Dildaar80's Weblog

Ketegangan Politik di Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Islam di Indonesia

Posted on: 16 Maret 2009


Makalah ini disampaikan dalam Diskusi Publik PMII Cabang Samarinda, dalam rangkaian pembukaan PKD (Pelatihan Kader Dasar) PMII Kota Samarinda 2009, Minggu 22 Februari 2009, di Aula Kantor Gubernur Kalimantan Timur bersama Rudy Hartono (Hizb Tahrir Kalimantan Timur), Ahmad Taufik (Yayasan Az-Zahra Balikpapan) dan Asman Aziz (Budayawan di Samarinda)

Ketegangan Politik di Timur Tengah dan Dampaknya terhadap Islam di Indonesia

Saya ingin mengucapkan banyak terima kasih kepada Panitia dan siapa pun yang terlibat dalam acara ini. Undangan ini bagi saya adalah penghormatan untuk berbicara dan berdiskusi dengan hadirin sekalian.

Saat ini saya diundang ke sebuah daerah, sebuah kota yang masyarakatnya sangat heterogen, majemuk, plural, bhinneka, yang memiliki aneka-ragam suku bangsa, budaya, agama, kepercayaan, dan tradisi. Ciri khas dari daerah urban. Samarinda adalah Kota Urban. Kesadaran ini akan menjadi perspektif saya dalam menyampaikan ide atau pemikiran yang berkaitan dengan topik kita kali ini.

Seorang Pujangga besar Nusantara pada abad ke-14 lalu, Mpu Tantular telah menemukan sebuah istilah yang akhirnya menjadi falsafah negeri kita, “Bhinneka Tunggal Ika” (Berbeda-beda tetap Satu). Dan jauh sebelum itu, melalui Kalam yang Suci pada abad ke-7 ditegaskan dalam Surat al-Hujarat 13, Yâ ayyhuhannâsu innâ khalaqnâkum min dzakrin wa untsâ wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafu (Hai manusia sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan menjadikan kalian bangsa dan puak untuk saling mengenal).

Kalimantan Timur, khususnya Samarinda adalah tempat pembuktian sabda Mpu Tantular itu, dan Kalam Tuhan menemukan konteksnya. Beraneka-ragam suku, bahasa, budaya, agama, kepercayaan, dan keyakinan telah menjadi karakteristik yang tidak bisa dipisahkan dari jati diri wilayah ini.

Dan saya pun meyakini Islam yang mengakui dan menghargai kepelbagaian ini. Oleh sebab itu Islam tidak pernah menafikan, apalagi membumi-hanguskan kebhinnekaan yang telah mendahuluinya. Islam tidak pernah menghancurkan kearifan-kearifan lokal yang telah mengakar-kuat dalam masyarakat, bahkan mempertegasnya. Nilai-nilai ideal yang disampaikan oleh Al-Quran atau dalam Tradisi Nabi (Sunnah) merupakan penguatan terhadap nilai-nilai ideal yang telah ada sebelum Islam. Sesuai sabda Rasul, Khayrukum fil Jâhiliyah, khayrukum fil Islâm (Sebaik-baik orang di antara kalian di masa Jahiliyah, maka sebaik-baiknya orang di masa Islam).

Dan menurut pengamatan saya dari konteks sejarah, model Islam seperti tadi merupakan katakter Islam di bumi Nusatara. Islam yang mengakui perbedaan, menegaskan kearifan lokal, dan merawat khazanah-khazanah lokal yang luhur.

Islam yang seperti ini akan selalu menjaga harmoni, kedamaian dan ketentraman masyarakat. Dan Islam seperti ini pula sesuai dengan konteksnya. Dalam masyarakat yang majemuk dibutuhkan pengakuan terhadap perbedaan, dan keterbukaan untuk saling berdialog, serta menjauhkan diri dari fanatisme: merasa dirinya paling benar.

***

Namun tak bisa dipungkiri juga, tak sampai dalam tiga dekade ini, muncul aliran dan kelompok-kelompok Islam yang berbeda dari tipe-tipe Islam yang telah mengakar di Nusantara.

Saya ingin menegaskan bahwa aliran dan kelompok-kelompok Islam yang belakangan membanjiri Nusantara mengalami keterputusan sejarah dari aliran dan kelompok-kelompok Islam yang telah ada jauh sebelum Republik ini berdiri.

Kita menyaksikan bagaimana suara kelompok-kelompok Islam yang baru ini, mulai dari mengafirkan ideologi Indonesia, ingin mengganti Republik Indonesia menjadi Negara Islam (Daulah Islamiyah, Khilafah Islamiyah, dll), mudah mengafirkan sesama muslim, hingga melakukan tindakan kekerasan.

Tingkah-polah itu membedakan mereka dari organisasi-organisasi masyarakat Islam seperti NU, Muhammadiyah, al-Washliyah, al-Khairat, al-Irsyad, dll yang telah ada jauh sebelum Indonesia berdiri. Ormas-ormas tadi memiliki kecintaan yang luar biasa pada Republik ini. Salah satu alasan terkuatnya adalah: karena ormas-ormas ini yang melahirkan Indonesia bersama ormas-ormas lain yang lintas agama, suku, dan daerah.

Untuk itulah, kita tidak pernah menemukan ormas-ormas Islam yang lama itu, ingin berkhianat terhadap Republik ini, karena kita bisa mengibaratkan Indonesia adalah anak kandung mereka yang sah mereka. Bagaimana mungkin seorang ibu akan membunuh anak kandungnya sendiri?

Ormas-ormas itulah yang mengerti benar karakter masyarakat Nusantara, dan tanpa hirau dengan kekuasaan—kecuali di perkembangan terakhir sejak 1998—mereka melayani masyarakat. NU dengan pesantrennya, Muhammadiyah dengan sekolah, universitas, dan rumah sakit, demikian juga dengan al-Khairat, al-Irsyad, al-Washliyah dll.

memang benar waktu dulu ada semacam ketegangan antara kaum ‘puritan’ dan ‘tradisional’, ada istilah TBC (Tahayul, Bid’ah, Churafat) yang dilancarkan oleh kaum ‘puritan’ pada kaum ‘tradisional’, dan sebaliknya kaum ‘tradisional’ menyerang kaum ‘puritan’ dengan sebutan “modern” yang sama dengan “mudlirrun” (membahayakan). Namun perbedaan ini benar-benar berasal dari perbedaan penafsiran semata, tanpa campur tangan pihak ‘luar’. Perbedaan yang muncul akibat perbedaan menerapkan strategi dakwah Islam di Nusantara: apakah nilai-nilai lokal harus disiangi atau tidak? Namun yang perlu dicatat kuat-kuat: dua kubu itu terlibat dalam istibâq fil khayrat (berlomba-lomba dalam kebaikan) tak hanya asyik berbantah-bantahan saja.

Ormas-ormas Islam yang lama juga tak terlalu menghiraukan simbol-simbol Islam, meskipun tak diragukan keyakinan dan tindakan mereka sangat Islami.

Misalnya pesantren-pesantren di Nusantara yang populer tidak dengan nama/istilah Arabnya, namun kita yakin pesantren ini pun mengajarkan pendidikan Islam. Seperti Pesantren Sukorejo Situbondo, Tebuireng Jombang, dll. Hingga istilah “pesantren” sendiri bukanlah berasal dari Arab namun dari bahasa Pali, bahasa asal agama Buddha.

***

Sedangkan aliran dan kelompok-kelompok Islam gaya baru ini justeru memilih jalan yang berbeda dari ormas-ormas Islam yang lama, mereka memilih jalur konfrontasi dengan Republik karena tiga alasan kuat.

Pertama, seperti yang telah saya sampaikan, ormas-ormas ini mengalami keterputusan sejarah dari ormas-ormas lama, dan mereka tidak ikut melahirkan Republik ini, sehingga hilangnya ikatan emosional dan ide inilah tak menumbuhkan kecintaan mereka terhadap Republik ini.

Kedua, mereka lahir dan menguat dan meraih simpati masyarakat karena represi dari rejim yang pernah memimpin Republik ini. Misalnya Masyumi di era Soekarno, hingga DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia–lebih dikenal sengan sebutan “Dewan Dakwah”), kelompok-kelompok Usroh, dan kaum “Islamis” pada Era Soeharto.

Ketiga, kelompok-kelompok ini kuat dan bisa bertahan karena memiliki hubungan dengan dunia internasional, dan menerima hibah dana yang luar biasa besar dari luar negeri. Mereka mengikuti arus konflik politik dan ideologi khususnya dinamika yang terjadi di Timur Tengah. Sebab ketiga ini menjadi bagian saya untuk menerangkannya saat ini.

Ada beberapa peristiwa di Timur Tengah yang membawa dampak pada politik dunia Islam. Sehingga konflik dan suasana panas di sana terbawa kemana-mana. Teori sederhana pihak yang sedang berkonflik akan mengajak pihak-pihak lain untuk menjadikan teman dan sekutu.

Peristiwa besar tersebut bisa dibagi menjadi tiga bagian. Pertama kebangkitan nasionalisme Arab yang ‘sekuler’ dengan munculnya negara-negara seperti Mesir, Turki, Suriah, Irak, Tunisia, Maroko dll. Pada paroh pertama abad ke-20 negara-negara ini berjaya karena mereka berhasil membebaskan negeri mereka dari penjajahan, dan menginspirasi pada negara-negara Dunia Ketiga lainnya untuk melakukan perlawanan terhadap penjajahan. Termasuk Indonesia, melalui Soekarno yang membangkitkan nasionalisme Indonesia, ia sangat mengagumi Mustafa Kemal Attaturk, pendiri Turki modern, dan sahabat karib Gamal Abd Nasser, Presiden kharismatik Mesir.

Kedua, bangkitnya Dinasti-dinasti di kawasan Teluk yang berhasil mendirikan negara sendiri, seperti Saudi, Emirat, Qatar, Kuwait, Oman, Bahrain, dll. Negara-negara ini baru berjaya dan berpengaruh pada tahun 70-an dengan munculnya negara Petro-Dolar. Negara-negara mengalami perubahan sangat besar, dari wilayah yang penuh dengan padang-pasir, kering-kerontang menjadi negeri yang kaya raya karena minyak dan memiliki pengaruh yang penting di dunia.

Ketiga, bangkitnya Revolusi Islam Syiah di Iran pada tahun 1979. Keberhasilan Khomeini menumbangkan rejim Shah Pahlevi melalui revolusi damai membawa dampak terhadap peta politik di Timur Tengah. Munculnya kekuatan Syiah Iran melahirkan ketegangan dengan negara-negara Teluk yang menjadi jirannya, khususnya Saudi Arabia dan Bahrain yang beraliran Sunni, serta dengan negara-negara Arab nasionalis sekuler seperti Mesir dan Irak.

Ketegangan inilah yang terbawa jauh hingga ke negeri Nusantara ini. Maka, sejak tahun 70-an hingga 80-an kita menyaksikan munculnya kelompok-kelompok Islam gaya baru di Indonesia, mereka itu tidak memiliki keterkaitan dengan sejarah ormas-ormas Islam yang lama, namun lebih karena dampak ketegangan politik di Timur Tengah.

Dimulai dengan kebangkitan Kerajaan Petro-Dolar Saudi Arabia tahun 70-an yang perlu memperkuat pengaruhnya dengan menyebarkan ideologi Wahabi. Strategi ini untuk membendung ancaman lawan politik Saudi: Iran yang Syiah dan negara-negara Arab nasionalis yang ‘sekuler’. Sejak saat itu, Saudi menggelontorkan banyak dana yang disertai penyebaran ideologi Wahabi ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Di Indonesia, ideologi Saudi dan Wahabi diwakili oleh DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia) yang didirikan oleh mantan tokoh Masyumi Muhammad Natsir. Masyumi dibubarkan oleh rejim Soekarno, dan di rejim Soeharto pun tetap dilarang untuk dihidupkan. Akhirnya tokoh-tokoh Masyumi melakukan perlawanan melalui jalur kultural: dakwah sembari mengabdi pada kepentingan Wahabi Saudi Arabia.

Ketika Saudi Arabia berambisi mendirikan Rabithah Alam Islami, DDII menjadi pewakilan resminya di Indonesia. DDI menerima banyak bantuan dana untuk pembangunan pesantren, sekolah, masjid-masjid, dan pengiriman dai-dai. Tentu saja dana itu tidak hanya sekadar hibah biasa, ada kepentingan ideologi di baliknya. Maka selain menyebarkan dan membela ideologi Wahabi, gerakan ini juga memiliki misi: melawan Kristenisasi, pengaruh Syiah di Indonesia, aliran sesat, Ahmadiyah dan aliran-aliran kebatinan lainnya yang menjadi misi khusus Rabithah Alam Islami.

Ketika Revolusi Islam Syiah muncul tahun 1979 pengaruhnya menggema ke seluruh dunia Islam, termasuk di Indonesia, pada tahun 80-an, mulai muncul pengafiran dan penyerangan terhadap kelompok-kelompok Syiah melalui forum-forum yang disponsori oleh DDII di Jakarta, penerbitan buku-buku yang menyerang Syiah dll.

Ajaran atau tradisi Syiah yang telah mengakar kuat di negeri ini—Gus Dur menyebut NU sebagai “Syiah kultural” karena jamaah NU memiliki kecintaan yang luar biasa terhadap Ahl Bayt—diserang oleh jaringan internasional Wahabi yang memiliki cabang resmi di Indonesia (DDII).

Namun di sini lain, dari dalam tubuh Syiah juga muncul tren baru “Syiah Politik” yang berasal dari keberhasilan Revolusi Islam Syiah di Iran 1979 yang agenda dan misinya memiliki perbedaan dengan agenda “Syiah Kultural” yang membawa Islam ke Nusantara.

Selain menyerang Syiah, kelompok DDII ini melalui media-media mereka seperti Media Dakwah, Sabili, dll menggembar-gemborkan Kristenisasi di mana-mana, selain juga menyerang Ahmadiyah, aliran kepercayaan (kebatinan) di Indonesia hingga saat ini (terakhir tahun lalu kelompok Sapta Dharma diserang FPI di Yogyakarta).

Selain aliran Wahabi yang pro Saudi, muncul aliran Salafiyah yang anti Dinasti Saudi—dikenal sebagai kelompok “salafi jihadi”—namun mendapat dana dari orang-orang kaya di Saudi, dan berkembang di Yaman. Aliran ini memiliki jaringan di Indonesia melalui Laskar Jihad dan Majelis Mujahidin Indonesia (MMI).

Maka, kelompok-kelompok Islam gaya baru di Indonesia yang berkarakter dan berafiliasi pada “Salafi-Saudi” atau “Salafi Jihadi”, serta “Syiah Politik” merupakan dampak dari eforia kemenangan dan kebangkitan ideologi politik di Timur Tengah, dan karena di negeri asalnya mereka bersitegang, maka ketegangan itu juga diimpor ke Indonesia.

***

Selain eforia kemenangan dan kehendak kekuasaan yang melahirkan kelompok-kelompok Islam gaya baru di Indonesia, ada pula yang lahir akibat frustasi, depresi, dan kekalahan politik di Timur Tengah. Mulai dari gerakan Ikhwanul Muslimin (IM), Jamaah Islamiyah (JI), Tandzmul Jihad, Jamaah Takfir wal Hijrah yang lahir dan pernah beraksi di Mesir, hingga gerakan Hizb Tahrir yang akhirnya sampai ke Indonesia menjadi Hizb Tahrir Indonesia (HTI).

Di era tahun 20-an Dinasti Otsmaniyah di Turki runtuh, dan yang diganti dengan sistem negara sekuler oleh Mustafa Kemal Attaturk. Runtuhnya Dinasti ini membawa trauma dan diratapi oleh seorang hakim agama yang menjadi pegawai resmi Dinasti Otsmaniyah di Palestina, bernama Taqiyuddin Al-Nabhani. Bagi keyakinan Al-Nabhani Dinasti Otsmaniyah adalah Khilafah Islam, dan keruntuhannya merupakan keruntuhan sistem politik Islam. Untuk itulah, ia bermimpin Khilafah Islam itu kembali tegak. Dan ia pun membangun sebuah gerakan politik internasional yang bertujuan mendirikan kembali kekhalifahan Islam diberi nama Hizb Tahrir. Hizb Tahrir ini mengharamkan demokrasi, nasionalisme, Pemilu, batas-batas teritorial negara, dll yang bertentangan dengan hukum Islam. Meskipun negara-negara berpenduduk mayoritas muslim di dunia mempraktikkan konsep “negara-bangsa” yang dituding konsep kufur oleh Hizb Tahrir .

Karena di negerinya sendiri tidak bisa berkembang, sementara di negara-negara Arab dikejar-kejar oleh rejim penguasa, kelompok ini “lari” dari medan perang, dan membangun organisasinya di sebuah negara sekuler—yang seluruh prinsip, dasar, undang-undangnya diharamkan—yakni Inggris. Hizb Tahrir hidup dan kuat di negeri yang pernah menjanjikan wilayah untuk Zionisme dan memberikan suaka politik bagi tokoh-tokoh Ahmadiyah dari Pakistan. Hizb Tahrir baru tiba di Indonesia tahun 80-an.

Di Mesir, sebuah ormas Islam terbesar bernama Ikhwanul Muslimin (IM) ditindas oleh rejim penguasa. Seperti ormas-ormas Islam yang lain setelah mendapatkan pengikut dan popularitas maka, IM menjadi organisasi politik. Dan dimulailah benturan dengan penguasa. Pendiri IM Hasan al-Banna mati terbunuh. Balas dendam dimulai. Tokoh-tokoh pemerintah, dari tingkat perdana menteri, anggota kabinet, hingga lawan politik, dibunuh oleh aktivis kelompok ini. Kemelut terjadi pada tahun 40-an. Akhirnya aktivitas politik kelompok ini dilarang oleh rejim penguasa. Meskipun telah dilarang, namun kelompok ini telah memiliki basis yang kuat di masyarakat.

Benturan keras dengan Pemerintah Mesir membawa dampak perpecahan pada kelompok ini: ada yang ingin “berdamai” dengan penguasa, seperti Hasan Hudhaibi namun ada faksi yang terus memilih konfrontasi dengan penguasa melalui tokohnya Sayyid Quthb yang mengarang buku Ma’âlim Fi al-Tharîq (Rambu-rambu Jalan) yang isinya mengafirkan penerapan hukum dan sistem modern serta menyebutkan sebagai jahiliyah abad 20.

Quthb yang baru bergabung dengan IM tahun 50-an membawa pengaruh luar biasa terhadap ideologi IM. Sejak saat itu, proses radikalisasi IM yang sebelumnya melalui Hasan Al-Banna agak ‘moderat’, namun karena pengalaman pribadi Sayyid Quthb yang buruk: dipenjara, disiksa, hingga dihukum gantung, maka ide-ide yang lahir dari Quthb sangat ekstrim.

Ide-ide Qutb sangat berpengaruh pada faksi konfrontatif yang lahir dari perpecahan IM menjadi kelompok-kelompok seperti Tandzimul Jihad, Jamaah Takfir wal Hijrah, dan Jamaah Islamiyah. Lebih jauh lagi, kelompok-kelompok ini juga melakukan perlawanan dengan bersenjata, terlibat pembunuhan dan percobaan kudeta berdarah. Mulai dari pembunuhan terhadap Menteri Wakaf Mesir Muhammad Husein Al-Dzahabi—karena dianggap loyal pada pemerintahan yang kafir—hingga puncaknya pada pembunuhan Presiden Mesir Anwar Sadat tahun 80-an.

Sejak saat itu, anggota-anggota kelompok ini banyak yang dieksekusi, atau dijebloskan ke penjara, dan yang selamat dari kejaran pemerintah Mesir, mereka melarikan diri ke Afghanistan yang pada waktu itu sedang terlibat perang melawan Uni Soviet. Di negeri ini, orang-orang yang disebut sebagai “Arab-Afghan” tokohnya seperti Ayman Dlawahiri (mantan anggota Tandzimul Jihad Mesir) dan Osama Bin Laden, bertemu dengan generasi “Melayu-Afghan” dan “Indo-Afghan” generasi pertama kelompok Jamaah Islamiyah di Malaysia dan Indonesia yang juga pergi ke Afghanistan untuk melawan Uni Soviet seperti Azhari, Noordin M Top, Hambali, Imam Samudra, Amrozi, dll

***

Pengalaman IM di Mesir yang pecah menjadi dua faksi: yang “pragmatis” dan “konfrontatif” terulang di Indonesia. Melalui kelompok yang didirikan oleh Kartosuwiryo DI/TII yang gagal melakukan konfrontasi bersenjata. Kegagalan ini membelah tubuh DI/TII, ada faksi yang mulai “pragmatis” memilih perlawanan tak langsung, dengan membangun gerakan-gerakan dakwah di kampus-kampus, yang dikenal sebagai kelompok-kelompok Usroh dan lembaga dakwah kampus (LDK). Pengakaderannya mengambil model IM di Mesir, dan memopulerkan buku-buku Hasan al-Banna dan Yusuf al-Qaradlawi (tokoh IM yang ‘pragmatis’).

Karena tokoh-tokoh IM Mesir mendapat simpati dan bantuan penuh dari Dinasti Saudi (mereka dirangkul karena menjadi musuh rejim nasionalis Arab yang sekuler: musuh utama Dinasti Saudi juga), maka, gerakan-gerakan dakwah kampus di Indonesia pun mendapat dukungan dana dari DDII. Pada Reformasi 1998 kelompok ini mendaklariskan satu partai: Partai Keadilan dan sekarang menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sementara faksi lain yang memilih jalur “konfrontasi radikal” dari DI/TII, mengambil pola pengkaderan Jamaah Islamiyah Mesir dengan memopulerkan buku-buku Sayyid Qutb dan Abdus Salam Faraj al-Farîdah al-Ghâ’ibah (Kewajiban yang Hilang) buku yang mematok perang sebagai jihad. Faksi ini pun bermetaformosis menjadi Jamaah Islamiyah di Indonesia yang didirkan oleh Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Ba’asyir (menurut pengakuan Nasir Abbas), hingga berdirinya MMI. Terakhir, Abu Bakar Ba’asyir ditendang dari MMI (dituding mirip syiah, ahmadiyah dan komunis) dan mendirikan kelompok Asharut Tawhid.

***

Kelompok-kelompok Islam gaya baru inilah yang saat ini menyita banyak perhatian kita. Tentu saja saya tidak ingin mengeneralisir kekhasan dan perbedaan yang ada dalam tiap-tiap aliran dan kelompok Islam itu.

Saya tidak ingin terjebak menyebut mereka dengan pelbagai istilah misalnya istilah fundamentalisme Islam, radikalisme Islam, Islamisme, Islam Politik, Islam Puritan, Islam Salafi dll hingga Teorisme atas nama Islam. Di samping istilah-istilah tadi mengandung sejumlah kontradiksi, satu istilah tidak bisa menyebutkan secara tepat ideologi dan gerakan mereka karena kompleksitas kelompok-kelompok tersebut.

Namun saya ingin menarik garis-garis persamaan yang bisa kita jumpai dalam kelompok-kelompok tersebut. Pertama, kelompok Islam gaya baru itu lahir dari ketegangan, perebutan kekuasaan, hingga konflik yang ada di Timur Tengah. Kita akan menjumpai geneologi, akar-akar, dan sebab-musabab munculnya kelompok-kelompok itu di beberapa kelompok di Timur Tengah. Selain itu, represi yang pernah ada di Indonesia sejak rejim Orde Lama hingga Orde Baru ikut menjadi pemicu lahirnya kelompok-kelompok itu sebagai bentuk perlawanan bawah tanah. Dan baru di era Reformasi ini mereka bisa bebas dan leluasa muncul.

Kedua, kelompok-kelompok itu memiliki ciri khas: tertutup, merasa benar sendiri, gemar mengafirkan, tidak mengakui keanekaraman, dan menuntut penyeragaman. Dan yang lebih gawat lagi mereka menganjurkan hingga melakukan tindakan kekerasan. Fanatisme dan mudah mengafirkan menurut Syekh Najih Ibrahim seorang tokoh JI di Mesir yang telah “bertaubat” disebut sebagai “terorisme pemikiran” yang lebih berbahaya dari “terorisme fisik” (innal irhâb al-fikrî asyaddu takhwîfan wa tahdîdan minal irhâb al-hissî).

Ketiga, karena kelompok-kelompok ini baru hadir di Indonesia, maka sekali lagi: mereka mengalami keterputusan sejarah dari ormas-ormas Islam yang pernah melahirkan Republik ini. Akhirnya kelompok-kelompok ini melakukan konfrontasi baik secara “ekstrim”: melakukan tindakan terorisme dan kekacauan, upaya kudeta berdarah, mengharamkan demokrasi dan ideologi bangsa, atau yang bersikap lebih “akomodatif”: menerima prosedur demokrasi seperti Pemilu, namun kalau mereka menang: akan mengubah dasar dan bentuk negeri ini.

Ujung-ujung dari kelompok ini adalah perebutan kekuasaan, karena itulah mereka tidak pernah peduli terhadap khidmah pada masyarakat, berbeda dari ormas-ormas Islam lama yang membangun pusat-pusat pendidikan (pesantren, sekolah, universitas) layanan-layanan sosial dan ekonomi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya

Maret 2009
M S S R K J S
« Jun   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Top Rating

Tweetku

RSS Berita Detik

%d blogger menyukai ini: