daya tahan bangsa. Tanpa
mempertinggi potensi
kita dalam iptek, kita akan terdesak oleh potensi
iptek negara lain.

***

SEPERTI telah disebutkan di atas universitas
nasional dan
infrastruktur yang berwujud lembaga penelitian
sudah banyak ditemui di
wilayah Indonesia. Kemajuan numerik itu sebaiknya
tidak membuat kita
alpa karena pertanyaan dasar sebenarnya terletak
pada kemajuan
kualitatif, bahkan sebenarnya pembengkakan
kuantitatif bukan panacea
pemecahan soal masyarakat dan ukuran komitmen kita
kepada kemajuan.
Tatkala Sekolah Tinggi Teknik di Bandung didirikan
pada tahun 1920,
tujuan praktisnya sudah jelas membentuk engineer.
Namun dari
kurikulumnya diketahui bahwa engineers harus
berwawasan ilmu
pengetahuan. Rangkaian ceramah di kala itu
bertujuan untuk memberikan
wawasan ilmu pengetahuan, tanpa melupakan tujuan
utama yakni
ke-engineer-an yang berorientasi kepada
infrastruktur pekerjaan sipil.

Walaupun disadari kepentingan ilmu dasar yang
mempunyai kegunaan
jangka panjang, visi mendiktekan bahwa kekurangan
pengertian
pemanfaatan ilmu dasar untuk membangkitkan
teknologi baru tetap akan
merupakan kekurangan intelektual. Bahkan
ketidakmampuan mengalihkan
ilmu universitas kepada masalah riil di masyarakat
pembangunan (ilmu
pengetahuan dan lainnya) akan merusak citra
cendekiawan dan lembaga
pendidikan tinggi.

Adagium lama yang sering berkumandang adalah dana
tidak selalu dapat
mencetak wawasan dan pandangan. Malah sebaliknya
wawasan dan pandangan
yang harus menghasilkan dana. Aksioma itu sampai
batas tertentu masih
berlaku, tetapi dewasa ini lebih banyak gagasan
berkecamuk daripada
dana yang tersedia. Untuk meraih dana guna
merealisasi gagasan harus
bertanding – dan di sinilah letak kepentingan
pengukuhan jati diri,
untuk memperoleh pengakuan dan kepercayaan
intelektual dan teknologis.
Oleh karena itu pendidikan dan pengajaran di
Lembaga Pendidikan Tinggi
sudah seyogianya mengakomodasi pengertian bahwa
alih ilmu pengetahuan
dan teknologi harus dilangsungkan bersama dengan
pemilikan budayanya.
Budaya itu adalah budaya kritis, yang
mempertanyakan dengan skeptisme
yang terorganisir dan dalam suasana terbuka tetapi
hormat kepada
kepemimpinan ilmiah bukan hanya kepada kekuasaan
administratif.

***

DALAM tulisan ini tidak akan dibicarakan masalah
pendidikan. Namun
perlu kiranya kita mengingat bahwa pengelolaan
pembangkitan ilmu dan
teknologi itu sekarang berada di tangan kita,
bangsa yang merdeka. Dan
ini adalah tanda zaman yang membedakan masa 200
tahun yang lalu
tatkala Indonesia menjadi obyek penjelajahan dan
eksploitasi. Kalau
kita melihat kilas balik dengan kacamata sejarah
yang berbeda, kita
dapat mencoba menjawab pertanyaan kedua yang
disebut di atas.
Kebanggaan kita terhadap prestasi ilmiah di masa
lalu tidak bisa lain
kecuali kagum, tetapi mengabur karena citra yang
terpenting sebenarnya
bukan “science in the imperial history”, tetapi
“science as an
imperial history”. Iptek selalu bermata dua – untuk
memajukan ilmu dan
untuk memperkukuh legitimasi kekuasaan. Menurut
Kumar (1993, 1995)
yang mempelajari iptek kolonial baik di India
maupun di negara Asia
lain, keterlibatan bangsa Asia di dalam struktur
iptek sangat
marjinal. Hanya dalam fase ketiga, dari 4 fase
pengembangan iptek
kolonial, bangsa Asia boleh ikut bertandang dalam
iptek dalam
kapasitas sebagai pembantu pendatang dengan
keilmuan dan teknologi
barat. Mereka tidak berperan aktif. Karena itu
sudah masanya sekarang
sebagai bangsa merdeka kita menentukan kebutuhan
kita dan menetapkan
prioritas penggunaan sumber daya alam.

Dalam hubungan antar-bangsa dewasa ini, yang
ditandai dengan
mengeratnya kerja sama tanpa batas geografi negara
dan kebangsaan,
kita tidak harus menjadi paria dalam kelompok
iptek. Visi kita ke
depan adalah kita yang membuat. Ke-iptek-an sudah
tercantum dalam
GBHN, yang memperlihatkan adanya kebijakan iptek
dan iptek dalam
kebijakan. Kita harus menyadari bahwa penguasaan
iptek adalah
pengalihan interkultural, dalam satu sistem
supra-etnis. (Terima kasih
pada sdr M Irfan yang telah membantu dengan kritis
dalam penyiapan
naskah ini).

(* Bambang Hidayat, astronom, bekerja di
Observatorium Bosscha,
Institut Teknologi Bandung, Lembang, Jawa Barat.)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: