Dildaar80's Weblog

Malaysia Larang Kata “Allah” dalam Publikasi Kristen

Posted on: 17 Maret 2009


By Republika Newsroom Senin, 02 Maret 2009 pukul 14:09:00 CHINAPOST.COM. TW THE HERALD: Membawa isu lebih lanjut ke Pengadilan pada Juni nanti untuk menggugat pelarangan.

KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia mencabut kembali keputusan mengijinkan publikasi yang dilakukan umat Kristiani untuk menggunakan beberapa kata Muslim, terutama “Allah” “Saya kira ada kesalahan dalam pengajuan undang-undang resmi itu,” ujar Menteri Dalam Negeri Syed Hamid Albar, seperti yang dikutip oleh Strait Times, 1 Maret. “Ketika kami membuat kesalahan. Saya harus akui ada kebutuhan untuk mengevaluasi ulang secara menyeluruh,” ujarnya. Sebuah peraturan pemerintah telah membolehkan publikasi Kristiani menggunakan kata-kata dalam Islam seperti, Allah, Kaabah, Baitullah dan Salat, selama kata-kata tersebut “Untuk Kristen saja” dan dicetak di sampul depan. Namun pada 16 Februari lalu peraturan tersebut memicu protes dari para ulama Muslim, yang mengingatkan keputusan tersebut memungkinkan menyerang area sensitif umat Muslim. Menteri Dalam Negeri mengatakan pelarangan penggunaan kata-kata tersebut akan tetap diberlakukan hingga sidang Mahkamah Konsitutusi Malaysia menetapkan hal tersebut. “Ada judicial review terhadap putusan tersebut dan kami menyerahkan kapada sidang untuk menentukan,” imbuhnya. Sementara pemerintah dan media mingguan berbasis Katholik, The Herald merasa janggal melihat situasi tersebut mengingat “Allah” telah digunakan lebih dari setahun oleh penganut Kristiani di rubrik Bahasa-Melayu mereka. Sementara pihak berwenang beragumen kata tersebut seharusnya eksklusif hanya untuk Muslim, dan mengingatkan kemungkinan pencabutan ijin terbit media tersebut jika mereka menyangkal pelarangan. Surat kabar itu sendiri membawa isu lebih lanjut ke Pengadilan pada Juni nanti untuk menggugat pelarangan. Mingguan Katholik mengaku terkejut dengan keputusan pemerintah. ” Sangat disayangkan, kebebasan nyata yang kami nikmati sekarang diambil lagi,” tulis redaktur The Herald, Lawrence Andrew. “Saya tidak tahu apa status terkini, sebagaimana kami tidak mendapat pemberitahuan resmi terhadap keputusan baru tersebut,’ Keterjutan yang sama juga dirasakan Federasi Kristen Malaysia Rev, . Melalui wakil pimpinan, Eu Hong Seng, mengatakan, “Pembolehan bersyarat paling tidak mengindikasikan ada kemajuan dalam isu tersebut, ” ujar Eu. Menanggapi situasi tersebut Andrew mengatakan mingguan Katholik akan meneruskan upaya di pangadilan menentang pelarangan pemerintah untuk mencetak kata “Allah” Ia juga menambahkan kaum Kristen Malaysia pun telah menggunakan kata “Allah” selama berabad-abad dalam Injil terjemahan dan di dalam doa bersama umumnya,” Ras, bahasa, dan agama, memang menjadi isu yang gampang disenggol di negara multietnis Malaysia, dimana Muslim Melayu memiliki prosentasi 60 % dari 26 juta penduduk. Penganut Kristen sendiri berjumlah sekitar 9,1 persen, sudah termasuk populasi Katholik sebesar 800 ribu orang. Sementara prosentasi Budha dan Hindu berkisar 19,2 persen dan 6,3 persen dari populasi total. Padahal negara ini juga kerap dijuluki “melting pot” (wadah percampuran) Asia atas keragaman budayanya, dan Malayia juga menjadi salah satu model ko-eksisten harmoni dalam ras dan agama./afp/reuters/ strait times/itz

Iklan

9 Tanggapan to "Malaysia Larang Kata “Allah” dalam Publikasi Kristen"

Parah..bukannya Allah itu kata dari Timur Tengah yang notabene lokasi kelahiran agama Kristen juga…..payah aturannya, nggak seharusnya ada tu, mengganggu harmoni umat beragama
http://engeldvh.wordpress.com

Setuju bro. Kalau mau fair sebenarnya kata baitel, el, elohim dll yang sama dengan istilah berbahasa Arab Baitullah, ilah dan Allahumma sudah dipakai sebelum Islam datang terutama oleh saudara-saudara Kristiani/Nasrani berbahasa Arab waktu itu.
Perbedaan mungkin ada yakni mengenai bagaimn menjabarkan keyakinan masing-masing mengenai siapa itu Allah dll. Tetapi itu bukan berarti yang berbeda dilarang menyebut kata ‘Allah’ dll. kalau satu pendapat sudah jadi keyakinan ya harus dihormati.
Sabar bro, mari kita tetap berkepala dingin walau hati panas. Perhatikanlah teladan Kristus yang mengalami nasib jauh lebih buruk dari itu. Doa beliau, “Ampunilah mereka yaa Bapa sebab mereka tidak mengetahui!”

kacian yg kurang memahami siapa Tuhan sebenarny, ampuni ya ALLAH sebab mereka belum beriman…

Kalau orang meributkan kata “Allah”, berarti orang-orang tersebut baik Nasrani, Islam dan Mumin mereka tidak mengerti Inti dari Kitab Taurat/Perjanjian lama/Kitab Musa yang pertama, Injil/Perjanjian baru dan makna yang sebenarnya dari tujuan Alquran “diturunkan”.

Sebab kalau kita baca Kitab Taurat maka bisa disimpulkan bahwa Allah dizaman itu tersirat mempunyai karakter yang “kejam”, dimana hanya sangat sedikit manusia yang di selamatkan, contoh kisah nabi Nuh, Sodom gomora, dll.

Oleh karena Alquran diturunkan sebagai ringkasan dari Kitab Taurat dan Injil, maka gambaran Allah di Kitab Taurat di ceriterakan bahwa Allah seakan kejam “membunuh orang kafir untuk membela orang benar”.

Sedangkan gambaran Allah yang ada dalam Kitab Injil tercermin sosok manusia Yesus Kristus, sehingga di dalam Alquran selalu ditambahkan dengan penegasan “Allah Maha Pengasih dan Penyayang”.

Oleh karena itu sejak Yesus Kristus di utus Allah kedunia, dan bangkit dari antara orang mati kemudian “Dia” menampakkan diri dan disaat itulah posisi “Dia” sudah di alam bathin, sehingga semua sabdaNya mengandung muatan ke Ilahian, hal itu tersirat pula di dalam Alquran.

Contoh: Injil Matius 28:18, tersirat di Q.3:45.
Kitab Wahyu 22:13 dan Injil Matius 28:20, tersirat di Q.57:3-4.

Oleh karena itu kalau disimak dengan benar oleh semua orang yang menyelidiki Kitab-kitab ( Alkitab dan Alquran) maka orang-orang tersebut dapat mengerti bahwa setelah Yesus Kristus bangkit, maka segala kuasa sorga dan bumi diserahkan Allah kepada “Dia” , sehingga manusia mengenal Allah bahkan dapat menyapa keberadaan Allah yang berwujud “Roh Yang Maha Suci” dengan namaNya.

Jadi masalah kata “Allah” tidak perlu diperdebatkan lagi, sebab Allah itu “Sang Haliq”, dimana sejarah membuktikan bahwa sejak zaman dahulu Nabi Musa saja tidak sanggup menghadapi hadirat Allah Yang Maha Dahsyat (Maha Segalanya), oleh karena itulah manusia tidak akan dapat memahami gambaran Allah seutuhnya, kecuali hanya melalui gambaran Yesus Kristus penuh kasih.

Inilah beberapa link tulisan untuk memahami hal tersebut:

http://siapaisa.blogspot.com/

http://dosamanusia.blogspot.com/

http://filmthemessiah.blogspot.com/

yang pertama ingin saya katakan,bahwa Al Quran bukan kitab suci ringkasan Taurat dan Injil.Mengenai kata “Allah” sebenarnya pengikut agama apapun bebas saja menyebut atau mengatakannya.Hanya,yang mengerti makna kata “Allah” hanya orang Muslim plus para ahli kitab/ Pendeta Kristiani Pendahulu

Polemik Kata ”Allah” di Malaysia

Oleh: Nabil Ahmad Fauzi

Presidium Forum Kajian Politik dan Strategi (FKPS) Universiti Kebangsaan Malaysia

KONTROVERSI mengenai penggunaan kata ”Allah” bagi non-Islam yang terjadi di Malaysia kini telah menjadi perhatian publik internasional. Bukan hanya bagi umat Islam, melainkan juga berbagai pihak di dunia.

Isu tersebut juga merupakan sesuatu yang berkaitan secara langsung tidak langsung bagi publik Indonesia. Selain karena isu yang menyentuh Islam, juga terkait dengan situasi negara jiran yang pada akhirnya akan memerngaruhi situasi regional.

Kontroversi tersebut bukanlah isu baru, bahkan berlangsung sejak 2007. Hanya, kasu menjadi besar karena dipicu oleh keputusan Mahkamah Tinggi Kuala Lumpur pada 31 Desember 2009. Dalam keputusannya, hakim lau Bee Lan membenarkan penggunaan kata ”Allah” oleh surat kabar Katholik Herald-The Catholic Weekly terbitan Gereja Katolik Roma, Malaysia.

Saat ini perkembangan kasus tersebut meluas menjadi aksi-aksi anarkis perusakan tempat ibadah. Hingga kini, telah terjadi penyerangan dan pembakaran lebih dari tujuh gereja yang dilakukan oknum tertentu. Bahkan, kini polanya semakin terorganisasi dan meluas. Malaysia mulai menghadapi situasi kritis di ambang konflik sosial yang bisa merusak hubungan antaragama dan etnis.

Dimensi Kontroversi

Untuk memahami gejolak tersebut, kita perlu menyelami lebih dalam dimensi di balik kontroversi tersebut. Mengapa sedemikan besar respons umat Islam terhadap hal itu. Mengapa juga hal itu tidak ditemukan di belahan dunia lain.

Setidaknya terdapat tiga dimensi besar yang berkaitan dengan kontroversi kata ”Allah” ini bagi publik dan umat Islam Malaysia. Ketiga dimensi itu merupakan sesuatu yang asas dan sensitif dalam kehidupan bernegara dan beragama di Malaysia.

Pertama, dimensi konstitusi negara. Akta Perlembagaan Persekutuan Negara Malaysia dalam artikel 3 (1), artikel 11 (4) dan artikel 160 menyatakan, ada tiga komponen utama hubungan negara, etnis, dan agama. Yakni, Islam sebagai agama resmi negara, penyatuan etnis Melayu dengan identitas Islam, dan ketentuan larangan dakwah agama lain terhadap penganut Islam.

Dengan demikian, Melayu dan Islam di Malaysia merupakan faktor vital dan terlegalisasi dalam konstitusi negara serta bersifat mengikat. Setiap isu yang berkaitan dengan Melayu dan Islam akan direspons luas oleh publik.

Pihak yang kontra terhadap keputusan Mahkamah Tinggi menyatakan bahwa kata ”Allah” ini adalah identitas eksklusif agama Islam. Karena itu, tindakan penggunaan kata ”Allah” bagi agama selain Islam merupakan bagian dari ”serangan” terhadap konstitusi negara.

Kedua, dimensi sosial keagamaan. Terdapat jurang yang cukup besar dalam kehidupan sosial keagamaan di Malaysia. Khususnya menyangkut Malaysia Barat atau Semenanjung Sabah dan Serawak di Malaysia Timur.

Sebagai agama resmi negara, Islam memang dikembangkan di negara itu. Terutamanya di wilayah semenanjung atau Malaysia Barat yang didominasi Melayu dan Islam. Sedangkan Malaysia Timur, lokasi Sabah dan Sarawak, merupakan wilayah yang bukan termasuk mayoritas Melayu dan umat Islam.

Berbeda dengan yang berlaku di semenanjung, sejak lama umat Kristen di wilayah Sabah dan Serawak menggunakan Injil terjemahan berbahasa Indonesia yang menggunakan terjemahan kata ”Allah”.

Ketiga, dimensi keyakinan. Khususnya adalah pemahaman akan Islam dan Melayu itu sendiri. Umat Islam di Malaysia menganggap bahwa mereka adalah benteng terakhir di dunia Islam yang menjaga kemurnian dan eksklusifitas penggunaan kata ”Allah” hanya bagi Islam.

Pada faktanya, memang di Indonesia dan di banyak negara Arab, kata ”Allah” memang lazim digunakan oleh agama non-Islam sebagai terjemahan kata Tuhan. Bagi mereka, di situlah letak permasalahan mendasar. Karena itu, mereka tidak ingin ”kesalahan” tersebut juga terjadi pada Islam di Malaysia.

Dalam peradaban dan bahasa Melayu Malaysia, ”Allah” adalah nama dan makna khusus bagi Islam yang telah didefinisikan menjadi terminologi Melayu. Kata Tuhan disediakan dalam bahasa Melayu sebagai definisi dan terjemahan bagi Tuhan agama lain. Hal itulah yang telah terlembagakan dalam institusi peradaban Melayu di Malaysia.

Politisasi

Meluasnya kontroversi kata ”Allah” tentunya juga dipengaruhi oleh politisasi. Bahkan, politisasi isu ini lebih terlihat daripada substansi permasalahan.

Sejak Pemilu terakhir 2008, situasi sosial politik di Malaysia memasuki fase yang sangat rentan dan sensitif. 52 tahun kemerdekaan Malaysia hingga kini situasi harmonis hubungan perkauman atau etnisitas Melayu, Cina, India, dan lainnya cenderung semakin buruk.

Semakin banyak terjadi insiden yang muncul dan menimbulkan ketegangan antaretnis. Muncul juga gugatan-gugatan terhadap eksklusivitas Melayu dan Islam sebagai sendi negara. Karena itu, Melayu dan Islam, sebagai pihak mayoritas tipis dengan 60 persen populasi, kini semakin sensitif.

Dalam ranah politik saat ini, terjadi upaya perebutan pengaruh dukungan dari dua pihak yang menentukan bagi politik Malaysia, yakni Melayu dan Islam dan etnis non-Melayu dan nonmuslim. Pola perebutan pengaruh itu mendominasi pentas politik di negara ini.

Pihak pemerintah yang berasal dari Barisan Nasional dengan tulang punggung UMNO (Partai Melayu) menggagas konsep persatuan etnis “Satu Malaysia” dan cenderung memperkuat posisinya sebagai pembela Melayu dan Islam. Sedangkan kekuatan oposisi, melalui Pakatan Rakyat dengan tokoh Anwar Ibrahim, Partai Keadilan Rakyat (PKR), Partai Islam se-Malaysia (PAS), dan Partai Aksi Demokratik (DAP) yang mewakili etnis Tionghoa selalu memainkan isu keberpihakan kepada etnis minoritas non-Melayu.

Karena itu, bukan sesuatu yang aneh jika PAS sebagai partai Islam besar dan berpengaruh di Malaysia malah memosisikan sebagai pihak yang mendukung penggunaan kata ”Allah” bagi agama non-Islam. Sedangkan pihak pemerintah Barisan Nasional dengan dukungan raja-raja Melayu, LSM, serta mayoritas umat Islam yang lain berdiri pada posisi penentang.
http://kendariekspres.com/content/view/6612/48/

Bacaan sekedar tambah wawasan.
Coba sebelum membaca habis disertai dng bahan-bahan Kitab terkait janganlah berkomentar dahulu !

Alamat :

http://kisahmencarituhan.blogspot.com/2009/05/syaitan-tetap-menggoda-manusia-dari.html

Sejarah itu pasti masa lalu sehingga bisa dibilang sebuah “misteri” bagi yang masih mencari-cari sisa peninggalan nyata sebagai bukti.
Akan tetapi “misteri itu bisa terungkap kalau yg mencarinya sdh mengetahui.

Lihat di: http://misteriquran.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: