Dildaar80's Weblog

Orang Jawa dan Pelayaran

Posted on: 8 Maret 2011


“Orang Jawa sangat berpengalaman dalam seni navigasi. Mereka dianggap sebagai perintis seni paling kuno ini. Walaupun banyak yang menunjukkan bahwa orang Tionghoa lebih berhak atas penghargaan ini, dan menegaskan bahwa seni ini diteruskan dari mereka kepada orang Jawa.”

Demikian tulis Diego de Couto dalam buku Da Asia, terbit 1645. Bahkan, pelaut Portugis yang menjelajahi samudera pada pertengahan abad ke-16 itu menyebutkan, orang Jawa lebih dulu berlayar sampai ke Tanjung Harapan, Afrika, dan Madagaskar. Ia mendapati penduduk Tanjung Harapan awal abad ke-16 berkulit cokelat seperti orang Jawa. “Mereka mengaku keturunan Jawa,” kata Couto, sebagaimana dikutip Anthony Reid dalam buku Sejarah Modern Awal Asia Tenggara.

Tatkala pelaut Portugis mencapai perairan Asia Tenggara pada awal tahun 1500-an mereka menemukan kawasan ini didominasi kapal-kapal Jung Jawa. Kapal dagang milik orang Jawa ini menguasai jalur rempah rempah yang sangat vital, antara Maluku, Jawa, dan Malaka. Kota pelabuhan Malaka pada waktu itu praktis menjadi kota orang Jawa.

Di sana banyak saudagar dan nakhoda kapal Jawa yang menetap, dan sekaligus mengendalikan perdagangan internasional. Tukang-tukang kayu Jawa yang terampil membangun galangan kapal di kota pelabuhan terbesar di Asia Tenggara itu. Bukti kepiawaian orang Jawa dalam bidang perkapalan juga ditemukan pada relief Candi Borobudur yang memvisualkan perahu bercadik – belakangan disebut sebagai “Kapal Borobudur”.

Konstruksi kapal jung

Konstruksi perahu bercadik sangat unik. Lambung perahu dibentuk sebagai menyambungkan papan-papan pada lunas kapal. Kemudian disambungkan pada pasak kayu tanpa menggunakan kerangka, baut, atau paku besi. Ujung haluan dan buritan kapal berbentuk lancip. Kapal ini dilengkapi dengan dua batang kemudi menyerupai dayung, serta layar berbentuk segi empat. Kapal Jawa jelas berbeda dengan kapal Tiongkok yang lambungnya dikencangkan dengan bilah-bilah kayu dan paku besi. Selain itu kapal Tiongkok memiliki kemudi tunggal yang dipasang pada palang rusuk buritan.

Kapal Borobudur

Kapal Borobudur telah memainkan peran besar dalam segenap urusan orang Jawa di bidang pelayaran, selama beratus ratus tahun sebelum abad ke-13. Memasuki awal abad ke-8, peran kapal Borobudur digeser oleh kapal kapal Jawa yang berukuran lebih besar, dengan tiga atau empat layar sebagai Jung. Pelaut Portugis menyebut juncos, pelaut Italia menyebut zonchi. Istilah jung dipakai pertama kali dalam catatan perjalanan Rahib Odrico, Jonhan de Marignolli, dan Ibn Battuta yang berlayar ke Nusantara, awal abad ke-14 mereka memuji kehebatan kapal Jawa berukuran raksasa sebagai penguasa laut Asia Tenggara. Teknologi pembuatan Jung tak jauh berbeda dengan pengerjaan kapal Borobudur; seluruh badan kapal dibangun tanpa menggunakan paku.

Gambaran tentang jung Jawa secara spesifik dilaporkan Alfonso de Albuquerque, komandan armada Portugis yang menduduki Malaka pada 1511. Orang Portugis mengenali Jawa sebagai asal usul jung-jung terbesar. Kapal jenis ini digunakan angkatan laut kerajaan Jawa (Demak) untuk menyerang armada Portugis.

Perbandingan antara kapal jung Cheng Ho (“kapal harta”) (1405) dengan kapal “Santa Maria” Colombus, 1492/93.

Disebutkan, jung Jawa memiliki empat tiang layar, terbuat dari papan berlapis empat serta mampu menahan tembakan meriam kapal kapal Portugis. Bobot jung rata-rata sekitar 600 ton, melebihi kapal perang Portugis. Jung terbesar dari Kerajaan Demak bobotnya mencapai 1.000 ton yang digunakan sebagai pengangkut pasukan Jawa untuk menyerang armada Portugis di Malaka pada 1513. Bisak dikatakan, kapal jung jawa ini disandingkan dengan kapal induk di era modern sekarang ini.

“Anunciada (kapal Portugis yang terbesar yang berada di Malaka pada tahun 1511) sama sekali tidak menyerupai sebuah kapal bila disandingkan dengan Jung Jawa.” tulis pelaut Portugis Tom Pires dalam Summa Orientel (1515). Hanya saja jung Jawa raksasa ini, menurut Tome Pires, lamban bergerak saat bertempur dedengan kapal-kapal portugis yang lebih ramping dan lincah. Dengan begitu, armada Portugis bisa menghalau jung Jawa dari perairan Malaka.

Etimologi

Banyak pendapat menyebutkan, Istilah jung berasal dari kata chuan dari bahasa Mandarin yang berarti perahu. Hanya saja, perubahan pengucapan dari chuan menjadi jung nampaknya terlalu jauh. Yang lebih mendekati adalah “jong’ dalam bahasa Jawa yang artinya kapal. Kata jong dapat ditemukan dalam sejumlah prasasti Jawa kuno abad ke 9. Undang-undang laut Melayu yang disusun pada abad ke-15 juga menggunakan kata jung untuk menyebut kapal pengangkut barang. Yang jelas berasal dari sebuah bahasa di Tiongkok adalah kata wangkang yang artinya kurang lebih sama dengan jung.

Perkataan “jung” juga boleh diperkatakan berasal dari bahasa Tionghua yang lain, iaitu Teow Chew dan Hokkien yang barasal dari selatan China. Dalam bahasa Teow Chew kapal jung disebut “jung” dan dalam bahasa hokkien disebut sebagai “jun”. Teknologi perkapalan China mempunyai sejarah yang lama sejak Han Dinasti pada BC 200 hingga BC 220.

Hilangnya jung Jawa dari sejarah

Jung pada abad ke-15 hingga ke-16 tidak hanya digunakan pada pelaut Jawa. Para pelaut Melayu dan Tionghoa juga menggunakan kapal layar jenis ini. Jung memegang peranan penting dalam perdagangan Asia Tenggara masa lampau. Ia menyatukan jalur perdagangan Asia Tengara yang meliputi Campa (ujung selatan Vietnam) , Ayutthaya (Thailand), Aceh, Malaka dan Makassar.

Hanya saja, keadaan itu berbanding terbalik menjelang akhir abad ke-17, ketika perang Jawa tidak bisa lagi membawa hasil bumi dengan jungnya ke pelbagai penjuru dunia. Bahkan, orang Jawa sudah tidak lagi punya galangan kapal. Kantor Maskapai Perdagangan Hindia-Belanda (VOC) di Batavia melaporkan pada 1677 bahwa orang-orang Mataram di Jawa Tengah tidak lagi memiliki kapal-kapal besar.

Para sejarawan menyimpulkan, jung dan tradisi besar maritim Jawa hancur akibat ekspansi militer-perniagaan Belanda. Serta, sikap represif Sultan Agung dari Mataram terhadap kota kota pesisir utara Jawa. Lebih celaka lagi, raja-raja Mataram pengganti Sultan Agung bersikap anti perniagaan. Apa boleh buat, kejayaan jung Jawa hanya tinggal kenangan.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kapal_jung

Perkapalan merupakan bidang yang sangat erat dengan dunia maritim. Tekniologi perkapalan yang berkembang pada masa lampau menunjukkan bahwa manusia pada masa lampau, khususnya pada masa kurun niaga (abad 15-17) sudah maju. Mereka mampu membuat kapal-kapal yang digunakan untuk melintasi samudera yang begitu luas dengan membawa ratusan ton barang dagang. Bahkan peperangan dengan menggunakan kapal sudah ada pada masa itu jadi kapal laut yang dilengkapi dengan senjata sudah ada pada masa kurun niaga.

Sumber-sumber sejarah yang dapat dilihat untuk mengkaji perkapalan ialah Arsip-arsip Daghregister para syahbandar dan administrator pelabuhan. Syahbandar merupakan sebuah jabatan penting di pelabuhan untuk mengurusi berbagai masalah perdagangan di pelabuhan. Syahbandar ini diangkat langsung oleh raja. Raja biasanya memilih orang yang memiliki pengalaman berdagang yang cukup lama. Yang tak kalah penting para syahbandar itu harus orang kaya dan memahami banyak bahasa asing karena syahbandar akan berurusan dengan para pedagang asing. Tugas syahbandar ini ialah menyelesaikan segala permaslahan yang terjadi di pelabuhan. Selain Daghregister, kita dapat memakai Undang-Undang Laut dan daftar kosakata yang disusun para pedagang di Nusantara. Dari para penulis pribumi maupun asing tidaqk banyak diungkap mengenai metereologi, navigasi, dan teknik perkapalan karena pembuatan kapal dan pelaut pada masa itu erat kaitannya dengan kepercayaan setempat. Sedangkan untuk sumber benda, tidak banyak ditemukan karena kapal yang terbuat dari kayu lebih cepat hancur.

Pada abad 20 SM bangsa Austronesia sudah mendatangi Nusantara menggunakan kapal bercadik dari arah utara. Pada masa itu kepal bercadik merupakan sebuah teknologi perkapalan yang maju pada jamannya karena kapal bercadik yang memiliki penyeimbang di sebelah kanan dan kiri kapal ini mampu melewati lautan luas. Penggunaan kapal bercadik ini dapat dilihat pada relief candi Borobudur. Lambung kapal pada kapal ini memiliki cadik yang terapung sebagai penyeimbang dan memiliki dua tiang.

Penamaan kapal dibagi menjadi tiga bagian (Kuliah Sejarah Maritim, Bondan Kanumoyoso, FIB UI) yaitu berdasarkan pada layer, lambung dan tujuan penamaan kapal. Contoh dari hal tersebut ialah, Kapal Barru dari Mandar, kapal Pinissi (berlayar tujuh) dan Kapal Pertorani dari Galesung (Sulawesi) untuk menangkap ikan.

Dalam dunia perkapalan kita pun mengenal kapal dengan istilah Jung. Jung merupakan kapal laut yang besar biasanya dipakai untuk berdagang dengan jarak yang jauh ataupun untuk berperang. Jung Jawa memiliki sepasang kemudi di buritan, sebuah rumah di atas geladak. Kapasitas Jung Jawa ini berkisar 200-300 ton dan mampungi mengarungi Laut Jawa, Laut Cina hingga Teluk Benggala. Jung Jawa yang terbesara dapat mencapai hingga 1000 ton, yaitu Jung yang dipakai orang Jawa untuk menyerang Malaka pada tahun 1513. Namun Jung Jawa ini masih kalah besar dengan kapal laut yang dibawa dalam ekspedisi Cheng Ho yang beratnya hingga ribuan ton.

Jenis kapal di Nusantara bermacam-macam, ada kapal Kora-kora, Pinisi dan lain-lain. Kapal Kora-kora berkembang di kawaan Filipina, Maluku dan Indonesia bagian timur. Kapal kora-kora ini digunakan untuk perang pada abad 16. satu armada perang terdapat 200-300 pendayung yang sekaligus juga prajurit yang bersenjata panah, sumpit, pedang dan tombak. Armada kora-kora di Maluku dimanfaatkan VOC untuk melakukan Pelayaran Hongi. Selain kora-kora ada pula Kapal Pinisi yang berlayar di seluruh lautan Nusantara, bahkan hingga ke Singapura. Sejak Jung Jawa menghilang, maka Pinisi segera menggantiknnya sebagai kapal laut. Kapal ini biasanya bertiang tujuh dengan berat antar 120-200 ton. Kapal ini berasal dari Sulawesi selatan.

Pada abad 19, Belanda menguasai jalur-jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan di Nusantara seperti Makasar, Ternate, Ambon, Banda, Kupang, Banjarmasin, Sambas, Pontianak, Palembang, Lampung dan pelabuhan-pelabuhan di Jawa. Diluar jalur tersebut perdaganagn di kuasai oleh pribumi. Ketika pemerintah colonial menggunakan teknologi kapal uap maka kapal pribumi pun menjadi semakin terancam. Keadaan semakin serius ketika KPM didirikan.

http://sejarah.kompasiana.com/2010/11/14/perkembangan-perkapalan-di-nusantara/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang tulisan baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya.

Maret 2011
M S S R K J S
« Feb   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Top Rated

Tweetku

RSS Berita Detik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: