Pidato Bung Tomo November 1945

Bismillahirrahmanirrahim…
Merdeka!!!

Saoedara-saoedara ra’jat djelata di seloeroeh Indonesia,
teroetama, saoedara-saoedara pendoedoek kota Soerabaja Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »

Kritik Untuk MUI

Pembaca yang saya hormati, seorang yang menamakan dirinya ‘Pelanglang’ di polikana.com pada hari Sabtu, 3 Okt ‘09 pukul 03:53 menyampaikan artikelnya sebagai kritik terhadap MUI dan pihak-pihak yang mengaitkan bencana gempa di Sumbar dengan kemaksiatan yang dilakukan oleh rakyat Sumbar.

Saya tidak sepenuhnya menolak semua opininya walaupun tidak juga sepenuhnya menerima. Inti atau benang merah yang dapat kita ambil dalam artikelnya ialah adalah lebih baik membantu korban bencana alam daripada menyalahkan mereka atas ‘dosa-dosa’ yang telah mereka lakukan sebagai penyebab bencana. Saya yakin dengan berjalannya waktu ada saat yang tepat dan mengesankan bila cobaan bencana tersebut dimaknai secara relijius dan itu bukan ketika mereka sedang membutuhkan bantuan materi/fisik.

Pertama-tama, ucapan duka cita dan bela sungkawa mendalam saya untuk semua saudara-saudara di Sumatra Barat, tak peduli agama, suku, ras, ataupun partai politiknya.

Apapun yang bisa diberikan, seminimal apapun, niscaya akan meringankan beban saudara-saudara kita. Jikapun tidak ada harta berharga, sekedar doa tulus sudah cukup mampu untuk melapangkan. Pun itu tidak, setidaknya kita mesti menahan diri untuk tidak mengeluarkan komentar yang justru menyakiti para korban.

Coba simaklah petikan komentar Ketua MUI Sumut ini (liputan lengkap bisa dilihat disini):

Komentar pertama: Namun, musibah gempa itu juga bisa berarti peringatan karena banyaknya maksiat atau perilaku masyarakat yang bertentangan dengan ketentuan agama. Untuk itu, selain bersabar, warga Sumbar yang mengalami musibah gempa tersebut juga harus banyak memohon ampun kepada Allah SWT karena mungkin banyak melakukan kesalahan.

Absurditas komentar pertama:

Bagi orang yang percaya Tuhan, tak dielakkan semua peristiwa pasti akan menjadi bagian atas kehendak dariNya, termasuk gempa di Sumbar. Tapi dengan menyimpulkan bahwa peristiwa ini sebagai bentuk atas peringatan (baca: hukuman) karena banyaknya maksiat ini sudah terlalu jauh. Komentar ini seakan menempatkan komentator sebagai seorang yang mengetahui kehendak Tuhan. Menutup kemungkinan bahwa Tuhan mungkin saja punya niatan lain yang tidak mesti ditafsirkan sebagai hukuman.

Komentar ini justru mengarahkan pada tindakan “blame the victims”. Korban yang sudah menderita disalahkan lagi sebagai penyebab turunnya bencana. Jadi alih-alih bersimpati, sang komentator berpendapat bahwa korban memang layak mendapatkan penderitaan itu karena perbuatan maksiat yang telah dilakukannya. Apa benar demikian?

Bagaimana dengan negara seperti Jepang. Biarpun banyak gempa, kenapa korban yang jatuh tidak sebanyak yang di Indonesia? Ya karena gempa memang sebuah fenomena alam normal. Korban minimal karena usaha preventif mereka lebih baik dari Indonesia. Itu saja.

Komentar kedua: Selain itu, musibah tersebut juga peringatan untuk pemerintah agar lebih giat memberantas maksiat dan perilaku masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama. “Pemerintah harus sadar, banyaknya tempat maksiat justru mengundang bala bagi daerah itu,” katanya.

Absurditas komentar kedua:

Ini komentar tidak nyambung, seakan-akan jika maksiat tidak ada, maka gempa tidak akan terjadi. Maksiat (korupsi, manipulasi, birokrasi tak efisien, dll) pada satu sisi memang mesti diberantas, tapi menghubungkan musibah dengan banyaknya maksiat, it’s nonsense.

Getaran gempa sebagai suatu fenomena alam, itu tidak membunuh (kecuali diiringi tsunami). Yang membunuh adalah struktur bangunan yang tidak dapat menahan guncangan gempa. Artinya, untuk terhindar dari dampak gempa (bencana), asal konstruksi bangunan dibuat tahan gempa, maka korban bisa diminimalkan. Jadi bukan dengan kegiatan pemberantasan maksiat.

Pernyataan bahwa pemerintah harus sadar, banyaknya tempat maksiat justru mengundang bala bagi daerah itu, ini jelas pernyataan tak berdasar. Apa buktinya? Secara natural, Indonesia memang terletak di jalur gempa. Mau ada maksiat atau tidak, gempa tetap punya peluang besar untuk terjadi.

Mudah-mudahan bencana tidak lagi sering mampir di Indonesia. Semoga usaha meminimalkan dampak bencana juga bisa dilakukan semakin baik dan terencana. Tak ingin lagi melihat begitu banyak airmata dari mereka yang kehilangan orang-orang yang dikasihinya.

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »

Mengapa membela aliran sesat?

Oleh Imam Ghazali Said *
Satu jam setelah Forum Lintas Agama (FLA) memilih saya menjadi jubir dalam konferensi pers 24 April 2008, telepon dan ponsel saya terus berdering; mempertanyakan mengapa saya membela aliran sesat? Karena itu, perkenankan saya memberikan penjelasan berikut.

Pertama, Ahmadiyah, baik aliran Lahore, di Indonesia populer dengan Gerakan Ahmadiyah Indonesia (GAI) maupun aliran Qodiyan, yang populer dengan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), telah berkiprah dan berinteraksi dengan tokoh nasionalis Indonesia, baik yang muslim maupun yang sekuler sejak 1920-an sampai 1980-an. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. 2 Komentar »

Mengkritisi Fatwa Sesat

Menurut Johan Efendi, fenomena sesat-menyesatkan adalah perkara biasa sebab masalah keagamaan berkaitan dengan masalah yang tidak tanggung-tanggung, yakni apa yang diyakini sebagai kebenaran mutlak. Setiap komunitas pemahaman (denominasi atau aliran agama) tidak terhindari menganggap hanya pemahamannya yang benar. Karena Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »

Ratu Adil Bukan Orang Indonesia

Bismillaahir rohmaanir rohiim

Assalamu ‘alaikum wr.wb.

Ramalan Jayabaya oleh Raden Ngabehi Ranggawarsita dalam buku:

‘Estinen Nurih Kalakon’ Wecan bab perang kolonial dalah kawusanane. Dikeluarkan oleh Ki Tjitrosatmoko, usaha ‘Hanung’ Jalan Kejambon 365, Tegal.

Ramalan Jayabaya, tertera dalam sebagian karangan (mengenai) ramalan, ditulis oleh almarhum Raden Ngabehi Ranggawarsita (1802-1873), Bopati Kliwon, Pujangga di keraton Surakarta. (izin mengambil/mengutip dari kepala Radya-pustaka/perpustakaan istana) Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. 1 Komentar »

Merindukan Kepemimpinan

sim on March 7th, 2009

Oleh : M. Ikhsan Subekti Direktur Study Ilmiah Mahasiswa UNS

Pahlawan Zamannya

Setiap zaman akan melahirkan pahlawannya masing-masing. Sudah menjadi sebuah suratan takdir bahwa dunia tidak akan kekurangan pahlawan, karena menjadi sebuah keniscayaan ketika dunia ini memang didesain oleh Allah SWT berpasang-pasangan. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »

Indonesia di Masa Depan

Indonesia mengalami krisis multidimensi sampai detik ini. Krisis tersebut mendera berbagai bidang, mulai dari ekonomi, politik, budaya, sains, kesehatan, dan kemanusiaan. Seakan tidak ada jalan keluar dari semua krisis tersebut. Adapun salah satu krisis yang paling nyata kita hadapi adalah krisis kepemimpinan. Kita mengalami kegamangan dalam memilih tipe kepemimpinan yang tepat untuk negeri kita yang tercinta. Baca entri selengkapnya »

Ditulis dalam artikel. Leave a Comment »