Dildaar80's Weblog

Dua Krisis yang Dihadapi Cina

Posted on: 22 Maret 2009


17/03/2009 – 09:45
Titian Serambut Dibelah Tujuh
A. Dahana- inilah.com

PARA penguasa Cina dihadapkan pada dua krisis. Pertama, kemungkinan terjadinya demo para aktivis pro-kemerdekaan Tibet dalam memperingati tahun ke-50 pemberontakan di negeri atap dunia itu. Kedua, Cina memergoki kapal mata-mata Anglatan Laut AS.

Penindasan tak kenal ampun Tentara Pembebasan Rakyat (TPR) Cina atas gerakan bersenjata menyebabkan ribuan rakyat Tibet, sebagian besar anggota masyarakat sipil, menjadi korban. Itu juga yang telah menyebabkan Dalai Lama menyingkir ke India.

Di wilayah bernama Dharamsala itulah pemimpin spiritual rakyat Tibet itu membentuk pemerintah pengasingan. Ia menyebarkan faham Budisme Tibet dan cukup berhasil. Ajarannya meluas ke seluruh dunia, terutama Barat.

Selain itu perjuangan melestarikan budaya, tradisi, dan agama Tibet dan usaha melepaskan diri dari cengkeraman ‘kolonialisme’ Cina memperolah dukungan internasional.

Dalam menghadapi kemungkinan kerusuhan massa itu, Beijing tak main-main. Puluhan ribu personel polisi dan tentara disiagakan di Tibet, terutama Lhasa, di pemukiman warga Tibet di beberapa kota di Cina, dan di sepanjang perbatasan dengan India. Para petugas keamanan juga menangkap para aktivis pro-kemerdekaan dan menjebloskan mereka ke dalam tahanan.

Reaksi Dalai Lama atas kesiagaan keamanan itu cukup keras, kendati dalam nada tidak menghasut. Ia menekankan dan mengulangi lagi berbagai pernyataan di masa lalu, bahwa dia dan para pengikutnya sudah lama meninggalkan cita-cita menciptakan negara sendiri. Ia menuntut tak lebih dari otonomi luas di bawah naungan RRC.

Dalai Lama juga menuduh selama 50 tahun menguasai Tibet, para penguasa komunis Cina telah menindas dan melaksanakan program rekayasa sosial dalam bentuk genosida kebudayaan. Akibatnya kebudayaan spiritual Tibet tengah menghadapi kepunakan. Ia menyerukan dunia memperhatikan nasib rakyat Tibet dan kebudayaannya.

Mungkin karena ketatnya kesiagaan tentara dan polisi Cina, kerusuhan seperti beberapa kejadian dalam beberapa tahun terakhir ini tidak terjadi. Dan seruan Dalai Lama pun lenyap bagaikan tenggelam di tengah perhatian masyarakat dunia atas resesi global. Pemerintah Cina masih tak percaya akan Dalai Lama dan tetap memberinya cap pemimpin kaum separatis dan splittist.

Tantangan kedua justru jauh lebih serius. Patroli Angkatan Laut Cina yang tengah meronda Laut Cina Selatan memergoki kapal mata-mata tak bersenjata UNSN Impeccable milik Angkatan Laut Amerika. Dengan segera Beijing mengajukan protes ke Washington dan menuduh bahwa kapal itu telah melanggar Wilayah Zona Ekonomi Eksklusif 200 mil yang diakui traktat internasional.

Amerika yang tak ikut menandatangani Konvensi Hukum Laut PBB dengan kalem mengatakan bahwa UNSN Impeccable sama sekali tak melanggar wilayah laut negara manapun, karena yang ia lakukan hanya melayari lautan internasional.

Seorang pejabat Departemen Pertahanan Amerika malahan mengkui kapal itu memang tengah mengikuti gerak kapal-kapal selam AL Cina yang berpangkalan di Pulau Hainan.

Ini bukan insiden pertama. Pada 2001 kapal terbang milik AU Amerika yang tengah melakukan pengintaian bertabrakan dengan pesawat pemburu MIG Cina, juga di atas Pulau Hainan. Pesawat Cina jatuh, pilotnya hilang dan kapal terbang pengintai itu dipaksa mendarat di Hainan dan awaknya ditahan. Setelah diplomasi ‘tarik-menarik’ selama sekitar dua minggu, akhirnya para awak dilepaskan dan pesawat pengintai itu dikembalikan dalam keadaan knock down.

Yang menarik adalah reaksi pemerintah RRC yang begitu keras dalam menghadapi dua krisis yang sumbernya berlainan itu. Krisis Tibet, jelas datang dari dalam. Dalam menangani konflik yang disebabkan pelanggaran yang dilakukan kapal Amerilka itu sikap Cina tak kurang kerasnya, bahkan lebih keras ketimbang sikapnya dalam menghadapi insiden 2001. Seorang pejabat Angkatan Laut Cina, Laksamana Jin Maoyi memberi cap Amerika sebagai ‘penjahat’ yang telah melakukan rangkaian pelanggaran.

Namun, insiden kedua itu reda. Rencananya Menlu Hillary Clinton akan bertemu Menlu Cina Yang Jiechi. Di Washington keduanya akan berunding agar insiden semacam tak terjadi lagi.

Sinolog Susan Shirk mengatakan Cina sebenarnya adalah sosok adidaya yang kuat di luar, tapi sebenarnya keropos dari dalam. Ancaman keutuhan wilayah dan kekuasaan tunggal PKC, kata ahli Cina itu, justru berasal dari dalam, yakni massa yang yakin bahwa PKC akan mampu mempertahankan keutuhan Cina sebagai sebuah negara. Akibatnya, para penguasa selalu tak akan memberi hati terhadap perbedaan pendapat karena kalau ia bersikap lunak, justru partai akan menjadi bulan-bulanan publik.

Sikap galak terhadap kekuatan luar juga bertujuan sebagai lambang konsumsi domestik bahwa PKC tak memberi toleransi terhadap kekuatan manapun yang mencoba melanggar kedaulatan Cina.

PKC bagaikan berjalan menyeberangi titian serambut dibelah tujuh. Sepanjang penyeberangan akan selalu ada ancaman dan kalau tak pandai menjaga keseimbangan ia akan jatuh ke lembah dalam penuh penderitaan. [L1]

$(function(){$(‘#inilahtabs’).tabs();});
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 27 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: