Dildaar80's Weblog

Peraturan Berjilbab Dikenakan kpd Non Muslim di Padang

Posted on: 30 Oktober 2009


Wawancara dengan Seorang Ibu Wali Murid dan Guru Sekolah di Padang (Beragama Kristen)

Bagaimana renspon ibu sebagai guru SMK umum, wali murid, dan jemaat Protestan terhadap peraturan yang ada di sekolah mengenai pemakaian jilbab?

Sebenarnya peraturan ini kabur karena seolah-olah Perda ini menghilangkan komunitas agama Kristen dan komunitas lain di dalam aturannya. Seharusnya dalam sekolah negeri, semua agama dapat masuk. Tapi kok di sekolah ini yang non-Muslim harus mewajibkan memakai pakaian Muslim, jilbab, dan sebagainya. Sebagai peraturan terpaksa diikuti tetapi kami sadar peraturan ini tidak begitu jelas tujuannya. Saya sebagai wali murid sih gimana yaa..? sebenarnya tidak terlalu keberatan tapi.. kalau dianalogikan seorang siswa Muslim yang mengenakan tanda Salib ia tidak akan mengerti, maka jibab dan salib kalau dikenakan bukan oleh penganutnya akan kabur artinya. Sama halnya dengan yang memakai jilbab, jika siswa non-Muslim disuruh memakai jilbab maka sudah kabur artinya karena yang tahu mengenai jilbab ini adalah orang Islam, sedangkan orang non-Muslim tidak tahu apa artinya. Kecuali jika peraturan wajib menggunakan baju lengan panjang dan rok panjang, saya rasa ada manfaatnya contohnya, kulitnya tidak terkena sinar matahari. Akan tetapi, bagi saya yang non-Muslim, memakai jilbab ini justru banyak ruginya, contohnya, rugi waktu.

Anak saya sering sekali tidak makan dari rumah karena sibuk memakai jilbab. Waktu yang ia perlukan untuk memakai jilbab sekitar tiga puluh menit, sehingga ia tidak mau makan. Ia sering mengeluh bahwa memakai jilbab itu ribet sekali karena rambut tidak boleh terlihat, padahal dalam agama kami tidak ada peraturan seperti itu. Anak saya mencoba menyamakan dirinya dengan siswa lain di sekolahnya, ia merasa tidak enak jika kepalanya telanjang sendirian, sedang teman-temannya tidak. Tentu jika anak saya tidak makan saya mengkhawatirkan kesehatannya, maka kerugiannya bukan hanya waktu, tetapi juga berdampak pada kesehatan. Yang kedua adalah kerugian materi. Saya harus mengeluarkan anggaran untuk pembelian jilbab paling tidak tiga buah dalan satu bulan sekali yang tadinya tidak ada, harga satu jilbab itu lima belas ribu rupiah. Hal ini adalah kerugian materi bagi saya. Untuk orang Islam yang mengerti hal ini memang baik, katanya aurat itu dari ujung rambut hingga ujung kaki, kalau perlu semuanya tertutup, hanya matanya saja yang terlihat, tetapi bagi orang Kristen hal ini tidak ada artinya. Jika ingin disamakan, bagi saya peraturan seragam lengan dan rok panjang lebih ada manfaatnya sehingga kulit anak saya bisa lebih mulus heehe…akan tetapi, pemakaian jilbab tidak ada manfaatnya bagi kami, sehingga menurut saya seharusnya ada peraturan yang menyatakan dilarang keras yang non-Muslim memakai jilbab. Sehingga jika kita membawa masalah ini ke forum, tidak ada sanggahan bahwa tidak ada aturan yang mewajibkan non-Muslim memakai jilbab, tetapi kenyataannya siswa yang non-Muslim harus mengikuti orang banyak. Akan tetapi jika ada peraturan yang menyatakan dilarang keras yang non-Muslim memakai jilbab, nah itu baru peraturan yang oke. Saya sangat berharap sekali karena di sekolah saya ada sekitar 25 orang non-Muslim yang memakai jilbab yang setiap tahun ajaran baru berbondong-bondong datang kepada saya.

Mereka mendatangi saya karena saya Kristen, saya katakan sebenarnya peraturan yang mewajibkan siswa-siswa itu berjilbab tidak ada, tetapi jika mereka merasa nyaman memakai jilbab, saya persilakan, tetapi jika mereka tidak merasa nyaman, ya tidak usah memakai. Namun, karena mereka merasa malu karena hanya mereka yang tidak memakai jilbab, akhirnya mereka ikut menggunakan jilbab.

Penggunaan jilbab ini terjadi dengan keadaan terpaksa. Mereka pun sering mengeluh pemakaiannya ribet, dan rugi waktu hanya untuk pemakaian jilbab. Saya pun sudah banyak mendengar laporan siswa agar masalah ini dibawa ke Pak Walikota bahwa kami ingin komitmen ke Pak Walikota tentang pelarangan yang non-Muslim memakai jilbab. Siswa-siswa saya sering mengeluh bahwa memakai jilbab tidak ada artinya bagi mereka, sama saja dengan pemakaian Salib kepada umat Islam, dan hal ini adalah penghinaan. Sama halnya dengan jilbab, apakah orang Islam tidak merasa terhina jika oerang Kristen memakai jilbab? Ini laporan dari siswa. Menurut saya, orang yang memakai jilbab adalah orang yang betul-betul patuh terhadap agama, sama dengan yang memakai Salib. Walaupun sebenarnya jilbab ini tidak melambangkan bagaimana moral seseorang, bagaimana tingkat keimanannya, tetapi ini merupakan sibol. Jadi, setiap orang yang memakai jilbab adalah orang yang mengerti betul.

Kami jadi berpikir bahwa peraturan itu sebenarnya menutupi keberadaan kami yang beragama Kristen di sini (Padang). Seharusnya tidak usah ditutupi, jadi terlihat bahwa yang tidak memakai jilbab adalah yang Kristen sehingga terlihat betul-betul bahwa perbedaan itu ada. Semakin banyak perbedaan, di situlah keindahan suatu daerah itu.

Bagaimana perasaan ibu sebagai orang tua saat melihat anaknya menggunakan simbol agama tertentu yang bukan agamanya?

Sebenarnya jauh dari lubuk hati saya melarangnya, tapi karena saya ingin anak saya juga mendapatkan pendidikan negeri, saya memasukkannya ke sekolah negeri. Awalnya dari TK hingga SMP anak saya sekolah di sekolah Katolik, bukan karena saya tidak mampu lagi menyekolahkan anak saya ke sekolah Katolik, tapi saya ingin anak saya bergaul dengan orang Muslim juga dan saat SMP anak saya mendapat rangking satu sekota Padang untuk NEM terbaik sehingga saya katakan padanya untuk masuk ke sekolah negeri, waktu itu anak saya rangking sembilan di SMA 1 Padang untuk penerimaan NEM terbaik. Akan tetapi, ada peraturan wajib berjilbab, anak saya lalu enggan untuk masuk SMA 1 karena hal itu. Lalu saya katakan padanya bahwa ini peraturan, jadi anak saya harus mengikutinya dan saya pun menjelaskan bahwa pakaian hanyalah simbol sehingga tidak mewajibkan dia harus mempelajari Islam karena iman seseorang itu tidak digambarkan dari jilbab dan iman seseorang itu tidak digambarkan dari Salib tetapi iman seseorang itu berada pada hati nurani. Sehingga saya katakan pada anak saya agar ia jangan kalah, ia haus bisa menunjukkan bahwa walaupun ia memakai jilbab, imannya masih teguh mempertahankan agama Kristen. anak saya itu dididik untuk hidp berdampingan dengan umat agama lain, sehingga ia dapat memahaminya. Sebetulnya jauh di lubuk hati saya hal ini sangat menyiksa. anak saya sendiri merasa tersiksa dengan peraturan ini, tapi jangan dianggap karena anak saya memakain jilbab, maka ia mengikuti agama orang lain, ia masih tetap mempertahankan keimanannya pada agama Kristen, ia hanya menyesuaikan diri saja.

Sebenarnya anak-anak yang berasal dari sekolah swasta kurang diminati Perguruan Tinggi, sedangkan di SMA 1 ini, kurang lebih 90% siswanya diterima di Perguruan Tinggi, termasuk UI, UGM, dan banyak PTN lain. Jadi, saya mengarahkan anak saya yang ingin masuk Fakultas Kedokteran di luar Padang agar ia masuk SMA 1. Sehingga anak saya yang awalnya tidak mau masuk SMA 1 karena peraturan jilbab ini mau menggunakan jilbab, bahkan jika Minggu sepulang dari gereja ia ingin ke sekolah, ia yang awalnya memakai rok pendek seperti saya merasa malu jika ke sekolah tidak memakai jilbab karena sudah terbiasa ke sekolah memakai jilbab, saya merasa hal ini tidak apa-apa, selama anak saya tidak mengikuti agama lain. Yang saya optimalkan adalah agar anak saya dan siswa-siswa saya di SMK tidak terkena dampak mental karena memakai jilbab ini.

Setelah ibu menerima keluhan dari siswi-siswi ibu dan mungkin dari guru-guru Kristen yang lain, apakah ada pembicaraan dengan pihak-pihak yang terkait, seperti Kepala Sekolah, pihak-pihak pemerintah, ataupun Walikota, terkait dengan instruksi ini?

Sebenarnya hal itu sudah lama menjadi polemik, hanya saja karena komunitas Kristen sedikit di sini. Saya sendiri telah berbicara pada Pendeta karena kami ini Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sebenarnya telah banyak laporan ke Pendeta dan Pastor dan kami berharap lobi-lobi yang dilakukan Pendeta dan Pastor terhadap para penguasa dapat menghasilkan suatu peraturan di tahun ajaran baru nanti. Kami sebagai PNS berargumen jangan sampai karier kami rusak hanya karena masalah-masalah keagamaan. Sementara semua agama itu murni dan saya yakin semua agama memiliki ajaran yang baik, hanya saja arahnya berbeda.

Berdasarkan pengalaman pribadi ibu, saat diberlakukannya peraturan ini, misalnya guru-guru yang lain mulai memakai jilbab, perasaan ibu sendiri bagaimana? Sedeangkan ibu harus beradaptasi dengan lingkungan dan sekolah?

Saya sebagai guru selalu menyatakan peraturan wajib memakai jilbab ini terkecuali untuk saya karena saya non-Muslim. Hanya saja kadang ada selorohan dari rekan-rekan guru yang ingin memakaikan saya jilbab dan ingin memberikannya secara gratis, mereka berpikir pasti saya akn lebih cantik. Lalu saya menjawab, saya lebih cantik jika tidak memakai jilbab di depan Tuhan saya, selalu saya jawab langsung seperti ini, bukan di depan Tuhan Anda. Saya mohon sekali agar komunitas yang sedikit ini, kami sebagai Kristen memang sedikit, jangan ditiadakan. Karena seolah-olah dengan peraturan pemakaian jilbab ini, komunitas Kristen ditiadakan.sementara, kami bekerja di sini karena peraturan pemerintah dan karena hal itu anak-anak kami kami sekolahkan di sekolah negeri, bukan karena ketiadaan biaya untuk menyekolahkan di swasta, tetapi karena banyak kemudahan-kemudahan dan keinginan anak ini untuk melanjutkan kuliah di luar Padang, sehingga ia akan berdampingan dengan agama lain. Jika anak ini dari TK sampai SMA bersekolah di sekolah Katolik, kapan ia akan belajar bahwa kita ini memang berbeda-beda. Dan dengan perbedaan itu, di situlah letak keindahan, itu yang selalu saya ajarkan kepada mereka.

Seharusnya di sekoah umum, semua perbedaan dapat masuk, entah itu perbedaan agama, etnis, dan lainnya, tetapi di Padang dan Pandeglang (Jawa Barat) peraturan mewajibakan siswa-siswanya menggunakan busana muslimah. Demokrasi adalah milik semua orang, walaupun ia kelompok minoritas dan walaupun ia hanya satu orang pun ia memiliki hak yang sama dalam demokrasi. Akan tetapi, para penguasa yang telah menang Pemilu hanya menganggap setelah menang Pemilu, membuat instruksi dan masalah pun selesai. Bagaimana pendapat ibu?

Saya analogikan semut, jika kita injak dia akan menggigit kita. Orang yang sekecil apa pun, jika sudah mencapai kemuakan, ia pun akan emosi, akan berontak.

Lantas, Ibu yang niatnya menyekolahkan anak Ibu di sekolah negeri untuk mengetahui perbedaan, kemudian ibu melihat ada satu agama, Islam, yang mendominasi. Bagaimana ibu menanggapi hal ini sebagai orang yang sadar akan perbedaan bisa berdialog?

Contohnya, jika saya mengadakan rapat, jika kebanyakan orang menggunakan bacaan-bacaan agama tertentu, saya tetap menggunakan Puji Syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, salah satu hal yang menunjukkan bahwa kita berbeda dengan mereka. Lalu, misalnya pergi takziyah, saya selalu ikut, tetapi dengan keadaan kita tidak perlu pakai kerudung, jika menggunakan rok panjang, saya tidak masalah, mengingat posisi saya sebagai guru hanya saja tidak perlu memakai kerudung karena menurut saya hal ini bertentangan betul walaupun sebenarnya agama tidak menunjukkan itu, buktinya dengan pemakaiab jilbab, agama lain pun dapat memakainya. Akan tetapi, menurut saya hal ini sangat bertentangan betul dengan hati nurani saya.

Bagaimana ibu bisa berani dan mampu menepis ketakutan, kekhawatiran dalam masalah karier, takut diintimidasi, dan lain sebagainya?

Iman kita harus kuat, sebelum berangkat kerja saya selalu berdoa agar pekerjaan saya di sekolah selalu dimudahkan. Selama ini saya tidak pernah merasa diintimidasi walaupun dari 75 orang guru dan pegawai di sekolah ini tidak ada yang mengintimidasi saya, bahkan saya diberi kepercayaan untuk menjabat dan menangani suatu wadah yaitu sebagai Koordinator dan Pemimpin PKK. Saya selalu menunjukkan inilah saya, jika mereka tidak mau menerima saya, ya biar saja. Yang penting keberanian saya menunjukkan inilah keberadaan saya. Dengan mereak melihat cara saya menyampaikan informasi dan lain halnya dapat diterima mereka dan bahkan mereka hormat kepada kita. Jadi, yang penting adalah membangun kepercayaan mereka terhadap kita, umat Kristen. Itu yang harus kita terapkan kepada teman-teman sehingga mereka hormat kepada saya. Sehingga, misalnya dalam keputusan mengeluarkan seorang anak, saya pun mendapat hak untuk mengambil keputusan apakah anak ini patut dikeluarkan atau harus saya bimbing dahulu, karena saya guru Bimbingan Konseling (BK). Jadi, yang mereka lihat adalah hasil kerja kita.

Jadi, iman dan profesional kerja intinya. Apakah ada kasus tentang diskriminasi siswa yang tidak memakai jilbab di sekolah ini, misalnya tidak boleh masuk ke sekolah?

Selama ini memang tidak ada, tetapi ada guru-guru yang mempermasalahkan jika siswa non-Muslim memakai jilbab kurang rapi, misalnya rambutnya terlihat. Lalu saya katakan pada guru itu bahwa ia siswa non-Muslim jadi tidak tahu cara memakai jilbab, maka saya katakan cobalah diajari cara memakai jilbab. Lalu akan diajari cara memakai jilbab, misalnya menggunakan jepit rambut dulu, lalu jilbabnya pun diajarkan cara memakainya. Jadi saya minta agar ditunjukkan cara memakai jilbab yang baik supaya yang non-Muslim tidak perlu dipanggil orang tuanya karena rambutnya kelihatan. Tapi di sekolah saya hal ini tidak ada. Jika ada yang ditegur karena rambutnya keluar dan di anon-Muslim, saya akan katakan bahwa ia non-Muslim. Saya katakan, seharusnya sekolah ini sudah bersyukur siswa yang non-Muslim mau memakai jilbab untuk penyamarataan saja, jadi jika rambut mereka keluar sedikit saja, jangan dijadikan kesalahan yang besar. Menurut saya, jika dia Kristen, tidak masalah dia tidak memakai jilbab.

Harapan Ibu ke depan?

Harapan saya tolong dibuatkan Perda yang betul-betul melarang non-Muslim menggunakan jilbab karena sangat banyak kerugiannya bagi yang non-Muslim, seperti yang saya katakan tadi, rugi materi, kesehatan, dan waktu ditambah biaya. Karena dia tidak makan dari rumah, jadi dia jajan di luar rumah. Jadi, harus ada peraturan yang betul-betul mengikat dilarang non-Muslim memakai jilbab, jika rok panjang dan lengan panjang, saya setuju. Jadi, dapat dikatakan pakaian menunjukkan identitas, tetapi moral seseorang tidak dapat dilihat dari pakaiannya. Buktinya, semua anak-anak didik saya di sini memakai jilbab tetapi di luar banyak juga yang melakukan perbuatan jahat. Yang jelas, anak-anak ini harus dibimbing di rumah, pertama, bagaimana keimananya, dan bagaimana menyampaikan ajaran agama ini. Ini kan hanya simbol-simbol keagamaan saja. Menurut saya karena di sini daerah Sumatera Barat, tidak apa-apa memberlakukan peraturan ini, tetapi hanya untuk yang Islam saja, yang lain harus dilarang untuk memakainya, jadi tidak ada peniadaan kelompok.

Saya sudah bekerja selama 18 tahun, mulai dari kepemimpinan Soeharto sampai dengan sekarang justru saya melihat tidak ada perubahan moral apapun meski diberlakukan kewajibab jilbab itu. Jadi jangan melihat gambaran seseorang dari jilbab yang ia kenakan. Jadi seolah-olah dengan dibuatnya peraturan ini, tidak perlu lagi diatur moral anak karena dia sudah berjilbab. Pembinaan selesai, tapi apakah cukup melihat moral anak dengan jilbab? Padahal jauh di balik itu, jika kita melihat ke belakang anak ini justru melakukan tindakan yang tidak keruan mulai dari narkoba hingga tindakan amoral. Untuk orang tua, jangan mengangggap jika di sekolah sudah ada peraturan berjilbab, maka anak sudah aman. Kenyataannya peraturan memakai jilbab ini tidak mengatasi masalah moral, tetap ada yang menggunakan narkoba. Jangan dianggap ada peraturan berjilbab, bercadar mungkin, maka anak sudah aman, ternyata di luar moral semakin bejat. Masukan saya terhadap orang tua dan orang-orang yang terkait dengan hal ini, termasuk pembinaan agama, jangan sampai moral seseorang tertutupi hanya karena masalah pakaian.

Keterangan foto:

1. Siswi-siswi SMP Pertiwi melaksanakan tugas sekolah di Museum Adityawarman Padang Sumatera Barat.
2. Siswi-siswi SMP 01 Padang baru keluar sekolah

Catatan:

Untuk alasan keamanan saya merahasiakan identitas narasumber saya ini, ia seorang wali murid yang memiliki dua putri yang belajar di sekolah negeri, dan kedua putrinya harus memakai jilbab. Ia juga seorang guru di sebuah sekolah umum di Padang.

Muhammad Guntur Romli

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Masukkan alamat surat elektronik Anda untuk mengikuti blog ini dan menerima pemberitahuan tentang pos baru melalui surat elektronik.

Bergabunglah dengan 18 pengikut lainnya.

Oktober 2009
M S S R K J S
« Sep   Nov »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Top Rated

Tweetku

RSS Berita Detik

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: