Dildaar80's Weblog

Perang Minahasa vs Spanyol (1651-1664)

Posted on: 25 September 2012


PERANG MINAHASA- SPANYOL (1651-1664):
oleh Albert Kusen pada 14 Februari 2011 pukul 9:46 ·

Oleh: Albert WS Kusen

 

Introduksi

Catatan ini coba mengungkapkan kembali kedatangan bangsa Spanyol di Tanah Minahasa, tujuan dan/atau alasan kedatangannya dan timbulnya perlawanan Orang Minahasa (OM)  terhadap bangsa pendatang Spanyol tersebut yang akhirnya dimenangkan oleh Waraney-waraney Minahasa.  Hal ini, secara historis penting untuk ungkapkan, mengingat selama ini di kalangan OM pada umumnya cenderung hanya mengetahui kisah heroik melawan kompani Belanda yang dikenal dengan Perang Tondano (1809), dan/atau perang dalam kancah pergolakan permesta (1957-1961), ketimbang  kisah perang lainnya seperti Peristiwa Perang Minahasa –Spanyol (1651-1664).

 

Pembentukan ilmu-ilmu sosial dan institusi-institusinya terjadi dan berkembang di Asia dan Afrika pada mulanya dilakukan oleh sarjana-sarjana dan pemegang kekuasaan di masa penjajahan sejak abad ke 18, dan juga oleh orang Eropa lainnya secara langsung maupun tidak langsung. Tinjauan atas persoalan ketidaktepatan pada tataran filosofis, teoritik, empiris, dan terapan merupakan konsekuensi dari pertemuan antara teori dan cara Barat di satu pihak dengan kenyataan setempat (nasional maupun regional/lokal) di pihak lain (Alatas 2003:3) dalam Kusen (2007).

 

Sebagaimana kiprah ilmu-ilmu sosial (antropologi) dan ilmu humaniora sejarah yang menggarap asal-usul leluhur suatu etnik maupun kisah heroik perjuangan yang disinggung dalam ‘etnografinya’ (mitologis-historis)  sejak abad ke 18 cenderung didominasi oleh  penulis asing (Graflaand, Schwarz, Riedel, Palm, etc.) yang sudah sejak lama dijadikan referensi atau sumber data penulis-penulis lokal  ketika mereka mewacanakan (tulisan-lisan) sejarah dan kebudayaan tentang Minahasa. Seakan-akan kalau tidak merujuk dari kepustaan atau penulisan asing tersebut, bobot akademik dari suatu karya etnografi atau pun sejarah yang dimaksud dianggap hanya karangan yang tidak berbotot. Sebagaimana sejarah tentang perlawanan orang Minahasa dalam perang dengan  bangsa asing  Spanyol (kolonial).

 

Bahwa mengandalkan penulis dan sumber-sumber lokal juga tidak kalah bobot akademiknya, meskipun hanya mengacu melalui  tutur lisan berdasarkan pengalaman yang dikomunikasikan dari mulut ke mulut. Apalagi para penulis lokal  yang memiliki kapasitas akademik sebagai ilmuwan yang berkompeten. Dalam komunitas antropologi penulis lokal yang menggarap suatu penelitian di daerahnya sendiri, disebut native-anthropologist (ahli antropologi pribumi). Sama halnya dengan  sejarawan lokal (native-historian). Dapat dikatakan, selain penguasaan teori berdasarkan latar belakang kompetensi keilmuannya (antropologi atau sejarah), tetapi juga pengalaman hidupnya di daerahnya sendiri, merupakan kelebihannya, kelimbang hanya mengandalkan sumber penulis asing yang hanya mengandalkan sumber-sumber dokumen laporan pemerintahan kolonial ketika mereka berkuasa (Lihat LeVine 1981).

 

Meskipun demikian, sebagaimana kekuatan dan/atau kelemahan ilmiah ilmu-ilmu sosial, tentu memiliki keterbatasan untuk mendapatkan hasil  studi dan penelitian yang benar-benar akurat (objektif), terlebih hanya mengandalkan parameter ilmiah kuantitatif (positivist), tanpa didukung oleh parameter kualitatif (naturalistik) yang menekankan pada analisis pemahaman makna secara interaksi simbolik (Geertz 1973; Keesing 1986; d’Andrade 1981; Spradley 1972).

 

Kisah heroik Orang Minahasa Menaklukkan Kolonial Spanyol

Kisah ini terjadi seputar tahun 1651 – 1664, ketika orang Minahasa (OM) menghadapi musuh bersama, yakni Spanyol (dikenal orang Kastela) yang berusaha untuk menjadikan tanah Minahasa sebagai daerah koloni alias daerah jajahan.  Berdasarkan catatan sejarah, perang yang berlangsung selama satu dekade lebih, berdasarkan data historis dan diakui oleh nara sumber yang berkompeten,  dimenangkan oleh para Waranei-waraney Minahasa (pasukan adat/milisi), di mana  orang-orang Kastela (Spanyol) tersebut berhasil dipukul mundur dan lari ke Filipina.

 

Peristiwa OM melawan Spanyol pernah dikomentari oleh Pastor J. Van Passen (dosen filsafat ST Filsafat Pineleng Minahasa), dikatakan “terjadinya perlawanan orang Minahasa terhadap pasukan Spanyol, karena adanya golongan Mestizos yang telah menjadi ‘provokator’ mengobarkan perang mengusir Spanyol dari Minahasa di tahun 1964 tersebut. Golongan Mestizos adalah orang Minahasa keturunan Portugis-Spanyol (lihat Wenas 2000:45; Sinolungan 2002; Supit 2004:163; Kusen 2007).

 

Demikian juga isu kekalahan Spanyol pernah dikemukakan oleh Ketua Umum Komunitas Sejarah Indonesia (KSI)/Ketua Badan Sensor Film Indonesia (BSF) Dr. Muklis Paeni pada acara Temu Guru-Guru Sejarah se-Sulawesi Utara pada tahun 2010 lalu dihadapan ahli-ahli sejarah nasional, salah satunya adalah Prof.Dr AB Lapian, dikatakan “salah satu suku di Asia yang pernah mengalahkan bangsa Spanyol adalah suku Minahasa”.

 

Latar Belakang Terjadinya Perang

Singkatnya, pada tahun 1615 Raja Manado – Babontehu (lihat Watuseke 1962) mengundang Panglima Lucas De Vergara untuk berkunjung ke Manado. Yang diutus adalah dua orang Pater bernama Sciallamonte dan Cosmas Pintto. Seperti juga bangsa Portugis yang lebih awal mengunjungi tanah Minahasa (TM), demikian juga bangsa Spanyol, tujuan utamanya adalah menyebarkan agama Kristen-Katolik, dan dibarengi dengan tujuan perdagangan, mengingat hasil bumi di TM kaya dengan rempah-rempah yang akan dijadikan komoditas perdagangan.

 

Mengingat, kedatangan orang-orang Kastela ini relatif lama akan tinggal di TM, maka pada tahun 1617 dibangunlah sebuah benteng didekat sungai Manarow (Manado) sebagai tempat pemukiman, penampungan bahan-bahan perdagangan sekaligus dijadikan sebagai benteng pertahanan dari ancaman musuh baik dari pihak sesama bangsa kulit putih (Portugis, Inggris dan Belanda) maupun dari pihak pribumi OM. Dan pada tahun 1619, penghuni orang Kastela di benteng tersebut bertambah sehubungan dengan kedatangan orang-orang Kastela yang lari dari Filipina menyelamatkan diri dari kancah peperangan di sana.

 

Berdasarkan data kepustakaan (lihat Henley 1996:31) dalam Gosal (2010) pemerintah kerajaan Spanyol semakin tertarik untuk menancapkan kuku kolonialismenya di Minahasa, karena tertarik dengan jenis makanan pokok OM , yaitu kebiasaan OM Tondanouw memakan nasi dari tanaman padi atau gabah. Sejak saat itu, mulai diadakan hubungan perdagangan dengan pemimpin adat setempat (Ukung Oki). Berdasarkan hasil musyawarah dengan tetuah adat lainnya, diperkenankanlah untuk mengadakan kegiatan pembelian hasil bumi.

 

Merasa kegiatan berdagang dengan pribumi OM secara signifikan menguntungkan pihak Spanyol, maka pada tahun 1623 Raja Spanyol memerintahkan untuk membuat kapal niaga yang bernotasi besar untuk mengangkut komoditas hasil bumi dari tanah Minahasa. Maka sejak benteng di Manado direhap sedemikian rupa menjadi lebih besar yang dilengkapi dengan senjata meriam berkaliber lebih besar (9 mm), maka hal ini mempengaruhi posisi Spanyol semakin lebih kuat. Sementara bangsa asing lain seperti  Portugis semakin melemah yang pada akhirnya meninggalkan TM (Catatan: beberapa orang Portugis yang sudah menetap di pelosok Minahasa dan mungkin sudah kawin mawin ada yang tetap bermukim berbaur dengan OM).

 

Perang Pertama (1651). Oleh karena merasa kehadiran Spanyol di TM semakin mendominasi, maka mulailah muncul ekses konflik dengan OM, terutama perlakuan oknum-oknum militernya yang dinilai oleh tetuah adat Minahasa sudah melanggar kesepakatan, seperti melakukan pemaksaan, perampasan/perampokkan hasil pertanian penduduk setempat bahkan ditunjukkan dengan kelakua biadab seperti penganiayaan dan pemerkosaan terhadap perempuan (wewene) Minahasa.

 

Dan yang paling dianggap penghinaan terhadap jati diri OM adalah pihak Spanyol mewajibkan kepada OM harus membayar upeti alias pajak kepada mereka. Akibatnya, marahlah OM yang diwakili oleh para Ukung untuk segera melakukan konsolidasi umum untuK melawan perlakuan biadab bangsa Spanyol tersebut. Diperintahkan kepada semua laki-laki dan perempuan mengangkat senjata memerangi orang-orang Kastela tersebut. Seperti dikemukakan bahwa perang pertama ini dengan gemilang berhasil dimenangkan oleh waraney-wulan Minahasa. Beberapa perwira militer Spanyol yang dibunuh, kepala mereka di pajang dipinggir pantai sampai menjadi tengkorak (Catatan: bagi OM ini adalah simbol kemenangan perang). Sepeninggalan Spanyol, mulai saat itu OM sudah mengenal senjata api dan menggunakan meriam.

 

Perang Kedua (1654). Kedatangan Spanyol ke tanah Minahasa, disambut oleh para Ukung setempat, dengan syarat agar apa yang pernah dilakukan oleh orang-orang Spanyol waktu lalu tidak diulang kembali. Tapi, ternyata bangsa kastela ini tidak jera atas kekalahan yang pernah diderita pada tahun 1651. Kali ini yang memimpin Spanyol ke TM adalah Bartolomeo De Soisa langsung menduduki kampong Uwuran Amurang, dengan maksud untuk menguasai kembali produksi beras dan hasil bumi lainnya, terutama dari Tondanouw dan Pontak (lihat Supit 1986:31).

 

Singkatnya, pada perang kedua ini, OM sama sekali tetap pada pendirian yakni tidak pernah kompromi dengan  kelakuan biadab Spanyol terhadap penduduk setempat (rampok dan perkosaan). Dan pada tahun 1654 diadakanlah musyawarah di bukit Tindurukan Pinawetengan dengan menghasilkan keputusan untuk meminta bantuan kepada bangsa Belanda yang berada di Ternate. Utusan OM ke Ternate (wilayah kekuasaan Belanda) adalah Ukung Lonto, Ukung Supit dan Ukung Ranti yang dikawal oleh sejumlah waraney (pasukan adat/milisi).  Akan tetapi, armada Belanda yang dipimpin oleh Paulus Andriessen mengalami kekalahan di laut dari armada Spanyol ketika sedang menuju TM. Akibatnya superioritas Spanyol terhadap OM semakin mendominasi. Hal ini mendorong pihak Belanda untuk membantu pasukan waraney-waraney Minahasa, dengan perjanjian apabila bangsa Spanyol dikalahkan dan keluar dari TM, maka OM melalui para pemimpinnya untuk mengijinkan Belanda mendirikan benteng di Manado. Atas persetujuan Gubernur Belanda Jacob Hustaard di Ternate yang diserah terimakan kepada Simon Cos untuk memimpin pasukan Belanda masuk di pelabuhan Manado, kemudian mendirikan benteng yang dikenal dengan nama “De Netherlandsche Vastigheit”.

 

Pendirian benteng tersebut mendapak reaksi keras dari Spanyol karena menganggap pihak Belanda telah melanggar perjanjian Munster (1648), berakhirnya perang Spanyol-Belanda. Tapi, pihak Belanda bergeming, bahkan menambah kekuatan militer yang didatangkan dari Batavia diangkut oleh kapal Moluco dan Diamant, tiba di manado dan langsung memberi ultimatum kepada pasukan Spanyol agar segera meninggalkan tanah Minahasa.

 

Perang Lintas Walak Minahasa dengan Pasukan Spanyol (1661-1664). Meskipun, orang-orang Kastela ini telah keluar dari Manado, namun di daerah-daerah tertentu lolos dari pengawasan kompani Belanda yang sudah menduduki Manado dan sekitarnya. Seperti kemunculan pasukan Spanyol di Kema, Tomohon, Tondano, Tonsea dan Amurang yang dijadikan markas. Perangai biadab kembali dipertotonkan, seperti biasa yakni merampok hasil bumi, dan aksi kekerasan maupun pemerkosaan terhadap perempuan Minahasa.

 

Perlamanan Walak Tomohon. Sebagaimana juga yang terjadi di kawasan Tombulu/Tomohon.  Sebagai reaksi OM atas perlakuan biadab bangsa Spanyol ini, penduduk Tomohon yang dipimpin oleh Ukung-Ukung setempat melakukan aksi perlawanan, dan pecahlah  perang dahsyat dengan Spanyol dan berhasil memukul mundur keluar dari kawasan wilayah adat Walak Tombulu. Tapi, pasukan Spanyol berhasil menculik putri Ukung Tombulu yang bernama Tendenuata. Menyadari bahwa putrinya sudah diculik, segera ia memerintahkan waraney-waraney Tombulu untuk mengejar pasukan Spanyol terutama untuk mendapatkan kembali putrid kesayangannya. Hasil pengejaran berhasil membunuh beberapa perwira Spanyol dan mendapatkan kembali putri Ukung Tombulu dengan selamat.

 

Perlawanan Walak Toulour. Spanyol yang berhasil masuk ke wilayah adat Walak Toulour dibuat murkah atas sikap Ukung setempat yang bernama Mononimbar. Terutama tidak mau menuruti perintah untuk mengumpul hasil tanaman padi dan diberikan kepada Spanyol, meskipun sudah dibayar. Melalui strategi licik orang-orang Kastela tersebut, yakni salah seorang bernama Pedro Alkasas berhasil memperdayai Mononimbar melalui minuman keras (whisky). Dalam keadaan mabuk Mononimbar ditangkap dan diikat pada sebatang pohon hingga tewas. Mendengar pemimpin walaknya sudah tewas, bangkitlah kemarahan orang-orang Tondano, kemudian dengan semangat berani mati, diperangilah orang-orang Kastela ini. Daya tempur dari pihak waraney Tondano yang cukup mematikan, berhasil membuat pasukan Spanyol mundur dan lari ke kawasan pantai timur Minahasa (Tondano Pante). Sejak saat itu, Spanyol kapok kembali ke Tondano.

 

Perlawanan Walak Tonsea. Pasca kekalahan dari walak Tondano, ternyata pasukan Spanyol tetap bersikeras untuk menguasai Minahasa bagian utara, yakni walak Tonsea. Tepatnya di kawasan Sawangan. Bersama dengan pasukan dari Tidore berhasil membunuh seorang Walian yang sedang mengadakan upacara – ritual Poso. Beberapa perempuan berhasil ditangkap dan dijadikan budak. Kemudian bersama dengan pasukan Bolaang Mongondouw  dan ditambah dengan pasukan Tidore pasukan Spanyol mememerangi  walak Tonsea di pantai Kaburukan. Tapi, waraney-waraney Tonsea tidak gentar menghadapi jumlah pasukan Spanyol dalam jumlah yang banyak. Beberapa Teterusan (panglima perang), antara lain Rumopa Porong, Wenas, Dumanau, Lengkong, dan Wahani yang menjadi pemimpin perang, berhasil menghancurkan pasukan Spanyol. Dengan kata lain, pasukan Spanyol dan sekutunya mengalami kekalahan, dan dengan sisa-sisa pasukan yang masih hidup lari meninggalkan pantai Kaburukan.

 

Perlawanan Walak-Walak Tonsawang, Tombasian dan Temboan di Amurang. Oleh karena jarak antara Filipina dan Minahasa relative dekat, maka pihak pasukan Spanyol yang sudah berkali-kali mengalami kekalahan dengan waraney-waraney Minahasa, tidak pernah surut nafsu kolonialismenya untuk kembali ke Tanah malesung Minahasa. Tepatnya, pada tahun 1664 mereka kembali berlabuh di Amurang lengkap dengan jumlah pasukan yang lebih banyak. Seperti tujuan semula, adalah untuk menguasai perdagangan hasil bumi dengan Minahasa, khususnya dari Pontak dan Tonsawang. Bagi orang Spanyol yang merasa sebagai perintis peradaban melalui misi keagamaan (Katolik), ternyata masih menunjukkan perangai kebiadaban terhadap kaum pribumi Minahasa. Kali ini waraney-waraney Minahasa yang dipimpin oleh panglima-panglima perang yang tangguh (Teterusan), antara lain Ukung Oki dan suaminya Londe, Lelengboto, Pongulu, Koba, Mororongan, Gandey, Pondolos, Ratumbanua, Karema Urei,. Otombuat, dan Tenden Wulan. Dan Teterusan-teterusan dari Tombasian dan Temboan adalah Rumokoy, Worotikan, Tumiwa, Raranta, Mamarimbing, Sangian + Wawu Kineke, Kendang Wulan, dan Lingkan Wene.

 

Dalam pertempuran melawan pasukan Spanyol, berlangsung sampai tahun 1665,  diperkirakan puluhan pasukan/perwira ditawan dan ratusan terbunuh, sisanya (termasuk beberapa Pastor) melarikan diri bersama armada laut yang dinakhodai oleh Bartholomeo de Sousa, menuju Filipina.

 

Refleksi

Apa yang dikemukakan oleh Ketua Umum Komunitas Sejarah Indonesia (KSI) Dr. Muklis Paeni, bahwa salah satu suku bangsa di Asia yang secara historis mampu mengalahkan pasukan Spanyol (salah satu bangsa/negara adidaya pada waktu itu) adalah Minahasa, bukanlah cerita omong kosong. Tetapi, secara akademik (history) dapat dipertanggung jawabkan.

 

Nah, sebagaimana fungsi dari ilmu sejarah,  salah satunya  adalah sebagai sumber inspirasi, maka kisah heroik perlawanan Orang Minahasa terhadap Spanyol merupakan simbol kebanggaan tersendiri atas apa yang pernah dilakukan oleh leluhur Minahasa bahwa Spanyol yang dikenal sebagai salah satu kampiun bangsa kolonial pada waktu itu, ternyata mengalami pengalaman yang pahit, karena  kehadiran bangsa ini di tanah Minahasa,  tidak diberi kesempatan untuk memperpanjang waktu kolonialismenya sebagaimana yang dilakukan oleh kolonial Belanda di di nusantara maupun di dunia. Dengan kata lain, kolonialisme Spanyol di Tanah Minahasa hanyalah mitos.

 

DAFTAR PUSTAKA

  1. Gosal, Paulus A dan C.H Gosal (2010) Melawan Bangsa Spanyol. Dalam Tou-Minahasa:   Dari Utara Sampai Malesung. Pemda Minahasa Induk.
  2. Henley, David E.F (1996) Nasionalisme dan Regionalisme dalam Konteks Kolonialisasi Minahasa di Hindia Belanda Bagian Timur. Terjemahan. KITLV Press Leiden.
  3. Kusen, Albert WS (2007) Antropologi Minahasa: Identitas & Revitalisasi. Buku Teks. Belum Diterbitkan.
  4. Watuseke, Frans S (1968) Sejarah Minahasa. Manado: Yayasan Penerbitan Merdeka.
  5. Wenas, Jessy (2007) Sejarah dan Kebudayaan Minahasa. Jakarta: Institut Seni Budaya Minahasa.

——————————————-

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya.

September 2012
M S S R K J S
« Jul   Okt »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Top Rated

Tweetku

RSS Berita Detik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: