Dildaar80's Weblog

Dr. Shanaz Butt, Muslimah Amerika

Posted on: 22 Maret 2009


oleh Samrah S. Ahmad

Beberapa tahun yang lalu, pada waktu mengikuti Ijtima Nasional Lajnah Imaillah (Amerika Serikat) hatiku sedemikian dalamnya tersentuh oleh salah seorang pembicara yang penampilannya menginspirasi/mengesankan. Satu pertanyaan dibarengi dengan tetesan air pada matanya demikian menghunjamkan bekas pada hatiku, “Seberapa banyak berhala yang kita sembah setiap hari bahkan ketika kita melafalkan kalimat, ‘Laa ilaaha illallah/ tiada yang patut disembah kecuali Allah?”
Dalam hatiku, aku menjawab, “Tidak, kita tidak menyembah satu berhala pun juga!” namun dengan malu segera ia mengingatkan kita dengan lembut, “bahwa walaupun bangsa Arabia menyembah 360 berhala sebelum kedatangan Baginda Nabi s.a.w., dengan sadar atau tidak sadar, kita cenderung menyembah lebih banyak lagi berhala dalam masyarakat sekarang. Sebagai contoh, ketika kita berbohong, kita menempatkan ketakutan kita pada seseorang lebih besar dibanding ketakutan kita pada Allah, hal demikian ialah menyembah berhala kedustaan. Ketika kita malas dan melewatkan shalat atau ketika kita menyaksikan sebuah film dan waktu sholat telah berlalu, film tersebut telah menjadi berhala karena kita lebih mementingkan film daripada sholat. Beliau memberikan banyak contoh dari kehidupan sehari-hari yang membuatku sadar betapa banyak berhala yang harus kupecahkan dan bahkan jangan sampai terbayangkan tentang mereka dalam hatiku.
Pembicara yang memberi inspirasi dalam hatiku tersebut ialah Sadr Nasional Lajnah Imaillah kita (USA/AS), Dr. Shanaz Butt Sahiba. Aku merasa sangat beruntung karena Allah telah memberkatiku dengan kesempatan belajar begitu banyak dari beliau dalam berbagai bidang kehidupan. Aku mendapatkan beliau sebagai seorang ibu yang baik, sahabat sejari, saudari yang penuh kasih, penasihat yang tulus dan guru/pembimbing yang hebat. Beliau lahir di India, berasal dari keluarga Islam aliran Syiah Ismailiyyah. Pada tahun 1983 beliau menerima Ahmadiyah. Semenjak menjadi anggota jemaat, beliau banyak membaktikan waktunya sesuai kemampuan/kapasitas beliau untuk Jemaat.
Dalam organisasi lajnah, beliau telah berkhidmat dalam banyak bidang termasuk Sekretaris Umum dan Na’ib Sadr dan telah mengorganisasikan pertemuan-pertemuan (ijtima-ijtima) bagi kita semenjak 1990. Ijtima pertama dihadiri oleh 50 orang. Sekarang kita menikmati berkumpulnya 1000 orang (LI) lebih yang datang dari tempat yang jauh hanya untuk menghadiri satu dari 4 ijtima yang diselenggarakan tiap tahun (to attend one of the 4 Ijtemaat held each year). Beliau terpilih sebagai Sadr Nasional, Lajnah Imaillah USA (United States of Amerika/Amerika Serikat) pada tahun 2000. Disamping berkhidmat pada Lajnah/Nasirat, beliau juga membaktikan dirinya pada beberapa kepengurusan Jemaat seperti Islahi/tarbiyat, Peringatan Seratus Tahun Khilafat, Penghargaan Bakat/Talent Award, Pendidikan/Ta’lim, Rishta Nata, dan termasuk dewan redaksi majalah ‘Muslim Sunrise’ dan ‘Al-Hilal’. Beliau telah menikah dan seringkali mengatakan bahwa walaupun mempunyai dua anak kandung namun beliau menganggap semua anak-anak ahmadi adalah anak beliau sendiri dan merasa beruntung menjadi bagian dari keluarga yang besar ini (jemaat).
Dalam profesinya, Ibu Sadr (Sadr Sahiba) mempunyai gelar doktor bidang pengobatan kimia (medicinal chemistry). Beliau adalah seorang professor bidang ilmu otak tepatnya dikenal dengan nama neuropsychopharmacology. Beliau telah menerbitkan sekitar 50 makalah dalam bidang riset beliau dan telah mempresentasikan riset tersebut pada pertemuan nasional (AS) dan internasional kira-kira 75 kali! Beliau adalah dekan/ketua tamu (associate dean) pada College of Graduate Studies dan menjadi Direktur pada kantor Karya Intelektual dan Teknologi Transfer di Universitas Sains, Philadelpia (salah satu kota di Amerika Serikat/AS). Saya berbincang-bincang dengan Sadr Sahiba (Ibu Sadr) atas nama semua ‘anak-anaknya’ yang mungkin sedang mencari bantuan mengenai target di bidang pendidikan mereka, karir yang hendaknya dipilih, atau bagaimana menggunakan bakat dan waktu mereka untuk mengkhidmati Jemaat ini. Demikianlah petikan wawancaranya:
Dimanakah dulu ibu bersekolah?
Saya dulu bersekolah di English Convent School (Sekolah Konvensional berbahasa Inggeris) yang muridnya semua perempuan di pinggiran kota Bombay, India. Hasilnya, saya belajar keras hingga dapat berbicara atau menulis dalam bahasa Inggeris. Namun demikian, saya juga akrab dengan banyak bahasa seperti Hindi, Gujarati, Kutchi, Marathi dan Punjabi (bahasa daerahnya Masih Mauud-pent.)
Kegiatan apakah yang ibu ikuti di sekolah ibu waktu itu?
Secara teratur saya mengikuti kegiatan elocution (
seni deklamasi, keahlian membaca atau mengucapkan kalimat dengan logat dan lagu yang baik di muka umum), berdebat dan drama. Saya juga suka berenang, tenis, bersepeda dan bola voli. Pada waktu tingkat 9 (mungkin SMP kelas 3-pent.), saya mulai cenderung ke semua bidang sains (ilmu pengetahuan murni) karenanya saya lemah dalam bidang sejarah, geografi dan humaniora.
Pendidikan macam apa yang mengarahkan ibu pada karir yang sekarang?
Ketika saya menyelesaikan high school (SMP dan SMU), saya diijinkan melompat ke tingkat pertama perguruan tinggi karena nilai-nilai saya (bagus). Saya menyelesaikan gelar BS dengan mengambil dua mata pelajaran pokok, mikrobiologi dan kimia. Ketika saya menyelesaikan gelar MS dalam bidang kimia organis; Universitas Bombay memberi saya penghargaan Gold Medal (medali emas) dan penghargaan lainnya. Saya datang ke Amerika Serikat dengan bea siswa dan lulus dengan gelar PhD di bidang Pengobatan Kimia (Medicinal Chemistry) dari Medical College di Virginia.
Apa yang ibu inginkan ketika sedang tumbuh dewasa/remaja?
Sebuah kehidupan panjang yang penuh dengan belajar! Menjadi pembelajar yang tekun dan ‘rakus’ ilmu. Saya mengajukan pertanyaan yang sangat banyak. Ayah saya merasa bahwa kegemaran saya akan terpuaskan bila saya kuliah di Fakultas Medis/Kedokteran (Medical School). Bagaimanapun, saya merasa canggung dengan orang-orang dan sangat cinta ditemani oleh buku-buku. Oleh karena itulah, saya memutuskan bahwa tabung percobaan lebih kurang menakutkannya dibanding manusia, khususnya orang yang sakit. Dengan mudah saya gampang tersentuh oleh penderitaan dan kelaparan, saya pikir saya tidak akan menjadi dokter yang baik jika saya secara emosi terlibat dalam kesakitan pasien saya.
Saya ingin tetap menjadi mahasiswi selamanya dan mendapat gelar Ph.D karena gelar tersebut merupakan tingkat tertinggi yang bisa dicapai seseorang dan itu akan mengarah pada penelitian terus-menerus dan karenanya tetap belajar. Saya tidak mempunyai gagasan apakah yang dapat saya lakukan dengan gelar ini sekali saya mendapatkannya. Pilihan saya pada waktu itu ialah murni didasarkan pada hasrat saya untuk belajar, bukan pada jalur karir tertentu.
Bagaimanakah ibu bisa memutuskan untuk menjadi seorang peneliti (researcher)?
Beban awal bagi gelar Ph.D saya ialah saya bekerja fokus pada mempersiapkan senyawa guna mengobati kanker. Bagaimanapun, di Universitas Pennsylvania, saya bekerja bersama sekelompok psychiatris dan neuroscientist dan proyek penelitian pertama saya ialah memasukkan senyawa-senyawa yang bisa digunakan untuk menggambarkan otak. Pada waktu itu, saya tidak melakukan karya biologis satu pun melainkan terlibat dalam pekerjaan bidang obat-obatan secara kimiawi. Seorang teknisi di dalam laboratorium melakukan pengujian kadar logam hidup (bioassays) untuk menemukan apakah senyawa-senyawa yang saya buat secara biologis aktif atau tidak.
Bagaimanapun, hal itu terjadi bahwa teknisi tersebut sibuk dengan percobaan lainnya. Karena tidak sabar, saya melakukan percobaan sendiri untuk menentukan aktivitas senyawa-senyawa ini dan mulai mengajarkan pada diri saya phisiologi dan farmakologi dari sistem syaraf pusat. Sisanya ialah sejarah! (the rest is history). Saya tidak melihat ke belakang pada bidang kimia sejak itu dan mengarahkan diri saya sendiri sebagai seorang neuropsychopharmacologist (bidang pengobatan syaraf dan kejiwaan) yang merupakan kata besar/penting bagi pembelajaran bagaimana perbedaan obat-obatan mempengaruhi otak dan kebiasaan kita.
Apakah riset/penelitian ibu dapat membantu orang-orang?
Saya suka untuk percaya bahwa riset saya telah membantu membuka beberapa misteri mengenai bagaimana kita bisa sakit secara mental/kejiwaan. Ketika kita menjadi tertekan/stres dalam waktu yang lama, stress tersebut menyebabkan perubahan pada ‘mood’ kita dan kemampuan berkonsentrasi, mengarah ke depresi, kecemasan dan masalah mental lainnya sebagaimana problem fisik jika kita tidak berhati-hati. Khususnya di dalam masyarakat Barat, ketika orang mendapat stress, mereka cenderung menjadi perokok, meminum alkohol atau narkoba yang mempengaruhi pikiran mereka.
Dikarenakan tidak mungkin bagi kita untuk mengadakan percobaan dalam riset macam ini pada manusia yang hidup, laboratorium kami menggunakan hewan percobaan guna mempelajari hubungan-hubungan internal ini. Kami menggambarkan berbagai bagian otak yang berbeda dan mempelajari jalur-jalurnya dan otak secara kimiawi dan obat-obatan yang bertanggungjawab menyebabkan atau mencegah depresi, ketagihan obat dan alcohol, dan tekanan kejiwaan lainnya yang berhubungan dengan kekacauan mental.
Mengapa ibu suka mempelajari tentang otak?
Jika saya memikirkan tentang hal itu, kita semua mempunyai hati, darah, otot, ginjal, perut dan lain-lain. Secara teknis hal ini membuat kita semua identik/sama saja. Tetapi kita berbeda satu dengan yang lain. Alasan yang membuat setiap kita unik ialah pada cara kita berpikir, merasa, bereaksi dan mempunyai kebiasaan.
Perbedaan ini berasal dari otak dan bagaimana otak itu merasakan lingkungan di dalam dan sekitar kita. Inilah dia otak kita yang mengabdikan diri sebagai ‘Master Mind or Command Center’/Tuan pemilik Pikiran atau Pusat Komando dan mengontrol memori/ingatan, tidur, nafsu/selera, gerakan, mood, pemikiran dan perasaan kita. Otak mengontrol kinerja hati, ginjal, dan lain-lain dan hal ini kita ketahui sedikit tentangnya. Masih banyak yang perlu dipelajari dan ditemukan tentang organ tubuh istimewa ini yang mana meskipun saya menghabiskan sisa hidup saya fokus pada otak, saya rasa saya hanya tahu sedikit tentangnya, sangat sedikit.
Bagaimana ibu terlibat dalam kegiatan Lajnah?
Ketika saya menjadi bagian dari Lajnah Jemaat Cabang Philadelphia, saya pikir bahwa bila saya berkhidmat secara sukarela dlm beberapa cara atau lainnya, saya mendapat kesempatan belajar lebih banyak mengenai Islam. Saya terpilih sebagai pengurus lokal menjadi sekretaris umum kemudian waktu itu sdri Salamah Ghani, yang waktu itu Sadr Nasional Lajnah Imaillah USA meminta saya mengatur Ijtima Nasional Lajnah. Pada hari-hari itu, kita menyelenggarakan ijtima nasional (Lajnah Imaillah); sekarang kita mengorganisasi seluruh negeri (AS).
Saya menerima bantuan dari banyak anggota lajnah dan dalam rangka mencoba mengorganisasi even ini, saya mulai perjalanan saya sebagai anggota Lajnah. Saya menemukan pekerjaan yang begitu memuaskan dan saya menjadi tertarik dalam dunianya untuk menjadi pengkhidmatnya. Waktu demi waktu saya serahkan padanya (dunia Lajnah-pent.).
Bagaimana ibu menghubungkan pekerjaan ibu di universitas dengan pengkhidmatan di dalam Lajnah Imaillah?
Ada banyak manfaat yang saling berkaitan. Apa pun yang saya pelajari di dalam karir/pekerjaan saya, saya bawa kembali ke Lajnah dan menggunakannya untuk kemanfaatan Jemaat. Apakah itu berupa komputer, organisasi, manajemen, berbicara di depan umum (public speaking), rencana strategis, dan keterampilan lainnya, saya mencoba menggunakan apa saja hal baik yang saya pelajari dalam karir saya untuk keperluan/kepentingan Jemaat. Interaksi/hubungan saya dengan para mahasiswa saya membuat saya mengerti perjuangan yang mereka lalui berkaitan dengan pilihan karir mereka atau tanggungjawab keuangan mereka atau kehidupan pribadi mereka.
Karenanya, hal itu membuat saya mempunyai perspektif/cara pandang yang lebih baik mengenai beberapa tantangan yang dihadapi oleh anggota jemaat kita yang masih muda dalam menghadapi masyarakat ini dan membuat saya lebih besar pengertian dan rasa kasihnya. Dalam interaksi dengan mahasiswa dan kolega di kampus, saya dapat menghilangkan kesalahpahaman mengenai Islam, terutama mengenai peran kaum wanita dalam Islam, dan saya banyak berdiskusi tentang isu-isu moral dan etika dengan para mahasiswa/wi dan teman-teman fakultas. Menjadi pengkhidmat aktif terlibat dalam karya-karya/pekerjaan/kegiatan demi karena Tuhan dapat mengubah perspektif/cara pandangmu mengenai dunia sekitarmu. Semakin bagus hubunganmu dengan Tuhan, akan kamu dapati bahwa hubunganmu dengan sesamamu juga membaik. Kamu menjadi lebih sedikit terpengaruh oleh tekanan kuat negatif dan semakin banyak pengaruh baik yang menetap pada nilai-nilai dan prinsip yang kamu anut. Hasilnya, kamu membangun kepercayaan besar dan penghormatan dari orang-orang di sekitarmu.
Apakah nasihat yang hendak ibu berikan kepada anak-anak Jemaat USA/Amerika Serikat?
Jadilah pembelajar sepanjang hidupmu dan senantiasa berusaha keras menjadi terbaik dalam dalam segala hal positif. Engkau adalah anak yang cerdas dan mampu, dan saya yakin kamu dapat mencari pendidikan yang baik. Namun demikian, saya mohon janganlah memilih karir/pekerjaanmu demi karena banyaknya uang yang kau dapat atau bagaimana kamu bisa menjadi kaya-raya.
Alih-alih/daripada seperti itu, hendaklah mencari/memilih pendidikan dengan dasar kemampuan dan minatmu dan bagaimana kamu bisa membantu Jemaat setelah kamu lulus. Ingatlah bahwa bakat/kemampuan datang dari Tuhan, dan ketika kamu bekerja di jalan Tuhan, kamu berada dalam keadaan dimana kamu sedang berterimakasih/bersyukur kepada Tuhan atas apa-apa yang telah Dia karuniakan kepadamu. Agar kamu menjadi Ahmadi yang kuat ketika kamu dewasa, hendaknya memiliki kebiasaan berkata benar.
Janganlah mempunyai kebiasaan menyenangkan orang sekitarmu (dengan berdusta-pent.). Terlebih dahulu hendaklah mempunyai kebiasaan berusaha menyenangkan Tuhan (mendapat ridho-Nya karena berkata benar-pent.) Dimana saja kamu berada baik itu di masjid, rumah, sekolah, universitas atau di dalam pekerjaanmu, senantiasalah berbicara dalam ‘bahasa’ Islam. Kenakanlah ‘tanda pengenal’ yang terhormat ini dengan bangga sehingga kamu dapat menjadi duta/utusan Islam dalam segala hal yang kamu lakukan. Semua hal yang kamu lakukan lebih berarti dibanding ucapan-ucapanmu dalam menunjukkan keimananmu dan kecintaanmu pada Tuhan. Akhirnya, akan saya tinggalkan sekeping nasihat yang diberikan oleh ibu saya ketika saya sedang tumbuh remaja. Beliau (ibu saya) biasa menasihatkan saya “Do your best, and God will do the rest.” “Berusahalah sebaik-baiknya, selanjutnya biarlah sisanya Tuhan yang menyelesaikan” saya berdoa semoga Allah menjadikanmu selalu mampu melakukan hal terbaik, aameen.

Iklan

12 Tanggapan to "Dr. Shanaz Butt, Muslimah Amerika"

maaf sebelumnya jika sedikit menyinggung. tapi saya kira yang namanya muslim itu adalah orang bersyahadat bahwa Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah. pada syahadat kedua, itu telah termasuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Penutup akhir jaman. Tak ada lagi Nabi setelahnya.
lihat sejarahnya, bahwa para Nabi itu diturunkan ketika umat nya tidak mau tunduk pada ajaran nabi tersebut. Nabi Isa as. gagal membuat umat nya tunduk bahkan berusaha membunuhnya. datanglah Nabi Muhammad Saw. jadi nabi pendahulu gagal, maka Allah mengutus Nabi Berikutnya. dalam hal Nabi Muhammad, Beliau tidak bisa dibilang gagal karena umatnya telah tersebar ke seluruh dunia. jadi tidak ada logikanya bila ada Nabi setelah Nabi Muhammad Saw.
anda masih mengira bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu seorang nabi?
pengikut Ahmadiyah yang bersahadat bahwa Mirza itu seorang Nabi, maka ia telah keluar dari Islam.

mohon kalau anda berpendapat tunjukkan ayat alquran dan hadisnya. Tuliskan teks asli arabnya bahwa sesuai kata anda ada ayat Alquran dan Hadis yang bunyinya seperti itu…bahwa…muslim itu adalah orang bersyahadat Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah. pada syahadat kedua, itu telah termasuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Penutup akhir jaman. Tak ada lagi Nabi setelahnya.

Ada tidak dalam hadis tersebut kata-kata…ermasuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Penutup akhir jaman. Tak ada lagi Nabi setelahnya.

Ya Allah berikan petunjuk kepada kami dan kepada saudara kami agar kembali ke jalan-Mu dan Rasul-Mu, Muhammad saw. dan jauhi kami dari orang-orang yang menyimpang dari ajaran-Mu.

aamiin…

Yang saya minta singkat kok yaitu…Tuliskan teks asli arabnya bahwa sesuai kata anda ada ayat Alquran dan Hadis yang bunyinya seperti itu…bahwa…muslim itu adalah orang bersyahadat Tiada Tuhan Selain Allah, dan Muhammad Utusan Allah. pada syahadat kedua, itu telah termasuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Penutup akhir jaman. Tak ada lagi Nabi setelahnya.

Ada tidak dalam hadis tersebut kata-kata…termasuk bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi Penutup akhir jaman. Tak ada lagi Nabi setelahnya.

Jangan minta saya buka-buka website atau situs atau wordpress yang isinya maki-maki dengan kata-kata penuh dendam dan kebencian, merendahkan, merasa benar sendiri.
Sy lebih suka bc ayat-ayat Alquran beserta tafsir santun, enak dibaca, ilmiah dan penuh kedamaian. Juga hadis.

Rasulullah SAW menegaskan: “Posisiku dalam hubungan dengan nabi-nabi yang datang sebelumku dapat dijelaskan dengan contoh berikut: Seorang laki-laki mendirikan sebuah bangunan dan menghiasinya dengan keindahan yang agung, tetapi dia menyisakan sebuah lubang di sudut untuk tempat sebuah batu yang belum dipasang. Orang-orang melihat sekeliling bangunan tersebut dan mengagumi keindahannya, tetapi bertanya-tanya, kenapa ada sebuah batu yang hilang dari lubang tersebut? Aku seperti batu yang hilang itu dan aku adalah yang terakhir dalam jajaran Nabi-nabi”. (Bukhari, Kitab-ul-Manaqib).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menerangkan akan kesempurnaan Syariat Islamiyyah yang dianugerahkan Allah swt kepada beliau dan didalam perbandingan antara Syariat yang beliau bawa dibandingkan dengan Syariat-syariat terdahulu,beliau bersabda :

مثلي و مثل الأنبياء من قبلى كمثل رجل بنى بنيانا فأحسنه و أجمله إلاّ موضع لبنة من زاوية من زوياه فجعل الناس يطوفون به ويعجبون منه و يقولون هلاّ وضعت هذه اللبينة قال فأنا اللبينة و أنا خاتم النّبيّين (مسلم جلد ٢ ص ٢٤٨, البخارى جلد ١ص ٥٠١ مسند أحمد ٤٩٨, جامع الترمذي جلد ٢ ص ٥٤٤)
Artinya : “Permisalan antara aku dan Anbiya sebelumku tak ubahnya seperti seseorang yang membuat sebuah rumah lalu dihiasinya rumah tersebutdengan indahnya, orang-orang meninjau mengelilingnya dan sangat mena’ajubinya dan mengatakan,ah sayang, satu batu bata ini kenapa tidak terpasang? Beliau berkata sayalah batu penjuru itu dan saya adalah Khatamun Nabiyyin”.

Allamah Ibnu Hajar dalam penjelasan mengenai Hadits tersebut mengatakan :
المرادهناالنظر الى الاكمال بالنسبت الى الشريعة المحمدية مع ما ماض من الشرائع الكاملة ( فتح البارى جلد 2 ص 380 )

Maksud dari bangunan itu sebagai satu perbandingan kesempurnaan Syariat Muhammadiyyah dibandingkan dengan syariat-syariat sempurna lainnya yang telah berlalu sebelum beliau.
Perlu dicermati,bahwa di dalam Hadits tersebut, Rasulullah saw. hanya membandingkan permisalannya dengan nabi-nabi terdahulu yaitu nabi-nabi pembawa syariat/nabi mustaqil. Tidak diragukan bahwa syariat Tasyri’i /Mustaqil itu dimulai bermula dari Nabi Adam a.s dan penyempurnaannya adalah nabi Muhammad Rasulullah saw.
Jadi didalam Hadits ini tidak bisa dikaitkan tentang nabi/umati atau nabi ghaer tasyri’I yang akan datang sesudah beliau saw., sebab Rasulullah saw. mengatakan Al Masihil Mau’ud nanti adalah seorang nabi Allah dan juga sebagai nabi umati.
Kata بعدى menyatakan bahwa setelah beliau akan berlangsung khulafa yang tidak berpangkat nabi.
Mengenai Al Masihil Mau’ud yang dijanjikan, Rasulullah saw. menjelaskan bahwa ia itu seorang nabi dan sebagai Khalifah beliau. Di dalam Hadits Tabrani disebutkan :
الآ إنه ليس بينى و بينه نبيّ ولا رسول والآ أنه خليفتى فى أمتى (طبرانى الأوسط والكبير)
Ketahuilah antara aku dan dia (Masihil Mau’ud) tidak ada nabi dan tidak pula akan ada Rasul dan ketahuilah dia itu didalam umatku dia itu khalifahku.

Begitu pula di dalam Shahih Muslim Nawas bin Sam’an meriwayatkan tentang kemunculan Dajjal diriwayatkan Isa Ibnu Maryam disebutkan 4 kali sebagai Nabiullah.
يحصر نبيّ الله عيسى و أصحابه …. فيرغب نبيّ الله عيسى و أصحابه …. ثمّ يهبط نبيّ الله عيسى و أصحابه…. فيرغب نبيّ الله عيسى و أصحابه
(صحيح مسليم باب خروج الدجال و مشكوة باب العلمات بين يدي الساعة و ذكر الدجال)

Di tempat lain Rasulullah saw bersabda:
أرسلت الى الخلق كافة و خُتِم بي النّبيّون (صحيح مسليم باب فضائل و مشكوة باب فضائل سيد المرسلين)
Artinya : Aku ini diutus bagi sekalian makhluk diseluruh alam dan dengan perantaraanku di khatamkan nabi nabi,( pembawa syariat baru).

Syah Waliullah Muhaddits Dehlwi menjelaskan tentang Hadits tersebut :
إنه لا نبيّ بعدى و سيكون خلفاء (صحيح بخاري جلد ١ ص ٤٩ مسند أحمد بن حنبل جلد ٢ ص ٩٧)
Maksud dari kalimat سيكون خلفاء tidak akan datang seorang nabi pun yang mana atas dirinya Allah Ta’ala memberikan syariat baru, diutus kepada umat manusia segera sesudah beliau wafat, melainkan para khulafalah yang akan menggantikan sesudah beliau setelah beliau wafat nanti.

ini dalil yang menyatakan bahwa Nabi Muhammad Saw adalah Nabi Terakhir :

http://syiarislam.wordpress.com/2007/09/27/dalil-nabi-muhammad-nabi-terakhir/

kalau antum tidak bisa menerima dalil itu juga. berarti memang kita tidak sepaham mengenai ahmadiyah ini, dan perdebatan ini tidak perlu diteruskan lagi. walau 1000 dalil diberikan tidak akan bisa menerima kalau memang tidak sepaham bahwa mirza ghulam ahmad bukanlah seorang nabi.
syukron.

@Muslims

And these are the dalils for Ahmadi Muslim’s Intrepretation:

Dear readers,

Here I present the verdicts and views on the issue of over a dozen celebrities of Islam, who represent all time periods starting from contemporaries of Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, to the time of Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, peace be upon him, founder of the Ahmadiyya Movement in Islam. None of these people belonged to the said movement, since the latter did not even exist then. Yet, the opinions they held, are contrary to present non-Ahmadiyya views. Take a look at the following names, and see if any bells ring in your minds — regarding their status in the Muslim world in their being great scholars of authority and also, note their respective time periods:

1. Ummul Mo’mineen, Hazrat Ayesha Siddeeqa R.A., (death year 58 A.H.) (the Prophet Muhammad’s (pbuh) blessed consort)
2. Imam Raaghib Al Isfahani (RA) (died 502 A.H.)
3. Hazrat Syyed Abdul Qaadir Jilaani, AR (died 562 A.H.)

(This scholar was also Mujaddid of the 6th century)

4. Hazrat Mohiyyuddin Ibni ‘Arabi, AR (died 638 A.H.)
5. Hazrat Maulana Jalaaluddin Roomi (died 672 A.H.)
6. Hazrat Syed Abdul Karim Jilaani, AR (died 767 A.H.)

7. Imam Abdul Wahhab She’raani AR (died 976 A.H.)
8. Imam Muhammad Tahir, AR (died 986 A.H.)
9. Al Imam Ali Qaari AR (died 1014 A.H.)
10. Hazrat Shah Waliyullah Muhaddith of Delhi, AR (died 1176 A.H.)
11. Hazrat Maulvi Abdul Haye of Lakhnow, AR (died 1304 A.H.)
12. Hazrat Maulvi Muhammad Qaasim of Nanauta, AR (died 1307 A.H.)

(founder of the Deoband school)

13. Nawab Siddeeq Hasan of Bhopal, AR (died 1307 A.H.)

These towering figures in Islam have given their verdict about how Muslims should interpret “Khatam-an-Nabiyyeen” (Seal of the Prophets). All of them believed in the continuation of prophethood.

Hazrat Ayesha Al Siddeeqah (ra)

First of all, Hazrat Ayesha Al Siddeeqah’s verdict:

“QOOLOO INNAHU KHATAMUL ANBIYAA’I WA LAA TAQOOLOO LAA NABIYYA BA’DAHU”

(Takmilah Majma’ul Bihaar, p. 85)

“Say he is ’seal of prophets’ but do NOT say ‘there is no prophet after him’”

It appears that she knew that the statement could easily be misconstrued, and to the effect, presented her valued clarification.

Imam Raaghib Al Isfahaani

Our second hero, the saint Imam Raaghib Al Isfahaani, Rehmatullah Alaih wrote:

“Prophethood is of two kinds, general and special. The special prophethood, viz: the law-bearing prophethood is now unattainable; but the general prophethood continues to be attainable.”

(Bahr al Muheet, vol. 3, p. 28)

The “general” kind of prophethood is also the one that Ahmadi Muslims believe continues, and not the law-bearing one.

Hazrat Sayyed Abdul Qaadir Jilaani

The founder of the “Qadiriyya” school, Hazrat Sayyed Abdul Qaadir Jilaani (R.A.) wrote:

“These attributes are found in the Holy Prophet in the highest abundance, peace and blessings of Allah be upon him. That is the reason why he is called Khataman Nabiyyeen.”

(Tuhfa Mursala Shareef: p. 5)

This, indeed is the exact same view that Ahmadi Muslims hold, about the expression of Khataman Nabiyyeen, yet, they are singled out by a lot of modern day Muslims as non-Muslims. Why not expel Hazrat Jilaani from Islam first, since he held this view first?

Hazrat Mohiyyuddin Ibni Arabi

Hazrat Mohiyyuddin Ibni Arabi (Rehmatullah Alaihi) wrote:

“’ISAA ALIHIS SALAAMU YANZILU FEENA HAKAMAN MIN GHAIRI TASHREE’IN WA HUWA NABIYYUN BILAA SHAKKIN”

(Fatoohati Makkiyyah, vol. 1, p. 570)

“Jesus, may peace be upon him, will descend upon us as a Hakam, without a law and will be a prophet without any doubt.”

Then he writes:

“That prophethood which ended with the advent of the Prophet (pbuh), is only law-bearing prophethood and not the status of prophethood. Thus now there will be no law that cancels the law of the Prophet (pbuh) or that adds to its commandments”

(Fatoohaati Makkiyyah, vol. 2, p. 3)

Then he writes:

“FAMARTAFA’ATIL NUBUWWATU BIL KULLIYYATI LIHAAZA QULNAA INNA MA-ARTAFA’TU NUBUWWATAT TASHREE’I FA HAAZA MA’ANI ‘LAA NABIYYA BA’DAHU”

“Thus prophethood has not been totally abolished. This is why we have said that only law-bearing prophethood has been abolished and this is what is the meaning of (the Hadith) ‘there is no prophet after him’ “

Hazrat Maulana Room

The great saint, Hazrat Maulana Room (Rehmatullah Alaihi) writes:

“Make such plans to perform righteousness in the way of God that you attain prophethood within the Ummat (religious community)”

Hazrat Sayyed Abdul Kareem Jilani

Hazrat Sayyed Abdul Kareem Jilani, the renowned mystic of the 8th century of Hijra wrote:

“Hazrat Muhammad, peace and blessings on him, is the Khataman Nabiyyeen because he attained the highest perfection which no prophet ever did”

(Al Insaanul Kaamil: vol. 1, Ch 36. Pg 69)

Clearly, the controversial expression “khataman nabiyyeen” according to him, was not based on the Prophet’s (pbuh) being last.

Hazrat Imam Abdul Wahhab She’raani

Hazrat Imam Abdul Wahhab She’raani (Alaihir Rehmah) wrote:

“FA INNA MUTLAQAN NUBUWWATI LAM TARTAFI’ WA INNAMARTAFA’AT NUBUWWATUL TASHREE’I”

(Al Yawaaqeetu Wal Jawaahir: pg 27, argument # 3)

“Thus, without doubt, …… prophethood has not been abolished and it is only law-bearing prophethood that is abolished”

Hazrat Imam Muhammad Tahir

Hazrat Imam Muhammad Tahir, commenting on Hadhrat Ayesha’s (ra) statement: say he is Khataman Nabiyyeen but do not say there is not prophet after him:

“HAZA NAAZIRUN ILAA NUZOOLI ‘ISAA WA HAZA AIZAN LAA YUNAA FEE HADEETH LA NABIYYA BA’DEE LI ANNAHU ARAADA LAA NABIYYA YANSAKHU SHAR’AHU”

(Takmilah Majma’ul Bihaar, pg 85)

“This saying is based on the fact that Jesus is going to descend (as prophet) and it is not against the Hadith ‘there is no prophet after me’ because the Prophet (pbuh) meant ‘there will not be any prophet who would cancel his law.”

Hazrat Imam Ali Qaari

Hazrat Imam Ali Qaari (Alaihir Rahmah), an Imam of the Hanafi school and a renowned interpreter of Hadeeth, wrote:

“That there is no revelation after the Holy Prophet (pbuh) is false; there is no truth in it. Yes! in the Hadith are the words ‘La Nabiyya Ba’di’ which, according to scholars, means that there will not be such a prophet in the future who brings such a law that abrogates that of the Holy Prophet (pbuh).”

(Al Ishaa’at Fil Sharaatis Saa’ah, pg 226)

Hazrat Shah Waliullah

Hazrat Shah Waliullah Muhaddith of Delhi (Alaihir Rahmah), the Mujaddid of the 12th century and given the title of “Khatamal Muhadditheen” by some writers was of the following view:

“KHUTIMA BIHIN NABIYYOONA AI LAA YURJADU MAN YA’MURUHULLAHU SUBHAANAHU BITTASHREE’I ‘ALANNAASI”

(Tafheemati Ilaahiyyah, Tafheem # 53)

“The ending of prophets at the advent of the Holy Prophet means that after him, there can be no such person as would be given a law by the Almighty Allah and sent to the people.”

Hazrat Maulvi Abdul Haye

Hazrat Maulvi Abdul Haye of Lacknow writes:

“After the Holy Prophet (pbuh) or during his time, for a prophet to appear is not improbable”

(Daafi’ul Wasaawis Fee Athar Ibn Abbaas, New Edition, pg 16)

Maulvi Muhammad Qaasim

Maulvi Muhammad Qaasim of Nanauta (Rehmatullah Alaih) who was the founder of the Deoband Seminary, an organization now viewed with respect by anti-Ahmadiyya organizations, also believed in the views such as the ones I am presenting here. He stated:

“According to the layman, the Messenger of Allah, peace and blessings on him, being Khatam is supposed to have appeared after all the other prophets. But men of understanding and the wise know it very well that being the first or the last, chronologically, does not carry any weight. How could, therefore, the words of the Holy Quran ‘But he is the messenger of Allah and the Seal of Prophets (33.41)’ mean to glorify him? But I know very well that none from among the Muslims would be prepared to agree with the common men”

(Tahzeer-ul-Naas: pg 3)

Nawab Siddique Hasan Khan

Also, among recent scholars, Nawab Siddique Hasan Khan of Bhopal, who was the leader of the Ahle Hadith in India wrote:

“The Hadith ‘La Wahya Ba’da Mautee’ is baseless, although ‘La Nabiyya Ba’adee’ is quite correct, which, according to people with knowledge, means that ‘there shall be no prophet after me who shall be raised with a new code of Law which shall abrogate my law’.”

(Iqtarabus Saa’at: pg 162)

This list is by no means exhaustive but representative and even so, partially. I shall leave you with a joint statement agreed upon by two scholars, Hazrat Imam Muhammad bin Abdul Baqee and Ibni ‘Asakar, which has impressed me so much with the beauty of their words that I present it to you as a closing statment, and I think what they said could not have been said better. As background knowledge, let me mention that one meaning of “Khatam” is finger-ring:

“The meanings of KHATAMAN NABIYYEEN are that the Holy Prophet, in his physical and spiritual build, is the most charming and lovable personality, peace be upon him. This is because the glory and the spiritual magnitude of all the prophets is manifested through him and he can be likened to the beautiful ring worn for adornment.”

(Zarqani Sharah Mwahabul Luddunia: vol. 3, pg 163 and Sehlul Huda wal Irshad: pg 55)

I have seen a lot of the actual books of these scholars with my own eyes — where? — in the office of a friend of my father, Dost Muhammad Shahid, who is the official historian of the Ahmadiyya Movement in Islam. I wonder if I shall ever see him again because I heard that he is imprisoned in Pakistan, in offense of having written verses of the Holy Quran. If an Ahmadi Muslim does this in Pakistan, or just “poses as a Muslim”, he/she is liable to imprisonment.

I think I have made my case pretty fairly. I have written this series of articles not with the intention to “show off” that my understanding of the subject is better than any one else’s; it could be worse. I have tried to restrict myself to brief comments, giving most of the length to quotations. The treasure of knowledge given to us by these great scholars is our common heritage. At the time they made their invaluable contributions to knowledge, there was no Ahmadi or non-Ahmadi Muslim. I expect that readers will try to keep all hatred, malices, dislikes, prejudices and veils on hearts aside while doing the reading. Clearly, there is a wealth of information on the subject of finality or continuity of prophethood, which ever is the case. The purposes of this series has been to advance scholarship, uncover some less talked-about issues, reduce distance between people opposed to each others’ views and begin a new round of discussion which, I hope, would be free of flames, like these articles of mine have been.

Peace be upon one who follows guidance.

Regards To Readers,

Copied from “On finality of Prophethood” by Rasheed A. Khan, Boston, Massachusettes, U.S.A. – Material © 1995-98 Ahmadiyya Muslim Community

@Muslim:
And these are Ahmadi Muslims’ saying about the evidences on Khataman Nabiyin from the Qur’an. Let’s discuss from here.

Dear readers,

This is the first in a series of articles dealing with the question of the finality of prophethood. In this article, I give evidence based on verses of the Holy Quran, the divine book of Muslims. Many non-Ahmadi Muslims strongly believe that no prophet can come to the world now, since the Holy Prophet Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, has appeared. Ahmadi Muslims believe, based on several points of evidence, that prophets can still appear after Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, among his followers, the restriction of no more prophets being for one who abrogates the existing Islamic Shariah or code of law, and brings a new one.

The verse non-Ahmadi Muslims most often present, is the following:

“MAA KAANA MUHAMMADUN ABAA AHADIN MIRRIJAALIKUM WALAAKIN RASOOLALLAHI WA KHATAMAN NABIYYEEN…”
(The Holy Quran, Chapter 33; verse 41 including Bismillah .. as a verse)

Meaning:

Muhammad is not the father of any of your males but is a messenger of Allah and is the seal of the prophets…

This verse was revealed to Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, when his adversaries jeered at him for his being issue-less, when God comforted him with this verse among others, indicating his greatness and superiority. The word “walaakin” (“but”) in the verse indicates that his being issue-less is of little or no significance when one looks at his great qualities mentioned in the next part of the verse. Nowhere in the verse is there mention of his being the “last” prophet. If “seal” is taken to mean “last” in the context, it does not make any logical sense, as that would have further aggravated the mockery — what good is there in coming last of all anyway? It does not signify greatness. The “seal” should be taken to mean the seal of authority, under attestation of which one can attain prophethood and in no other way. This seems to make more sense as shown by subsequent verses in the article:

In the very first chapter of the Holy Quran (Al Fatehah), God says:

“IHDINASSIRAATAL MUSTAQEEM. SIRAAT ALLAZEENA AN’AMTA ALAIHIM” (Al Quran 1:6-7)

Guide us in the right path, the path of those on whome thou hast bestowed thy blessings

The chapter containing the above verse is supposed to be recited by every Muslim 30 or so, times in 24 hours, in which they ask for these blessings. As to who the recipients of these blessings are is defined in another verse of the Holy Quran:

“WA MAN YUTI’ILLAAHA WARRASOOLA FA ULAAIKA MA’ALLAZEENA AN’AMALLAAHU ‘ALAIHIM MINAL NABIYYEENA WASSIDDEEQEENA WASHSHUHADAAI WASSAALIHEENA, WAHASUNA ULAAIKA RAFEEQAA”.
(Al Quran 4:70)

And whoso obeys Allah and his Messenger shall be among those on whom Allah has bestowed his blessings, viz: the Prophets, the Truthful, the Martyrs and the Righteous, and excellent companions are these.

So it is clear that by obeying Allah and Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, one can be included in the above categories, prophethood being the highest, of course. An objection is made to the (4:70) verse’s translation that I presented above, that the word “Ma’a” in the verse does not mean “among”, but “with”, so one who fulfils obedience to Allah and this messenger would not himself/herself attain these ranks, but will simply be “with” those who have done so in the past. True; it does mean “with” in the literal sense, but this is very weak reasoning. We do not always have to take the literal meaning of words, for else, we would have to accept, for one pertinent instance, that Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, was just a “seal” and not a human being — quite gross! Taking a look at another verse of the Holy Quran, we pray to God:

“WATAWAFFANA MA’AL ABRAAR”
(Al Quran, 3:194)

And cause us to die with the righteous

If we take literal meaning of “with” in this verse, it should follow from the verse, based on non-Ahmadi insistence in favor of literal vs. figurative meaning, that:

It is like praying to God: O God, please, please, whenever some righteous person is about to die, cause us to somehow stop breathing, put some embolus into our coronary arteries, or do something to somehow cause us to die EXACTLY AT THE SAME TIME when some righteous person in our neighborhood is about to die, for we want to “die with the righteous”. I’m sure even non-Ahmadi Muslims do not have this in mind when they say this prayer. What good would it do to a person to “die with” a righteous person. Several thieves, murderers, rapists, drug smugglers, “Jeffrey Dahmers”, etc., may die synchronously with righteous people, but this does not make them good or do any good to them. The fact is, we pray to God to “MAKE US RIGHTEOUS” on the same pattern as other righteous people before us.

Another verse of the Holy Quran clearly points to the fact that Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, was not the last of Prophets and that the door to prophethood is still open:

“YAA BANEE AADAMA IMMAA YA’TIYANNAKUM RUSULUN MINKUM YAQUSSOONA ALAIKUM AAYAATEE FAMANITTAQAA WA ASLAHA FA LAA KHAUFUN ALAIHIM WA LAA HUM YAHZANOON”
(Al Quran, 7:36)

O CHILDREN OF ADAM! IF MESSENGERS COME TO YOU FROM AMONG YOURSELVES, REHEARSING MY SIGNS UNTO YOU, FEAR GOD AND DO GOOD DEEDS AS THEN, NO FEAR OR GRIEF SHALL TOUCH YOU

This week, I spoke on the phone with an Ahmadi author, Mr. Muhammad Isa Jaan, who is from Iraq. He told me that he joined the Ahmadiyya Movement by reading this verse. The verse was revealed to Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, and it makes no sense to give an instruction in the verse regarding how to behave when a prophet appears, if Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, were the last.

Again, in the Holy Quran is a verse that points not only to the door of prophethood being open, but to Hadhrat Muhammad’s , peace and blessings of Allah be upon him, return to the world (in a figurative sense):

“HUWALLAZEE BA’ATHA FIL UMMIYYEENA RASOOLAN MINHUM YATLOO ALAIHIM AAYAATIHI WAYUZAKKEEHIM WAYU’ALLIMUHUMUL KITAABA WAL HIKMAH; WA INN KAANOO MIN QABLU LAFEE DALAALIN MUBEEN; WA AAKHAREENA MINHUM LAMMAA YALHAQOO BIHIM, WA HUWAL AZEEZUL HAKEEM”
(The Holy Quran Al Jum’ah, 62:3-4)

HE IT IS WHO HAS RAISED AMONG THE UNLETTERED A MESSENGER FROM AMONG THEMSELVES WHO RECITES UNTO THEM HIS SIGNS, AND PURIFIES THEM, AND TEACHES THEM THE BOOK AND WISDOM, ALTHOUGH THEY HAD BEEN, BEFORE, IN MANIFEST MISGUIDANCE. AND AMONG OTHERS FROM AMONG THEM WHO HAVE NOT YET JOINED THEM. HE IS THE MIGHTY, THE WISE

This verse relates to the advent of the Messiah and Mehdi from amongst Hadhrat Muhammad’s, peace and blessings of Allah be upon him, followers. The mention of his advent “among others from among them who have not yet joined them” refers to a, community which had not yet come into existence then, but was sure to appear in the future, to “join” the companions of the Holy Prophet Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him. It is important to note that the companions of the Holy Prophet, peace and blessings of Allah be upon him, who were listening to the verse were intrigued and one of them even asked him as to who those lucky ones of the future would be. The Holy Prophet, peace and blessings of Allah be upon him, placed his hand on a companion’s shoulder who was sitting by his side, Hadhrat Salman of Persia (may God be pleased with him) and stated:

“LAU KAANAL IMAANU MU’ALLAQAN BITHTHURAYYA LANAALUHU RAJULUN MIN HAA’ULAAI”

EVEN IF FAITH DISAPPEARED FROM THE EARTH AND MOVED UP TO THE ZENITH, A MAN FROM THESE WILL BRING IT BACK TO THE EARTH

Is it a mere coincidence, then, that Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, peace be upon him, was of Persian descent? He claimed to be the fulfillment of this prophecy.

Now let me give you another verse of the Holy Quran, portending the philosophy of these “last prophet” people in history. Declaring Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, the last of prophets in time is not a new phenomenon in human behavior. God says in the Holy Quran:

“WA LAQAD JAA’AKUM YOOSUFU MIN QABLU BILBAYYINAATI FAMAA ZILTUM FEE SHAKKIM MIMMAA JAA’AKUM BEHEE, HATTAA IZAA HALAKA QULTUM LAN YAB’ATH ALLAHU MIN BA’DIHEE RASOOLAN. KAZAALIKA YUDILLULLAAHU MAN HUWA MUSRIFUM MARTAABU; NILLAZEENA YUJAADILOONA FEE AAYAATILLAHI BIGHAIRI SULTAANIN AATAAHUM. KABURA MAKTAN ‘INDALLAAHI WA ‘INDALLAZEENA AAMANOO KAZAALIKA YATBA’ULLAHU ‘ALAA KULLI QALBI MUTAKABBIRIN JABBAAR”.
(Al Quran: 40:35)

And Joseph did come to you before with clear proofs, but you ceased not to be in doubt concerning that with which he came to you till, when he died, you said: ‘Allah will never raise up a Messenger after him.’ Thus does Allah adjudge as lost those who transgress, (and) are doubters.

These people are described by God in the verse that follows the one above, like this:

“Those who dispute concerning the Signs of Allah without any authority having come to them. Grievously hateful is this in the sight of Allah and in the sight of those who believe. Thus does Allah seal up the heart of everyone (who is) arrogant, haughty”.

Now, these are not my words or the words of the Ahmadi Muslims, but the words of God from the Quran that Muslims believe.

It is interesting that in spite of no strong (or even weak) evidence from the Holy Quran in support of the present non-Ahmadi Muslim view that Hadhrat Muhammad, peace and blessings of Allah be upon him, was the last of Prophets, they still stick to it, and go to the extent of declaring it of pivotal importance to belief — that one who does not accept him as the last prophet is a non-Muslim.

Copied from “On finality of Prophethood” by Rasheed A. Khan, Boston, Massachusettes, U.S.A. – Material © 1995-98 Ahmadiyya Muslim Community

Maaf, mohon inform ke Jaringan Pribadi saya.

Internet users all over the world can easily distinguish between an article written for humans and write-ups that are produced for the benefit of search engines. Google has a big list of rules about websites and what they can and can’t do with search results and their code. A good SEO agency will have someone who is fluent in English, even if they are located in another country.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: