Dildaar80's Weblog

Hujat dan Bidat

Posted on: 20 Maret 2009


Hujat dan Bidah

islam, satanic verses, salman rusydi, muhammad, geert wilders, islam anarkis, muslim, intoleransi agama, kristen, yahudi, hujat, bid’ah, talmud, penghujatan,bible, alquran, toleransi, madinah,

Oleh Arshad Ahmedi-Gillingham, UK.

Penterjemah: Muharrim Awwaludin

Munculnya sentimen agama-Islam khususnya telah merebak setidaknya mulai dari Satanic Verses, (ayat-ayat syetan) Salman Rusdydi, Karikatur yang melecehakan Nabi muhammad saw yang diterbitkan oleh majalah Jylland Posten, dan terakhir adalah kemunculan film fitna-nya Geert Wilders yang menampilkan Alquran yang penuh “ayat-ayat pedang”, bagaimana kita menyikapinya? Tulisan ini mencoba membuka kita berpikir lebih luas bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian seperti tersebut diatas

selama ini reaksi-reaksi umat Islam terhadap bentuk-bentuk penghujatan dan pelecehan tersebut umumnya malah memperkuat anggapan dimata masyarakat dunia, Barat khususnya-betapa Islam berpikiran sempit, intoleransi dan lebih mengutamakan bentuk-bentuk permusuhan dan kebencian yang mengarah kepada anarkis, (mereka tidak melihat pelaku sebagai umat Islamnya) . Walau bagaimanapun setiap orang marah kalau dihina tetapi Islam mengajarkan bahwa setiap sesuatu itu harus diperhatikan maslahatnya. Marah akan dianjurkan jika dengan marah itu akan membuat suasana baik tetapi jika sebaliknya kita harus menahan amarah tersebut, sebaliknya kita bersikap santun jika dengan sentun itu akan membawa kepada kemaslahatan bagi kita tetapi jika dengan sikap santun itu membuat kejahatan semakin merajalela maka hal itu harus dilakukan reaksi.

Ketahuilah bahwa ketika orang-orang melihat tumpukan buku-buku yang dibakar misalnya atas tindakan terhadap salman Rusydi atau pemboikotan atas barang-barang dari Denmark atau atau Belanda atau pembakaran bendera negara dimana sang pelaku berada, mereka tidak akan mengaitkan hal itu terhadap reaksi-raksi yang serupa terhadap tanggapan-tanggapan yang juga dilakukan oleh Kristen dimasa-masa abad pertengahan misalnya, tetapi yang mereka hubungkan adalah betapa tidak toleransinya Islam,

Sebaliknya kita sebagai umat Islam, mereka adalah orang-orang yang cukup adil dalam menyikapi permasalahan jika kita mengetengahkan reaksi yang beradab, dengan bentuk-bentuk yang rasional, mereka akan mempertimbangkannya secara mandiri dan adil, tetapi jika fakta-fakta disajikan dengan prasangka buruk dan bentuk-bentuk yag merujuk kepada kekerasan atau bentuk-bentuk ancaman, hal itu akan membuat anggapan mereka terhadap Islam semakin mengakar. Bahwa itulah wajah Islam.

­————————————————————————————————————————

Pembakaran beberapa buku the Satanic Verses di Bradford, Yorkshire oleh beberapa orang muslim menciptakan berita-berita utama yang menggemparkan di hampir semua surat kabar di Inggris dan ditayangkan secara luas di televisi. Tindakan beberapa gelintir Muslim yang marah itu dianggap sebagai reaksi baku dari semua Muslim pada umumnya dan semua cara dan suara permasalah itu bahkan membawa jarak yang lebih besar antara Barat dan Islam.

Islam yang hakiki tidak memaafkan tindakan beberapa gelintir Muslim yang membawa buku terbakar untuk melampiaskan kemarahan dan rasa jijiik mereka sebagai suatu bentuk penentangan atas isi kandungan buruk buku itu. Kejadian hiruk pikuk itu sebenarnya tidak ada suatu bentuk kekerasan fisik tapi media Barat bermaksud membuat gunung dari bukit kecil, membesar-besarkan masalah. Tak berlawanan dengan ini apa yang media itu lupakan dengan mudah adalah menyebutkan sejarah panjang peristiwa-peristiwa pembakaran buku-buku oleh kaum Kristen pada abad pertengahan. Telah menjadi amalan gereja dalam mengamankan pada pengikutnya terhadap sistem perlombaan agama, seperti Islam dan Yahudi, dengan berlomba-lomba memfitnah.

Media itu juga dengan mudah lupa menyebutkan bahwa semua agama dalam bentuk asalnya yang murni mengajarkan damai, cinta kasih, rukun dan toleransi, bahkan terhadap orang-orang yang memusuhi dan bahwa mereka menyediakan suatu cara keadilan untuk kebaikan masyarakat.

Adalah penting bagi kita untuk sedikit mengalihkan perhatian kita dari tindakan-tindakan melecehkan atau bentuk-bentuk penghujat agama, dengan beralih kepada pengujian sejarah tentang perlakuan masalah ini. Selanjutnya adalah perlu untuk kembali pada ajaran-ajaran agama yang asli dan menetapkan apa yang sesuai dengan ajaran hakiki dalam hubungannya dengan apa yang menjadi bahan pelecehan dan sentimen agama.

Contoh-contoh Sikap Intoleransi beragama di masa lalu

Ada banyak contoh sikap intoleransi dalam urusan agama dan dakwaan hujat dalam urusan agama dan dakwaan hujat dalam masyrakat keagamaan seluruh dunia. Harus dicatat bahwa ada suatu perbedaan jelas antara para pengikut fanatik suatu agama dan para pengikut sebenarnya, serta antara tindakan-tindakan sekelompok orang dan ajaran-ajaran sekelompok orang dan ajaran-ajaran agama yang hakiki yang mereka ajarkan kepada para penganut.

Maka dalam sejarah, dimana tindakan-tindakan dimana tindakan-tindakan Kristen dan “Muslim” dibahas itu adalah tindakan-tindakan sekelompok orang dan bukan berarti ajaran-ajaran sejati dari agama itu. Ajaran-ajaran sejati akan diuji di akhir tulisan ini.

Hans Kung, Profesor of Dogmatic and Ecumenical Studies di Universitas Tubingen, Jerman, berbicara tentang perlakuan terhadap Islam di masa awal pada abad pertengahan dunia Kristen dalam bukunnya Christianity and the World Religion. Dia menulis:

“Di puncak abad pertengahan…orang-orang Eropa sangat kagum dengan keunggulan budaya, filsafat, sains dan pengobatan bangsa Arab, juga terhadap ekonomi dan kekuatan militer Islam…kebangkitan betapapun melihat bangkitnya kecenderungan untuk menyepelekan dan menolak segala sesuatu yang berbau Arab, termasuk bahasa…dalam menghadapi tekanan militer yang meningkat dari Turki terhadap Kristen (tahun 1529)..Paus memerintahkan pembakaran teks Alquran berbahasa Arab segera setelah penerbitannya di Venesia, yang pada masa itu dikenal sebagai ‘pelacur dari turki’..De Religions Mohammedica karya Adrian reland (1705) merupakan karya objektif pertama yang beralasan tentang Islam sesudah pansebia karya Ross, ditempatkan index buku-buku terlarang,” (hal. 20)

Kaum Yahudi juga menderita besar ditangan kaum Kristen fanatik di mana persekongkolan membakar buku merupakan bagian dari kampanye Gereja menghadapi hujat-hujat Yahudi. Gereja menempatkan masalah ini sebagai yang paling serius dan kaum yahudi meratapi kehilangan atau penodaan kitab-kitab suci mereka. Proffesor Leonard Levy menulis secara terperinci dalam bukunya Treason Against God:

“Gregorius IX memerintahkan Talmud untuk dibakar di seluruh kawasan Kristen sebab hujat-hujatnya terhadap Kristus dan Maria…Louis IX gembira dengan pembakaran Talmud. Tahun 1248 serombongan besar lainnya menaikkan api di Paris..di Aragon, dimana talmuf tak dibakar, ia disita dan disensor. Kaum Yahudi diperintahkan mengubah seluaruh tulisan mereka dengan ancaman hukuman mati karena hujat jika mereka gagal memenuhinya..tahun 1550-an kitab-kitab Yahudi termasuk naskah-naskah rabbi yang langka dibakar oleh ratusan ribu orang di kota-kota Italia…Akhir 1629 seorang Kardial Italia membanggakan telah mengumpulkan sepuluh ribu kitab Yahudi untuk dimusnahkan.” (hal 116-117 )

Riwayat-ruwayat serupa dicatat oleh Rev. I.B Pranaitis dalam The Talmud Unmasked, yang merupakan sebuah buku mengenai ajaran-ajaran rahasia rabbi Yahudi mengenai Kristen:

“tahun 553, Kerajaan Justinian melarang penyebaran kitab-kitab Talmud di seluruh Imeprium Roma. Pada abad ke-13 Paus Gregorius IX dan Innocentius IV mengutuk kitab-kitab Talmud sebagai berisi segala macam penghinaan dan hujat terhadap kebenaran Kristus, dan memerintahkan agar dibakar sebab kitab-kitab itu menyebarkan banyak bid’ah yang mengerikan.”

bagi kita yang menyadari kenyataan-kenyataan sejarah, tentu tidak akan mengulangi cara-cara yang telah ditunjukkan sepanjang sejarah agama-agama. Tindakan-tindakan kita yang misalnya kasus pembakaran novel Salman Rusydie masyarakat dibiarkan dalam ketidakpahaman dan ketika mereka menyaksikan reaksi sebagian muslim yang membakar novel itu, mereka tidak menghubungkan hal ini dengan api unggun buku-buku yang telah dibakar di seluruh negeri kristen Eropa di masa lalu tetapi mereka menghubungkan hal ini sebagai bukti intoleransi dari Islam yang tak tersembuhkan, suatu gambaran yang telah dilukiskan selama berabad-abad.

Masyarakat umum pada dasarnya orang-orang yang berpikiran adil dan apabila hal-ha itu disajikan di hadapan mereka dalam bentuk yang rasional, mereka akan mempertimbangkan nya secara mandiri dan adil; tetapi jika fakta-fakta disajikan dengan prasangka buruk dan dipanas-panasi dengan penuh kehinaan seperti yang menjadi kebiasaan kebanyakan media, maka tidak heran bahwa masyarakat terpengaruh dengan pandangan-pandangan mereka yang mengendalikan media-media kuat itu.

Contoh-contoh Sikap Intoleransi di masa-masa lebih ke belakangan

pada permulaan abad ke-4 masehi dibawah Konstantin, Raja Roma, Kristen memulai suatu dimensi baru dengan persetujuan negara dan meningkatkan kekusaan negara dan mengingkatkan kekuasaan dalam kerajaan Romawi-Gereja yang pada suatu masa telah menderita di tangan para penyembah berhala dan terpaksa bergerak di bawah tanah, kini ada dalam kedudukan mengatur kekuasaan.Konsatantin mengadakan suatu konsili Gereja tahun 325 dimana kepercayaan yang baru ditetapkan.

Kepercayaan umum yang baru itu disebarkan di seluruh kerajaan dan gerakan-gerakan yang umum dibuat menderita. Sekte-sekte yang terpisah dari Katolik ditekan dan diingkari hak-haknya dan kekebalan diberikan kepada pendeta Ortodoks. Konstantin meningkatkan tekanan dengan menyita harta benda dan melarang kumpulan-kumpulan “bid’ah” seperti Novatian, Marcionite, dan Manichean.

Cara-cara pelaksanaan untuk membawa kembali ahli-ahli bid’ah kepada kelompok ortodoks tidak berbeda dengan cara pelaksanaan sebelumnya oleh raja Diocetian terhadap kaum Kristen sendiri.Contoh-contoh labih lanjut dalam sejarah menyediakan bagi kita peristiwa-peristiwa tak menyenangkan sekitar Perang Salib, inkuisisi di Spanyol yang selama itu Spanyol membersihkan seluruh kepercayaan bukan Kristen dan orang muslim atau yahudi yang tidak masuk Kristen dibunuh atau dipaksa melarikan diri.

Dan contoh-contoh dimana orang-orang lain karena kejahilan mereka sendiri. Satu cotoh dari ini adalah perlakuan buruk terhadap ahli sains besar Galileo Galilei (1564-1642) di Italia. Galileo Galilei merupakan orang pertama yang memakai teropong untuk keperluan astronomi dan segera mengamati pergerakan benda-benda angksa. Dia menyimpulkan bahwa matahari merupakan pusat tata surya dan bumi beredar mengelilinginya. Ini bertentangan dengan pihak Gereja yagn percaya bahwa Alkitab mengajarkan kalau bumi tetap sebagai pusat alam semesta. Walaupun ditentang oleh Grand Duchess Christina, Galileo akhirnya diputuskan untuk dipenjarakan karena dicurigai penuh bid’ah. Penelitian sains kemudian membuktikan pandangan-pandangan Galileo lebih dekat pada kebenaran. Hubungan antara sains dan kaum ortodoks menjadi permasalahan panjang.

Ajaran Alkitab (Bible) tentang penghujatan

Alkitab jelas dalam hukumannya terhadap penghujatan. Ia menetapkan hukuman mati untuk penghujat. Perajanjian lama menerapkan hak dalam sejarah Yahudi-Kristen untuk menghukum penghujat sebagai satu kejahatan, seperti digambarakan dalam ayat ebrikut:

“Orang itu mesti dihukum mati. Siapa saja yang mengutuk )(menghujat) tuhan, baik orang Israel maupun orang asing yang tinggal di negeri Israel, mesti dirajam sampai mati oleh semua orang Israel” (Imamat 24:16)

Selama berabad-abad, banyak orang Yahudi menanggung kesukaran karena ketegasan dan ketelitian pihak Gereja pada hukum penghujatan.

Betapapun, tak seorangpun yang selamat dari dektrit ini, bahkan orang Kristen sendiri pun tidak. Sebuah contoh ironis ialah adalah Giordano Bruno, ahli filsafat Italia terkemuka, masa renaisance yang hidup di abad 16. dia meragukan trinitas sejak usia muda, dan pandangan-pandangannya membawanya pada pertentangan langsung dengan Gereja. Dia pergi ke pengasingan dan menulis banyak buku selama dia berkeliling Eropa. Dia akhirnya jatuh ke tangan inkuisisi dan didakwa dengan penghujatan. Walaupun diminta untuk bertobat, ia dipenajarakan selama beberapa tahun sebagai ahli bid’ah dan diputuskan untuk dibakar pada batang kayu tahun 1600.

Perjanjian baru memperingatkan tentang para penghujat akan datang:

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar sebagai domba, tetapi sesungguhnya mereka adalsah serigala yang buas” (Matius 7:15)

Ada juga peringatan bahwa hujat tidak akan diampuni:

“Sebab itu aku berkata kepadamu: Segala dosa dan hujat manusia akan diampuni, tetapi hujat terhdap roh Kudus tidak akan diampuni. Apabila seseorang mengucapkan sesuatu menentang anak manusia, ia akan diampuni, tetapi jika ia menentang Ruh Kudus, ia tidak akan diampuni, di dunia ini tidak dan di dunia yang akan datang pun tidak” (Matius 12:31-32)

“Jangan sebut nama-ku untuk maksud yang jahat karena Aku Tuhan Allah Kamu, manghukum siapa saja yang menyalahgunakan nama-Ku”(Kejadian 20:70)

Betapapun harus dicatat bahwa penekanan dalam ayat-ayat itu bukan pada manusia menghukum penjahat, tapi pada pengampunan Tuhan yang tidak berlaku untuk kejahatan demikian. Inilah pesan yang Yesus bawa untuk kaum Kristen. Namun pesan itu diabaikan seperti ditunjukkan sepanjang sejarah.

Hukuman terakhir untuk penghujatan di Inggris Raya terjadi tahun 1697 di bawah undang-undang Scottish. Tahun 1698 Parlemen Inggris melancarakan suatu tindakan baru, mengurangi (meringankan) hukuman-hukuman. Suatu era kebebasan mengamalkan agama dimaklumkan dalam abad berikutnya. Sejak itu para korban undang-undang penghujat cenderung pada para pemikir bebas (free thinkers), rasionalis, agnostik, ateis, dan mereka telah mulai mengharapkan untuk mempertahankan kebebasan pers juga kebebasan beragama.

Hujat di abad ke-20

Abad 20 mungkin bukan merupakan masa keagamaan sebesar masa-masa ketika manusia membakar tukang sihir, penghujat dan ahli bid’ah, tetapi di bagian awal abad itu hujat masih dianggap sebagai suatu serangan dan dapat dihukum dengan penjara.

Tahun 1920-an dan 1930-an ada sejumlah besar perkara penghujatan di seluruh dunia Kristen. Sebagai misal di Inggris, seorang penghujat Ateis dipenjarakan karena pancabulannya yang kasar mengenai Injil. Dan pada khususnya untuk gambarannya tentang Yesus memasuki Yerusalem seperti badut Sirkus diatas dua keledai’ (rex V. Gott, 16 Crim. App. Rep. 37: 1922)

Di Amerkia Serikat, negara bagian Maine, memenjarakan seorang radikal karena penghinaannya menolak agama pada umumnya dan menolak doktrin kelahiran perawan dan kebangkitan pada khususnya. (State V. Mockus, 120 Maine 84, 1921)

Sama halnya negara bagian Massachusetts menghukum seorang radikal lainnya karena menolak keberadaaan Tuhan dan ketuhanan Yesus. Negara bagian yang sama memenjarakan penulis sebuah buku tentang Freemansonry yang merujuk Yesus sebagai tak berakhlak. Negara bagian Arkansas memenjarakan Presiden the American Association for the Advancement of Atheism karena mempunyai literatur yang memperolok-olokkan gambaran Alkitab tentang penciptaan (New York times, February 19, 1926)

Kanada menemukan penghujatan dalam sebuah selebaran yang secara mematikan menyerang Gereja Katolik Roma dan dalam satu kasus lain, memenjarakan dan mengasingkan editor sebuah jurnal tak bertuhan karena rujukan-rujukan gurauannya pada ‘kebanggaan besar dan gila-gilan’ dari suatu Jehovah yang mudah tersinggung menipu degann dakwaan khayal sebagai pencipta alam semesta’ (Canadian Bar Rev, V May 1927)

Bahkan di Inggris suatu negara yang menghargai kebebasan berpendapat demikian tingginya, ajaran Kristen masih merupakan bagian dari unndang-undang negeri itu. Tetapi kepercayaan Yahudi dan kepercayaan-kepercayaan non-Kristen tak dapat dihujat. Tahun 1978 pengadilan mnyeru untuk membenarkan pemenajraan karena penghujatan. Pesakitan itu adalah James Kirkup, editor sebuah majalah gelap homoseksual, Gay News, yang didalamnya dia menerbitkan sebuah syair “The Love That Dares to Speak Its name” yang syair itu terbaca seolah-olah telah ditulis oleh prajurut Roma di bawah salib. Dalam syair itu Prajurit dan Yesus mempunyai suatu hubungan yang terang dan secara tak diragukan mengejutkan orang-orang yang percaya.

Ajaran Islam mengenai penghujatan

Pemahaman umum di Barat mengenai Islam adalah suatu agama yang berpikiran sempit, intoleransi dan ganas yang menganjurkan penggunaan pedang dalam penyebarannya dan hukuman mati untuk penghujatan.

Secara mutlak tak ada ajaran Alquran yang menjatuhkan suatu hukuman apapun atas kemerdekaan menayatakan apapaun atas kemerdekaan menyatakan pendapat atau kesadaran. Kitab suci Alquran memberikan hak penuh kepada semuanya, tak memsndang ideologi, cara hidup atau kepercayaan seseorang. Dinyatakan dalam Surah Albaqarah ayat 257: “tak ada paksaaan dalam hal agama.”

walaupun sebagian orang telah menisbahkan sikap tak toleransi dan kesempitan pikirannya sendiri kepada islam, tak ada sedikitpun bukti dalam kitab suci Alquran bahwa Islam menanganjurkan hukuman mati untuk penghujatan atau kejahatan-kejahatan lain yang serupa. Sebaliknya ketegasan benar-benar telah ditetapkan atas kaum muslimin sendiri untuk tidak menghujat berhala-berhala dan penyembahnya. Surah 6: 109 menyatakan:

“Dan janganlah kamu memaki (menghujat) sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah.”

dan walaupun kenyataan bahwa kemusyrikan (penyembahan berhala) dinilai sebagai dosa yang paling dibenci namun kaum muslimin bahkan tidak diizinkan untuk mencaci maki benda yang melampuai batas dalam pandangan Tuhan

Ajaran kitab suci Alquran yang tinggi tak didapati bandingannya bahkan dalam dunia beradab sekarang ini. Manakala kitab Suci Alquran memerintahkan kaum muslimin menghormati agama-agama lain, The British Common law menuntut bahwa setiap orang harus menghormati agama mereka. Namun adalah Islam yag selalu dikutuk sebagai bertolak belakang.

Tak ada penghujatan yang lebih besar daripada terhadap Allah sednriri. Namun kitab Suci Alquran tak menetapkan hukuman untuk penghujatan yang demikian menyedihkan terhadap Tuhan. Maka betapa dapat ada suatu hukuman ditetapkan untuk penghujatan terhdap nabi-nabi yang adalah wujud mati belaka. Suatu peristiwa dimasa nabi muhammad saw menjernihkan pemahaman beliau sendiri atas hal ini.

Suatu hujat yang paling menyedihkan dilakukan terhadap Nabi Muhammad saw sendiri ketika beliau menjadi penguasa Madinah. Seorang munafik bernama Abdullah bin Ubbay yang harapannya unuk menjadi pemimpin Maddinah berantakan dengan kedatangan Muhmamad saw dalam suatu kampanye membual bahwa: “Jika kembali ke Madinah, maka orang yang paling mulia (yakni dia sendiri) pasti akan mengusir orang yang paling hina (tertuju kepada Nabi muhamad saw) (Surah 63:9)

Sahabat-sahabat Rasulullah saw yang mukhlis marah, tak terkecuali putera Abdullah sendiri yang adalah seorang muslim yang mukhlis. Dengan pedang terhunus, dia memohon kepada nabi saw untuk memeberinya izin membunuh bapaknya sendiri! Banyak orang muslim lainnya juga datang kepada beliau saw tetapi masing-masing dan setiap waktu beliau menolak dan secara tegas menyatakan bahwa tak ada tindakan secara mutlak akan diambil terhadap Abdullah untuk penghujatannya.

Peristiwa ini betapapun tidak berakhir disini. Beberapa tahun kemuidan, bahkan ketika Abdullah meninggal, nabi suci saw sendiri menghadiri upacara pemakamannya. Nabi Muhammad saw termasyhur sebagai seorang yang penuh cinta kasih dan sumber cinta kasih manusia, namun tindakan beliau ini mengejutkan bahkan terhadap sahabat-sahabat beliau yang sangat mukhlis.

Inilah Islam hakiki seprti diajarkan dalam Alquran Suci dan diamalkan dengan contoh Nabi Muhammad saw yang dengan contoh mulia itu semua muslim dianjurkan untuk mengikutinya. Suatu agama tidak boleh dihakimi dengan tindakan-tindakan dan prasangka beberapa gelintir pengikut-pengikut ekstrim masa kini, tetapi bahksn harus diputuskan dari sumber yang lebih shahih dan layak dipercaya yang padanya agama itu didasarkan.

Akankah menjadi benar, sebagai misal, untuk menimbang ajaran Kristen dari konflik Katolik-Protestan Irlandia Utara di masa modern suatu perang yang berlangsung benar-benar atas nama Kristen? Atau dari kesewenang-wenangan “Kristen” abad pertengahan seperti Inkuisisi Spanyol dimana siksaaan-siksaan seperti “rak”, dan suatu rencana mengerikan yang lihai dikenal dengan “Iron Maiden” adalah intisari ‘kebenaran’? Adakah itu ajaran Kristen yang diamalkan Kristen dan diamalkan oleh Yesus (Nabi Isa) yang beliau sendiri menjadi sasaran kezaliman hebat dan tak terkatakan?

“..Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu. Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak megngerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan”. (Q.S. Al-An’am:113)

Dalam ayat itu Alquran secara jelas menyuruh meninggalkan para penipu menyuruh meninggalkan apa yang mereka ada-adakan. Kejahatan mereka adalah terhadap Tuhanmu maka hukuman merekapun akan menjadi urusan Tuhan.

1 Response to "Hujat dan Bidat"

dan di FFI ada buku karangan 4 (empat) ustad (salah satu nya abu bakar ba asyir) yang mendukung perjuangan terpidana mati Amrozy dkk.BERANIKAH ANDA TERANG-TERANGAN MELAWAN PENDAPAT MEREKA ? jika islam tidak sejalan dgn pemikiran mereka,mengapa islam moderat TIDAK KOMPAK DALAM MENOLAK MEREKA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 25 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rated

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: