Dildaar80's Weblog

Tidak Ada Kristenisasi di Indonesia, Justru Ada Islamisasi

Posted on: 16 Maret 2009


Tidak Ada Kristenisasi di Indonesia, Justru Ada Islamisasi

Bari Muchtar

Di Gedangan, Salatiga, ada pesantren yang namanya tidak berbahasa Arab seperti kebanyakan pesantren. Pendiri dan pengasuhnya, KH Mahfud Ridwan, ikut aktif dalam dialog antara umat beragama di kawasan seputar Salatiga. Apa motivasinya?

Ditanya kenapa nama pesantrennya tidak dalam bahasa Arab, alumni sastra Arab di Universitas Bagdad ini mengatakan, karena ia tidak fanatik dengan nama Arab. “Mungkin karena pernah lama di sana, jadi dak begitu taashub (fanatik, red) dengan nama Arab,” katanya. Ia memilih nama Edi Mancoro karena berharap agar pondoknya bisa menyinar ke tempat-tempat yang jauh. Berbeda dengan pesantren-pesantren lain, para santrinya justru mengikuti studi formal di berbagai perguruan tinggi. Mereka belajar di pesantren sebelum dan selesai mengikuti kuliah. Tidak fanatik Uniknya ada dua mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana (USKW) Salatiga yang menjadi santri di sana. Ditanya alasannya, sambil ketawa ia mengatakan: “Kebetulan saya bukan orang fanatik. Maka kerjasamanya dengan Percik, dengan STT-STT di Salatiga dan di Ungaran”

Para santri sudah biasa bekerjasama dengan kelompok agama lain, tambah teman sekuliah dengan Gus Dur di Irak ini. Dan pesantren sendiri malah sering dikunjungi para pastor dan pendeta, jelasnya. Menurut Mahfud, tujuan berdialog antar iman itu adalah untuk menghilangkan sekat-sekat antar golongan. Mengenai penyebab terjadinya sekat-sekat ia menjelaskan: “Karena kita-kita ini merupakan pewaris orang-orang yang sakit hati.” Meski tiap agama mengaku pihaknyalah yang benar, tapi masing-masing tidak boleh memaksakan pendapatnya terhadap orang lain, tandasnya. “Karena keyakinan kalau dipaksakan kepada orang lain ya, akibatnya perang,” simpulnya. Ia menambahkan orang Islam hendaknya menerima keberadaan orang beragama lain. Tapi, tambahnya, menerima bukan berarti larut. “Tapi kita harus hidup bersama-sama. Tugas kita untuk berbuat baik dan membangun di dunia ini”

Mahfud Ridwan menilai dialog dengan kelompok beragama lain adalah suatu kemutlakan, karena kita diperintahkan Allah SWT untuk berhubungan dengan siapa saja. Dan lagi agama itu asalnya semuanya sama, katanya. Dalam dialog, yang dibicarakan bukan masalah aqidah. “Masalah sosial dan kemasyarakatan yang ktia bicarakan, ” jelasnya. Justru Islamisasi Salah satu topik dialog misalnya soal pembangunan gereja. Ustad yang mengaku tidak fanatik ini berpendapat, tidak ada kristenisasi di Indonesia. Yang ada justru Islamisasi, tandasnya. Buktinya, tambahnya, yang dibangun di terminal-terminal misalnya adalah musholla dan mesjid, bukan gereja. Tema dialog lainnya adalah Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri tahun 1959. Tiga menteri yaitu Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Menteri Kesejahteraan Rakyat waktu itu, menurut Mahfud, tampaknya marah sekali terhadap keputusan kongres dewan gereja sedunia di Surabaya. Salah satu keputusan kongres itu adalah kristenisasi di Indonesia. Akhirnya ketiga menteri itu membuat peraturan tentang penyebaran agama. Tapi, menurut pemimpin pesantren ini, SKB itu justru sangat menyakitkan. Karena di dalamnya antara lain tidak boleh berdakwah kepada orang-orang yang sudah punya agama.

Selain itu SKB itu menetapkan pula, bahwa untuk mendirikan sebuah gereja harus ada izin. SKB itu, tambah Mahfud, meresahkan masyarakat awam. Makanya masalah ini menjadi agenda dialog antar agama. Tema dialog lain adalah pernikahan lintas agama. Akibat kawin yang disebutnya sebagai kawin pembauran ini, maka banyak remaja yang tidak mau mengakui agamanya dan menganut aliran kepercayaan.

Menurut Mahfud, ini adalah suatu perkembangan yang mengkhawatirkan. “Kalau kita biarkan terus di Indonesia akan kembali lagi apa yang dinamakan atheist.” Ditanya sikapnya mengenai UU Pornografi, jebolan Irak ini mengatakan, ia sejak di Bagdad dulu sudah terbiasa melihat hal-hal yang bisa dinilai porno. Menurut dia, hal-hal seperti itu tidak perlu diatur dalam UU. “Itu kejadian yang berjalan begitu saja. Bukan sesuatu yang memang perlu diatur dengan UU dan sebagainya.” Pengaruh Amerika Serikat Munculnya kelompok-kelompok Islam radikal di Indonesia belakangan ini, menurut ustad Mahfud, antara lain karena adanya kepentingan politik. Tetapi juga pengaruh Syiah dan Ikhwanul Muslimin yang dipelopori oleh orang-orang Hizbut Tahrir, tambahnya. Mahfud menduga kelompok-kelompok radikal seperti FPI itu sengaja dihidupkan untuk kepentingan Amerika. Tujuannya adalah untuk memecah belah umat Islam Indonesia. “Karena kalau Islam di Indonesia kuat, Amerika kan kalang kabut juga,” tandasnya. Ditanya apakah para pembom Bali yang sudah dieksekusi itu mati syahid, KH Mahfud Ridwan mengatakan: “Itu urusan Allah.” . ============ ========= ========= ========= ========= === From: “General Sales Pty Ltd”

Iklan

2 Tanggapan to "Tidak Ada Kristenisasi di Indonesia, Justru Ada Islamisasi"

waduh…kalau jebolan irak gak bisa dianggap kredibel deh. soalnya gusdur itu yang jebolan irak didengar khan karena anaknya kyai.

coba kalau bukan, gak bakalan ada yang ngikutin. ya enggak?

enggak juga. pendapat jebolan Irak di atas tidak mutlak benar tapi ada benarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: